"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Happy reading......
"Sudah ya Sayang. Gue mau ke kelas dulu... Dan maaf ya tadi udah bentak Lo. Tapi saosnya jangan di masukin lagi ya Sayang Gue nggak mau perut Lo sakit." Setelah mengatakan itu Aryan mulai berlari dengan cepat.
" Udah biasa Kak, gini aja terus, setiap mau makan pasti ada aja alasannya Kak Viona biar cowok Gue pergi." batin Imlie.
"Ck, sahabat serasa selingkuhan." batin Imlie. Kemudian melanjutkan kegiatan makannya. Saat sedang asyik memakan baksonya. Imlie di kagetkan dengan Alvian yang baru masuk ke dalam kantin. Imlie tersenyum melihat Kakaknya.
"Kakak, Kakak mau beli minum? Ini ambil punya Aku aja Kak." ujar Imlie menyodorkan sebotol air mineral.
"Nggak sudi Gue." ujar Alvian setelah menatap Adiknya dalam diam dengan tatapan yang tak bisa di baca.
"Kak, Aku mohon terima ya." bujuk Imlie lagi mengikuti Kakaknya saat menuju si Ibu penjual.
"Lo ngerti nggak hah. Nggak usah sok peduli. Dan Lo masih ingat kan, jangan sok akrab sama Gue saat di luar." bentak Alvia dengan suara pelannya agar tidak di dengar oleh Ibu kantin.
" maaf." lirih Imlie lagi lagi merasa kecewa kemudian berjalan menuju meja dan hanya menganduk ngaduk baksonya.
Alvian hanya menatap punggung adiknya yang sedikit bergetar. Dia tau Adiknya itu sedang menangis dalam diam.
"Gue nggak boleh kasihan sama pembunuh itu." batin Alvian kemudian setelah membeli Air mineral dan pergi dari kantin itu. Setelah menatap Imlie yang masih diam.
"Astagfirullah. Udah dong Imlie, kenapa cengeng banget sih." lirih Imlie.
"Neng, kenapa nggak di makan? Belum mau ke kelas? Takutnya gurunya udah masuk Neng." ujar Ibu Kantin yang bernama Bu Ida.
"Eh, Ibu.. Ini udah mau selesai kok. Makasih ya Buk udah ingetin Aku." ujar Imlie.
"Sama sama Neng." jawab Buk Ida yang memang akrab dengan Imlie.
"Yasudah, Imlie ke kelas dulu ya Buk. Ini uangnya." ujar Imlie setelah menghabiskan makananya.
"Eh, udah di bayar kok. Sama temanya Neng Imlie yang tadi." ujar Buk Ida.
"Ooh pasti Kak Aryan." batin Imlie.
"Oke, makasih Buk. Aku permisi dulu ya.
Assalamualaikum."
"Sama sama.. Waalaikumsalam Neng gelis." jawab Buk Ida.
Imlie pun keluar dengan topeng kebahagiaan yang di pasang di wajahnya lagi. Gadis cantik itu berjalan sambil memancarkan senyumannya. Walaupun tadi sudah di tinggalin pacarnya dan di bentak Kakaknya.
"Nih, Gue nggak suka lia gadis jorok." tiba tiba saja Alvian memberikan sebuah tisyu pada Imlie. Tanpa menatap sang Adik.
"Eh? Kak? Beneran buat Aku?" tanya Imlie setelah melihat wajahnya di layar hp tapi tidak menemukan apa apa.
"Hmm." dehem Alvian.
"Makasih Kak, walaupun tidak ada kotoran di wajah Aku. Tapi, Aku bakal simpan tisyu Kakak ini kok. Makasih udah perhatian sama Aku Kak." ujar Imlie.
"Nggak usah gr. Gue hanya anggap Lo krang asing yang perlu pertolongan."
Degh
Lagi dan lagi kata 'asing' keluar dari mulut Kakaknya. Tapi, Inlie hanya menanggapinya dengan senyuman ceria.
"Nggak papa deh, anggap aja Aku vansnya Kakak. Aku janji bakal simpan tisyu ini. Karena ini pemberian dari Kakak." ujar Imlie yang tak di gubris oleh Alvian. Dan tak lama Alvian pun memilih untuk pergi.
"Wah!! Bu Bos di kasih tisyu sama ketua osis tuh Ar." ujar mio pada Aryan yang sedang memapah Viona menuju kelas mereka setelah tadi dari UKS.
"Imlie sepertinya akrab banget ya sama Kak Alvian." ujar Viona dan tersenyum smirik.
"Sialan." umpat Aryan. Ingin sekalih ke sana tapi dia harus mengantarkan Viona ke kalas mereka.
"Berani sekalih dia mencoba dekatin milik Gue." batin Aryan.
"Yaudah kita lanjuut. Gue tau kok dedek Imlie nggak bakal selingkuh kok. Orangnya baik gitu." ujar Bobop.
Saat akan lanjut pergi ke kelas mereka. Tak sengaja mata Imlie ketemu dengan tatapan tajam milik pacarnya. Dan Imlie hanya menatap nanar pada mereka. Melihat bagaimana posessifnya Aryan merangkul Viona.
"Romantis banget ya mereka." batin Imlie. Setelah itu pergi menuju kelasnya.
"Iku Gue." ujar Aryan yang menarik tangannya Imlie yang hendak pergi ke kantin.
"Akkkk. Kak, tangan Aku sakit." desis Imlie karena tangannya di cengkram kuat oleh Aryan.
"Eh, Aryan. Yang santai dong pegang tangan sahabat kita." ujar Wardah.
"Bacot." jawab Aryan.
"Kalian ke kantin duluan ya. Nanti Aku nyusul." ujar Imlie kemudian di tarik oleh Aryan menuju samping sekolah yang sepi.
Bugh
"Arrkh Kak, sakit tau nggak." rintih Imlie merasakn sakit di pundaknya yang terbentur dengan dinding.
"Imlie, Gue kan udah bilang. Jangan dekat dekat sama Cowok manapun selain Gue. Lo itu milik Gue, ngerti nggak Lo hah?" bentak Aryan menatap tajam gadisnya yang di kurung di dinding dengan kedua tangan yang berada di samping kepala kanan dan kirinya Imlie.
"Tapi, Aku nggak pernah dekat sama siapapun Kak." bantah Imlie.
"Heheh.. Masih mau menyangkal hmm?" tanya Aryan menunjukan kekehan pelannya. Membuat Imlie nampak ketakutan.
"Jawab sayang. Kenapa diam aja, hmm?"
"Aku nggak menyangkal Kak. Aku memang nggak dekat sama siapapun. Aku bukan Viona yang sana sini mau." ujar Imlie berani.
Plak
"IMLIE, berani sekalih Lo bawah bawah namanya Viona hah? Lo yang murahan malah di balikin ke Viona." bentak Aryan.
Degh
"Bela aja terus Kak. Bela aja. Memang dia Sasimo kan. Buktinya dia lengket banget sama pacar Aku." ujar Imlie mengeluarkan kekesalannya. Dia memang gadis yang nggak suka omngin orang lain. Tapi sekarang sudah keterlaluan.
"IMLIE, jangan mancing emosi Gue lebih jauh lagi." bentak Aryan mengelus kepala Imlie.
"APA? Memang benar kan Kak. Dia memang sahabat Kakak. Tapi, berasa kaya pacar.
Bahkan Aku merasa Aku yang jadi orang ketiga dalam hubungan kalian." ujar Imlie.
Plak
"Arrkh, Kak." lirih Imlie yang mendapatkan tamparan dari Aryan lagi.
Grep
Karena melihat gadisnya yang kacau dan kesakitan karena ulahnya. Akhirnya emosi Aryan mereda dan membawa gadisnya ke dalam pelukannya.
"Lepasin, lepasin Aku. Aku nggak mau di peluk sama Kakak." ujar Imlie memberontak dalam pelukan Aryan.
"Lepasin, jangan meluk gadis murahan kaya Aku." ujar Imlie lagi.
"Shuut.. Maaf ya Sayang." bisik Aryan.
"Hiks, hiks... Aku benci sama Kakak. Aku benci." lirih Imlie.
"Iya Gue juga Cinta sama Lo." balas Aryan asal.
"Hiks, sakit Kak." tangis Imlie bahkan kini sudah membersihkan ingusnya menggunakan jaketnya Aryan.
"Shuut, maaf ya Sayang. Cup cup." ujar Aryan menangkup wajah pacarnya kemudian mengecup dua kali pada pipi Imlie yang memerah karena ulah tangannya.
"Kita ke UKS ya." ujar Aryan dan tanpa di setujui oleh Imlie. Aryan langsung menggendong Imlie ala bridal style.
Imlie tidak menjawab hanya diam menekan rasa kecewa yang sudah berulang kali di berikan Aryan.
"Ck, Imlie lihat aja. Gue bakal berusaha lagi buat dapatin Aryan. Karena apa yang seharusnya milik Gue harus balik lagi sama Gue." batin Viona yang menatap kepergian Aryan dan Imlie.
"Baik, biar Saya yang obatin ya Kak." ujar seorang Pria anak kelas 10 yang berjaga di ruang UKS.
"Berani Lo, hah? Sana biar Gue yang obatin cewek Gue." ujar Aryan. Menatap tajam Pria itu kemudian dengan takut Pria itu keluar.
"Sayang!! Sini.." ujar Aryan memablikkan tubuh Imlie yang terduduk di atas brangkar.
Kemudian mulai mengompres pipi ceweknya.
"Kenapa diam aja, hmm?" tanya Aryan mengelus lembut pipi Imlie.
"Nggak... Kak boleh nggak Kakak keluar. Aku mau sendiri dulu. Aku bisa obatin sendiri luka Aku." usir Imlie secara halus.
"Lo ngusir Gue? Biar punya kesempatan ngegoda adik kelas tadi. Hah?" tanya Aryan yang lagi lagi tersulut emosi.
"Bisa nggak. Lo nggak usah negatif thingking mulu. Gue pengen sendiri." ujar Imlie.
"Lo? Ngomong apa tadi? Ulangi." marah Aryan mendengar kata Lo dari Imlie.
"Nggak, nggak ada." lirih Imlie.
"Sekalih lagi Gue dengar Lo ngomong hal yang tidak Gue suka. Lihat aja Sayang." ujar Aryan. Kemudian kembali mengompres pipi ceweknya.
"Natap sini Sayang." ujar Aryan karena Imlie enggan menatap wajah Aryan.
"Jendela itu lebih baik dari Gue? Mau Gue pecahin tuh jendela?" tanya Aryan kemudian Imlie memutar bola matanya malas. Dan menatap wajah Aryan. Kemudian Aryan tersenyum tipis tanpa beban
"Ah, malas banget Gue. Ini sih kesiksa secara lahir dan batin. Kenapa sih Gue harus jatuh cinta sama Iblis kaya gini. Untung sayang" batin Imlie.
"Cantik." ujar Aryan dan menaruh kompresan tadi.
"Ayo! Ke kantin.." ujar Aryan dan mengajak Imlie ke kantin.
Setelah sampai ke kantin yang sudah nampak ramai.
"Pangeran Gue udah dateng tuh. Masyaallah tampan banget lagi. Apalagi rambutnya yang acak acakan itu."
"Ya Allah, nggak pernah bosen adek pandangi wajah babang Aryan."
"Imlie beruntung banget ya, bisa dapatin Aryan."
"Palingan pakai pelet."
"Yaelah, kuno zaman sekarang masih aja mikirin kaya gitu."
Mendengar bisik bisik para siswi saat Aryan dan Imlie masuk ke kantin. Membuat Viona panas sendiri di tempatnya.
"Ck, seharusnya Gue yang jadi ceweknya Aryan, Imlie." batin Viona kesal dan melirik Imlie tajam apalagi melihat tangan Aryan yang menggengan erat tangannya Imlie.
"Woylah!! Bucin terus.. Lain kali punya prikejombloan dong. Jangan suka tebar keromantisan." ujar Ravel tak di gubris oleh Aryan.
"Sini." ujar Aryan menarik kursi untuk di duduki Imlie. Tapi, anehnya bukan Imlie yang baper tapi semua siswi yang melihat itu di buat baper. Karena Imlie saat ini masih kesal.
"Mau pesan apa Sayang?" tanya Aryan mengangkat wajah ceweknya yang menunduk.
"Kaya biasa." ujar Imlie.
"Vadel." panggil Aryan.
"Siap Ketua. Gue siap menjalannkan perintah ketua." ujar Vadel dan pergi memesan makananya Imlie.
"Bu Bos, apa kabar nih Bu Bos. Bobop kangen nih, pengen di kelonin sama Bu Bos." ujar Mio dan mendapatkan tatapan tajam dari Aryan.
"Yaelah, santai Pak. Becanda doang, bininya nggak bakal di ambil kok. Hehe." ujar Mio gelagapan mendapatkan tatapan tajam dari Aryan.
"Ssshh." ringis Viona.
"Na, Kamu kenapa, hmm?" tanya Aryan menatap Viona yang meringis sambil memijit keningnya pelan.
"Eh, nggak Papa Ar. Aku cuman pusing dikit doang kok." ujar Viona berbohong. Dan itu membuat Imlie sudah paham dengan drama wanita di depannya ini.
"Ck, drama lagi." gumamnya.
"Kenapa, hmm?" tanya Aryan karena mendengar gumaman Imlie untung aja tidak mendengar apa yang di katakan Imlie.
"Nggak." jawab Imlie acuh.
"Yaelah, pasti ini ular caper lagi nih." bisik Bobop pada Xavier (wakil ketua blackxabir) yang hanya diam dengan wajah dinginnya.
"Yaelah, ini mahluk kebiasaan kalau mau di ajak gosip mukanya nggak mendukung banget dah." ujar Bobop tanpa di hiraukan oleh Xavier.
"Sssh." ringis Viona lagi.
"Na, sakit banget ya. Yaudah sini." ujar Aryan perhatian.
"Tapi, Aku mau duduk di mana Ar? Itu kan ada Imlie. Aku duduk di sini aja kok. Aku bisa tahan kok." tolak Viona. Padahal aslinya sudah bersorak senang.
"Nggak di sini aja Na, biar sanderan." ujar Aryan tanpa memikirkan perasaan Imlie di sampingnya.
"Tapi.....
"Imlie.....
"Gue pindah." ujar Imlie yang sudah paham dan berdiri dengan cepat tanpa menunggu perkataanya Aryan selesai.
"Imlie....." ujar Aryan berniat menarik tangan Imlie.
"Sssh, Ar." ringis Viona lagi.
"Kenapa? Tambah sakit, hmm?" tanya Aryan dan menuntun Viona duduk di tempat duduknya Imlie tadi.
"Ck, nggak tau malu." celetuk Xavier menatap Viona males.
"Tapi, Kak Viona memang caper ya sama Kak Aryan. Sampai Kak Imlie yang notabenenya pacarnya malah mengalah."
"Kalau Gue jadi Kak Imlie, udah Gue jambak tuh Kak Viona." bisik para adik kelas.
Sedangkan Alvian yang menatap Imlie dari jauh mengepalkan tangannya. Entah apa yang dia pikirkan.
"Sial banget hari ini. Mana
penuh lagi kursinya." gumam Imlie karena tadi teman temannya sudah balik ke kelas saat Imlie berada di UKS.
"Li, duduk sini aja. Gue udah selesai kok." ujar seorang gadis dan keluar dari kantin.
"Makasih ya." ujar Imlie.
"Sama sama Li." jawab gadis itu. Imlie pun duduk di tempat duduk milik gadis yang yang di sebelahnya ada seorang cowok tampan. Yang nampak diam sambil sibuk menikmati makanan -nya.
"Halo! Nggak papa kan Gue di sini?" tanya Imlie.
"Hmm, nggak pa-pa." jawabnya.
"Thank's ya." ujar Imlie.
Sedangkan Aryan yang melihat itu susah mengepalkan tangannya. Dengan sorot mata yang nampak tajam.
"Sialan." desisnya.
"Ar, Kamu kenapa?" tanya Viona yang menyenderkan kepalanya di bahu Aryan.
"Nggak." jawab Aryan dengan menahan emosinya.
"Ck, rasain. Makanya kalau punya cewek itu di jaga bro." gumam Xavier.
"Permisi Neng gelis, ini pesananya." ujar Bu Ida.
"Makasih Bu gelis, hehehe." jawab Imlie kembali bercanda.
"Bisa aja atuh Neng," ujar Bu Ida dan permisi untuk pergi.
"Ternyata Lo ramah juga ya." ujar cowok di depan Imlie itu.
"Iya dong, masa muka Gue mau jutek terus. Nanti kagak ada teman lagi dari bangsa manusia, Hehehe."
"Kan masih ada banyak mahluk Tuhan."
"Nggak mau, Gue maunya yang sebangsa sama Gue. Iiiih ngeri amat kalau sama setan atau apalah, bisa bisa Gue pindah kebangsaan lagi. Gue bangsa setia Pak Prabowo ya." jawab I.lie asal.
"Hahahahaha." tanpa di tahan Pria yang di kenal jarang menunjukan ekspresi itu malah
meledakkan tawanya.
"Hahahhaa." Imlie pun ikut tertawa tanpa tau ada seorang Pria yang sudah menatap mereka tajam.
"Gila!!! Dia bisa tertawa? Dia tau fungsi mulut untuk apa? Waw!!! Imlie hebat juga ya. Bisa membuat Pria itu berbicara bahkan sampai tertawa."
"Gila!! Auranya Imlie positif banget."
"Jangan jangan dia suka lagi sama Imlie.
Apalagi Imlie cantik gitu kan."
"Sialan.. BRAK."
Semua orang di buat kaget dengan Aryan yang tiba tiba berdiri
dan mendorong kursinya.
Bugh
"Aww." ringis Viona. Sekarang mereka ngeri melihat tatapan Aryan dan ingin ngakak melihat Viona yang jatuh dengan indah ke lantai.
"Hahaha, rasain Lo makannya gan rebut posisi istri pertama Lo." ujar Mio.
"Ck. Mampus." gumam Xavier. Dan Viona hanya bisa menahan emosinya.
Bugh
"KAK." pekik Imlie karena dengan cepat Aryan menarik kerak baju Pria itu dan melayangkan pukulan di wajahnya.
"Ck." gumam Pria yang di pukul Aryan.
"Jangan coba coba dekatin milik Gue, paham Loh. Hah?" marah Aryan.
"Kak, stop! Kita cuman bercanda....
"Diam Lo. Murahan." bentak Aryan.
PLAK
Suara tamparan yang di berikan Imlie mendarat sempurnah di pipi Aryan.
"IYA, GUE MURAHAN. TERUS SAHABAT LO ITU APA? PENGEMIS PERHATIAN, HAH?" marah Imlie yang sudah tak tahan dengan mulut lemasnya Aryan yang sudah mengatainya murahan.
"IMLIE." bentak Aryan.
"STOP! JANGAN PANGGIL NAMA GUE BR*NGSEK." marah Imlie membuat semua orang ketar ketir. Takut apa yang akan di lakukan oleh Aryan.
"Ayo! Gue antar ke UKS Kak." ujar Imlie dan membantu Pria tadi. Hatinya di buat sakit terus menerus dengan sikapnya Aryan.
"LEPASIN TANGAN LO DARI CEWEK GUE.
SI*LAN." maki Aryan gelap mata melihat Imlie yang malah membantu Pria itu berdiri.
"Sayang, Lo masih aja langgar perintah Gue." batin Aryan.
Kemudian berjalan dengan cepat ke arah Imlie. Dan menggendong ceweknya itu dengan paksa.
"Ck, lepas si*lan." rontak Imlie di gendongannya Aryan.
"Diam." tekan Aryan.
"Mio, Bobop, sana bawah Pria itu ke UKS." ujar Aryan.
"Minggir dulu ya Na." ujar Aryan pada Viona.
"Tapi Ar. Aku kan lagiii..."
"Gue bilang minggir ya minggir." bentak Aryan membuat nyali Viona menciut dan langsung pindah dengan cepat.
"Iii.... Lapsiin Gue. Aryan." ujar Imlie mencoba lepas.
"Diam sweetheart. Atau Gue bakal cium Lo sampai nggak nafas di sini. Mau, hmm?" bisik Aryan. Dan saat itu juga Imlie langsung terdiam.
"Sialan." gumamnya.
"Jangan ngumpat sayang." bisik Aryan dan mendudukkan Imlie kembali di kursinya.
"Ravel, ambil makanan cewek Gue." ujar Aryan.
"Siap Bos." jawab Ravel dan mengambilnya dengan cepat.
"Buka mulutnya." perintah Aryan menyodorkan nasi gorengnya pada Imlie.
"Nggak." tolak Imlie.
"Buka Sayang." tegas Aryan lagi dan tatapan wajahnya menggelap.
"Gu-e mau makan bakso bukan nasi goreng." gugup Imlie karena tiba tiba saja ketakutan melohat tatapan itu.
"Oke." ujar Aryan dan beralih menyuapkan bakso untuk Imlie.
"Pintar, lain kali jangan bandel lagi sayang." ujar Aryan.
"Ck, goblok banget nih ketua Gue." batin Xavier.
"Ya Allah, mau dong di cintai dengan kasar kaya gitu. Agar orangnya ganteng kaya Kak Aryan."
"Tapi, kalau kaya Agus nggak mau deh." ujar para siswi.
"Ck, mau? Belum rasain aja mereka." batin Imlie.
"Kak, hari ini jadi pulang bareng kan?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit. Gue harus segerah bawah dia pulang."
"Tapi Kakak udah janji." ujar Imlie.
"Di tundah dulu ya. Hati hati ya pulangnya Gue tutup telfonnya."
Tuut
"Ck, Viona lagi Viona lagi."
marah Imlie pelan. Ya, tadi Imlie dan Aryan sudah baikan. Karena Imlie tidak bisa marah terlalu lama. Pasti dia akan langsung memaafkan Pria itu.
"Ck, kenapa sih. Gue harus cinta sama Pria itu." gumam Imlie.
"Ya, karena Lo goblok." ujar Alvian, yang berjalan di samping adiknya.