Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Harga Dari Sebuah Kesombongan 2
"Saya di sini, Nona," jawab Kuang dengan suara menggelegar layaknya guntur.
"Pergilah ke Distrik Selatan. Telusuri sisa jejak terakhir dari kompas itu sebelum sinyalnya menghilang. Jangan remehkan Tabib Tanpa Nama itu," perintah Ji Wuyue sambil memutar sebatang rokok kecil di sela-sela jarinya yang lentik. "Jika kau menemukannya... jangan langsung bunuh dia. Patahkan semua persendiannya, bawa dia hidup-hidup ke hadapanku. Aku ingin menguliti rahasianya sendiri."
Kuang menyeringai brutal, memperlihatkan giginya yang sedikit menguning. "Sesuai perintah Anda, Nona."
Dua kekuatan bayangan kini bergerak secara bersamaan, mengincar satu target yang sama di tengah kerasnya Kota Jinghai.
Matahari sore mulai meredup, mengubah langit Kota Jinghai menjadi berwarna jingga kemerahan.
Ye Xuan berjalan santai keluar dari gerbang sekolah. Dia sudah mengganti seragam sekolahnya dengan kaus hitam polos dan jaket ritsleting kasual, membaur dengan keramaian jalanan.
Baru berjalan melewati dua blok dari sekolah, indra pendengaran dan insting tempur Ye Xuan yang telah diperkuat langsung mendeteksi anomali.
"Satu... tiga... lima... sepuluh orang," batin Ye Xuan.
Mata gelapnya melirik ke arah pantulan kaca jendela sebuah minimarket di seberang jalan. Dari pantulan itu, dia bisa melihat sekelompok pria dewasa berwajah preman, mengenakan jaket kulit kusam dan bertato, berjalan mengikutinya dari jarak sekitar dua puluh meter. Tangan mereka terus merogoh ke dalam saku jaket atau di balik punggung, jelas menyembunyikan senjata tajam.
"Hahhhhh..." Ye Xuan menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Anak-anak orang kaya yang manja benar-benar mudah ditebak. Disentuh sedikit saja egonya, mereka langsung menangis mencari preman bayaran," monolog batin pria berusia 35 tahun itu berputar dengan nada muak. Di masa lalunya, preman-preman seperti ini sering memalak uang keamanannya saat dia bekerja di minimarket.
Ye Xuan sama sekali tidak mempercepat langkahnya. Namun, alih-alih berjalan menuju jalan raya utama yang ramai, dia justru berbelok tajam ke sebuah gang sempit yang mengarah ke kawasan pabrik terbengkalai di pinggiran Distrik Selatan. Dia tidak ingin ada warga sipil yang melihat kemampuannya, dan dia juga tidak ingin darah mengotori jalanan umum.
Melihat target mereka masuk ke area sepi, komplotan preman itu langsung mempercepat langkah, menyeringai seperti serigala kelaparan yang melihat domba masuk ke dalam perangkap.
Ye Xuan terus berjalan hingga dia tiba di tengah-tengah area pabrik tua. Dinding-dinding beton di sekitarnya sudah dipenuhi lumut dan grafiti. Rongsokan mesin berkarat berserakan di tanah berdebu. Tempat ini sangat terisolasi. Suara teriakan sekeras apapun tidak akan terdengar hingga ke jalan raya.
Ye Xuan menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan dengan sangat tenang, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.
Tap... Tap... Tap...
Sepuluh preman berbadan tegap muncul dari balik gerbang pabrik, langsung menyebar membentuk formasi setengah lingkaran untuk menutup satu-satunya jalan keluar.
Di tengah-tengah mereka, seorang pria tinggi besar dengan bekas luka bakar di lehernya berjalan maju. Itu adalah Kak Long. Dia mengeluarkan sebatang cerutu murahan, menyalakannya, lalu menatap Ye Xuan dengan tatapan meremehkan.
"Jadi kau yang namanya Ye Xuan?" dengus Kak Long, menghembuskan asap cerutu ke udara. "Bocah SMA kurus kering. Tuan Muda Zhao benar-benar membuang seratus ribu yuan hanya untuk sampah sepertimu. Mendekatlah, berlutut, dan biarkan aku mematahkan kaki dan tanganmu. Jika kau melawan, aku tidak jamin kau masih punya mata untuk melihat besok pagi."
Preman-preman lainnya mulai tertawa keras. Mereka menarik keluar parang, tongkat bisbol, dan rantai besi dari balik jaket mereka. Suara logam yang saling bergesekan menggema di area pabrik yang kosong itu, menciptakan aura intimidasi yang biasanya cukup untuk membuat remaja biasa mengompol di celana.
Namun, tidak ada ketakutan di wajah Ye Xuan.
Dia hanya menatap Kak Long dengan pandangan yang sangat datar dan bosan.
"Seratus ribu yuan?" Ye Xuan bergumam pelan, suaranya sedingin angin musim dingin. "Ternyata nyawaku di mata Zhao Wei hanya seharga setengah bulan gaji kuli bangunan. Betapa mengecewakan."
"Apa kau bilang, bajingan?!" bentak salah satu preman berbadan gempal. Merasa dihina oleh sikap Ye Xuan yang terlalu santai, preman itu langsung berlari maju, mengayunkan tongkat bisbol aluminiumnya dengan kekuatan penuh ke arah kepala Ye Xuan.
Wush!
Tongkat itu membelah udara dengan kecepatan tinggi. Jika pukulan itu mengenai kepala manusia normal, tengkoraknya pasti akan retak.
Namun, di mata Ye Xuan yang telah menguasai Seni Pukulan Pemutus Meridian, gerakan preman itu terlihat sangat lambat dan penuh dengan celah.
Ye Xuan tidak melangkah mundur. Dia justru melangkah setengah langkah ke depan, menembus jarak ayunan tongkat tersebut dalam hitungan sekian detik.
Srett!
Tongkat bisbol itu meleset hanya satu sentimeter di samping telinga Ye Xuan.
Tepat saat tongkat itu melewatinya, tangan kanan Ye Xuan melesat ke atas dari dalam saku jaketnya layaknya serangan ular kobra. Ini bukan pukulan tinju biasa. Dia merapatkan jari-jarinya, membentuk ujung tombak tumpul, lalu menusukkannya dengan kekuatan ledakan fisik murni tepat ke bagian bawah tulang rusuk kanan preman itu, menargetkan titik meridian Zhangmen yang melindungi ulu hati dan organ hati.