NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 17

Ayah Romano menatap lurus ke dalam mata Mira, mencari secercah keraguan yang biasanya ada pada "subjek uji coba" yang masih memiliki nurani. Namun, yang ia temukan hanyalah kehampaan yang dingin. Ia menyadari bahwa Mira bukan lagi pion dalam rencananya; Mira adalah anomali yang telah melampaui desain aslinya.

"Kau benar-benar putri Rahayu," bisik pria tua itu, suaranya gemetar bukan karena takut pada api, melainkan karena melihat mahakaryanya berbalik menghancurkannya. "Dia selalu lebih memilih membakar segalanya daripada menyerah."

"Berhenti membandingkanku dengannya," desis Mira. "Instruksikan pasukanmu untuk mundur, atau aku akan memastikan tidak ada satu pun sel dari tubuhmu yang tersisa untuk kau teliti."

Pria tua itu mengangkat tangannya yang keriput. "Mundur! Batalkan protokol sterilisasi. Sekarang!"

Para pasukan elit itu perlahan menurunkan senjata mereka dan mundur kembali ke arah helikopter. Romano tetap waspada, matanya menyisir setiap pergerakan sekecil apa pun. Setelah helikopter itu lepas landas dan menghilang di balik awan malam, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti Sektor Tujuh.

Mira tidak menurunkan pemantiknya. "Berikan kuncinya, Romano. Penawar permanennya."

Romano mendekati ayahnya, merogoh saku dalam jas pria tua itu dan menarik keluar sebuah drive enkripsi berwarna perak dan sebuah vial kecil berisi cairan bening. "Ini dia. Formula untuk menetralkan modifikasi genetik tanpa membunuh inangnya."

"Ambil itu, Mira," ucap Ayah Romano dengan tawa pahit. "Jadilah manusia biasa yang lemah. Kembalilah menjadi rakyat jelata yang harus bekerja keras hanya untuk bernapas. Kau akan menyesal telah membuang keilahian yang kami berikan padamu."

"Keilahian yang dibangun di atas penderitaan orang lain adalah kutukan," balas Mira. Ia menoleh ke arah Romano. "Hancurkan sistem kendali kursi rodanya. Biarkan dia di sini sampai warga terbangun. Biarkan dia melihat sendiri orang-orang yang dia anggap 'daging' bangkit dan menatap matanya."

Romano mencabut modul navigasi kursi roda itu, membuat pria tua itu terpaku di tengah lapangan pasar yang gelap. Saat fajar mulai menyingsing, satu per satu warga Sektor Tujuh mulai terbangun dari tidur lelap mereka. Mereka bangkit dengan bingung, namun saat melihat Mira dan Romano berdiri di sana, serta sosok pria tua yang tak berdaya di tengah lapangan, mereka menyadari bahwa perang yang tidak mereka pahami telah usai.

Mira tidak membuang waktu. Bersama Romano, ia memasukkan penawar itu ke dalam sistem pengolahan air pusat. Ia menyaksikan cairan bening itu bercampur dengan aliran air, mengalir ke setiap rumah, membersihkan setiap sel tubuh warga dari residu eksperimen masa lalu.

"Kau merasa berbeda?" tanya Romano saat mereka berdiri di atap menara air, melihat matahari terbit.

Mira mengepalkan tangannya. Kekuatan luar biasa yang tadi ia rasakan perlahan memudar, digantikan oleh rasa lelah yang sangat manusiawi. "Aku merasa berat... dan aku merasa lapar. Aku merasa... normal."

Romano merangkul bahu Mira, menariknya mendekat. "Itu adalah perasaan terbaik di dunia, bukan?"

"Ya," Mira tersenyum kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Romano. "Sekarang, kita punya banyak hal yang harus dibereskan. Nusantara Group harus dibubarkan, asetnya harus dibagikan, dan kita... kita harus belajar bagaimana hidup tanpa harus selalu berperang."

Di bawah mereka, Sektor Tujuh mulai berdenyut kembali. Kehidupan yang asli, yang jujur, dan yang tidak direkayasa, akhirnya dimulai. Mereka bukan lagi senjata, bukan lagi monster, dan bukan lagi penguasa. Mereka hanyalah dua jiwa yang berhasil menemukan jalan pulang di tengah labirin kebohongan yang panjang.

Pagi itu bukan lagi tentang laporan bursa saham atau grafik keuntungan. Mira terbangun oleh suara pedagang sayur yang berteriak di bawah jendela rumah lamanya, suara yang dulu ia benci namun kini terdengar seperti simfoni kemerdekaan. Di tangannya tidak ada lagi tablet enkripsi, hanya secangkir kopi panas yang uapnya mengepul lembut.

Romano masuk ke dapur dengan pakaian yang jauh dari kesan eksekutif—hanya kaos oblong hitam dan celana kargo. Ia meletakkan sekeranjang roti segar di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas.

"Nusantara Group resmi dinyatakan pailit pagi ini," ujar Romano sambil menarik kursi di depan Mira. "Likuidator sudah mulai membagi asetnya. Sektor Tujuh sekarang secara hukum adalah wilayah otonom milik koperasi warga. Tidak ada lagi yang bisa menyentuh tanah ini."

Mira menyesap kopinya, merasakan kehangatan yang menjalar ke dadanya. "Dan ayahmu?"

"Dia dipindahkan ke fasilitas medis negara dengan penjagaan ketat. Tanpa teknologi dan pengaruhnya, dia hanyalah pria tua yang kalah oleh waktu," Romano meraih tangan Mira, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan wanita itu. "Dia masih menganggap kita bodoh karena memilih menjadi 'manusia biasa'."

"Menjadi manusia itu melelahkan, Romano. Punggungku pegal, dan aku baru menyadari betapa bisingnya pasar ini," Mira tertawa kecil, sebuah tawa yang lepas tanpa beban rahasia di baliknya. "Tapi aku tidak akan menukarnya dengan kekuatan apa pun di dunia."

Hari itu, mereka berjalan menyusuri gang-gang Sektor Tujuh tanpa kawalan pasukan keamanan. Warga menyapa mereka bukan dengan ketakutan atau rasa segan yang berlebihan, melainkan dengan kehangatan tetangga. Ayah Mira terlihat sedang membantu memperbaiki atap rumah salah satu warga, tertawa lebar seolah beban dua puluh tahun telah diangkat dari bahunya.

Di ujung jalan, mereka berhenti di bekas lokasi laboratorium yang kini telah diratakan dan ditanami pepohonan hijau. Di sana, Mira menanam sebuah bibit pohon beringin kecil, simbol dari akar yang baru dan udara yang bersih.

"Kita akan membangun sekolah di sini," kata Mira pelan. "Sekolah yang mengajarkan anak-anak bahwa mereka bisa menjadi apa saja tanpa harus ditentukan oleh kode genetik atau harta keluarga."

Romano berdiri di sampingnya, memandang cakrawala Jakarta yang tampak lebih bersahabat hari ini. "Dan kita akan menjadi apa, Mira? Guru? Petani? Atau hanya dua orang yang mencoba memahami cara membayar pajak tepat waktu?"

Mira menoleh, menatap mata Romano yang kini mencerminkan kedamaian yang sama dengannya. "Kita akan menjadi diri kita sendiri, Romano. Tanpa gelar, tanpa mahkota, dan tanpa bayang-bayang masa lalu."

Saat matahari mulai terbenam, memberikan semburat jingga pada atap-atap seng Sektor Tujuh, Mira menyadari bahwa kemenangan sejati bukanlah saat ia menduduki kursi CEO, melainkan saat ia bisa menggenggam tangan orang yang ia cintai di tempat yang ia sebut rumah, tanpa perlu merasa takut pada hari esok.

Sektor Tujuh telah pulih. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka berdua pun benar-benar pulih.

Beberapa bulan setelah Nusantara Group runtuh, Sektor Tujuh bukan lagi sebuah "proyek", melainkan sebuah kehidupan yang organik. Mira dan Romano sering menghabiskan waktu di beranda rumah lama, tempat di mana rencana besar dulu disusun dengan penuh amarah, namun kini hanya diisi oleh suara jangkrik dan obrolan ringan tentang masa depan.

Sore itu, Romano datang dengan membawa sebuah amplop cokelat kecil. Tidak ada logo korporat, tidak ada segel rahasia. Hanya alamat pengirim dari sebuah firma hukum kecil di pusat kota.

"Warisan terakhir dari proses likuidasi," kata Romano, menyerahkan amplop itu kepada Mira. "Bukan uang, bukan saham. Hanya sebuah kunci kecil dan koordinat di pinggiran Bogor."

Mira mengerutkan kening. Ia membuka amplop itu dan menemukan kunci logam berkarat. "Jangan bilang ayahmu masih punya bunker rahasia lainnya."

"Bukan ayahku," Romano duduk di sampingnya, menatap matahari yang mulai turun. "Itu atas nama Rahayu. Ibumu membelinya secara pribadi atas nama gadis kecilnya, jauh sebelum dia terlibat terlalu dalam dengan proyek Chimera."

Keesokan harinya, mereka berkendara keluar dari bisingnya Jakarta. Koordinat itu membawa mereka ke sebuah bukit kecil yang menghadap lembah hijau. Di sana berdiri sebuah rumah kayu sederhana yang sudah hampir tertutup tanaman merambat, dikelilingi oleh kebun kopi yang tumbuh liar namun subur.

Di pintu rumah itu, terdapat sebuah plakat kecil yang terbuat dari kuningan, bertuliskan satu kalimat yang membuat mata Mira berkaca-kaca: Untuk Mira, saat dunia menjadi terlalu bising.

"Ini bukan laboratorium," bisik Mira saat mereka masuk ke dalam. Ruangan itu penuh dengan buku-buku sastra, alat tenun tua, dan foto-foto masa kecil Mira yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Ini adalah rencana pelariannya. Dia ingin membawaku ke sini jika semuanya gagal."

Mira menemukan sebuah kotak kayu di atas meja makan. Di dalamnya ada secarik kertas terakhir dengan tulisan tangan ibunya yang rapi: Mira, jika kau membaca ini, berarti kau telah memilih jalanmu sendiri. Maafkan aku karena pernah mencoba membentukmu menjadi sesuatu yang bukan dirimu. Di sini, kau tidak perlu menjadi Alpha. Kau cukup menjadi anakku.

Romano berdiri di jendela, melihat kebun kopi yang luas di luar. "Tanahnya subur, Mira. Dan udaranya... ini pertama kalinya aku merasa paru-paruku benar-benar bersih."

Mira mendekati Romano, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Dia tidak pernah ingin aku menjadi ratu, Romano. Dia hanya ingin aku bebas."

"Lalu, apa rencanamu?" tanya Romano, menoleh dan menatap mata Mira yang kini penuh dengan ketenangan. "Kembali ke kota dan mengelola koperasi, atau tetap di sini dan belajar cara memanen kopi?"

Mira tersenyum, sebuah senyuman yang paling tulus yang pernah ia miliki. Ia menggenggam kunci logam itu erat-erat. "Mungkin keduanya. Kita akan membawa hasil bumi dari sini ke Sektor Tujuh. Kita akan menunjukkan pada mereka bahwa kehidupan yang paling indah adalah yang tumbuh dari tanah yang dirawat dengan cinta, bukan hasil rekayasa laboratorium."

Di bukit itu, di bawah langit biru yang tak terbatas, Mira dan Romano menyadari bahwa perjalanan mereka bukan berakhir pada kemenangan politik atau kekayaan. Perjalanan mereka berakhir pada penemuan jati diri mereka yang paling murni.

Mereka bukan lagi tawanan masa lalu. Mereka adalah pemilik masa depan mereka sendiri. Dan di bawah bayang-bayang rumah kayu itu, sang ratu dan rajanya akhirnya menemukan kedamaian yang selama ini mereka cari di tengah peperangan yang melelahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!