Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling bicara
Perubahan musim memang datang tanpa banyak peringatan. Udara hutan Ashwood yang biasanya hangat mulai terasa menggigit di pagi hari. Kabut turun lebih lama, menempel di batang pohon dan atap rumah kayu. Angin membawa aroma tanah basah yang lebih tajam, pertanda jika musim panas menyerah pada musim dingin yang secara perlahan datang.
Ethan tidak begitu memperhatikannya, seperti biasa pemuda itu tetap bangun pagi dan pergi memetik tanaman obat di sekitar halaman rumah ataupun pinggiran sungai. Ia tetap berjalan jauh ke pasar dengan keranjang ramuan di punggung. Tubuhnya bergerak seperti biasa, tapi Serra mulai melihat tanda-tanda kecil yang tidak bisa ia abaikan.
Langkah Ethan sedikit lebih melambat, netra coklat yang biasanya jernih pun tampak lelah. Namun tetap saja, aktivitas berat tetap pemuda itu lakukan. Sebenarnya Ethan telah menyadari jika dirinya memang sedang tidak sehat. Ia sudah berulangkali minum ramuan obat hasil racikannya sendiri untuk daya tahan tubuh.
"Istirahatlah," ujar Serra membantu menyusun kayu bakar di halaman belakang rumah.
"Aku baik-baik saja," Ethan mengambil setumpuk kayu bakar yang Serra pegang, "apa kau jadi pergi hari ini?," tanyanya lagi.
"Seperti pembicaraan kita semalam, aku akan pergi. Mungkin saja mereka sudah lama mencari ku."
Serra mulai menyusun kayu bakar, berbeda dengan Ethan yang kembali memotong balok kayu.Perasaan aneh mulai muncul dalam dirinya. Seperti ada satu celah yang terasa kosong dalam hati pemuda itu.
...----------------...
Hingga pada sore harinya, setelah mengemas sedikit barang, yang terdiri dari beberapa setel pakaian dari Ethan, serta pakaian hitamnya yang sudah robek sana sini. Namun, entah mengapa Serra merasakan ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Dada nya agak terasa sesak, namun gadis berambut panjang itu hanya menganggap jika perasaan sesak itu karena hawa musim dingin.
Tok tok tok!
Serra mulai mengetuk pintu ruang kerja Ethan,
"Ethan..," namun tidak ada jawaban.
Tok tok tok!
Serra kembali mengetuk pintu tersebut hingga terdengar jawaban Ethan yang pelan dan halus.
"Ya..aku mendengarkan," sejenak suasana dalam rumah kayu tersebut jadi hening, "maaf, aku sedang sibuk sekali, tapi tetaplah berhati-hati," Ethan kembali berkata dengan lembut.
Serra berdiri tepat di depan pintu kayu itu, "sekali lagi terimakasih," ucapnya tertahan.
"Kau sudah mengatakannya,beberapa kali," balas Ethan.
"Belum cukup," sahut Serra.
Dari balik pintu, Ethan menghela napas pelan, "jika sempat, datanglah sesekali. Aku ingin mengajakmu berkeliling desa."
"Baiklah."
Tidak ada perpisahan panjang, dan tidak ada usaha untuk saling menahan. Serra terdiam sejenak, menunggu balasan Ethan selanjutnya, namun tidak terdengar suara apapun lagi dari balik pintu kayu itu. Perlahan ia menjinjing barang bawaannya,lalu melangkahkan kaki keluar rumah.
Selamat tinggal, ucapnya dalam hati.
Serra pergi tanpa menoleh kembali. Cahaya lentera yang ia bawa tampak menyala kekuningan, mengiring langkah meninggalkan rumah kayu dengan seorang pemuda baik hati didalamnya. Angin dingin mulai menyentuh wajah cantiknya.
Sepanjang jalan, sembari membaca secarik kertas berisi penunjuk arah yang Ethan berikan sebelumnya, Serra baru menyadari jika setiap 500 meter ia berjalan, ada beberapa rumah kayu yang berdiri secara berkelompok. Jadi ini maksud perkataan Ethan, gumamnya dalam hati.
Sejujurnya Serra agak ragu ketika Ethan mengatakan hal mengenai desa. Karena pada kenyataannya ia hanya melihat sungai kecil yang tak jauh dari rumah kayu, serta gelapnya hutan Ashwood ketika malam tiba.
...----------------...
Di dalam ruang kerjanya, Ethan tertunduk lesu. Ia terus memandangi sebuah benda berbentuk persegi panjang dan ramping, yang di dalamnya ada beberapa butir peluru. Magazine, nama benda itu, ia mengetahuinya setelah bertanya ke pada salah satu pedagang alat berburu ketika berada di pasar.
Benda logam itu, mengingatkannya pada sosok Serra yang hampir meregang nyawa. Ia sengaja tidak mengembalikannya pada gadis itu, berharap jika Serra akan kembali untuk mencari benda itu.
"Tchh.."
Decakan singkat dari bibirnya terlontar begitu saja. Ethan tersenyum, namun dadanya terasa sesak. Ia tak mengerti perasaan apa yang sedari tadi menyelimutinya. Semua terasa campur aduk. Sosok gadis bernama Serra yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan tenangnya, seolah mampu menggerakkan hati.
Walaupun ia tahu jika Serra bukanlah seorang gadis lemah lembut pada umumnya, bahkan mungkin saja terlibat dalam pekerjaan yang berbahaya. Pemuda tampan berambut sebahu itu tetap akan selalu menerima keberadaannya.
"Hhhh.."
Ditengah lamunannya, tiba-tiba pandangan Ethan mulai kabur. Secara cepat ia menyimpan kembali magazine tersebut ke dalam laci miliknya. Dengan napas tersengal, serta hawa panas yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, ia berusaha meraih sebuah botol berisi racikan penguat daya tahan tubuh yang beberapa hari ini diminumnya.
Brukkk!
Namun usahanya gagal, letak botol yang terlalu jauh, serta penglihatan yang semakin kabur, membuat pemuda itu tak bisa beranjak. Kepalanya terasa berputar, membuat keseimbangannya goyah.
...----------------...
Ditengah hutan Ashwood yang mulai berkabut, langkah Serra terhenti. Dadanya mulai terasa sesak oleh perasaan yang aneh. Sosok Ethan yang tersenyum tulus kearahnya begitu menyejukkan hati. Tak hanya itu, pribadi Ethan yang ia nilai sangatlah baik, tak lagi dapat terbantahkan. Namun bagian yang terpenting, Ethan telah menyelamatkan nyawanya. Setelah menyelesaikan tugas, aku akan membalas budi, ujarnya dalam hati.
Namun bukan perasaan itu yang hatinya maksud, ada rasa mengganjal yang entah mengapa sulit hilang.Hari ini Ethan tidak banyak bicara dan tidak bekerja. Apa sedang sakit ya? batin Serra mulai bertanya-tanya.
"Ah..bodoh!" gumam Serra pada dirinya sendiri.
Ia berbalik, dan mulai melangkah dengan cepat, lebih tepatnya berlari kecil menyusuri jalan setapak hutan tersebut.
Hingga beberapa saat kemudian, Serra telah sampai di halaman sebuah rumah. Rumah kayu itu tetap terlihat sama saat ia kembali.
"Ethan!" panggilnya sambil membuka pintu. Namun tidak ada jawaban yang terdengar.
Dengan setengah berlari, Serra menghampiri pintu kayu, tempat ruang kerja Ethan. Ia mengetuk keras pintu tersebut, "Ethan, buka pintunya!." Namun tetap tidak ada respons, Serra mendorong pintu tersebut yang ternyata tidak dikunci.
"Ethan!".
Kedua netra hijau gadis itu, menangkap sosok Ethan yang sudah tergeletak lemah di atas kursi. Tubuh pemuda itu membungkuk, dengan wajah kemerahan. Botol obat terlihat tergeletak di bawah kaki meja.
Serra berlutut di hadapannya dalam sekejap. Menatap lekat sejenak wajah kemerahan dengan napas yang hilang timbul tersebut. Dengan perlahan, ia menyentuh kening Ethan. Terasa panas, dan agak menyengat. Dia demam tinggi, batin Serra.
Dengan perlahan tapi pasti, Serra membantu Ethan berdiri. Tubuh Ethan yang lebih besar dan tinggi, membuat gadis itu sedikit kesulitan. Terlebih kondisi Ethan saat ini tidak sepenuhnya sadar. Membuat langkah mereka semakin terseret.
Setelah membantu membaringkan tubuh Ethan di atas ranjang, Serra mulai mencari botol obat yang sempat ia lihat sebelumnya. Alih-alih hendak mengambil botol tersebut dari bawah meja, fokus mata Serra malah tertuju pada sebuah kursi panjang dengan selimut diatasnya. Maaf telah banyak merepotkan mu, batinnya getir.
Serra pun kembali ke kamar, membantu meminumkan obat tersebut pada Ethan. Setelah meneguk obat dengan susah payah, Ethan kembali berbaring. Serra mulai memeras kain, lalu meletakkannya pada dahi Ethan. Pikiran gadis itu mulai terasa tenang.
Beberapa jam lamanya Serra terjaga, mengganti kain di dahi Ethan, memastikan napasnya stabil. Sesekali matanya terpejam dengan posisi kepala yang bersandar di tepian ranjang.
Dini harinya, Ethan mulai terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Namun ia merasa jika demamnya mulai menurun. Dan benar saja, hal pertama yang ia lihat adalah sosok Serra yang sedang tertidur di samping ranjang. Wajahnya terlihat tenang dengan rambut tergerai.
"Ini bukan mimpi," gumam Ethan.
Pemuda itu merasa lega, ternyata sosok yang ia lihat samar sebelumnya memang nyata. Dan kini sosok itu sedang terlelap di samping ranjang tidurnya. Dengan perlahan Ethan menyentuh ujung rambut Serra yang tergerai, membuat gadis tersebut mulai terjaga.
"Mmhhh.. kau sudah sadar," ujar Serra sembari menyentuh dahi Ethan, "panasnya berkurang," lanjutnya mengambil air minum, lalu memberikannya pada Ethan.
"Tidak jadi pergi?," tanya Ethan pelan.
"Ada barang yang tertinggal," Serra mencoba beralasan, "lagipula aku tidak bisa mengabaikan orang yang sedang sakit."
Ethan tersenyum lemah, entah mengapa hatinya yakin jika Serra sengaja kembali karena mengkhawatirkan dirinya.
"Aku tumbuh di desa ini," kata Ethan tiba-tiba, "tapi situasi saat ini lebih tepat jika disebut hutan."
Serra mulai menyimak perkataan Ethan, gadis itu mulai duduk di tepian ranjang.
"Dulu kami tinggal bersama..," kalimat Ethan terhenti, "kedua orang tuaku,mereka sudah pergi karena wabah saat itu," lanjutnya.
"Aku turut berduka," Serra menanggapi, "kulihat ada beberapa rumah yang agak jauh dari sini.Tapi seperti sudah lama tidak ditinggali."
Ethan menghela napas pelan, "wabah itu cukup mematikan, membuat warga desa lebih memilih pindah dibanding bertahan disini."
"Mengapa kau tetap tinggal?," sahut Serra.
"Selain karena bisa bertahan, aku tidak punya tempat lain, ini satu-satunya tempat yang memiliki banyak kenangan bersama mereka," balas Ethan.
Sejenak mereka terdiam, namun suasana kembali cair ketika Serra mulai mengatakan sesuatu, "Kau beruntung."
Ethan tertegun, tatapan nya terfokus pada ekspresi wajah Serra yang terlihat agak gelisah. Namun ia kembali tersenyum kecil. "Ceritakan padaku, tentang dirimu."
Serra sedikit tersentak, namun entah mengapa ia tak bisa menolak. Rasa aman serta kepercayaannya pada Ethan, tak lagi menghalangi batas kewaspadaannya.