Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Lucky Caleb memutar kemudinya dengan tangan yang gemetar hebat. Deru mesin mobil sewaan itu memecah kesunyian pinggiran Oxford, namun di dalam kabin, yang terdengar hanyalah napas Lucky yang tersengal.
Wajah anak laki-laki itu—Alistair—terus membayang di pelupuk matanya. Setiap inci wajah Alistair adalah kutukan bagi ego Lucky.
Ia ingin turun. Ia ingin berlari dan berlutut di hadapan Freya, memohon ampun karena telah menjadi buta selama lima tahun. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu mobil, bayangan cincin di jarinya dan wajah ayahnya di Berlin muncul seperti monster.
"Kau tidak menginginkanku, Frey," bisik Lucky dengan suara pecah. "Kau melahirkan... kau berjuang sendirian di Oxford, dan kau bahkan tidak mengirimkan satu pun pesan padaku. Kau lebih memilih membesarkan Alistair sebagai anak orang lain daripada sebagai anakku."
Pikiran itu meracuni jiwanya. Rasa minder dan pengecut yang akut menyergapnya. Lucky merasa dirinya terlalu kotor untuk menyentuh kehidupan suci yang telah dibangun Freya. Dengan satu sentakan kasar, ia menginjak gas. Ia melarikan diri. Hari itu juga, ia terbang kembali ke Berlin, meninggalkan Oxford tanpa satu pun ketukan di pintu cokelat itu.
Berlin, Kediaman Keluarga Caleb.
Pintu besar aula utama terbanting keras. Lucky melangkah masuk dengan penampilan berantakan—tuksedo yang kusut dan mata yang merah karena alkohol serta air mata. Di sana, keluarganya dan keluarga Allen sedang berkumpul, menanti penjelasan atas menghilangnya sang pengantin pria Tiga hari penuh, hari yang seharusnya menjadi awal bulan madu mereka.
Bugh!
Satu bogem mentah mendarat telak di rahang Lucky, membuatnya tersungkur di lantai marmer. Ayahnya berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena amarah.
"Kau mempermalukan keluarga ini, Lucky! Kau melarikan diri ke Inggris dan membiarkan istrimu menanggung malu di depan media! Kau pikir kau siapa?!" teriak sang ayah.
Lucky menyeka darah di sudut bibirnya, lalu tertawa getir. Tawa yang membuat ibunya bergidik ngeri. Ia bangkit berdiri, menatap ayahnya dengan pandangan kosong yang mematikan.
"Aku sudah punya anak, Mah," ucap Lucky pelan, namun suaranya menggema di seluruh ruangan.
Keheningan seketika menyergap. Ibunya menutup mulut dengan tangan, sementara Allen yang berdiri di sudut ruangan tampak membeku.
"Anaknya sudah besar sekarang. Laki-laki, Mah. Namanya Alistair," lanjut Lucky, suaranya mulai bergetar hebat. "Freya... Freya-ku menyembunyikan anak kami selama Lima tahun. Dia berjuang sendirian sementara aku di sini berpura-pura menjadi bintang yang hebat."
Lucky menoleh ke arah Allen, gadis yang baru saja sah menjadi istrinya. "Aku tidak bisa mencintaimu, Allen. Kumohon... lupakan aku. Mari kita batalkan pernikahan gila ini. Aku tidak berhak berada di sini."
Allen melangkah maju. Gadis itu memang dikenal lembut dan tenang, namun kali ini ada ketegasan yang aneh di matanya. Ia mendekati Lucky, tidak dengan kemarahan, melainkan dengan sebuah tawaran yang membuat bulu kuduk Lucky berdiri.
"Aku tidak akan membiarkanmu jauh dari anakmu sendiri, Lucky," ucap Allen lembut, jemarinya menyentuh lengan Lucky. "Jangan nikahi Freya. Dia sudah membohongimu selama lima tahun, bukan? Dia menjauhkan Alistair darimu. Ambil saja anakmu. Bawa dia ke Berlin. Biar kita besarkan bersama sebagai anak kita. Aku akan menjadi ibu yang baik untuk Alistair."
Deg.
Jantung Lucky seolah berhenti berdetak. Ia menatap Allen dengan tatapan tidak percaya. "Siapa kau, Allen? Ingin membesarkan anak kami?"
Suara Lucky meninggi, kemarahan mulai meluap dari dalam dirinya. "Aku bahkan malu memperlihatkan diriku di depan Freya! Aku merasa seperti sampah karena membiarkannya menderita sendirian! Dan bisa-bisanya kau berpikir sepicik itu? Ingin mengambil anak itu dari ibunya?!"
"Itu demi kebaikanmu, Lucky," potong ibunya, ikut melangkah mendekat. "Benar kata Allen. Montgomery adalah keluarga yang sulit. Jika kau mengambil anak itu, kau memiliki pewaris sah. Kita bisa membesarkannya di Berlin dengan identitas yang jelas. Freya sudah membuktikan bahwa dia tidak bisa jujur padamu."
"TIDAK, MOM!" teriak Lucky hingga urat-urat di lehernya menegang. Suaranya menggelegar, meruntuhkan keanggunan ruangan itu.
"Aku menidurinya tanpa tahu ada konsekuensi yang harus dia tanggung sendirian! Aku meninggalkannya dalam ketakutan! Dan sekarang, dengan mudahnya kalian menginginkan putranya? Ingin memisahkannya dari wanita yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya?!"
Lucky mundur selangkah, menatap orang-orang di depannya seolah mereka adalah sekumpulan predator.
"Itu putra Freya! Alistair adalah milik Freya! Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya dengan niat sejahat itu," desis Lucky dengan mata menyala. "Kalian bicara seolah Alistair adalah barang rampasan perang. Kalian tidak tahu apa-apa tentang cinta yang dia berikan pada anak itu!"
Allen mencoba meraih tangan Lucky lagi. "Lucky, pikirkan kariermu. Jika skandal ini pecah bahwa kau mengambil paksa anak itu, kita bisa mengaturnya agar kau terlihat seperti pahlawan yang menyelamatkan anak dari ibu yang tidak bertanggung jawab—"
BUGH!
Lucky tidak memukul Allen, tapi ia memukul meja kayu di sampingnya hingga retak.
"Cukup! Aku memang pengecut karena melarikan diri dari Oxford, tapi aku bukan iblis. Pernikahan ini berakhir sekarang juga. Aku akan kembali ke Inggris, bukan untuk mengambil Alistair, tapi untuk bersujud di kaki Freya—bahkan jika dia menyuruhku pergi selamanya."
Lucky berbalik, mengabaikan teriakan ayahnya dan tangisan ibunya. Ia tidak lagi peduli pada nama baik keluarga Caleb.
Di dalam kepalanya, hanya ada satu misi: melindungi Freya dan Alistair dari kepicikan keluarganya sendiri, meskipun ia harus menjadi musuh bagi orang-orang yang melahirkannya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt