NovelToon NovelToon
Married To My Enemy

Married To My Enemy

Status: tamat
Genre:Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.

Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.

Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.

୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Milan Sastrawan

Stella berpaling. Tangannya sempat kikuk saat membuka pintu. Dia mendorong Kayson dan turun dari mobil.

Kayson mengumpat dan segera mengejarnya. “Stella .…”

Saat Stella membuka kunci pintu galeri, Kayson mengamati jalanan. Tidak ada tanda-tanda penguntit itu, tapi bajingan itu bisa saja pandai bersembunyi.

Malam Jumat sudah larut dan langit mulai gelap. Mudah bagi seseorang untuk bersembunyi.

Bel kecil di atas pintu berdenting ceria ketika Stella masuk. Kayson menyusul di belakangnya, memperhatikan Stella menonaktifkan sebuah alarm keamanan.

“Memang sudah dijadwalkan tutup hari ini.” Dia meletakkan kunci di atas meja. “Sebelumnya gue lagi ke luar kota buat survei lokasi.”

“Sebelum lo pulang dan nemuin rumah lo hancur?”

Stella mengangguk cepat. “Minggu depan gue mau sedikit atur ulang di sini. Asisten gue aja gue kasih libur minggu lalu waktu gue pergi. Rencananya Senin kita mulai dari awal.” Tangannya jatuh ke samping. “Kayaknya semuanya baik-baik aja di sini.”

Galeri itu miliknya.

Sejak kecil, Stella memang suka melukis. Celana pendek dan kausnya selalu penuh noda cat. Dulu Kayson menganggap itu cuma kebiasaan unik Stella, sampai akhirnya dia benar-benar melihat hasil karyanya.

Stella memang pandai melukis. Dia luar biasa. Bahkan di usia dua belas tahun, dia sudah melukis sesuatu yang sering kali membuat Kayson kehabisan kata-kata. Perempuan itu memang terlahir dengan bakat.

Semakin bertambah usia, karyanya semakin matang. Soal galeri, sebenarnya dia tidak membutuhkannya. Karyanya sudah laris dan namanya mulai dikenal secara nasional.

Tapi membuka galeri adalah idenya sendiri. Katanya, dia ingin memberi ruang bagi seniman lain. Atau lebih tepatnya ruang buat seniman-seniman baru.

Setidaknya itu yang dia ceritakan pada Riggs. Karena dia tidak pernah menceritakan rencana itu pada Kayson.

Biasanya galeri buka tiga hari seminggu. Empat hari lainnya dia habiskan untuk melukis. Dua atau tiga kali sebulan dia mengadakan pameran besar, dan selalu sukses.

Kayson pernah datang beberapa kali. Minum bir yang Stella tawarkan. Melihat bagaimana perempuan itu memikat semua orang.

Itulah Stella.

Semua orang selalu menyukainya. Ya, tentu saja mereka menyukainya.

“Gue mau cek ke atas dulu. Ada beberapa karya baru di sana. Gue mau pastiin semuanya aman. Tunggu sebentar, ya?”

Studionya ada di lantai atas, di area loteng. Dari sana dia bisa melihat jalanan dan menyaksikan matahari terbit dan terbenam.

Kayson tahu Stella bisa saja tenggelam dalam pekerjaannya. Dan dia juga bisa tenggelam saat melihat karya-karya Stella.

Stella menaiki tangga spiral kecil dengan cepat. Langkahnya bergema di anak tangga besi itu.

Setelah dia sampai di atas ....

“Kayson!”

Ada ketakutan dan amarah dalam suaranya, dan Kayson langsung berlari menyusulnya menaiki tangga.

Kayson mencengkeram pegangan besi dan naik secepat mungkin, jantungnya berdebar keras. Begitu sampai di atas ... Sial.

Darah ada di mana-mana.

Di setiap sudut.

Sebentar.

Itu bukan darah. Itu cat. Cat merah tumpah di seluruh lantai. Terlempar ke dinding-dinding. Terpercik ke kanvas.

Sial.

Kanvasnya.

Stella berdiri kaku di depan sebuah kanvas besar. Cat merah sudah mengering membentuk garis-garis panjang.

“Gue bahkan hampir selesai ngerjain yang ini. Itu ... itu buat pameran bulan depan,” ucapnya. Kepalanya bergerak cepat saat ia menatap kanvas lain yang juga tertutup cat merah. “Semuanya buat pameran itu. Gue kehilangan semuanya!”

Amarah menyebar di dada Kayson.

Tangan Stella pun gatal hendak menyentuh kanvasnya.

Kayson segera menghampiri dan menggenggam jari-jari Stella. “Jangan sentuh apa pun. Gue mau tim gue ke sini dulu.”

Stella berkedip. “Alarmnya juga nggak bunyi.” Bibir bawahnya bergetar. “Habis rumah gue dibobol, gue langsung ke sini. Gue cek semuanya. Waktu itu aman-aman aja, jadi gue nggak kepikiran naik ke atas buat ngecek. Gue nggak tahu.” Air mata memenuhi matanya. “Dia bakar rumah gue. Dia hancurin kerjaan gue. Dia .…”

Kayson menarik Stella ke dalam pelukannya, merapatkannya ke dada dan memeluknya erat. Ia berharap bisa mengambil semua rasa sakit yang dirasakan perempuan itu.

Meski dalam dirinya ada dorongan kuat untuk menghancurkan bajingan yang melakukan ini pada Stella.

“Dia bakal ngapain lagi?” bisik Stella. “Apa lagi yang bakal dia lakuin ke gue, hahhh?”

“Nggak akan ada,” janji Kayson. “Gue nggak bakal biarin dia. Gue bersumpah.”

Sistem keamanan itu miliknya. Ia akan mencari tahu kenapa tidak ada peringatan yang terkirim. Ia akan meninjau semua rekaman kamera dan data sensor gerak. Ia akan tahu kapan si bajingan itu datang ke galeri.

Setelah itu, ia akan mengambil rekaman kamera lalu lintas di sekitar area. Ia akan membereskan sampah itu.

“Kita harus keluar dari sini, Stella.” Kayson masih memeluknya. “Kita enggak boleh ngerusak barang bukti yang mungkin aja dia tinggalin. Lima menit lagi tim gue sampai.”

“Kita harus telepon polisi.”

Ya, itu akan Kayson lakukan. Tapi ia ingin timnya tiba lebih dulu.

Kayson menatapnya. Ia membenci air mata yang meluncur di pipi Stella.

Tangannya terangkat dan ia mengusapnya, jemarinya sempat tertahan di kulit halus itu. “Gue bakal beresin semuanya.”

Itu janji yang keluar dari lubuk hatinya. Dan langkah pertama untuk membereskannya adalah membawa Stella pergi dari sana. Membawanya ke tempat yang aman.

“Ayo, Stella!”

Kayson menggenggam tangan Stella dan menuntunnya menuruni tangga. Setiap otot di tubuhnya menegang oleh amarah.

Stella kembali disakiti oleh bajingan itu. Ini tidak akan terjadi lagi jika Kayson ada di samping Stella.

Sebelum keluar dari galeri, Kayson mengirim pesan kepada timnya.

Mereka meninggalkan gedung, Kayson mengunci pintu, lalu tatapannya menyapu sekitar, mencari potensi ancaman dari penguntit itu.

Dan benar saja, ia melihat sosok gelap bergerak ke arah mereka.

Kayson segera mendorong Stella ke belakang tubuhnya, melindunginya saat sosok itu semakin mendekat.

Seorang pria tinggi, langkahnya cepat, mengenakan hoodie.

“Stella!” teriak pria itu saat akhirnya keluar dari kegelapan. “Gue lihat lampu di galeri lo.” Ia melangkah lagi ke arah mereka.

Bukan.

Ke arah Stella.

“Jangan mendekat!” geram Kayson.

Pria itu berkedip lalu menurunkan tudungnya, menampakkan rambut pirang terang.

“Eh, Stella? Lo nggak apa-apa?” Kepalanya miring, berusaha melihat ke belakang tubuh Kayson. “Cowok ini gangguin lo?” Suaranya berubah lebih keras.

Tatapan Kayson menelusurinya. Rambutnya berantakan, wajahnya tampan seperti anak kuliahan, mengenakan hoodie tebal dan jeans.

Saat lengan bajunya tersingkap, terlihat tato gelap melingkari pergelangan tangannya. Ada juga tatto hitam berliku yang menjalar di lehernya.

Pria itu berada cukup dekat. Cukup dekat untuk melihat lampu di galeri.

Seharusnya pria ini adalah?

“Milan?” sambut Stella. “Ada yang masuk ke galeri gue. Ngerusak semua kerjaan gue. Kita mau telepon polisi.”

Wajah Milan Sastrawan langsung mengeras. “Serius? Sial!”

Milan bergerak cepat, mengulurkan tangannya.

Kayson langsung memastikan dirinya tetap berada di antara pria itu dan Stella. “Kayaknya gue udah bilang. Jangan mendekat. Nggak bakal ada peringatan kedua!”

Milan berkedip. “Eh, Stella? Ini pacar baru lo?”

“Bukan!” jawab Stella.

“Iya!” sahut Kayson di saat bersamaan. “Dan gue enggak suka kalau ada bajingan yang nggak jelas nyamperin Stella.”

Terutama setelah kekacauan di dalam galeri tadi.

Alis Milan berkerut mendengar jawaban yang bertolak belakang itu. “Stella?”

“Kayson itu … teman. Dan, ehm, bodyguard gue?”

Karena Stella terdengar ragu, Kayson pun mengambil alih. “Teman, bodyguard, pacar. Terserah ... dia butuh gue jadi kenapa? Yang jelas, gue orang yang bilang ke lo kalau nggak ada yang boleh deketin dia lagi!”

Tangan Milan mengepal lalu mengendur berulang kali. “Beneran ada yang masuk ke tempat dia?”

“Iya,” balas Kayson tajam. “Terus kita keluar, dan coba tebak siapa yang tiba-tiba muncul?”

Milan akhirnya mundur selangkah. “Gue nggak bakal pernah nyakitin Stella!”

Kayson belum siap percaya begitu saja.

“Stella, aduh!” seru Milan. “Bilang ke dia gue nggak mungkin ngelakuin itu! Lo kenal gue! Bilang ke dia!” Milan maju lagi. Tangannya mengepal marah, dan kepalan itu mengarah langsung ke Kayson.

Baru saja situasi terlihat mereda. Milan tiba-tiba menerjang Kayson.

Stella pun menjerit.

Tapi Kayson bergerak lebih dulu. Ia menghantamkan satu tangan ke perut Milan lalu melayangkan pukulan keras ke rahangnya.

Milan terjatuh ke tanah dengan bunyi,

PLUGGG

Kayson berdiri di atasnya, kedua tangan masih terkepal, siap menyerang lagi.

“Gue udah bilang. Jangan deketin dia!”

Milan mengerang.

“Apa yang lo lakuin?” Suara Stella terdengar tertahan. Terkejut.

Di kejauhan, sirene meraung. Kayson tahu timnya sudah memberi tahu polisi. Semua akan segera tiba di lokasi.

“Lo barusan mukul gue, Bego!” Milan terengah sambil bangkit berdiri. Napasnya berat dan tersengal. “Lo nggak bakal seberuntung ini lain kali. Inget Lo nggak akan bisa—”

“Jangan, Milan!” teriak Stella. “Berhenti sekarang!” Ia berdiri di antara mereka. “Jangan beranteeeeem!”

Suaranya gemetar. Tubuhnya juga.

Suara sirene semakin keras.

Bahu Milan merosot. “Gue nggak bakal pernah nyakitin Stella.” Tatapannya tertuju pada Kayson. “Gue utang banyak sama dia.”

“Milan .…” Stella menggeleng. “Lo nggak perlu—”

“Gue sadar gara-gara dia. Dia yang nyelametin hidup gue. Beneran. Dia yang ngerebut botol sialan itu dari tangan gue dan ngehentiin gue sebelum gue bunuh diri kayak orang tolol.”

Sirene semakin dekat.

“Lo pikir gue bakal ngelakuin sesuatu yang bikin sehelai rambut di kepala dia kenapa-kenapa?” Suara Milan tegang. “Nggak. Gue nggak bakal. Lo salah besar, brengsek ... Bego lo ... Salah besar.”

Stella sudah sering melihat Kayson berkelahi. Sejak kecil, Kayson memang kerap terlibat masalah. Ia juga rutin berlatih di ring tinju Gym.

1
Rita
like seru tegang
DityaR: Maacii kak
total 1 replies
Rita
bagus biarpun awal2 bingung ma obrolan nya ceritanya seru tebak2an siapa penjahaty semangat terus
Rita
sdh g sabar nervous
Rita
hhhmmmmmmm👀
Rita
😂😂😂😂saking kuaty
Rita
tegang,trauma,kecewa,sedih takut jadi satu kmu sdh bener
Rita
buruan mumpung lengah
Rita
seru g diduga
Rita
nah lho👀👀👀👀
Rita
😂😂😂😂
Rita
ini diluar pengamanan 🥰🥰🥰
Rita
👍👍👍👍👍👍bener
Rita
Mudah2n beneran selesai
DityaR: pembunuhnya aja belum ketemu, selesai gimana wkwkwk
total 1 replies
Rita
akhirnya
Rita
bikin deg2an Kayson
Rita
nikahin lah
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😂😂😂😂😂
Rita
hhmmm bnr2 sdh selesai blm?
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!