NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Malam di Kota London tidak pernah benar-benar sunyi bagi mereka yang memiliki pendengaran melampaui batas manusia. Di balik dinding kayu rumah keluarga Klein yang kokoh, Julian bisa mendengar detak jantung Clara yang teratur di kamar sebelah, deru angin yang membawa aroma pinus basah dan yang paling memilukan, napas Elena yang semakin pendek dan berat, seperti gesekan kertas tua yang hampir robek.

Di dalam kamar utama yang temaram, hanya diterangi oleh lampu tidur berwarna kuning redup dan sisa api di perapian, Julian duduk bersimpuh di samping tempat tidur. Ia menggenggam tangan Elena, tangan yang dulu halus dan kencang saat mereka berdansa di bawah bulan sabit empat puluh tahun lalu, namun kini terasa seperti susunan tulang rapuh yang dibungkus kulit setipis perkamen.

"Julian..." suara Elena memecah keheningan, serak dan sangat lemah.

"Aku di sini, Elena. Tidurlah, ini sudah larut." bisik Julian. Ia mengelus dahi istrinya, mencoba menyalurkan ketenangan, meski di dalam dadanya sendiri badai sedang berkecamuk.

Elena perlahan membuka matanya. Pupilnya yang pudar karena katarak dan usia menatap lurus ke arah langit-langit, namun fokusnya melampaui fisik ruangan itu. "Kau sudah bertemu dengannya, bukan? Putri kita Lyana."

Julian membeku. Gerakan tangannya terhenti sesaat sebelum ia kembali memaksakan diri untuk tersenyum tenang. "Hanya imajinasimu, Sayang. Pengaruh obat-obatan itu membuatmu bermimpi. Kau terlalu merindukannya dan menganggap dia ada di sekitar kita."

Elena terkekeh pelan, sebuah suara yang lebih mirip rintihan kecil. "Kau tidak pernah pandai berbohong padaku jika itu menyangkut perasaanmu sendiri, Julian. Aku bisa merasakannya. Dingin yang kau bawa saat masuk ke kamar ini bukan hanya berasal dari hujan di luar. Itu adalah dingin yang sama dengan yang kurasakan saat Lyana lahir, dingin yang menyakitkan. Dia ada di London dan kau sedang mencoba melindungiku darinya."

Julian tertunduk. Ia tidak bisa lagi menyangkal. Elena, meskipun raganya sedang menuju kehancuran, wanita itu memiliki intuisi yang tajam sebagai wanita yang telah mendampingi seorang Aethern selama empat dekade.

"Aku hanya tidak ingin kau cemas, Elena. Kondisimu..."

"Kondisiku tidak akan berubah hanya karena aku tahu kebenaran." potong Elena lembut. Ia meremas jemari Julian dengan sisa kekuatannya. "Jangan sembunyikan dia dariku jika waktunya tiba. Tapi malam ini, bukan Lyana yang ingin kubicarakan."

Elena menjeda kalimatnya, mengumpulkan oksigen untuk sebuah pengakuan yang telah ia simpan sejak kejadian di kamar tamu dua hari yang lalu.

"Hari itu... saat kau sedang bersama Kenzie di atas." Elena memulai, suaranya sedikit lebih stabil. "Aku berdiri di depan pintu. Aku melihat kalian melalui celah."

Julian merasa dunianya seolah berhenti berputar. Rasa bersalah yang amat sangat menghujam jantungnya. Ia teringat posisi mereka yang sangat dekat, hampir bersentuhan hidung, saat ia menyimpan hairdryer ke dalam laci. Julian ingat betapa intimnya suasana itu, meski tujuannya adalah perlindungan.

"Elena, aku bersumpah, itu tidak seperti yang kau bayangkan." Julian berkata dengan nada mendesak, suaranya bergetar oleh kepanikan. "Kenzie adalah tamu, dia basah kuyup dan aku hanya mencoba membantunya. Aku tidak pernah berniat untuk—"

"Aku cemburu, Julian." ucap Elena jujur. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang keriput. "Tentu saja aku cemburu. Aku adalah wanita biasa. Melihat suamiku, yang masih memiliki wajah yang sama seperti saat aku jatuh cinta padanya di usia dua puluh, sedang menyentuh rambut gadis muda yang begitu cantik, itu terasa menyakitkan. Aku merasa seperti barang antik yang sudah usang, sementara dia adalah berlian yang baru saja ditemukan."

Julian terdiam, lidahnya kelu. Ia merasa menjadi pria paling jahat di bumi. Mencintai seorang manusia sementara ia sendiri tidak bisa menua adalah sebuah kekejaman yang tidak disengaja.

"Tetapi.." Elena melanjutkan sambil tersenyum tipis melalui air matanya. "Rasa cemburu itu hanya bertahan sesaat. Sampai aku mendengar percakapan kalian. Aku mendengar Kenzie menceritakan siapa dia sebenarnya. Tentang empat ratus tahun yang dia lalui. Tentang kesepian yang dia sandang sebagai seorang manusia abadi."

Elena menoleh ke arah Julian, menatap suaminya dengan penuh kasih sayang dan pengampunan. "Mendengar itu, aku merasa sangat lega, Julian. Beban yang selama ini menghimpit dadaku selama bertahun-tahun mendadak terangkat."

"Lega? Bagaimana bisa kau merasa lega saat suamimu berselingkuh dalam pikiranmu dengan orang lain?" tanya Julian dengan nada pedih pada diri sendiri.

"Karena kau tidak akan sendirian." bisik Elena.

"Ketakutan terbesarku selama ini bukanlah kematianku, Julian. Aku sudah siap untuk itu sejak lama. Ketakutanku adalah membayangkanmu berdiri di samping makamku, tetap muda, tetap tampan, namun jiwamu mati karena tidak ada lagi orang yang bisa memahamimu. Aku takut kau akan menghabiskan sisa keabadianmu dalam kesunyian yang mencekam karena kau tidak punya teman perjalanan yang setara."

Julian terisak pelan. Ia menyembunyikan wajahnya di sisi tempat tidur Elena, membiarkan air mata membasahi sprei.

"Kenzie adalah pasangan yang setara untukmu, Julian. Dia memiliki waktu yang sama banyaknya denganmu. Dia memahami bahasa keabadian yang tidak akan pernah bisa kupahami sepenuhnya seberapa pun aku mencintaimu. Dia tidak akan meninggalkanmu karena penyakit atau kematian. Dia akan tetap ada, di sampingmu, saat dunia ini berubah menjadi sesuatu yang tidak kita kenali lagi."

"Elena, jangan katakan itu, kau adalah istriku. Aku mencintaimu." isak Julian.

"Dan aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri." balas Elena. "Itulah sebabnya aku ingin kau bahagia. Aku tidak mau egois dengan mengikat janjimu pada sebuah nisan. Mendengar cerita Kenzie membuatku sadar bahwa takdir sedang berbaik hati padamu. Dia mengirimkan seseorang yang bisa menjagamu setelah aku pergi."

Elena menarik napas panjang, tampak lebih damai dari sebelumnya. "Aku merestui kalian, Julian. Jika suatu saat nanti kau dan Kenzie menjadi lebih dari sekadar teman, jangan pernah merasa telah mengkhianatiku. Aku memberimu izin untuk mencintainya. Bawalah dia ke dalam hidupmu, lindungi dia dari Lyana dan Stefanny, biarkan dia menjadi cahayamu saat kegelapanku sudah menjemput."

Julian tidak bisa berkata-kata. Ia merasa sangat tidak enak, merasa tidak pantas menerima kemurahan hati Elena yang begitu luas. Namun di saat yang sama, ia merasakan sebuah ikatan batin yang mendalam, seolah-olah Elena sedang memberikan tongkat estafet cintanya kepada seseorang yang mampu berlari selamanya.

"Terima kasih, Elena, terima kasih.." bisik Julian berkali-kali, suaranya parau oleh badai emosi yang mengoyak harga dirinya sebagai seorang Aethern. Julian mencium jemari Elena dengan takzim, seolah-olah wanita di hadapannya adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam arus waktu yang kejam.

Elena terdiam sejenak, matanya yang pudar menatap lurus ke arah langit-langit, seolah sedang memutar kembali kaset memori yang sudah berdebu. Jemarinya yang lemah bergerak pelan, mengusap punggung tangan Julian.

"Ini tentang Lyana." gumam Elena, suaranya terdengar jauh lebih dalam sekarang. "Apakah Lyana akan melukai Kenzie? Dan soal darahnya, apakah darah Kenzie benar-benar bisa membuat Lyana menjadi sempurna?"

"Aku tidak tahu pasti, Elena." jawab Julian dengan suara yang berat, nyaris seperti gumaman putus asa. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tampak begitu muda, namun terasa sangat lelah. "Aku belum tahu apakah dia benar-benar The Constant atau bukan. Kenzie juga tidak menjelaskan detail mengenai bagaimana dia bisa menjadi abadi. Tapi, kalau dia adalah The Constant. Itu artinya dia adalah anomali yang tidak seharusnya ada. Jika kaum Aethern seperti kami adalah wadah yang bisa rusak, maka dia adalah sumber air yang tidak akan pernah kering."

Julian menjeda kalimatnya, membayangkan kemurnian yang memancar dari tubuh Kenzie. "Lyana percaya pada apa yang dikatakan Stefanny. Bahwa dengan mengonsumsi esensi Kenzie, keretakan di jiwanya akan tertutup selamanya. Dia tidak akan lagi merasakan haus yang menyiksa, tidak akan lagi merasakan sakit yang membuat sel-selnya menjerit. Dia pikir itu akan membuatnya menjadi Aethern yang sempurna, sosok dewi yang tidak lagi cacat."

Elena menatap suaminya dengan penuh simpati. "Tapi kau tahu itu tidak sesederhana itu, bukan?"

"Ya." Julian mengangguk pelan, kilatan biru di matanya meredup menjadi kegelapan yang suram. "Keabadian Kenzie bukanlah sesuatu yang bisa dipindahkan seperti donor darah. Mencuri esensinya hanya akan memberikan kekuatan sementara yang sangat besar, namun setelah itu akan menghancurkan Lyana dari dalam. Kekuatan Kenzie terlalu murni untuk darah Lyana yang sudah terkontaminasi oleh amarah dan eksperimen Stefanny. Itu bukan obat, Elena. Itu adalah racun yang dibungkus dengan janji manis."

Julian mengusap wajahnya dengan kasar. "Lyana mengejar Kenzie dengan seluruh kebenciannya, tanpa tahu bahwa apa yang dia cari justru akan mengakhiri sisa hidupnya yang malang. Dan Stefanny itu tahu hal ini. Dia sengaja menggunakan Lyana sebagai kelinci percobaan. Dia ingin melihat seberapa besar ledakan energi yang dihasilkan jika darah seorang The Constant dan Aethern cacat bercampur."

Elena menghela napas, sebuah suara kecil yang sarat akan penderitaan seorang ibu. "Jadi, putri kita hanyalah pion dalam permainan Stefanny?"

"Benar. Dan Kenzie, dia tahu segalanya. Dia tahu Lyana mengincarnya, namun dia tetap diam. Dia membiarkan Lyana mendekat karena dia merasa bersimpati padaku, padahal aku lah orang yang seharusnya menjadi sasaran kemarahan Lyana."

Julian mengepalkan tangannya di atas sprei tempat tidur. "Jika Stefanny dan Lyana benar-benar melukainya, aku tidak hanya akan kehilangan putriku karena kekuatan yang meledak, tapi aku juga akan membiarkan dunia kehilangan penyeimbangnya. Aku terjebak di antara melindungi putriku yang tersesat atau melindungi wanita yang memegang kunci waktu."

Elena meraih tangan Julian yang mengepal, membukanya perlahan dengan jemarinya yang lemah. "Maka jangan biarkan salah satu dari mereka terluka, Julian. Gunakan sisa kekuatanmu bukan untuk bertarung, tapi untuk menyelamatkan mereka berdua. Kenzie punya kebijaksanaan berabad-abad yang lalu dan Lyana punya darahmu. Temukan cara agar cahaya Kenzie bisa menyembuhkan Lyana, bukan menghancurkannya."

Julian menatap istrinya, terpana oleh kejernihan jiwa Elena di ambang kematiannya. Di dalam kamar yang sunyi itu, Julian menyadari bahwa meskipun ia telah hidup selama seribu tahun lebih, ia masih harus belajar banyak tentang pengorbanan dari wanita manusia yang hanya hidup beberapa dekade ini.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!