Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Benua Pasir Emas
Kapal kecil yang akan membawa Wira dan Sekar menjauh dari pantai Samudera Biru perlahan bergoyang mengikuti irama ombak.
Namun, sebelum tali tambat benar-benar dilepaskan, Wira berdiri di tepi kapal, menatap serius Adiwangsa yang berdiri di dermaga dengan sorot mata penuh pengabdian.
Wajah Wira tidak lagi menunjukkan senyum bodohnya. Ia menatap pria paruh baya itu dengan keseriusan yang menusuk.
"Paman Adiwangsa," panggil Wira, suaranya berat dan bergema di atas deburan ombak.
"Mandatku padamu bukan hanya soal administrasi kerajaan. Bumi sedang dalam keadaan kacau. Langit sedang bergejolak, dan benih-benih kehancuran telah disebar di setiap sudut dunia ini."
Adiwangsa membungkuk dalam. "Hamba mendengarkan, Gusti Kaisar."
"Latihlah prajurit-prajuritmu tanpa henti. Jangan biarkan mereka terlena dengan kedamaian sementara ini. Dorong mereka hingga ke ranah maksimal kultivasi mereka. Aku ingin Samudera Biru memiliki pasukan yang mampu menahan gempuran iblis, bukan hanya sekadar menjaga gerbang pasar," perintah Wira tegas.
"Dan yang terpenting, berlakulah adil. Kedamaian sejati hanya lahir dari keadilan. Jika rakyatmu merasa dicintai oleh pemimpinnya, mereka akan menjadi perisai yang paling kuat bagi kerajaan ini." lanjut Wira dengan bijak.
Entah sejak kapan sosok Wira menjadi sangat dewasa. Namun yang perlu di ketahui adalah saaat dia mendapat saluran energi dari gurunya Dewi Shinta Aruna, sejak saat itu pemikirannya tentang dunia fana telah berubah. Bahkan ia juga sering mendapat petunjuk dari dalam mimpinya, yang membuatnya berpikir, ini memang jalan takdirnya.
Adiwangsa mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. "Amanah Gusti Kaisar akan hamba jaga dengan nyawa hamba sendiri."
Kapal pun mulai menjauh, membelah samudera menuju ufuk barat.
Setelah bayangan kapal Wira hilang di balik garis cakrawala, Adiwangsa segera kembali ke pusat kota di samping istana. Ia mengumpulkan para pengrajin batu terbaik di seluruh negeri.
"Rakyat Samudera Biru!" seru Adiwangsa di depan khalayak ramai.
"Untuk mengenang sosok yang telah membebaskan jiwa kita, aku akan mendirikan sebuah monumen di alun-alun ini." lanjutnya dengan tegas dan keras agar bisa didengar oleh seluruh rakyat Samudera Biru.
Namun, Adiwangsa memiliki rencana yang cerdik sesuai dengan sifat Wira yang tidak suka pamer.
Ia memerintahkan agar wajah patung itu ditutupi oleh caping bambu yang lebar, sehingga wajah aslinya tidak terbongkar.
Identitas Wira harus tetap menjadi rahasia agar ia bisa bergerak bebas di benua lain.
Satu-satunya ciri khas yang ditonjolkan adalah sebuah tongkat kayu lusuh yang digenggam oleh tangan patung tersebut.
Rakyat akan mengenalnya sebagai "Sang Penjaga Tak Berwajah", sosok misterius yang membawa cahaya di tengah kegelapan samudera.
Meskipun banyak rakyat yang tidak tahu kejadian yang sebenarnya, mereka semua telah bersyukur karena berkat sosok itu, Samudera Biru terlepas dari belenggu kegelapan.
Perjalanan Wira dan Sekar melintasi samudera memakan waktu berminggu-minggu hingga akhirnya mereka melihat daratan yang berkilauan seperti emas di bawah sengatan matahari.
Itulah Benua Pasir Emas, sebuah daratan luas yang didominasi oleh gurun tak berujung dan oase-oase yang terpencil.
Benua ini terbagi menjadi empat kerajaan besar yaitu...
Kerajaan Surya, Kerajaan Debu Merah, Kerajaan Kalajengking Hitam, dan yang terkecil di ujung selatan, Kerajaan Embun Pagi.
Wira dan Sekar memutuskan untuk menyamar sebagai pengelana gurun biasa.
Mereka tinggal di benua itu selama beberapa bulan, berpindah dari satu kota ke kota lain untuk mengamati situasi.
Wira merasakan hawa yang sangat panas, namun bukan hanya karena teriknya matahari, melainkan karena hawa busuk kegelapan yang telah merasuki tiga dari empat kerajaan tersebut.
"Wira, situasinya lebih buruk dari yang kita bayangkan," bisik Sekar saat mereka beristirahat di sebuah kedai kopi di kota perbatasan.
"Kerajaan Surya, Debu Merah, dan Kalajengking Hitam... para pemimpin mereka sudah kehilangan akal sehat. Mereka saling berperang hanya untuk memperebutkan Batu Bintang, yang konon bisa memberikan keabadian. Padahal aku bisa merasakan bahwa batu-batu itu adalah fragmen energi iblis." lanjut Sekar dengan nada yang serius.
Wira menyesap kopinya yang pahit lalu menjawab,
"Hanya Kerajaan Embun Pagi yang masih bersih. Tapi mereka terlalu kecil dan lemah. Jika ketiga kerajaan besar itu bersatu atau salah satunya menyerang, maka Kerajaan Embun Pagi akan dihabisi dalam sekejap." jawab Wira juga dengan wajah yang terlihat berpikir.
Saat sedang mengamati keramaian pasar di kota Sabana Emas, seorang pria bertubuh tegap dengan jubah kumal duduk di meja sebelah Wira.
Pria itu tampak seperti tentara bayaran yang sedang mabuk, namun mata Wira tidak bisa tertipu.
Melalui Siwa, ia merasakan aliran energi yang sangat tenang namun sangat dalam di dalam tubuh pria itu.
"Hati-hati, anak muda. Di kota ini, dinding pun memiliki telinga yang lapar," ucap pria itu tanpa menoleh ke arah Wira.
Wira tersenyum tipis.
"Dinding di sini mungkin lapar, tapi aku hanya punya ubi kering di kantongku. Kurasa mereka akan kecewa." jawab Wira dengan nada bercanda.
Pria itu terkekeh rendah, lalu menoleh kembali ke arah luar.
Namanya adalah Jenderal Sabrang. Di mata publik, ia hanyalah seorang jenderal kelas menengah dari Kerajaan Surya yang sering dihina karena dianggap lemah dan tidak ambisius. Namun, kenyataannya jauh berbeda.
Sabrang sebenarnya memiliki tingkat kultivasi yang hampir setara dengan Adiwangsa di Samudera Biru. Namun, ia menyembunyikan kekuatannya menggunakan sebuah teknik rahasia bernama Tabir Pasir Sunyi, yaitu sebuah anugerah dari Raja Kerajaan Embun Pagi yang diberikan secara rahasia sebagai bentuk kerjasama intelijen.
"Namaku Sabrang," ucapnya sambil mengulurkan tangan yang kasar.
"Aku sudah lama mengamatimu, pengembara muda. Energi yang kau bawa... mengingatkanku pada cerita tentang seseorang yang membawa tongkat kehidupan." lanjut ucapnya setelah memperkenalkan diri mencoba untuk akrab kepada Wira.
Wira menjabat tangannya. "Aku Wira, Paman. Dan ini temanku, Sekar." jawab Wira.
Setelah itu, Sabrang kemudian mengajak mereka berdua berpindah ke sebuah ruangan bawah tanah di belakang kedai tersebut.
Di sana, ia mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya.
"Aku adalah mata-mata bagi Kerajaan Embun Pagi di jantung Kerajaan Surya," ungkap Sabrang.
"Tiga kerajaan besar lainnya sudah berada di bawah pengaruh Pendeta Bayangan, sosok misterius yang datang dari utara. Mereka melakukan ritual pengorbanan di tengah gurun setiap bulan purnama." jelas Sabrang tanpa menutupi.
"Kenapa kau tidak bergerak sendiri dengan kekuatanmu?" tanya Sekar.
Sabrang menghela napas.
"Jika aku menunjukkan kekuatanku, penyamaranku akan terbongkar dan Kerajaan Embun Pagi akan langsung diserbu habis-habisan sebagai ancaman. Aku harus berpura-pura menjadi jenderal yang patuh, sambil menunggu momen yang tepat untuk menghancurkan inti energi mereka." jawab Sabrang menjelaskan sedikit rencananya itu.
Wira mengangguk paham. Ia merasa telah menemukan sekutu yang tepat.
"Jadi, Paman Sabrang, apa langkah mereka selanjutnya?" tanya Wira kemudian.
"Besok, ketiga kerajaan besar akan mengadakan pertemuan di Lembah Air Mata untuk merundingkan pembagian wilayah Embun Pagi, tapi itu sebenarnya adalah jebakan. Sebenarnya mereka akan menyatukan kekuatan untuk memanggil entitas yang mereka sebut sebagai Dewa Gurun," jelas Sabrang dengan wajah serius.
Wira berdiri, membetulkan letak Siwa di punggungnya.
"Dewa Gurun? Lebih tepatnya monster gurun yang haus jiwa. Paman Sabrang, aku senang bertemu dengamu. Setidaknya aku tahu ada orang waras di benua yang kacau ini." jawab Wira.
Sabrang menatap Wira dengan penuh harap. "Sudah kudengar apa yang terjadi di Samudera Biru. Berita tentang Sang Penjaga Tak Berwajah sudah sampai ke telinga kami, meski wajahmu tetap misteri. Jika kau benar-benar dia, maka kedatanganmu ini adalah mukjizat bagi kami." ucap Sabrang dengan tatapan serius dan tampak sedikit ada kelegaan.
Wira hanya nyengir, kembali ke sifat aslinya yang santai.
"Wah, beritanya cepat sekali ya? Padahal aku sudah memakai caping paling jelek." canda Wira untuk menghilangkan ketegangan.
Sekar yang mendengar perkataan kekasihnya itu pun langsung memukul bahu Wira.
"Berhenti bercanda! Kita harus menyusun rencana. Paman Sabrang, tunjukkan pada kami letak Lembah Air Mata itu. Kita akan menyusup ke sana sebelum ritual dimulai." ucap Sekar yang tetap serius.
Wira kembali menatap ke luar jendela, ke arah gurun yang mulai berubah warna menjadi merah darah saat matahari terbenam.
Ia menyadari bahwa di benua ini, musuhnya bukan hanya manusia yang haus kekuasaan, tapi juga lingkungan yang ganas dan sihir gurun yang mematikan.
"Paman Sabrang, tetaplah dalam penyamaranmu," ucap Wira sebelum pergi.
"Biarkan aku dan Sekar yang menjadi badai tidak terduga di pertemuan itu. Kau pastikan saja pasukan rahasia Kerajaan Embun Pagi siap bergerak saat segel mereka runtuh." lanjut Wira memaparkan rencananya.
Jenderal Sabrang pun kemudian memberi hormat militer yang sangat khidmat.
"Sesuai perintah, Tuan Penjaga."
Wira dan Sekar pun menghilang di balik kegelapan malam gurun, menuju Lembah Air Mata.
Perjalanan di Benua Pasir Emas baru saja dimulai, dan kali ini, Wira harus bertarung di atas pasir yang bisa menelan siapa saja yang lengah.
Namun, dengan Siwa di tangan dan tekad yang membara, ia siap mendinginkan panasnya ambisi jahat di benua emas tersebut.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁