Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Rengganis merasakan napas hangat Permadi menyapu permukaan kulit telinganya, sebuah sensasi yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Namun, kata-kata yang keluar dari bibir pria itu jauh dari kata romantis, setidaknya bagi telinga Rengganis.
"Poin terakhir, Sayang," bisik Permadi dengan nada rendah yang menggoda.
"Pihak kedua wajib memakai lingerie seksi pilihan suami dan memberikan 'jatah' lima kali sehari."
Mata Rengganis hampir melompat keluar dari kelopaknya.
Ia mendorong dada Permadi dengan tenaga sisa yang ia miliki hingga jarak mereka menjauh.
"Nggak! Aku nggak mau!" teriak Rengganis dengan wajah merah padam.
"Kontrak itu gila! Kamu berondong yang menjijikkan! Mana ada manusia sanggup lima kali sehari? Kamu pikir aku ini apa? Pasien yang harus minum obat?!"
Permadi terdiam sambil melepaskan pegangannya pada pinggang Rengganis.
Senyum jahil yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan luntur.
"Kalau kamu nggak mau melayani suami, kamu bisa dilaknat malaikat, Sayang. Lagipula ini kan malam pertama kita..." ucap Permadi dengan suara melemah.
Ia perlahan menundukkan wajahnya. Bahunya yang tegap mendadak layu.
Tidak ada lagi binar kemenangan di matanya. Ia berdiri mematung di atas tangga, menatap ujung sepatunya dengan ekspresi yang sangat sedih, seolah-olah baru saja menjadi anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
"Aku cuma mau merasa diinginkan, Ganis," gumam Permadi pelan, hampir menyerupai bisikan yang penuh luka.
"Aku tahu aku jauh lebih muda, aku tahu kamu terpaksa. Tapi aku nggak menyangka kalau di matamu aku ini menjijikkan."
Melihat perubahan drastis itu, kemarahan Rengganis yang tadinya meluap-luap mendadak tersendat di tenggorokan.
Ia yang terbiasa menangani sisi kemanusiaan pasiennya, kini merasa ada sesuatu yang berdenyut tidak nyaman di dadanya.
Rengganis membuang muka, mencoba membentengi hatinya dari raut wajah Permadi yang tampak begitu terluka.
Sebagai dokter, ia tahu cara membedakan mana rasa sakit sungguhan dan mana yang hanya pura-pura, namun ekspresi Permadi barusan benar-benar mengganggu konsentrasinya.
"Sudah, jangan menunjukkan wajah melas begitu di depanku. Tidak mempan," ketus Rengganis sambil memutar tubuh, melangkah masuk ke dalam kamar utama yang luas dan beraroma maskulin itu.
"Aku mengantuk. Besok ada jadwal operasi besar, dan aku tidak punya waktu untuk meladeni drama anak muda sepertimu."
Rengganis segera menyambar beberapa bantal guling dari sisi tempat tidur.
Dengan gerakan taktis, ia menyusun guling-guling itu di tengah kasur king size tersebut, membentuk barisan 'tembok' yang membelah ranjang menjadi dua wilayah kekuasaan.
"Ini batasnya. Jangan melewati garis ini kalau kamu masih mau melihat matahari besok pagi," ancamnya tanpa menoleh.
Ceklek!
Suara pintu ditutup pelan terdengar di belakangnya.
Rengganis menegang. Dari pantulan cermin rias, ia melihat Permadi melangkah masuk.
Pria itu tidak lagi berjoget atau menggoda. Ia berjalan dalam diam, wajahnya masih datar dan terlihat sedikit redup
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Permadi naik ke atas tempat tidur di sisi yang kosong.
Ia berbaring miring, membelakangi Rengganis dan 'benteng' guling yang baru saja dibuat istrinya.
Suasana kamar yang tadinya panas karena adu mulut, kini mendadak menjadi sangat dingin dan canggung.
Rengganis yang baru saja selesai membersihkan wajahnya, ragu-ragu untuk naik ke tempat tidur.
Ia merasa seperti sedang berbagi ruang dengan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak atau justru pria yang sedang patah hati.
Akhirnya, dengan gerakan sangat pelan, Rengganis merebahkan dirinya di sisi lain.
Keheningan malam itu hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan deru halus AC.
"Selamat malam, Tante Dokter yang galak. Semoga operasinya lancar. Jangan sampai pasienmu yang jadi korban karena kamu terlalu sibuk membenciku."
Rengganis tertegun. Ia ingin membalas, ingin membela diri bahwa ia tidak membencinya, tapi lidahnya terasa kelu.
Ia memejamkan mata erat-erat, namun bayangan wajah sedih Permadi tadi justru semakin jelas di pikirannya.
Malam yang sunyi itu ternyata tidak membawa ketenangan bagi Rengganis.
Alih-alih beristirahat dengan tenang sebelum operasi besar besok pagi, otaknya yang kelelahan malah merajut mimpi yang sangat absurd.
Dalam mimpinya, Rengganis berada di tengah ruang operasi yang lampunya berubah menjadi kerlap-kerlip diskotik.
Tiba-tiba, Permadi muncul mengenakan jas dokter putih, namun perlahan pria itu mulai melakukan gerakan striptease yang jauh lebih berani daripada di ruang tamu tadi.
Permadi berputar-putar di antara meja operasi sambil mengedipkan mata ke arahnya, membuat Rengganis dalam mimpinya merasa sangat gerah sekaligus murka.
"Berhenti! Ini rumah sakit, Permadi!" teriak Rengganis dalam tidurnya.
Rasa kesal dalam mimpi itu terbawa ke alam bawah sadar. Secara refleks, tangan Rengganis mencari benda tumpul untuk menghentikan 'pertunjukan' gila suaminya.
Ia menyambar guling pembatas yang keras, lalu dengan segenap tenaga medisnya, ia mengayunkan guling itu.
Bugh!
Ia memukulnya tepat ke arah bayangan Permadi di mimpinya.
Namun, di dunia nyata, guling itu menghantam punggung Permadi yang sedang tertidur lelap.
Tak berhenti di situ, Rengganis yang masih setengah bermimpi menendang guling tersebut dengan kaki jenjangnya.
Karena tenaga yang terlalu kuat dan posisi tidurnya yang sudah di ujung kasur, Rengganis justru kehilangan keseimbangan.
Gubrak!
Tubuh Rengganis terjatuh dari tempat tidur, mendarat tepat di atas tumpukan guling dan karpet bulu yang tebal di lantai.
Benturan itu tidak cukup keras untuk membangunkannya sepenuhnya, malah rasa dingin dari lantai dan keempukan karpet membuatnya merasa "nyaman".
Tanpa sadar, ia meringkuk di lantai, memeluk guling erat-eratan, dan melanjutkan tidurnya dengan dengkur halus, meninggalkan suaminya yang kini terduduk kaget di atas kasur.
Permadi terbangun dengan jantung berdebar kencang.
Ia mengusap punggungnya yang terkena hantaman guling tadi.
Kemudian menoleh ke samping, mendapati sisi tempat tidur istrinya sudah kosong.
"Ganis?" panggilnya serak, masih setengah mengantuk.
Ia melongok ke bawah tempat tidur dan menemukan pemandangan yang luar biasa dimana istrinya, dokter spesialis kandungan yang sangat disegani dan angkuh itu, sedang tidur meringkuk di lantai seperti anak kucing yang tersesat.
Permadi tertegun sejenak, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya.
"Tante, Tante, katanya sudah matang, tapi tidur saja sampai jatuh begini."
Permadi menatap sosok Rengganis yang meringkuk di lantai dengan saksama.
Sebuah seringai licik perlahan terukir di wajahnya.
Rasa sakit di punggungnya akibat hantaman guling tadi seolah menguap, digantikan oleh ide nakal yang muncul di otaknya.
"Tante, Tante. Katanya dokter hebat, tapi gaya tidurnya kok lebih tragis dari pasien pasca bius," gumam Permadi pelan sambil menahan tawa.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas dan dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara, Permadi mengaktifkan kamera.
Ia mencari sudut terbaik yang memperlihatkan wajah pulas Rengganis yang mulutnya sedikit terbuka, memeluk guling dengan posisi yang sangat tidak estetik di atas karpet.
Cekrek! Cekrek!
Dua foto berhasil ia abadikan. Permadi melihat hasilnya dan hampir saja meledakkan tawa di tengah malam yang sunyi itu.
Di foto itu, Rengganis sama sekali tidak terlihat seperti dokter spesialis yang galak; ia terlihat sangat rapuh dan menggemaskan dengan caranya yang kacau.
"Ini bakal jadi asuransi kalau Tante mulai galak lagi besok pagi," bisik Permadi sambil menyimpan ponselnya kembali.
Alih-alih membangunkan atau memindahkan Rengganis ke kasur yang menurutnya akan merusak momen "kemenangan".
Permadi justru menarik selimutnya sendiri dan kembali berbaring di atas tempat tidur yang kini terasa sangat luas.
Ia memejamkan mata dengan perasaan puas, membayangkan reaksi Rengganis saat melihat foto itu besok pagi.
Keesokan paginya dimana sinar matahari mulai menembus celah gorden kamar.
Rengganis mengerang, merasakan punggungnya yang pegal-pegal dan leher yang kaku.
Saat ia membuka mata, yang pertama kali ia lihat bukanlah langit-langit kamar yang mewah, melainkan kaki ranjang dan debu halus di bawah kolong tempat tidur.
"Aduh, kenapa badanku sakit semua," rintih Rengganis sambil berusaha duduk.
Tiba-tiba, terdengar suara dehaman dari atas kasur.
Rengganis mendongak dan mendapati Permadi sudah duduk bersandar di kepala ranjang sambil memegang ponselnya, menatap Rengganis dengan senyum paling menyebalkan yang pernah ada.
"Selamat pagi, Tante Dokter. Bagaimana tidurnya di 'hotel bintang lantai' semalam? Nyenyak?"
Rengganis tersentak, menyadari posisinya yang masih di lantai.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku di bawah?!"
"Tanya saja pada guling yang Tante hajar semalam," sahut Permadi santai.
Kemudian ia memutar ponselnya, memperlihatkan layar yang menampilkan foto Rengganis sedang tidur mangap di lantai.
"Oh ya, mau lihat koleksi terbaru di galeri saya? Saya sebut ini: 'The Sleeping Doctor: Fallen Angel (Literally)'."
Wajah Rengganis seketika memanas setelah melihat foto itu.
"PERMADIIII! HAPUS FOTONYA SEKARANG!"
"Eits, tidak semudah itu, Sayang," Permadi melompat turun dari kasur dengan lincah sebelum Rengganis bisa menerkamnya.
"Foto ini akan aman selama Tante patuh pada poin-poin kontrak semalam. Bagaimana? Mau sarapan dulu atau mau saya upload ke grup keluarga besar sekarang?"