NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah kirim

Malam turun pelan di Jakarta, membawa udara yang tidak terlalu dingin tapi cukup untuk membuat lampu-lampu apartemen menyala satu per satu.

Di dapur, Arka berdiri dengan celemek abu-abu sederhana yang entah kenapa selalu membuatnya terlihat… terlalu rapi untuk ukuran pria yang hidup sendiri. Tangannya cekatan menumis sayur, sesekali mengaduk sup yang mengepul pelan. Gerakannya tenang, terukur—seperti hidupnya yang selalu ia usahakan terkendali.

Sekesal apa pun hatinya sore tadi, satu hal tak pernah berubah:

Arka tidak suka Lara jajan sembarangan.

Bukan karena pelit. Bukan karena sok mengatur.

Ia hanya terlalu terbiasa hidup higienis. Terlalu lama tinggal sendiri di luar negeri membuatnya memilih memasak daripada membeli makanan yang ia tak tahu prosesnya.

Dan tanpa ia sadari, kebiasaan itu kini beralih menjadi bentuk perhatian.

Sementara itu, di kamar, Lara tengkurap di atas kasur, dagunya bertumpu di bantal, kedua kakinya bergoyang-goyang malas di udara.

Senyumnya tidak hilang sejak lima menit lalu.

Ponselnya kembali bergetar.

Axel:

Gue nemu meme kucing yang ekspresinya mirip lo pas kepedesan.

Lara terkekeh pelan, menutup mulut dengan tangan.

Lara:

Hei! Aku nggak selebay itu 😤

Beberapa detik kemudian, meme lain masuk.

Lalu satu lagi. Dan satu lagi.

Obrolan mereka memang sering absurd. Tidak penting. Tidak berat. Tapi justru itu yang membuat Lara nyaman. Tidak ada tuntutan, tidak ada peran yang harus ia jaga.

Ia tersenyum lagi. Aneh ya, pikirnya.

Capek seharian kuliah bisa langsung terasa ringan cuma karena hal-hal sepele seperti ini.

Saat itulah suara Arka terdengar dari luar kamar.

“Lara, ayo makan.”

Nada suaranya datar seperti biasa, tapi tidak dingin.

Lara segera duduk, meletakkan ponsel di kasur. Ia menghela napas sebentar, lalu tersenyum kecil.

Oke, mode normal. Itulah ajaibnya Lara.

Ia bisa kesal, bisa kecewa, tapi tidak pernah benar-benar menyimpan dendam. Bahkan pada Arka—yang dulu pernah berjanji tapi kemudian menghilang bertahun-tahun.

Ia bangkit, keluar kamar, dan menuju meja makan.

Makan malam tersaji sederhana tapi rapi. Nasi hangat, sup bening, dan tumisan sayur dengan ayam. Tidak ada yang istimewa, tapi semuanya terlihat… rumahan.

Mereka makan berhadap-hadapan.

Seperti biasa, tidak banyak percakapan. Namun kali ini ada yang berbeda.

Bzzzt.

Ponsel Lara di samping piringnya bergetar.

Lara melirik sekilas. Tangannya refleks mengambil ponsel itu, membuka layar, lalu—tersenyum.

Ia menjeda makannya.

Arka, yang sedang menyuap sup, tidak bereaksi. Setidaknya, tidak secara langsung. Tatapannya tetap tertuju ke mangkuknya.

Namun matanya bergerak sedikit. Mengamati.

Beberapa detik kemudian, ponsel Lara bergetar lagi. Dan lagi.

Lara kembali tersenyum, kali ini sedikit lebih lebar.

Arka meletakkan sendoknya pelan.

Tidak ada nada kesal di wajahnya. Tidak ada perubahan ekspresi yang mencolok. Tapi ada sesuatu yang mengeras di rahangnya—halus, hampir tak terlihat.

“Ada yang penting?” tanyanya akhirnya, nada suaranya rendah dan tenang.

Lara mengangkat kepala. “Hm? Oh, nggak. Teman kampus.”

Ia kembali ke piringnya, tapi ponselnya masih berada di dekat tangan.

Arka mengangguk kecil. Ia kembali menyuap makanannya, lalu berkata seolah sambil lalu, “Makan dulu. Nanti keburu dingin.”

Nada itu… halus. Bahkan terdengar perhatian.

Lara tersenyum kecil. “Iya.”

Namun tak lama kemudian—

Bzzzt.

Lara refleks melirik lagi.

Arka menahan napas sejenak, lalu berkata, tetap dengan suara yang terkendali, “Lara.”

“Hm?”

“Kalau makan, fokus makan.”

Lara terdiam sepersekian detik, lalu terkekeh kecil. “Paman kayak ayahku banget.”

Kalimat itu keluar spontan. Dan Arka—membeku sesaat.

Ia menatap Lara. Lara juga menatapnya, menyadari ucapannya barusan, lalu buru-buru menambahkan, “Maksudku… perhatiannya sama.”

Arka mengalihkan pandangannya, kembali ke piring. “Aku cuma nggak mau kamu kebiasaan makan sambil main ponsel.”

“Iya, iya,” sahut Lara ringan, lalu akhirnya benar-benar meletakkan ponselnya di saku dress piyamanya.

Makan malam berlanjut dalam keheningan yang… tidak sepenuhnya nyaman, tapi juga tidak canggung.

Arka tidak bertanya lagi. Tidak menyinggung soal siapa yang mengirim pesan.

Namun pikirannya terus berisik.

Kenapa Lara tersenyum seperti itu?

Kenapa ia terlihat begitu… ringan?

Dan kenapa, dari semua hal, pemandangan itu justru membuat dadanya terasa aneh?

Sementara Lara, yang kini fokus makan, sama sekali tidak menyadari perubahan kecil di seberangnya.

Ia hanya berpikir satu hal:

Entah kenapa… akhir-akhir ini hidup terasa mulai ramai.

Dan tanpa mereka sadari, getaran kecil dari sebuah ponsel malam itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar—

sesuatu yang perlahan akan menguji batas, peran, dan perasaan yang selama ini mereka pura-pura tidak ada.

Selesai makan, mereka tidak langsung berpisah seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal serumah.

Seperti sudah menjadi kebiasaan tak tertulis, Lara berdiri lebih dulu membawa piring kotor ke wastafel, sementara Arka mengumpulkan gelas dan peralatan makan lainnya. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang mengomel—semuanya mengalir begitu saja.

“Yang berminyak aku saja,” kata Arka singkat.

Lara mengangguk patuh. “Siap, Paman.”

Mereka bekerja berdampingan. Sesekali lengan mereka hampir bersenggolan, tapi tak satu pun berkomentar. Lara fokus membilas piring, Arka mengelap meja. Sunyi, tapi tidak canggung.

Justru terasa… normal.

Setelah dapur kembali rapi, Lara langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang keluarga. Ia menarik selimut tipis, menggulung diri seperti sushi gagal, lalu menyalakan televisi. Acara hiburan malam mengalun, membuat pikirannya ikut mengendur.

Arka melirik sekilas dari ambang pintu ruang kerjanya.

“Kamu nggak belajar?” tanyanya.

“Hari ini nggak ada tugas,” jawab Lara santai tanpa menoleh. “Otakku lagi cuti.”

Arka mendengus kecil—entah itu setuju atau pasrah—lalu masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu.

Lara tersenyum sendiri. Tak lama kemudian, ponselnya berdering.

Nama Bunda muncul di layar.

“BUNDA!” seru Lara ceria, langsung duduk dan mengangkat panggilan video.

Wajah sang Bunda muncul, diikuti Ayah yang ikut menyembul dari samping layar.

“Lara sayang,” sapa Bundanya lembut.

“Kabarmu gimana?” sambung ayahnya.

“Baik banget!” jawab Lara antusias. “Kampus seru, dosennya nggak galak—yang galak cuma tugasnya.”

Bundanya tertawa kecil. “Kamu makan teratur?”

“Teratur dong. Paman masak terus,” katanya jujur.

Ayahnya mengangguk puas. “Bagus. Terus, di kampus ada kendala?”

“Nggak ada, Yah. Aku bisa ngikutin kok.”

Bundanya lalu tersenyum penuh arti. “Kamu nggak merepotkan pamanmu, kan?”

Lara menggeleng cepat. “Nggak! Aku anak baik. Cuma…”

Ia berhenti sejenak, lalu nyengir. “Kadang Paman Arka nyebelin. Sedikit.”

“Sedikit?” ulang Bundanya sambil tertawa.

“Tapi baik,” lanjut Lara cepat. “Kami baik-baik aja kok.”

Ia tidak berbohong. Ia hanya tidak menceritakan semuanya.

Tidak tentang Axel.

Tidak tentang getaran aneh di dadanya setiap kali Arka bersikap terlalu protektif.

Tidak tentang perasaan yang belum ia pahami sendiri.

“Yang penting kamu sehat dan nyaman,” kata ayahnya.

“Kalau ada apa-apa, bilang,” tambah bundanya.

“Iya,” jawab Lara lembut.

Panggilan ditutup dengan tawa dan pesan agar Lara jangan begadang.

Lara meletakkan ponselnya di dada, menatap langit-langit sebentar.

Hangat.

Di balik pintu ruang kerja yang setengah tertutup, Arka sempat menghentikan ketikan di laptopnya.

Ia mendengar suara tawa Lara.

Nada ceria yang jarang terdengar belakangan ini.

Entah kenapa… itu membuat dadanya sedikit longgar.

Mungkin, pikirnya,

selama Lara masih bisa tertawa seperti itu, ia masih melakukan hal yang benar.

Meski ia sendiri tidak tahu sampai kapan bisa berpura-pura bahwa semua ini hanya soal tanggung jawab.

Sementara itu, di tempat lain.

Axel bersandar malas di kursi rotan balkon kamarnya di lantai dua. Lampu taman di halaman rumahnya menyala temaram, memantulkan bayangan dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin malam.

Di tangannya, ponsel masih menyala.

Riwayat obrolannya dengan Lara terpampang jelas—kalimat-kalimat receh, meme aneh, dan candaan yang bahkan ia sendiri tak tahu kenapa bisa tertawa saat membacanya.

Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya.

Ia mengusap tengkuknya pelan, lalu mendesah kecil ketika ingatannya melayang ke sore tadi.

Parkiran mal. Sudut yang sempit. Dan jarak yang terlalu dekat.

Pipinya terasa hangat.

“Gila,” gumamnya lirih. “Kenapa jadi mikirin begituan sih.”

Ia baru saja hendak mengetik sesuatu lagi saat suara berat terdengar dari dalam rumah.

“Axel.”

Axel menutup mata sesaat. Lamunannya buyar seketika.

“Iya, Pa,” jawabnya malas, lalu bangkit dan melangkah masuk ke dalam rumah menuju ruang kerja ayahnya.

Ruang kerja itu luas dan terlalu rapi—mencerminkan pemiliknya.

Axel duduk di kursi seberang meja dengan posisi setengah rebah, ekspresi wajahnya jelas-jelas tidak antusias.

Ayahnya menatapnya lama sebelum akhirnya berbicara. “Sampai kapan kamu mau masa bodoh soal pertunangan ini?”

Axel mendesah. “Pa, itu cuma perjodohan masa kecil. Nggak serius.”

Ayahnya menyilangkan tangan. “Buat kamu mungkin. Tapi buat Papa, ini soal hubungan lama. Cepat atau lambat, kalian tetap akan dipertemukan.”

Axel memalingkan wajah. “Kenapa harus ngotot sih? Aku bahkan nggak kenal orangnya.”

“Kamu akan kenal,” jawab ayahnya tegas. “Anak itu berasal dari keluarga baik-baik. Papa tahu betul bibit dan bobotnya.”

Axel terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada datar, “Keluarga mana, Pa?”

Ayahnya menjawab tanpa ragu, “Keluarga Wijaya Kusuma.”

Nama itu membuat Axel mengernyit.

“Oh.”

Tidak ada reaksi berlebihan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal.

Pembicaraan itu berakhir tanpa solusi. Tanpa kesepakatan. Tanpa kepuasan di kedua belah pihak.

Axel keluar dari ruang kerja dengan langkah berat.

Di kamarnya, Axel langsung membuka laptop. Tangannya gesit mengetik satu nama di mesin pencari.

Wijaya Kusuma.

Logo perusahaan besar muncul. Artikel bisnis. Cabang internasional.

Tapi—

Tidak ada foto keluarga. Tidak ada nama anggota keluarga. Tidak ada informasi personal.

Seolah semuanya sengaja disembunyikan.

Axel mengacak rambutnya frustrasi. “Serius amat sih.”

Ia menutup laptop, lalu tanpa sadar mengambil ponselnya.

Nama Lara muncul di layar, masih dengan riwayat obrolan sore tadi. Dan entah kenapa, dadanya terasa lebih ringan.

Ia mengetik cepat.

Selamat tidur, Lara 🤍

Pesan terkirim.

Axel menatap layar.

Satu detik.

Dua detik.

Baru kemudian matanya membelalak.

“—Eh.”

Ia menepuk jidatnya pelan. “kok pake love sih?!”

Terlambat. Pesan itu sudah terkirim.

Axel menjatuhkan diri ke kasur, menutup wajah dengan bantal.

“Gawat,” gumamnya. “Axel kenapa bego banget sih .” Namun, di balik kepanikannya, senyum kecil tetap muncul tanpa ia sadari.

Lampu ruang kerja akhirnya mati.

Arka melangkah keluar. Bahunya terasa berat, bukan hanya oleh pekerjaan, tapi oleh pikirannya sendiri. Saat tiba di ruang keluarga, langkahnya terhenti.

Lara tertidur di sofa.

Televisi masih menyala, menampilkan cahaya yang berkelebat pelan. Posisi tidurnya terlentang, rambut panjangnya menutupi sebagian wajah, selimut yang tadi melingkar kini melorot hingga memperlihatkan sebagian pahanya karena dress rumahannya sedikit tersingkap.

Arka refleks memalingkan wajah.

Bukan karena jijik. Bukan karena tergoda. Lebih karena… canggung.

Sudah sebesar ini, pikirnya pelan. Dan gaya tidurnya masih sama.

Ia mendekat, mematikan televisi, lalu berdiri beberapa detik di sana. Membiarkan Lara tidur di sofa bukan pilihan. Ia menunduk, bersiap mengangkat tubuh Lara dengan hati-hati.

Saat itulah—

Bzzzt.

Ponsel Lara menyala.

Arka tidak berniat melihat. Ia benar-benar tidak berniat. Namun cahaya layar itu tepat berada dalam jangkauan pandangnya.

Selamat tidur, Lara 🤍

—Axel

Alis Arka mengerut.

Ada rasa kesal, tentu saja. Namun bukan itu yang paling mengusiknya.

Nama itu. Axel.

Pikirannya langsung terlempar ke sesuatu yang lain.

Sapu tangan di ruang laundry.

Kain bersih dengan wangi asing.

Dan satu huruf kecil di sudutnya.

A.

Arka terdiam.

Dadanya terasa mengeras bukan karena marah, melainkan karena kesadaran yang perlahan menyusun kepingan-kepingan kecil itu menjadi satu gambaran utuh.

Axel… A…

Ia menatap layar ponsel itu lebih lama dari seharusnya, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Lara yang masih tertidur damai—seolah tidak tahu apa-apa tentang benang merah yang mulai tersambung di kepala Arka.

Jadi ini orangnya. Teman kampus. Sekaligus pemilik sapu tangan.

Dan juga… orang yang mengucapkan selamat tidur dengan emotikon hati.

Arka menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia tidak ingin marah. Tidak ingin bereaksi berlebihan. Tapi perasaan tidak nyaman itu tumbuh pelan, merayap tanpa izin.

Ia akhirnya mengangkat Lara dan membawanya ke kamar. Gerakannya tetap lembut, tetap hati-hati. Ia membaringkan Lara, menarik selimut hingga menutup tubuhnya dengan sopan.

Sesaat sebelum mematikan lampu, Arka berdiri di sana lebih lama dari biasanya.

Bukan menatap Lara. Melainkan menatap pikirannya sendiri.

Jika Axel dan pemilik inisial A adalah orang yang sama,

maka ini bukan lagi soal Lara pulang terlambat.

Ini soal seseorang yang mulai masuk ke dunianya.

Dan Arka—untuk pertama kalinya—tidak yakin siap membiarkannya terjadi.

Lampu kamar dipadamkan.Malam kembali sunyi. Namun di kepala Arka, sebuah nama terus bergaung.

Axel.

Malam itu, tanpa mereka ketahui, tiga hati tengah bergerak ke arah yang sama—

saling mendekat, saling menyimpan rahasia, dan perlahan ditarik oleh takdir yang jauh lebih rumit dari sekadar perasaan.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!