NovelToon NovelToon
Sahabat Jadi Suamiku.

Sahabat Jadi Suamiku.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

terbongkarnya rahasia 10tahun

Di tengah kekacauan hatinya setelah konfrontasi dengan Bagus, Arlan menerima telepon dari ibunya. Suara ibunya yang lembut namun tegas memerintahkan Arlan untuk membawa Raia makan malam di rumah besar mereka malam ini. Ibunya tidak tahu apa yang terjadi di kantor; yang beliau tahu hanyalah Arlan dan Raia adalah sahabat yang akhirnya bersatu kembali.

Arlan tidak punya pilihan. Dengan langkah berat, ia menghampiri meja Raia yang sedang membereskan barang-barangnya—mungkin bersiap untuk ikut pergi bersama Bagus.

"Raia," panggil Arlan, suaranya tidak lagi membentak, melainkan terdengar lelah. "Ibu menelepon. Beliau memasak makanan kesukaanmu dan memintaku membawamu makan malam di rumah. Aku mohon... kali ini saja, jangan tolak keinginan Ibu."

Raia mendongak, matanya yang sembap menatap Arlan dengan sinis. "Setelah semua yang kamu lakukan pada Bagus? Kamu pikir aku masih sudi duduk semeja denganmu?"

"Ini untuk Ibu, Ra. Kamu tahu beliau sangat merindukanmu selama sepuluh tahun ini," Arlan merendahkan suaranya, hampir memohon.

"Setelah makan malam ini, jika kamu ingin mengundurkan diri, aku tidak akan menahanmu lagi. Aku akan tetap membiayai Ayahmu tanpa syarat apa pun. Aku janji."

Janji Arlan merubah segalanya. Untuk pertama kalinya, Arlan melepaskan "tali kekang" yang ia gunakan untuk mengancam Raia. Raia terdiam, melihat sisi rapuh Arlan yang muncul di balik topeng bosnya. Akhirnya, demi rasa hormatnya pada ibu Arlan yang sudah dianggapnya ibu sendiri, Raia mengangguk pelan.

Malam itu, di meja makan rumah Arlan yang hangat, suasananya sangat kontras dengan dinginnya kantor. Ibu Arlan terus bercerita tentang betapa Arlan selalu menyebut nama Raia dalam tidurnya saat dia sakit di London dulu.

"Kamu tahu, Raia? Arlan itu hampir gila di sana. Dia kecelakaan hebat karena bekerja terlalu keras hanya untuk membelikanmu cincin yang layak," ucap Ibu Arlan sambil menyodorkan piring.

Raia tersedak. Ia menoleh ke arah Arlan yang hanya menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang memerah dan mata yang berkaca-kaca. Rahasia besar itu akhirnya terbongkar di depan meja makan.

Ibu Arlan menarik tangan Raia dengan lembut menuju teras belakang yang asri, meninggalkan Arlan yang masih terpaku di meja makan, menatap piringnya yang kosong dengan tatapan hampa. Suasana malam yang tenang seolah mendukung rahasia yang selama ini terkunci rapat.

"Raia," panggil Ibu Arlan pelan, suaranya bergetar. "Ibu tahu Arlan berubah. Ibu tahu dia menyakitimu dengan sikap dinginnya itu."

Raia hanya menunduk, memainkan jemarinya. "Dia bukan Arlan yang dulu, Bu. Dia monster yang mengancam semua orang di sekitarku."

Ibu Arlan menghela napas panjang, lalu merogoh sesuatu dari saku daster batiknya. Sebuah kotak beludru kecil yang sudah agak kusam. Saat dibuka, sebuah cincin emas sederhana dengan ukiran inisial 'R' berkilau di bawah lampu teras.

"Ini alasan dia menghilang, Ra. Arlan kecelakaan di London saat bekerja lembur di konstruksi hanya untuk membeli cincin ini. Dia jatuh dari ketinggian, koma berbulan-bulan, dan kakinya sempat lumpuh selama dua tahun," Ibu Arlan mulai terisak. "Dia melarang Ibu memberitahumu karena dia merasa sudah cacat dan gagal. Dia tidak mau kamu menunggunya karena rasa kasihan. Dia ingin kembali padamu sebagai pria yang sempurna, bukan pria yang harus kamu urus."

Raia membeku. Penjelasan itu merubah segalanya. Kebencian yang tadi membara di dadanya mendadak padam, berganti dengan rasa sesak yang luar biasa. Foto di Instagram, sikap posesifnya, hingga amarahnya pada Bagus—semuanya adalah bentuk pertahanan diri Arlan yang merasa inferior di depan wanita yang sangat dicintainya.

"Dia sengaja membuatmu benci, Ra, supaya dia punya alasan untuk menjauhimu jika kamu menolaknya nanti. Tapi dia tidak tahan, dia terlalu mencintaimu sampai akhirnya dia menggunakan cara-cara salah untuk menjagamu tetap di dekatnya."

Raia menoleh ke arah ruang makan, melihat bayangan Arlan dari balik kaca yang sedang duduk termenung sendirian. Air mata Raia jatuh, bukan karena marah, tapi karena menyadari betapa hancurnya mental Arlan selama sepuluh tahun ini.

"Dan yang harus kamu tahu, Raia... ibu kamu juga tahu soal kecelakaan itu. Beliau tahu alasan Arlan menghilang," ucap ibu Arlan pelan, menggenggam tangan Raia yang mulai mendingin.

Raia tersentak. Dunianya seolah berputar. "Maksud Ibu... Ibu saya tahu semuanya? Selama sepuluh tahun ini?"

Ibu Arlan mengangguk sedih. "Arlan yang memohon pada ibumu untuk merahasiakannya. Dia bilang, 'Biarkan Raia membenciku daripada dia harus menghabiskan masa mudanya merawat pria lumpuh yang tidak punya masa depan'. Ibumu menangis saat itu, tapi dia menghargai keputusan Arlan karena dia ingin kamu tetap fokus pada kuliahmu tanpa beban mental."

Kenyataan ini merubah segalanya. Semua kemarahan Raia kepada Arlan, semua kecurigaannya pada ibunya sendiri, kini meleleh menjadi rasa sesak yang luar biasa. Raia menyadari bahwa selama sepuluh tahun ini, ia dikelilingi oleh orang-orang yang mencoba "melindunginya" dengan cara yang paling menyakitkan—dengan kebohongan.

Raia menoleh ke arah ruang makan. Ia melihat Arlan masih duduk di sana, bahunya merosot, tampak sangat kecil dan rapuh di balik jas mahalnya. Pria itu bukan lagi bos yang angkuh, melainkan sahabat kecilnya yang selama sepuluh tahun bertarung melawan rasa rendah diri dan cacat fisiknya sendirian.

"Dia melakukan semua kegilaan di kantor itu hanya karena dia tidak tahu cara lain untuk membuatmu tetap di sisinya setelah dia merasa gagal menjadi 'pahlawan' masa kecilmu," tambah ibu Arlan.

Raia berdiri, langkahnya gontai menuju ruang makan. Pintu kaca digesernya pelan. Arlan mendongak, matanya merah, tampak siap untuk diusir atau dimaki lagi oleh Raia.

"Kenapa kamu harus menanggungnya sendiri, Lan?" bisik Raia, air matanya jatuh tanpa suara.

Raia mundur selangkah, tangannya gemetar hebat. Penjelasan Ibu Arlan yang seharusnya menenangkan justru terasa seperti hantaman gada yang menghancurkan sisa-sisa kepercayaan di hatinya.

"Jadi... selama sepuluh tahun ini, aku hidup dalam skenario kalian?" suara Raia pecah, bukan lagi karena sedih, tapi karena rasa dikhianati yang teramat dalam.

Arlan berdiri, mencoba mendekat. "Raia, dengarkan aku—"

"Jangan mendekat!" teriak Raia. Matanya menatap Arlan dan ibunya silih berganti dengan tatapan ngeri. "Kalian semua menganggapku apa? Anak kecil yang tidak punya hak atas perasaannya sendiri? Kalian membiarkan aku menangis, menyalahkan diri sendiri, dan menganggap diriku tidak berharga sampai aku harus menunggu kabar yang tidak pernah datang, padahal kalian semua bersekongkol di belakangku!"

Raia menoleh ke arah ibunya yang baru saja masuk ke ruang makan dengan wajah penuh sesal. "Dan Ibu... Ibu melihatku hancur setiap hari selama sepuluh tahun, tapi Ibu memilih untuk bungkam hanya karena permintaan Arlan? Ibu lebih sayang pada ego Arlan daripada kewarasan anak Ibu sendiri?"

"Raia, Ibu hanya ingin kamu tidak terbebani—"

"Aku lebih terbebani oleh kebohongan kalian!" Raia menyambar tasnya, napasnya memburu.

"Kalian bilang ini cinta? Ini bukan cinta! Ini kontrol! Arlan mengendalikan hidupku lewat uangnya, dan Ibu mengendalikan pikiranku lewat rahasianya. Kalian menghancurkan sepuluh tahun hidupku hanya untuk sebuah 'kejutan' sukses yang pahit ini!"

Raia menatap Arlan untuk terakhir kalinya, matanya kini dingin sedingin es. "Arlan yang aku kenal sepuluh tahun lalu memang sudah mati. Dan orang di depanku ini... adalah orang asing yang paling aku benci karena telah mencuri sepuluh tahun kejujuranku."

Tanpa menoleh lagi, Raia berlari keluar dari rumah besar itu, mengabaikan teriakan Arlan yang memanggil namanya di tengah kegelapan malam. Pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya merubah segalanya; kini Raia benar-benar sendirian, tanpa rumah untuk pulang.

Arlan mengejar Raia ke luar rumah dengan langkah tergesa-gesa. Suara napasnya yang memburu beradu dengan suara hujan yang mulai rintik kembali menyentuh bumi. Ia berhasil mencegat tangan Raia tepat di samping pintu mobil wanita itu.

"Raia, dengarkan aku sekali saja!" seru Arlan parau. Matanya yang memerah menatap Raia dengan keputusasaan yang nyata. "Aku tahu aku salah. Aku tahu caraku menjagamu selama ini sangat beracun. Tapi sepuluh tahun di sana... aku hanya punya satu motivasi untuk tetap hidup dan berjalan lagi: kamu."

Raia menyentak tangannya dengan kasar. "Kamu bilang ini untukku, Arlan? Kamu menghancurkan kepercayaan yang aku bangun sepuluh tahun hanya untuk ego kesempurnaanmu? Kamu membiarkan aku merasa ditinggalkan, padahal kamu tahu betapa hancurnya aku!"

"Aku hanya tidak ingin kamu melihatku sebagai beban!" Arlan berteriak di tengah rintik hujan, suaranya pecah oleh tangis yang tak lagi tertahan. "Aku kehilangan harga diriku sebagai pria saat aku tidak bisa berjalan, Ra. Aku ingin kembali sebagai pahlawanmu, bukan sebagai pesakitan yang harus kamu urus seumur hidup!"

Raia terdiam, air matanya kini bercampur dengan air hujan. Ia melihat Arlan yang bersimpuh di depannya—seorang CEO yang selama ini ia benci karena keangkuhannya, kini hancur lebur di hadapannya.

"Kebohongan tetaplah kebohongan, Lan. Meskipun kamu membungkusnya dengan niat baik," bisik Raia pedih. "Kamu tidak hanya mencuri sepuluh tahunku, kamu juga mencuri kesempatanku untuk menemanimu di titik terendahmu."

"Dua tahun, Arlan! Kamu bilang cuma dua tahun!" teriak Raia dengan suara parau, dadanya naik turun menahan sesak yang meledak. "Aku memegang janji itu seolah itu satu-satunya oksigenku. Tapi ternyata sepuluh tahun... sepuluh tahun aku harus belajar bernapas tanpa kamu!"

Raia melangkah mundur, menjauh dari jangkauan tangan Arlan yang bergetar. "Kamu nggak tahu rasanya memaksakan diri untuk terbiasa sendiri.

Aku membiasakan makan sendiri, merayakan kelulusan sendiri, bahkan saat Ayah jatuh sakit, aku menelan semua ketakutanku sendiri. Aku membunuh harapan-harapanku tentang kita setiap hari supaya aku nggak gila menunggu kabar yang nggak pernah datang!"

Arlan hanya bisa mematung, air matanya jatuh membasahi kemeja mahalnya. "Raia, aku..."

"Jangan bilang kamu melakukan ini demi aku!" potong Raia tajam. "Kamu nggak memberiku pilihan untuk setia atau pergi. Kamu cuma menghilang dan membiarkanku hidup dalam ketidakpastian. Dan sekarang, setelah aku berhasil membangun tembok untuk diriku sendiri, kamu datang sebagai bos dan menghancurkan semuanya lagi dengan uang dan ancaman?"

Raia menatap Arlan dengan sorot mata yang penuh luka mendalam. "Sepuluh tahun itu mengubahku, Arlan. Aku bukan lagi Raia yang bisa kamu beli dengan cincin atau biaya rumah sakit. Aku adalah wanita yang belajar bahwa sendiri jauh lebih aman daripada bersama orang yang penuh rahasia."

Kalimat itu merubah segalanya. Penyesalan Arlan kini terasa sia-sia di hadapan waktu yang telah hilang.

1
Tamirah Spd
Kenapa Arlan menyalahkan Raia dgn laki laki lain selama diluar negeri gak ada komunikasi dgn alasan sibuk kuliah.Tiba tiba jadi atasan dan tiba tiba dia bantu kesembuhan Ayah Raia dan Pendidikan, dimana alur cerita nya Thor....????
Heni Ratna
Hubungan Raia dan Bagus,apa kabar?semakin penasaran dengan konfliknya
Tamirah Spd
Cerita nya masih datar belummm ada konflik lanjut Thor.
Tamirah Spd
Sahabat tapi mesra lanjut Thor belum tahu alur cerita nya masih mukadimah.
Ganendra Dimitri
kok q jadi tambah bingung ma ceritanya thor
Heni Ratna: anda tidak sendirian,,,sy jg demikian lini masa nya yg agak bias,,,tapi tetap penasaran dengan kelanjutan konfliknya
total 3 replies
Alfina Rosa
Seperti.a cerita.a bagus, aku terusin baca.a ea thour...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!