Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Lencana Giok yang Ditinggalkan
Tik. Tik. Tik.
Suara tetesan air kaldu yang mencair dan jatuh membentur genangan di lantai batu adalah satu-satunya penanda bahwa waktu masih berjalan di Dapur Luar. Udara yang sebelumnya sedingin makam es, kini berada dalam fase transisi yang aneh. Hawa beku masih menggigit kulit, namun uap panas dari tungku raksasa di seberang ruangan mulai merayap kembali, menciptakan kabut tipis yang melayang setinggi mata kaki.
Lengan ramping Su Qingxue masih terulur di udara. Lencana giok putih berbentuk teratai yang memancarkan pendaran cahaya perak itu tergeletak bisu di atas telapak tangannya. Jari-jarinya yang seputih pualam tidak bergerak sedikit pun.
Di dalam benak sang jenius Puncak Teratai Salju, sebuah badai topan sedang mengamuk. Sejak dia melangkah ke jalur kultivasi pada usia lima tahun, kata 'penolakan' telah terhapus dari kamusnya. Para tetua berebut untuk menjadikannya murid, para jenius dari sekte lain menundukkan kepala saat dia lewat, dan harta karun apa pun yang dia inginkan akan diantarkan ke depan pintunya sebelum dia selesai memintanya.
Namun sekarang, seorang pemuda dengan jubah kumal, berbau asap kayu bakar dan bawang putih, baru saja menepis tawarannya. Dan alasannya? Puncak gunungnya terlalu dingin dan tangganya terlalu banyak.
Mata biru es Su Qingxue berkedip lambat. Bulu matanya yang dihiasi kristal es bergetar halus. Dia menatap wajah Lin Fan, mencoba mencari jejak kebohongan, ketakutan, atau mungkin taktik tarik-ulur yang picik. Namun, yang dia temukan hanyalah sepasang mata sayu yang nyaris tertutup sepenuhnya, dan rahang yang sesekali bergerak mengunyah sisa energi pil, memancarkan aura ketidakpedulian yang begitu murni hingga terasa absolut.
Tidak, ini bukan sebuah penghinaan, batin Su Qingxue, napasnya mulai teratur kembali saat otaknya memaksakan sebuah logika kultivasi ke dalam situasi yang absurd ini. Dia tidak menolakku karena kesombongan. Dia menolakku karena... Dapur Luar ini, dengan segala kekotoran dan kebisingannya, adalah tempat pelatihannya.
Su Qingxue perlahan menarik tangannya. Dia menunduk, menatap tumpukan karung kubis di sudut ruangan, lalu kembali menatap Lin Fan. Pemahaman baru yang sepenuhnya salah kaprah bersinar terang di matanya.
Dia menyebutkan tentang tidak ingin membuang energi untuk mendaki, dan tidak ingin kedinginan. Itu adalah metafora! Dia sedang memberitahuku bahwa kultivasi sejati tidak membutuhkan penderitaan fisik yang dipaksakan. Mengejar puncak gunung yang dingin hanyalah pengejaran ego duniawi. Berada di titik terendah, menyatu dengan hal-hal yang paling biasa... itulah inti dari Dao Kekosongan! Astaga, kesombonganku hampir saja menghancurkan ketenangannya.
Lin Fan, yang sama sekali tidak tahu bahwa kemalasannya baru saja diangkat menjadi setara dengan kitab suci kuno, hanya menghela napas panjang dan mulai menyandarkan kepalanya ke dinding kayu di belakangnya. Tulang lehernya berbunyi 'krek' pelan.
Tiba-tiba, wajah Su Qingxue memucat pasi. Warna kebiruan yang tidak wajar merambat naik dari lehernya menuju rahangnya. Dia tersentak keras, tangan kirinya mencengkeram dadanya sendiri dengan kuat hingga jubah sutranya berkerut tajam.
Uhuk!
Sebuah batuk pelan yang tertahan lolos dari bibirnya, disusul oleh setetes darah berwarna ungu gelap yang merembes dari sudut mulutnya. Darah itu begitu dingin hingga saat menetes ke lantai, ia langsung membeku menjadi mutiara es berwarna gelap.
Simpul meridian di dekat jantungnya mulai berontak. Waktu satu jam yang disebutkan Lin Fan bukanlah ancaman kosong. Energi es di dalam tubuhnya mulai membekukan pembuluh darahnya dari dalam.
Ratusan murid pelayan yang melihat darah itu nyaris pingsan karena teror. Jika Murid Inti ini mati di Dapur Luar, bahkan anjing liar di halaman dapur pun akan dieksekusi oleh sekte!
Su Qingxue mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. Dia menarik napas panjang yang gemetar, menekan paksa gejolak di dadanya menggunakan sisa-sisa Qi pelindungnya. Dia menatap Lin Fan untuk terakhir kalinya. Matanya tidak lagi memancarkan kedinginan yang menusuk, melainkan sebuah tekad yang membara dan rasa hormat yang mendalam.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Su Qingxue melangkah maju. Ujung sepatunya berhenti tepat di tepi meja jagal yang berlumuran darah babi hutan. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh kehati-hatian, seolah-olah dia sedang meletakkan persembahan di altar suci, gadis itu meletakkan lencana giok putih berbentuk teratai itu di atas talenan kayu oak.
Klak.
Bunyi pelan lencana giok yang bersentuhan dengan kayu itu terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi.
"Aku mengerti," ucap Su Qingxue, suaranya sedikit parau namun ditekan agar terdengar tenang. Kepalanya menunduk sedikit, sebuah gerakan membungkuk yang sangat minim, namun memiliki bobot setara dengan runtuhnya sebuah gunung di mata semua orang yang menyaksikannya. "Puncak Teratai Salju memang terlalu dingin dan bising oleh ambisi duniawi. Tempat ini tidak layak untuk menampung ketenanganmu. Aku... aku tidak akan memaksamu. Lencana ini bukan lagi sebuah perintah, melainkan tanda hutang budi dariku."
Lin Fan membuka sebelah matanya dengan susah payah. Dia melirik lencana giok yang kini tergeletak di samping sisa-sisa daging cincang, lalu kembali menutup matanya tanpa minat. Baguslah kalau kau sadar diri. Setidaknya benda itu terlihat mahal, mungkin aku bisa menukarnya dengan bantal bulu yang bagus suatu hari nanti.
Su Qingxue meraih kotak kayu cendana hitam yang berisi irisan Urat Naga Tanah. Dia memutar tubuhnya, jubah sutra biru esnya berkibar menciptakan hembusan angin beku yang memadamkan beberapa tungku api di dekatnya. Tanpa menoleh lagi, dia melesat keluar dari ambang pintu ganda Dapur Luar. Gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan jejak kabut putih dan aroma teratai yang memudar di udara.
Dapur Luar terdiam selama sepuluh kali tarikan napas penuh.
Kemudian, bagai bendungan raksasa yang jebol, suhu udara mendadak melonjak naik. Panas dari delapan wajan raksasa yang kembali mendidih menghantam ruangan. Lapisan es di dinding dan lantai mencair seketika, berubah menjadi hujan gerimis di dalam ruangan dan genangan air berlumpur. Suara mendesis lemak babi dan derak api kayu bakar kembali memenuhi telinga.
Namun, meskipun suara alamiah dapur telah kembali, tidak ada satu pun manusia yang berani bersuara.
Kepala Koki Wang Ta masih dalam posisi bersujud di atas genangan air yang kini terasa hangat. Lemak di sekujur tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya memompa darah dengan kecepatan yang membuat telinganya berdenging. Murid Inti Su Qingxue, dewi es dari Puncak Teratai Salju, baru saja membungkuk pada Lin Fan. Membungkuk!
Pikiran Wang berputar liar, mencoba memproses realitas baru ini. Selama tiga hari terakhir, dia telah menendang tumpukan kubis tempat Lin Fan tidur sebanyak belasan kali. Dia memaki pemuda itu dengan sebutan sampah, babi malas, dan parasit sekte. Jika Lin Fan adalah seorang ahli tersembunyi yang berlatih Dao Kekosongan... bukankah nyawa Wang Ta saat ini sedang berada di ujung tanduk yang sangat tipis?
Dengan mengerahkan seluruh sisa keberanian dan tenaganya, Wang mengangkat wajahnya yang berlumuran debu dan darah. Matanya yang sipit menatap ke arah sudut ruangan.
Di atas bangku kayu usangnya, Lin Fan sama sekali tidak bergerak. Matanya terpejam rapat. Napasnya teratur dan panjang. Bahunya merosot ke bawah, sementara tangannya terlipat santai di atas perutnya. Sebuah gelembung ingus kecil bahkan perlahan membesar dan mengecil di salah satu lubang hidungnya seiring dengan ritme napasnya.
Dia... tertidur.
Di tengah situasi di mana status hierarki seluruh sekte luar baru saja dijungkirbalikkan, pemuda itu benar-benar jatuh tertidur nyenyak.
Pada saat yang bersamaan, sebuah suara mekanis yang dingin berdenting di dalam kesadaran Lin Fan yang mulai menggelap.
[Ding! Misi Harian Kelima Selesai!]
[Host berhasil mempertahankan prinsip kemalasan dan menolak godaan pekerjaan lembur dengan gaji tinggi.]
[Menerima Pengalaman Kultivasi +400.]
[Menerima: 'Aura Bantalan Awan' (Pasif). Menyelaraskan frekuensi gravitasi di sekitar tubuh Host. Segala bentuk permukaan yang bersentuhan dengan tubuh Host akan mendistribusikan tekanan secara merata, meniru kenyamanan kasur bulu angsa kualitas surga.]
Dalam tidur pulasnya, tubuh Lin Fan memberikan reaksi. Sebelumnya, bangku kayu oak yang keras itu selalu membuat tulang punggungnya pegal. Namun sekarang, saat pasif 'Aura Bantalan Awan' itu aktif, seutas energi transparan yang sangat halus menyelimuti tubuhnya. Papan kayu yang keras sekeras besi itu mendadak terasa amblas mengikuti kontur tubuhnya. Tidak ada tekanan pada tulang ekornya. Tidak ada rasa kaku di lehernya. Rasanya seolah-olah dia sedang mengambang di atas sekumpulan awan musim semi yang hangat.
Sebuah desahan kepuasan yang panjang dan berat lolos dari bibir Lin Fan. Senyuman tipis dan sangat bahagia merekah di wajahnya, membuatnya terlihat seperti bayi raksasa yang baru saja diberi susu hangat. Dia menggeser posisi tubuhnya sedikit, memeluk dirinya sendiri, dan mendengkur pelan.
Zzzz...
Suara dengkuran pelan itu bergema di Dapur Luar yang sunyi senyap.
Kepala Koki Wang menelan ludah. Suara tegukannya terdengar seperti batu bata yang dijatuhkan ke dalam sumur kering. Dia menopang tubuh gempalnya yang bergetar untuk berdiri. Lututnya lemas, memaksanya berpegangan pada tepi wajan raksasa yang belum panas untuk menjaga keseimbangan.
Dia menatap para murid pelayan lainnya, yang saat ini masih berlutut dan menatapnya dengan raut wajah memohon instruksi. Semuanya sedang menunggu perintah dari sang diktator dapur.
Wang Ta menarik napas dalam-dalam. Wajahnya yang kejam dan penuh arogansi seketika luntur, digantikan oleh ekspresi ketakutan yang menjilat. Dia berjalan berjinjit, mengangkat langkah kaki tebalnya tinggi-tinggi dengan cara yang sangat menggelikan, berhati-hati agar sepatu botnya tidak menghasilkan suara sedikit pun di lantai batu.
Dia mendekati Zhao Er, yang masih berjongkok memeluk lututnya tak jauh dari bangku Lin Fan.
"Kau..." bisik Wang Ta, suaranya begitu pelan hingga nyaris terdengar seperti hembusan angin. Wajah gempalnya condong ke depan, matanya melotot memperingatkan. Urat-urat di dahinya menonjol. "...Zhao Er! Cepat ambil jubah bersih dari ruang persediaan. Jangan yang abu-abu, ambil jubah linen putih yang biasa kugunakan untuk menyambut tetua inspeksi! Selimuti beliau!"
Zhao Er mengangguk patah-patah dengan kecepatan kilat. Air mata haru dan ketakutan bercampur di matanya. Dia bangkit perlahan, bergerak tanpa suara seperti seekor kucing pencuri, melesat ke ruang persediaan.
Wang Ta kemudian membalikkan badannya, menghadap ke arah ratusan murid pelayan yang masih terpaku. Pria gempal itu mengangkat kedua tangannya ke udara, telapak tangannya menghadap ke bawah, membuat gerakan menekan berulang kali. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa menjadi topeng kepanikan absolut.
"Ssst! Ssst!!" desis Wang Ta, matanya melotot liar menyapu setiap sudut dapur. Dia menunjuk ke arah Lin Fan yang sedang tertidur lelap, lalu memenggal lehernya sendiri dengan jari telunjuknya, sebuah ancaman kematian yang sangat jelas.
Dengan suara berbisik yang dipaksakan serak dan penuh ancaman, Wang memberi perintah yang akan mengubah sejarah Dapur Luar selamanya.
"Dengar baik-baik, dasar kalian kumpulan cacing bodoh! Tiga ribu murid luar sedang menunggu makan siang. Kita tetap memasak! Tapi... jika ada dari kalian yang menjatuhkan sutil, jika ada dari kalian yang memotong sayur terlalu keras hingga terdengar bunyi 'trak', atau jika ada wajan yang mendesis terlalu nyaring... aku sendiri yang akan menguliti kalian hidup-hidup dan menjadikan kalian kaldu!"
Ratusan murid pelayan itu mengangguk serempak dengan mata terbelalak horor. Tidak ada satu pun yang berani membantah.
Wang Ta menunjuk ke arah tungku nomor satu, tungku raksasa terdekat dengan tempat Lin Fan tidur. "Matikan tungku nomor satu dan dua! Asapnya mungkin akan mengganggu pernapasan sucinya! Pindahkan semua proses memasak ke ujung barat laut! Bergerak!"
Sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi sejak Sekte Awan Mengalir berdiri pun dimulai.
Ratusan murid pelayan bangkit berdiri dengan gerakan slow-motion. Tidak ada yang berani menyeret langkah mereka. Pria-pria berotot yang biasanya saling berteriak sambil melempar karung beras, kini berjalan berjinjit-jinjit dengan wajah pucat pasi. Mereka menggotong keranjang sayuran seberat seratus pon seolah sedang membawa bom kristal yang siap meledak.
Para koki tungku mulai mengaduk kaldu raksasa mereka. Alih-alih membenturkan sutil besi ke dasar wajan seperti biasa, mereka mengaduk kaldu itu dengan gerakan melingkar yang sangat lambat dan lembut, memastikan sutil mereka tidak menyentuh logam wajan sama sekali. Keringat sebesar biji kedelai mengucur dari dahi mereka karena fokus fisik yang berlebihan.
Di meja talenan, para pemotong daging tidak lagi menggunakan metode tebasan keras. Mereka menggunakan metode 'mengiris perlahan', menarik pisau mereka inci demi inci menembus daging, menahan napas setiap kali pisau mereka mendekati papan kayu.
Dapur yang melayani tiga ribu orang itu kini sibuk, bergerak dengan kecepatan penuh, namun nyaris tanpa suara. Suasananya persis seperti sebuah pemakaman yang sibuk memasak makanan prasmanan.
Di tengah semua kegilaan bisu itu, di sudut ruangan yang telah dibersihkan dari segala aktivitas, Lin Fan tidur dengan posisi menyamping di atas bangku kayu usang yang kerasnya seperti batu. Jubah linen putih bersih yang diselimutkan oleh Zhao Er menutupi tubuhnya dengan rapi. Lencana giok putih dari Puncak Teratai Salju tergeletak tak tersentuh di atas talenan di dekatnya, seolah benda itu tidak lebih berharga dari asbak murahan.
Senyuman damai yang tidak pernah pudar menghiasi wajah Lin Fan. Napasnya teratur, dadanya naik turun dengan ritme santai.
Ah... batin Lin Fan dalam alam bawah sadarnya, tubuhnya tenggelam lebih dalam ke kenyamanan tak kasat mata dari Aura Bantalan Awan. Dunia kultivasi ini ternyata tidak seburuk yang kuduga. Orang-orangnya sangat pengertian tentang waktu istirahat.