Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu
Genteng-genteng pecah, tembok-tembok hancur dan pohon di dekat rumahnya juga tumbang. Malam itu rumahnya hancur berantakan. Yun Xiao dan ibunya ada di sana, menepuknya dan menenangkan ibu Chen Li yang menangis sembari bersimpuh di depan rumahnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun tahu bagaimana sikap anaknya dan apa yang selalu di lakukannya.
Sejak dulu, seharusnya ia menghentikan anaknya untuk tidak melakukan apa saja dan tetap menjadi anak biasa yang tidak pernah mengerti tentang dunia. Namun waktu itu ketika umurnya masih sangat muda dan sedang bermain-main di halaman rumah, tiba-tiba seseorang datang, menjentikan jari telunjuknya yang ramping dan indah, lalu muncul cahaya warna-warni yang menghapus keberadaannya hingga tidak tersisa seperti menjadi butiran debu.
Ibu Chen Li sangat senang memandang anaknya sedang bermain, namun mendadak terkejut dan heran, mengapa anaknya sudah menghilang begitu saja. Awalnya ia berencana melangkah pelan dan membungkuk memberi hormat, namun sekarang dia hanya bisa berlari dan dengan panik berseru, “Anakku! Di mana anakku?!”
Sosok itu membuka mulutnya yang merah lalu berkata jernih, “Anakmu baik-baik saja.”
Waktu itu puncak musim gugur dan angin berhembus dingin, menerbangkan daun-daun coklat yang sudah tua. Halaman rumahnya dipenuhi daun dan menutupi seluruh tanah. Burung-burung yang hinggap di ranting akan tidur lebih awal dan pergi mencari sarang yang hangat.
Ibu Chen Li sangat panik. Kedua pupilnya terbuka lebar. Mulutnya mengeluarkan suara paling histeris yang pernah dikeluarkannya selain ketika ayah Chen Li pergi dan menangis ketika mengetahui kematiannya.
“Aku ingin anakku,” katanya tegas, tapi wanita itu berbalik tenang.
“Hey, apa yang kamu lakukan? Tolong katakan di mana anakku,” ibu Chen Li tidak suka dan semakin marah dengannya. Ia perlahan-lahan melupakan sopan santun dan melangkah mendekatinya. Mengulurkan tangannya dan ingin menyentuh bahunya, segera wanita itu berbalik dan dengan tangannya menangis tangan ibu Chen Li.
Ia berkata tenang, “aku harus membawanya pergi.”
“pergi? Dia anakku! Tolong kembalikan!”
Ibu Chen Li marah, berlari dan mengulurkan kedua tangannya. Namun tiba-tiba wanita itu berubah menjadi ribuan butiran cahaya warna warni, meninggalkan ibu Chen Li dalam kesedihan yang mendalam. Ia menangis di halamannya dan mendongak, menatap langit penuh dengan kebencian.
*****
Hari-harinya jadi murung. Ia jadi hidup sendiri dan mulai membuat ilusi jika anaknya akan kembali nanti. Ia pernah menatap lukisan wanita di dalam rumahnya dan pernah juga menceritakan tentang ayahnya di depan lukisan itu kepada anaknya. Ia bertanya pelan, “Suamiku selalu melindungimu meski kamu tidak sadar dengan itu.”
Ia mengingat almarhum suaminya menatap lukisan itu, membersihkannya setiap hari hingga membuatnya kesal dan pernah bertanya mengapa harus memelihara lukisan yang tidak berguna seperti itu. Suaminya tidak menjawab dan hanya menampilkan sedikit senyuman. Ia pikir lukisan ini akan hancur lebih dulu daripada suaminya, tapi tebakannya salah. Ia lalu bertanya lagi, “Kamu hanya lukisan yang tidak berguna.”
Lalu pergi dan setiap seminggu sekali ia akan membersihkannya.
Musim dan tahun berganti tapi wanita itu tenggelam dalam kesedihan. Tidak ada lagi suara tangisan atau ratapan, hanya terlihat tatapanya yang kosong dan tidak ada kehidupan sama sekali.
Halaman Rumahnya dipenuhi dengan daun-daun, salju dan rumput panjang. Kejadian itu terus berlangsung beberapa tahun.
Suatu hari ia melihat seorang wanita dan anaknya tiba di rumah sebelah, mengingat tentang rumah yang telah lama di lupakannya. Ia awalnya tidak tahu siapa mereka tapi kemudian ia jadi tahu. Karena itu sering kali setiap hari hidupnya walaupun masih merasakan kesedihan, melihat anak gadisnya yang suka menulis dan ibunya yang suka merias rumah, suasananya jauh lebih hangat.
Karena itu rumah tua itu kembali mendapatkan kehidupannya kembali.
Suatu hari karena penasaran , ia melihat anak gadis itu sedang duduk di bawah pohon, sedang menulis. Penasaran lalu mendekatinya dan berkata, “Kamu sangat suka menulis.”
Gadis itu sedang duduk dan punggungnya di sandarkan tanpa takut gatal karena ulat. Ia menoleh dan mengangguk. “Ibu saya suka, karenanya saya juga suka.” Berdiri, mengusap pakaiannya dan berjalan mendekat. “Bibi, kamu memperhatikanku. Aku suka menulis untuk mengisi kebosanan. Lagipula kita hanya perlu pena dan kertas.”
“Kamu anak yang rajin.”
“Saya belum bekerja, jadi belum bisa di katakan rajin.”
“Tapi kamu sudah menulis dan kebanyakan orang belajar itu dengan menulis.”
Gadis itu diam sebentar, berpikir lalu menjawab, “Ah, iya, benar. Aku masih muda dan harus belajar. Tapi sekarang aku harus bekerja.”
Ibu Chen Li ingat ketika ia menikah rumah itu di huni wanita tua yang hidup sederhana. Ia juga ingat jika semuanya baik-baik saja maka rumah itu selalu bersih. Pernah akhirnya rumah itu kotor yang membuatnya penasaran. Ia masuk, mengetuk pintu dan akhirinya tahu penghuninya sudah meninggal. Ia lalu menyampaikannya pada orang-orang dan segera bersama-sama memakamkannya.
Ia tidak melihat sanak keluarga yang datang tapi katanya wanita itu punya seorang putri yang menikah dengan keluarga bangsawan. Ibu Chen Li jadi berasumsi mungkin ibu dari gadis itu yang di maksud. Ia lalu berkata, “Itu ibumu bukan?”
“Iya, benar, ibuku.”
Ibu Chen Li merasa senang dan mulai banyak bicara, tentang neneknya yang meningal dan ia baru pertama kali melihat ibunya. Gadis itu sopan dan menjawab semua yang di tanyakan. Lambat laut, satu jam akhirnya berlalu. Mereka akhirnya berpisah.