NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. A Heart That Doesn't Count

Malam hari — kamar tamu Istana Araluen

Cahaya lilin bergetar pelan.

Anthenia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun sederhana. Pesta teh Flavius telah usai, namun pikirannya tidak ikut beristirahat.

Ia menghela napas pelan.

“Ada apa denganku?” gumamnya lirih.

Sejak kapan… ia mulai tidak tenang?

Biasanya, setiap keputusan ia hitung dengan dingin. Risiko, dampak, jalan keluar—semuanya jelas. Namun kini, ada sesuatu yang tidak bisa ia masukkan ke dalam perhitungan.

Wajah itu muncul begitu saja.

William Whiston.

Tatapan tajamnya.

Nada suaranya yang datar.

Dan—perubahan kecil yang tak bisa diabaikan.

Dia tidak lagi hanya mengamati, pikir Anthenia.

Dia menjaga.

William tak pernah bertanya berlebihan.

Tak pernah mengekang.

Namun sejak keputusan Anthenia menolak mundur—sejak ia memilih berdiri di depan permainan—

jarak William berubah.

Lebih dekat.

Lebih waspada.

Dan entah kenapa… itu mengusik.

Kilasan kehangatan

Cara William berdiri di ujung lorong setelah jamuan.

Tidak berkata apa-apa, tapi memastikan ia pergi dengan aman.

Nada suaranya saat berkata,

“Kau tidak sendirian.”

Anthenia menutup matanya.

Ini berbahaya,pikirnya.

Perasaan tidak pernah menjadi bagian dari rencana.

Di kehidupannya sebelumnya—Jane, presiden dunia gelap—

hati adalah kelemahan.

Namun kini…

Ia menyentuh dadanya pelan.

Denyut itu nyata.

Lorong luar kamar — waktu yang sama

William berdiri bersandar pada pilar batu, pedang masih tergantung di pinggangnya.

Ia tidak berniat masuk.

Tidak ingin mengganggu.

Namun pikirannya tak jauh berbeda.

Anthenia Blackwood, batinnya.

Dia mengubah alur.

Bukan hanya politik.

Bukan hanya istana.

Dirinya.

William mengepalkan tangan.

Ia telah memimpin perang.

Menjatuhkan musuh tanpa ragu.

Namun menghadapi satu hal ini—

ia tidak memiliki strategi.

Kembali ke kamar Anthenia

Anthenia membuka mata.

“Ini tidak boleh,” gumamnya tegas.

“Aku punya tujuan.”

Ia berdiri, menenangkan napasnya.

Namun bayangan William tetap tinggal.

Bukan sebagai panglima.

Bukan sebagai putra mahkota.

Melainkan sebagai pria yang berdiri di sisinya—tanpa syarat.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di dunia ini,

Anthenia menyadari satu kebenaran sederhana:

Ada medan perang yang belum pernah ia hadapi.

Dan itu…

adalah hatinya sendiri.

Pagi hari — Istana Araluen

Cahaya matahari pagi menyelinap melalui jendela tinggi, menyentuh lantai marmer dengan lembut.

Anthenia berdiri di depan cermin.

Wajah yang menatap balik tampak sama—tenang, terkendali—namun matanya tidak sepenuhnya dingin seperti biasanya.

Fokus, katanya pada dirinya sendiri.

Ini hanya gangguan.

Ia meraih mantel tipis dan melangkah keluar kamar.

Halaman dalam istana

William sudah ada di sana.

Ia berdiri berbincang singkat dengan seorang perwira, namun segera menghentikan percakapan begitu melihat Anthenia mendekat.

Perubahan itu kecil.

Namun Anthenia menangkapnya.

William menoleh sepenuhnya, memastikan jalannya bersih, lalu berkata datar,

“Pagi.”

“Pagi,” balas Anthenia.

Hening sejenak.

Biasanya, William akan pergi setelah memastikan ia aman.

Hari ini—tidak.

“Kau akan kembali ke Blackwood dalam beberapa hari,” katanya.

“Benar.”

“Ada banyak mata yang akan mengikuti perjalananmu.”

Nada itu profesional.

Namun tatapannya… tidak.

“Aku akan mengatur pengawalan,” lanjutnya.

“Bukan resmi. Tidak mencolok.”

Anthenia mengerutkan kening tipis.

“Itu tidak perlu.”

William menatapnya lurus.

“Ini bukan permintaan.”

Jantung Anthenia berdetak sedikit lebih cepat.

Sejak kapan dia sekeras ini… untuk urusanku?

Ia menghela napas pelan.

“Baik,” jawabnya akhirnya.

William mengangguk—lega, meski wajahnya tak menunjukkannya.

Beberapa langkah kemudian

Mereka berjalan beriringan tanpa sadar.

Jarak mereka cukup dekat untuk percakapan pelan, namun cukup jauh untuk terlihat wajar.

“Pesta teh Flavius,” ucap William tiba-tiba.

“Kau tidak terpojok.”

“Itu tujuannya.”

William meliriknya sekilas.

“Kau melakukan lebih dari sekadar bertahan.”

Anthenia menatap lurus ke depan.

“Dan itu masalah?”

“Tidak,” jawabnya cepat.

“Justru… itulah yang membuatku khawatir.”

Anthenia berhenti.

William ikut berhenti.

“Kau terlalu terlihat sekarang,” katanya lebih pelan.

“Dan dunia ini tidak lembut pada mereka yang terlihat.”

Anthenia menatapnya lama.

“Sejak kapan kau peduli?” tanyanya tanpa emosi.

Pertanyaan itu meluncur begitu saja.

William terdiam.

Untuk sesaat—hanya sesaat—topeng panglima itu retak.

“Sejak aku menyadari,” katanya pelan,

“bahwa aku tidak ingin melihatmu jatuh.”

Angin berembus pelan di antara mereka.

Anthenia memalingkan wajah.

Ini salah, pikirnya.

Tidak dekat.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” katanya akhirnya.

William mengangguk.

“Aku tahu.”

Namun ia tetap berdiri di sana.

Setelah berpisah

Anthenia melangkah pergi lebih dulu.

Setiap langkah terasa berat—bukan karena ancaman, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih rumit.

Ini bukan ketakutan, pikirnya.

Ini… kebimbangan.

Di baliknya, William menatap punggungnya yang menjauh.

Ia tahu satu hal dengan pasti:

Jika ini perang,

maka inilah medan yang paling berbahaya.

Dan jika Anthenia adalah pilihan—

maka ia sudah terlalu jauh untuk mundur.

Sore hari — balkon sunyi Istana Araluen

Angin sore menyapu tirai tipis balkon.

Anthenia berdiri sendirian, menatap halaman istana dari ketinggian. Dari sini, Araluen terlihat tenang—terlalu tenang untuk istana yang penuh intrik.

Ia menggenggam pagar balkon.

Sejak kapan aku ragu?

Sejak kapan aku membiarkan satu orang mengacaukan pikiranku?

Jika ini Jane di abad ke-21, jawabannya mudah.

Potong emosi.

Singkirkan kelemahan.

Namun Anthenia—bukan Jane sepenuhnya.

Ia menutup mata.

Wajah William kembali muncul, tak diundang.

Nada suaranya.

Caranya berdiri satu langkah di depan, seolah tubuhnya sendiri adalah perisai.

“Aku bodoh,” gumamnya pelan.

Bukan karena perasaan itu muncul—

melainkan karena ia tidak membencinya.

Kilasan singkat

William menatapnya tanpa menuntut.

Tanpa janji.

Tanpa paksaan.

Hanya… hadir.

Anthenia membuka mata.

Jika aku melangkah satu langkah lagi, pikirnya,

maka aku tidak bisa berpura-pura ini hanya strategi.

Tangannya mengepal.

“Tidak,” katanya tegas pada dirinya sendiri.

“Belum.”

Ia berbalik, meninggalkan balkon.

Koridor menuju sayap timur

Langkah kaki terdengar dari arah berlawanan.

William.

Kali ini, mereka berhenti bersamaan.

Tidak ada kata.

Tidak ada senyum.

Hanya jarak yang terlalu dekat untuk diabaikan, terlalu jauh untuk disentuh.

“Kau terlihat lelah,” kata William akhirnya.

“Banyak yang kupikirkan.”

“Aku tahu.”

Anthenia menatapnya.

Untuk sesaat, ia hampir mengatakan sesuatu—

hampir bertanya—

hampir menyerah pada kejujuran.

Namun ia menghela napas pelan.

“Aku akan kembali ke Blackwood besok,” katanya.

“Nanti… jarak akan membantu.”

William tidak menyangkal.

“Jika itu yang kau butuhkan,” katanya pelan.

Namun matanya berkata hal lain.

Malam — kamar Anthenia

Ia duduk di tepi ranjang, koper kecil sudah disiapkan.

Araluen akan segera menjadi masa lalu.

Setidaknya… untuk sementara.

Namun satu hal ia sadari dengan jelas:

Perasaan itu tidak akan menghilang hanya karena jarak.

Ia menatap nyala lilin.

“Jika ini ujian,” gumamnya,

“maka ini yang paling kejam.”

Di luar jendela, lonceng malam berdentang.

Menandai akhir satu hari—

dan akhir satu kebohongan yang tak lagi bisa ia pegang:

Bahwa hatinya masih sepenuhnya di bawah kendalinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!