NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: tamat
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO / Tamat
Popularitas:32.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Begitu Sinta dan Dina melangkah keluar dari gerbang mansion sambil masih tertawa cekikikan, Rengganis segera menutup pintu depan dengan bunyi debum yang cukup keras.

Ia berdiri mematung sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan wajahnya yang masih terasa panas seperti terbakar.

Di ruang makan, Permadi masih duduk dengan santai, menyesap sisa kopi hitamnya seolah baru saja memenangkan tender triliunan rupiah.

Ia tampak sangat puas dengan "pengakuan dosa" India-nya tadi.

"Mas Permadiii!!!" teriak Rengganis yang tiba-tiba muncul dari balik pilar.

Rengganis menyambar bantal hias dari sofa ruang tengah dan langsung berlari ke arah meja makan.

Tanpa aba-aba, sebuah hantaman bantal empuk mendarat tepat di kepala suaminya.

"Aduh! Hei, kenapa ini?" Permadi tertawa sambil berusaha melindungi wajahnya dengan tangan.

"Kenapa? Kamu tanya kenapa?!" Rengganis menghantamkan bantal itu lagi, kali ini ke bahu Permadi.

"Kamu sengaja kan? Kamu sengaja memamerkan tanda itu di depan Sinta dan Dina! Mau ditaruh di mana mukaku besok kalau masuk rumah sakit, hah?!"

Permadi bangkit dari kursi, mencoba menangkap tangan istrinya, namun Rengganis sangat gesit.

"Gara-gara kamu, mereka sekarang mengira kita sedang syuting film India 24 jam nonstop!"

"Tapi kan memang benar, Sayang," bela Permadi sambil tertawa terbahak-bahak.

Ia berhasil menangkap ujung bantal itu, menariknya hingga tubuh Rengganis ikut tertarik ke pelukannya.

"Lagipula, itu kan tanda cinta. Kenapa harus malu? Semua orang harus tahu kalau Dokter Rengganis adalah milik Rahul selamanya."

"Rahul, Rahul!!" Rengganis memukul dada Permadi dengan tangan kosong, meski pukulannya kini jauh lebih lemah.

"Gara-gara 'Kitty' juga, kamu jadi tidak punya malu sama sekali!"

Permadi melingkarkan tangannya yang kokoh di pinggang Rengganis, mengunci pergerakan istrinya.

Ia menunduk, menatap leher Rengganis yang tadi jadi bahan ledekan dengan tatapan yang kembali berubah lembut—dan sedikit lapar.

"Habisnya, dastermu semalam itu sangat menantang, Anjali. 'Kitty' tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan stempel resmi," bisik Permadi tepat di telinga Rengganis.

Rengganis terdiam, rasa marahnya menguap digantikan oleh degup jantung yang kembali menggila.

Ia menyandarkan kepalanya di dada Permadi, menghela napas pasrah.

"Dasar berondong nakal. Awas ya kalau nanti sore pas kulineran kamu bahas-bahas India lagi."

"Janji. Tidak bahas India," ucap Permadi sambil mengecup pucuk kepala istrinya.

"Tapi aku tidak janji kalau nanti malam kita tidak syuting sekuelnya."

Rengganis mencubit perut Permadi dengan gemas.

"Mas!! Sudah, ayo siap-siap. Katanya mau sate kambing?"

"Siap, Bos. Tapi pakai baju yang tertutup ya, biar Rahul tidak cemburu dilihat orang lain," goda Permadi sekali lagi sebelum kabur menuju kamar untuk berganti pakaian.

Langit Jakarta nampak bersahabat dengan semburat jingga yang cantik.

Sesuai janji, Permadi dan Rengganis kembali beraksi dengan penyamaran mereka.

Kali ini Rengganis menyerah pada saran Permadi; ia memakai pashmina tipis yang dililitkan dengan gaya elegan untuk menutupi "kenang-kenangan" semalam, sementara Permadi tetap setia dengan kaos oblong dan kacamata hitamnya.

Destinasi mereka adalah sebuah warung sate kambing legendaris di pojok jalan sempit yang asapnya sudah mengepul hebat, menyebarkan aroma daging bakar yang menggoda iman.

"Bang, sate kambing dua puluh tusuk. Lemaknya dikit aja, tapi kecapnya dipisah ya," pesan Rengganis mahir.

Mereka duduk di bangku kayu panjang yang sedikit goyang.

Permadi menatap piring kecil berisi kecap manis yang diberi irisan bawang merah dan cabai rawit.

Entah karena pengaruh energi "Kitty" yang masih meluap atau memang sedang ingin bereksperimen, Permadi menarik botol kecap besar di atas meja.

"Kamu mau bikin kolam kecap, Mas?" tanya Rengganis heran melihat suaminya menuangkan cairan hitam kental itu tanpa henti ke atas satenya.

"Daging kambing itu harus tenggelam dalam manisnya kecap, baru seimbang dengan pedasnya hidup, Anjali," jawab Permadi dengan filosofi asal-asalan yang membuat Rengganis memutar bola matanya.

Permadi menyuap satu tusuk sate yang sudah basah kuyup oleh kecap. Matanya terpejam.

"Wah, ini baru namanya makanan manusia. Kecapnya meresap sampai ke sanubari."

"Sanubari apa sanubari? Itu namanya kamu minum kecap pakai sate!" tawa Rengganis pecah melihat sudut bibir suaminya yang hitam terkena noda kecap.

Rengganis dengan telaten mengambil selembar tisu dan mengusap bibir Permadi.

"Pelan-pelan, Mas. Tidak akan ada yang merebut satemu. Lihat tuh, belepotan ke mana-mana."

Permadi terdiam, menikmati perhatian kecil dari istrinya.

Ia menatap Rengganis yang sedang sibuk mengelap bibirnya dengan penuh kasih sayang. "Ganis, kamu tahu kenapa aku suka kecap yang banyak?"

"Kenapa? Karena kamu memang suka yang manis-manis?"

"Bukan," Permadi menggeleng pelan, lalu berbisik,

"Karena kecap ini hitam, tapi rasanya manis. Sama seperti malam-malam kita; gelap, tapi sangat manis untuk dikenang."

Rengganis membeku sejenak, wajahnya kembali memanas di balik pashmina-nya.

"Mas! Bisa tidak, satu jam saja jangan mengeluarkan kalimat gombalan India itu? Kita sedang di warung sate, bukan di set film Bollywood!"

"Hahaha! Habisnya, melihatmu makan sate dengan lahap begitu membuatku ingin bernyanyi lagi," goda Permadi sambil mengangkat satu tusuk sate ke arah Rengganis.

"Ayo, pesawat sate mau mendarat di mulut Dokter Rengganis. Aaaaa..."

Rengganis akhirnya menyerah dan tertawa, membuka mulutnya untuk menerima suapan dari suaminya.

Di warung sederhana yang penuh asap itu, mereka benar-benar merasa seperti orang biasa yang sangat bahagia.

Malam semakin larut saat mobil mereka memasuki gerbang mansion.

Perjalanan kuliner hari itu ditutup dengan kepuasan perut yang luar biasa, namun ada sesuatu yang berbeda dari gelagat Permadi.

Sejak mereka meninggalkan warung sate, pria itu terus melonggarkan kerah kaosnya dan berkali-kali menyeka keringat di pelipisnya.

Efek daging kambing dengan bumbu rempah yang kuat benar-benar mulai bekerja.

Darah Permadi terasa mendidih, dan suhu tubuhnya naik beberapa derajat, menciptakan sensasi panas yang menjalar dari dada hingga ke seluruh ujung sarafnya.

Begitu mereka sampai di dalam kamar, Permadi langsung melepas kaosnya dan menyalakan AC ke suhu paling rendah, namun ia masih merasa kegerahan.

Matanya menatap Rengganis yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memijat kakinya sendiri.

"Mas, sudah ya. Aku benar-benar capek," ucap Rengganis pelan.

Wajahnya terlihat letih setelah seharian berkeliling pasar dan berburu kuliner.

Ia hanya ingin segera merebahkan tubuh dan terlelap dalam balutan daster batiknya yang nyaman.

Permadi mendekat, berlutut di hadapan istrinya. Napasnya terasa berat dan hangat.

Ia menggenggam jemari Rengganis, menatapnya dengan pandangan yang begitu dalam, liar, namun juga penuh permohonan.

"Sayang, sebentar saja," ujar Permadi dengan suara serak.

Rengganis menghela napas, hampir ingin menolak lagi, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan saat ia melihat sesuatu yang tak terduga.

Di sudut mata Permadi, tampak butiran bening yang perlahan meluncur jatuh membasahi pipinya.

"Mas? Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Rengganis panik. Ia segera memegang wajah suaminya dengan kedua tangan.

Sebagai dokter, ia khawatir efek kambing itu memicu sesuatu yang buruk pada tekanan darah Permadi.

"Tidak ada yang sakit, Anjali..." bisik Permadi sambil terisak pelan, namun tangannya menarik pinggang Rengganis agar semakin rapat padanya.

"Hanya saja, rasanya sangat sesak di sini. Aku merasa sangat beruntung memilikimu, dan efek makanan tadi membuatku merasa takut kehilanganmu lagi seperti kemarin."

Rengganis tertegun. Ia menyadari bahwa di balik sifat agresif dan gombalan Indianya, Permadi sebenarnya sedang mengalami ledakan emosi—campuran antara gairah yang terpicu makanan dan trauma sisa drama Laras yang belum sepenuhnya hilang.

Air mata itu adalah bukti betapa rapuhnya seorang Permadi Wijaya jika menyangkut istrinya.

"Mas, jangan menangis," ucap Rengganis lembut, hatinya luluh seketika. Rasa capeknya menguap melihat kerapuhan suaminya.

"Tolong, bantu aku mendinginkan suhu tubuh ini, Sayang. Hanya kamu yang bisa," pinta Permadi lagi, suaranya nyaris seperti rintihan.

Rengganis tersenyum tipis, ia mengecup kelopak mata Permadi yang basah, lalu membimbing kepala suaminya ke dadanya.

"Baiklah, Rahul. Tapi janji, jangan pakai gerakan tari India yang aneh-aneh ya? Kita pakai cara yang lembut saja."

Permadi mengangguk cepat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permennya kembali, meski tatapan matanya tetap menunjukkan bahwa 'Kitty' sedang dalam mode siaga penuh.

Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, panasnya daging kambing berubah menjadi kehangatan cinta yang jauh lebih bermakna.

1
falea sezi
ya tamat
Endang Sulistia
keren
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🙏
total 1 replies
sitanggang
jalan ceritanya agak sedikit kebodohan👎👎👎
falea sezi
bibir mu bekas jalang permadi
Rais Raisya
selamt ya buah rahul dan anjali 😅🤣
Anonymous
Ini lirik melompat lebih tinggi... klo pemuja rahasia
Ku awali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh
my name is pho: 🤭🤭 terimakasih kak
total 1 replies
Nur Rsd
🤣🤣🤣
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!