NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

antara maut racun dan sup hangat

Malam di Desa Aethelgard terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Di balik pintu kamar yang terkunci, Vani masih terisak. Ia memeluk perut buncitnya, merasakan tendangan kecil dari bayi di dalam sana yang seolah ikut merasakan kegelisahan ibunya. Amarahnya masih meluap, namun di balik itu, ada rasa takut yang mencengkeram.

"Ayahmu itu benar-benar gila, Nak," bisik Vani pada perutnya. "Dia pikir dia masih raja yang punya sembilan nyawa."

Satu jam berlalu. Dua jam. Keheningan di luar kamar mulai terasa tidak wajar. Biasanya, Ferdi akan terus mengetuk atau setidaknya mengeluarkan suara langkah kaki yang berat saat ia mondar-mandir menunggu dimaafkan. Namun sekarang, suasana sunyi senyap. Hanya suara deru angin yang menghantam dinding kayu rumah mereka.

Rasa khawatir akhirnya mengalahkan harga diri Vani. "Ferdi? Kau masih di sana?" panggilnya dengan suara serak.Tidak ada jawaban.

"Ferdi! Jangan bercanda! Aku tahu kau hanya diam agar aku merasa bersalah! Kau tidak akan mendapatkan maaf secepat itu!" teru Vani lebih keras.Tetap hening.

Dengan perasaan tak enak yang merambat di tengkuknya, Vani membuka kunci pintu. "Ferdi, kalau kau sampai bersembunyi untuk menakutiku, aku bersumpah akan—"

Kalimat Vani terputus. Matanya membelalak lebar. Di depan ambang pintu, sosok kekar yang selalu menjadi sandarannya itu terkapar lemas.

Ferdi jatuh pingsan dalam posisi tertelungkup. Tangan kanannya masih memegang erat handuk yang rencananya akan ia gunakan untuk mandi, sementara tangan kirinya yang membiru karena racun masih mencengkeram karung daging sapi yang ia bawa.

Darah segar merembes dari perban darurat di kepalanya, membasahi lantai kayu yang ia bangun sendiri. Kakinya yang pincang kini tampak membengkak hebat.

"FERDI!!!" jeritan Vani memecah malam.

Vani jatuh berlutut di samping suaminya. Ia membalikkan tubuh Ferdi yang terasa sangat berat dan dingin. Wajah sang Raja Kegelapan yang biasanya angkuh kini sepucat kertas, dengan urat-urat hitam yang mulai merambat dari lengan menuju lehernya.

"Tidak... tidak, tidak! Bangun, bodoh! Ferdi, buka matamu!" Vani menangis histeris. Ia mencoba mengerahkan seluruh sisa sihir cahayanya. Cahaya keemasan terpancar dari telapak tangannya, menempel pada luka Ferdi. "Sembuhlah... kumohon, sembuhlah!"

Namun, cahaya itu berpendar sia-sia. Racun laba-laba raksasa dari hutan terdalam bukanlah racun biasa. Itu adalah Necrotic-Venom yang menolak energi suci. Bukannya sembuh, warna hitam di lengan Ferdi justru semakin pekat.

"Kenapa tidak bisa?! Kenapa?!" Vani memukul lantai dengan putus asa. Ia ingat literatur kuno di kerajaannya; racun laba-laba itu akan membunuh korbannya dalam waktu 7 jam jika tidak ditangani. Dan melihat kondisi Ferdi, pria itu pasti sudah terkena serangan lebih dari 6 jam yang lalu.

"Kau bodoh! Kau benar-benar raja paling bodoh di dunia!" Vani memeluk kepala Ferdi di pangkuannya, air matanya jatuh membasahi wajah suaminya.

"Kenapa kau harus pergi ke sana? Apa kau tidak sayang padaku? Apa kau tidak sayang pada anak kita? Kau bilang kau ingin menjagaku, tapi kau sendiri yang membuatku hampir mati ketakutan!"

Vani terisak, menciumi kening Ferdi yang dingin.

"Ferdi... dengarkan aku. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan kami. Aku berjanji tidak akan mengomel lagi selama seminggu... tidak, sebulan! Asalkan kau bangun!"

Di tengah keputusasaannya, mata Vani tertuju pada peti harta karun yang tadi diseret Ferdi. Peti itu terbuka sedikit. Di antara tumpukan emas dan perhiasan, terselip sebuah botol kaca kecil berwarna perak dengan simbol matahari terbenam.

"Itu..." Vani merangkak, meraih botol itu. "Ramuan Kuno Anti-Void?"

Vani membaca label kecil yang tergantung di botol itu dengan mata yang buram karena air mata. Ramuan itu adalah penawar segala racun makhluk kegelapan, namun hanya efektif jika diberikan sebelum jantung berhenti berdetak. Vani melihat jam pasir di sudut ruangan. Ferdi hanya punya waktu sisa 1 jam sebelum nyawanya benar-benar musnah.

Tanpa membuang waktu, Vani membuka botol itu. Bau harum bunga surgawi menguar. Ia tidak meminumkannya, karena Ferdi sudah tidak bisa menelan. Mengikuti insting medisnya, Vani mengusapkan cairan perak itu langsung ke luka gigitan di lengan Ferdi dan menuangkan sisanya ke atas luka di kepalanya.

Zzzzzzt!

Asap hitam keluar dari kulit Ferdi. Warna biru dan hitam di lengannya perlahan memudar, digantikan oleh warna kulit aslinya yang pucat. Napas Ferdi yang tadinya tersengal mulai stabil.

Vani terduduk lemas di lantai, napasnya memburu. Ia tidak berhenti menangis saat ia mulai membalut kepala Ferdi dengan kain bersih yang baru dan mengobati kaki suaminya dengan penuh ketelitian.

Dua jam kemudian, dalam temaram cahaya lampu minyak, kelopak mata Ferdi bergetar. Ia perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kayu rumahnya, dan hal kedua yang ia rasakan adalah rasa sakit di pundaknya karena pukulan bertubi-tubi.

Buk! Buk! Buk!

"KAU JAHAT! KAU BENAR-BENAR TIDAK PUNYA HATI, FERDI!"

Ferdi meringis, mencoba duduk walau kepalanya masih berputar. "Vani...?"

"DIAM! Jangan panggil namaku!" Vani memukul pundak Ferdi sambil terisak hebat. Matanya sangat lebam, menunjukkan bahwa ia telah menangis lebih dari enam jam tanpa henti. "Kau tidak sayang pada anakmu, ya?! Kau lebih memilih harta karun itu daripada melihatnya lahir?! Kau tahu kalau satu jam lagi aku telat, kau akan menjadi mayat?!"

Ferdi tidak membalas pukulan itu. Ia justru menarik Vani ke dalam pelukannya yang hangat.

"Maafkan aku, Vani. Aku benar-benar minta maaf."

"Lepaskan! Aku benci kau! Aku benci bau darahmu!" Vani memberontak, namun tenaganya sudah habis karena menangis. Akhirnya ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Ferdi,

membasahi kemeja suaminya dengan air mata baru. "Kau hampir mati... Kau hampir meninggalkanku sendirian..."

"Aku di sini, Vani. Aku tidak akan pergi," bisik Ferdi, mengelus rambut emas istrinya.

"Kau pembohong! Kau bilang mau ke pasar!" Vani melepas pelukan dengan paksa, berdiri dengan kaki gemetar. "Tunggu di sini. Jangan bergerak! Kalau kau turun dari tempat tidur ini, aku akan benar-benar menceraikanmu!"

Vani berjalan menuju dapur dengan langkah gusar. Ferdi hanya bisa terdiam, menatap perban di tangannya dan kalung permata merah yang kini tergeletak di atas meja samping tempat tidur.

Beberapa saat kemudian, Vani kembali membawa nampan berisi semangkuk sup jagung hangat dan piring berisi irisan daging sapi yang tadi dibawa Ferdi. Ia duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah yang sangat galak.

"Buka mulutmu!" perintah Vani.

"Vani, aku bisa makan sendiri—"

"AKU BILANG BUKA MULUTMU!" teriak Vani, membuat Ferdi langsung patuh.

Vani menyuapi Ferdi dengan kasar, namun ia meniup setiap sendok sup agar tidak terlalu panas. Sepanjang proses menyuapi, mulut Vani tidak berhenti beraksi.

"Kau tahu? Elrond tadi sampai ketakutan melihatku. Dia bilang kau ingin memberi kejutan padamu

. Kejutan apa?! Kejutan menjadi janda?!" Vani menyodorkan daging sapi ke mulut Ferdi. "Makan ini! Kau yang membunuhnya, jadi kau harus menghabiskannya agar punya tenaga untuk mendengarkan omelanku sampai pagi!"

"Dagingnya enak, kan?" tanya Ferdi pelan.

"Jangan mencoba merayuku dengan rasa daging! Daging ini terasa seperti rasa bersalah bagiku!" Vani mengomel lagi, meski ia sendiri mulai mengambil potongan kecil dan memakannya karena ia juga belum makan sejak sore.

"Untung ada ramuan kuno di peti itu. Kalau kau tidak membawanya, mungkin sekarang aku sudah memanggil penggali kubur."

Ferdi menatap Vani dengan lembut. "Aku membawanya karena aku tahu aku mungkin akan terluka. Aku tidak mau kau cemas."

"TIDAK MAU AKU CEMAS?! Kau justru membuatku hampir gila!" Vani meletakkan piringnya dengan keras. "Lihat mataku! Lebam karena menangisimu! Kau berhutang penjelasan panjang padaku besok pagi!"

"Vani," panggil Ferdi pelan. "Pakailah kalungnya."

Vani melirik kalung permata merah itu. "Aku tidak mau."

"Tolong. Hanya untuk menenangkanku," pinta Ferdi. "Aku mempertaruhkan nyawaku bukan untuk emasnya, tapi untuk sihir pelindung di dalam permata itu. Aku ingin kau dan anak kita selalu hangat meski aku sedang bekerja di sawah."

Vani terdiam. Ia mengambil kalung itu, merasakannya memancarkan kehangatan yang lembut di telapak tangannya. Perlahan, ia memakainya di lehernya. Seketika, rasa lelah dan stres yang ia rasakan selama berjam-jam seolah tersapu oleh energi menyejukkan dari permata tersebut.

"Bagus," gumam Vani, suaranya mulai merendah. "Tapi jangan pikir ini artinya aku sudah memaafkanmu sepenuhnya. Kau dilarang pergi ke hutan selama satu tahun! Tidak ada bantahan!"

"Satu tahun?" Ferdi mengangkat alis.

"DUA TAHUN!" ralat Vani cepat.

"Baik, baik. Dua tahun," Ferdi tersenyum, lalu meraih tangan Vani dan mencium punggung tangannya. "Terima kasih sudah menyelamatkanku, Ratu Cahayaku yang galak."

Vani mendengus, namun ia tidak menarik tangannya. Ia justru merebahkan kepalanya di samping kaki Ferdi yang dibalut perban. "Tidurlah. Kau bau obat dan sup. Dan besok pagi... kau harus menjelaskan pada anakmu kenapa ayahnya begitu bodoh sampai digigit laba-laba."

"Aku akan memberitahunya bahwa ibunya adalah pahlawan yang sebenarnya," sahut Ferdi pelan sambil mengelus kepala Vani hingga mereka berdua tertidur dalam keheningan malam yang kini kembali damai.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!