NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Us

---

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang melukis langit Griya Asri dengan warna-warna hangat. Lampu-lampu teras mulai menyala satu per satu, menciptakan garis-garis cahaya yang menerangi jalan setapak di antara rumah-rumah.

Tapi malam Minggu ini berbeda dari biasanya.

Di taman kecil kompleks, tikar-tikar digelar membentuk lingkaran besar. Beberapa lampu hias digantung di pohon-pohon—hasil kerja keras Endy dan Elgi sejak siang. Aroma masakan mulai tercium dari berbagai arah, membaur menjadi satu simfoni bau yang menggugah selera.

"Rafaaaa! Jangan lari-lari, nanti tumpah!" teriak Irene dari kejauhan. Rafa yang berlari dengan sepotong ayam goreng di tangan, hampir menabrak Mario yang baru datang membawa panci besar.

"Whoa, hati-hati, Nak." Mario tertawa, mengangkat panci tingi-tinggi. Ayam gorengnya selamat.

Jane berjalan pelan di belakang Mario, tangannya sesekali mengelus perut. Irene segera mendekat.

"Jane, duduk sini. Udah gede banget perutnya."

"Iya, nih. Udah masuk bulan keenam." Jane duduk perlahan di atas tikar, menghela napas lega. "Duduk rasanya enak banget."

Jisoo datang dengan Amora yang langsung berlari mencari Rafa. Kedua bocah itu segera asyik bermain kejar-kejaran di pinggiran taman, diawasi oleh para orang tua dengan satu mata.

"Amora! Jauh-jauh!" panggil Jisoo.

"Iya, Maa!"

Soo Young dan Endy datang bergandengan tangan. Soo Young membawa kimbap buatannya—nasi gulung ala Korea yang sudah dipotong-potong rapi. Endy membawa termos besar berisi teh hangat.

"Wah, kimbap!" Chaeyoung berseru dari tempat duduknya. Ia sudah datang lebih awal bersama Leon. "Tante Soo Young, aku suka banget sama kimbap-nya!"

"Soon Young tersenyum. "Nanti makan banyak-banyak, ya. Aku buat banyak."

Leon mengangkat kamera yang selalu setia menemaninya. "This is beautiful. Everyone together like this."

"Ini baru pertama kali kita makan malam bareng di taman," ucap Endy sambil duduk. "Semoga jadi tradisi, ya."

"Setuju!" sahut yang lain kompak.

---

Perlahan, makanan mulai berjejer di tengah lingkaran. Ada nasi goreng dari Irene, ayam goreng dari Mario dan Jane, kimbap dari Soo Young, sate buatan Jisoo—resep warisan almarhum Dika, dan salad segar dari Chaeyoung yang dibantu Leon.

"Leon yang bikin salad-nya?" tanya Elgi.

"Yeah. I learned from my mom. Australian-style salad." Leon menjawab bangga.

"Cobain, dong." Elgi mengambil sedikit, mencicipi. "Wah, enak! Segar!"

Leon tersenyum lebar. "Thanks, man."

Mereka mulai makan dengan lahap. Di tengah lingkaran, Amora dan Rafa duduk berdampingan, sesekali berebut makanan, tapi lebih sering tertawa bersama.

"Rafa, cobain ini. Enak." Amora menyuapi Rafa dengan kimbap.

Rafa mengunyah, matanya membelalak. "Enak! Mau lagi!"

Jisoo dan Irene saling pandang, tersenyum melihat anak-anak mereka akur.

---

Di sela-sela makan, obrolan mengalir santai.

"Om Endy, gimana kabar kerjaannya?" tanya Mario.

"Alhamdulillah, lancar. Pensiu dua tahun lagi, nih. Udah mulai deg-degan." Endy tertawa.

"Pensiun mau ngapain, Om?"

"Jalan-jalan sama Soo Young. Keliling Indonesia dulu, baru kalau masih kuat, ke luar negeri." Endy meraih tangan Soo Young. "Janji mau nemenin aku, kan, Sayang?"

Soo Young tersenyum. "Janji. Asal kamu nggak ngeluh kalau aku ajak ke museum terus."

"Yang penting sama kamu, di mana aja."

"Wih, romantis!" Chaeyoung bertepuk tangan. "Om Endy sama Tante Soo Young tuh goals banget, deh."

"Kamu juga sama Leon," balas Soo Young. "Kapan nikahnya?"

Chaeyoung tersipu. Leon menjawab dengan semangat, "Hopefully next year! Setelah Chaeyoung ke Australia ketemu keluarga aku."

"Doain lancar, ya," ucap Chaeyoung.

"Pasti!" jawab mereka kompak.

---

Matahari benar-benar tenggelam. Gelap mulai menyelimuti, tapi taman itu tetap terang oleh lampu-lampu hias dan cahaya hangat dari wajah-wajah yang tersenyum.

"Om Elgi, gimana rasanya punya anak kecil?" tanya Leon tiba-tiba. "I mean, Chaeyoung and I are planning to have kids someday. I want to know what it's like."

Elgi berpikir sejenak. "Menyenangkan, melelahkan, menggemaskan, bikin stres, semua jadi satu." Ia tertawa. "Tapi setiap kali Rafa bilang 'Aku sayang Ayah', semua capek hilang."

"Rafa sering bilang gitu?" tanya Jane.

"Sering. Entah diajari Irene atau enggak, tapi sering banget." Elgi menatap Rafa yang sedang asyik bermain. "Dia tuh kayak alarm, ingetin kita buat bersyukur setiap hari."

Irene meraih tangan suaminya. "Kita beruntung punya dia."

Mereka berdua bertukar senyum, dan semua yang melihat ikut tersenyum.

---

Jisoo diam sejak tadi, hanya tersenyum mendengarkan. Tapi Amora tiba-tiba berlari ke pangkuannya.

"Ma, Amora kenyang. Boleh main lagi?"

"Sebentar, Sayang. Istirahat dulu, nanti sakit perut."

Amora menurut, duduk di pangkuan Jisoo. Ia menatap orang-orang di sekelilingnya, lalu berkata dengan suara polos, "Ma, kita punya keluarga banyak, ya."

Jisoo tertegun. "Iya, Sayang."

"Ada Tante Jane, Om Mario. Ada Tante Irene, Om Elgi, Rafa. Ada Tante Soo Young, Om Endy. Ada Tante Chaeyoung, Om Leon." Amora menghitung dengan jari mungilnya. "Banyak banget."

"Amora senang?"

"Senang banget!" Amora memeluk Jisoo. "Amora sayang mereka semua."

Tidak hanya Jisoo yang tersentuh. Semua yang mendengar ikut terharu. Kata-kata polos dari mulut seorang anak kecil sering kali mampu merangkum apa yang orang dewasa susah ungkapkan.

Jane mengusap matanya yang berkaca-kaca. Irene memeluk Elgi lebih erat. Soo Young menyandarkan kepala di bahu Endy. Chaeyoung meraih tangan Leon.

Malam itu, di taman kecil itu, mereka bukan lagi sekadar tetangga. Mereka adalah keluarga. Keluarga pilihan yang diikat bukan oleh darah, tapi oleh cinta dan kepedulian.

---

Setelah makan, mereka membersihkan bersama. Anak-anak membantu dengan cara mereka sendiri—Amora mengumpulkan piring plastik, Rafa malah memindah-mindah sampah dari satu tempat ke tempat lain. Para dewasa tertawa melihat tingkah mereka.

"Leon, bantu angkat ini, dong." Chaeyoung menyerahkan panci besar.

"Sure." Leon mengangkat panci, lalu berbisik, "Chae, I'm really glad we moved here. Well, not yet moved, but you know what I mean."

Chaeyoung tersenyum. "I know. Aku juga seneng."

"Someday, when we're married, I want to live here. In this complex. With these people."

"Beneran?"

"Really really." Leon menatap sekeliling. "This is what community should look like. This is family."

Chaeyoung memeluk Leon cepat. "Makasih, Leon. Makasih udah mau jadi bagian dari ini."

"Thank you for bringing me here."

---

Pukul 20.30, Rafa mulai rewel. Matanya sudah sayu, tapi ia masih ingin main.

"Ra, tidur, yuk." Irene mencoba membujuk.

"Nggak mau! Main sama Amora!"

"Besok main lagi. Sekarang udah malem."

"Nggak mauuu!"

Amora mendekat. "Rafa, tidur dulu. Besok kita main lagi. Janji."

Rafa menatap Amora, lalu mengangguk pelan. "Janji?"

"Janji."

Irene terbelalak. "Wah, Amora bisa membujuk Rafa. Aku sampai susah."

Jisoo tertawa. "Amora emang punya cara sendiri."

Irene menggendong Rafa yang sudah setengah tertidur. "Makasih, Amora. Makasih, Jis. Kita duluan, ya."

"Iya, Mbak. Hati-hati."

Irene dan Elgi pamit pulang. Rafa melambai lemah dari gendongan Irene sebelum akhirnya tertidur.

Satu per satu, yang lain mulai berkemas. Jane dan Mario pamit lebih dulu karena Jane mulai merasa lelah. Soo Young dan Endy membantu membereskan tikar. Chaeyoung dan Leon mengumpulkan sampah-sampah plastik.

Jisoo dan Amora menjadi yang terakhir meninggalkan taman. Amora berjalan sambil bergandengan tangan dengan Jisoo, sesekali menengok ke belakang.

"Ma, besok kita kumpul lagi?"

"Besok nggak, Sayang. Mungkin minggu depan."

"Amora mau kumpul setiap hari."

Jisoo tersenyum. "Nanti kalian main sama Rafa setiap sore kan? Itu juga kumpul."

"Iya, sih." Amora berpikir sejenak. "Ma, Amora seneng tinggal di sini."

"Amora sudah bilang tadi."

"Amora bilang lagi. Biar Mama inget."

Jisoo berhenti, berlutut di depan Amora. "Mama nggak akan lupa, Sayang. Mama juga seneng. Seneng banget."

Mereka berpelukan di bawah lampu jalan yang temaram. Di sekeliling, rumah-rumah di Griya Asri mulai meredup, pertanda penghuninya bersiap beristirahat.

---

Malam Minggu itu berakhir dengan manis.

Di rumah nomor 7, Jane dan Mario berbaring sambil mengelus perut, membicarakan nama untuk calon buah hati.

Di rumah nomor 9, Irene dan Elgi tersenyum melihat Rafa yang tidur dengan posisi superman, boneka beruang di pelukan.

Di rumah nomor 11, Soo Young dan Endy minum teh di teras, menikmati sisa malam dengan obrolan ringan.

Di rumah nomor 3, Jisoo membacakan dongeng untuk Amora sampai putrinya terlelap.

Di rumah nomor 5, Chaeyoung dan Leon video call dengan keluarga Leon di Australia, memperkenalkan teman-teman baru mereka secara virtual.

Dan di taman kecil itu, lampu-lampu hias masih menyala redup, menanti malam-malam berikutnya ketika keluarga pilihan ini akan berkumpul lagi.

Karena itulah arti keluarga pilihan. Bukan tentang ikatan darah, tapi tentang hati yang saling terhubung. Tentang tawa yang dibagi, tentang tangis yang dipikul bersama, tentang kebersamaan yang dirayakan dalam setiap momen—besar maupun kecil.

Di Griya Asri, malam Minggu bukanlah akhir pekan. Malam Minggu adalah pengingat bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa di balik pagar-pagar rendah itu, ada saudara-saudara yang siap menyambut dengan hangat.

Malam Minggu di Griya Asri adalah tentang cinta. Cinta dalam bentuknya yang paling sederhana. Cinta yang tumbuh di antara rumah-rumah, di antara hati-hati yang saling memilih untuk menjadi keluarga.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!