Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Getaran di Atas Motor dan Pengakuan Tulus
Langit jingga perlahan berganti menjadi ungu gelap saat Dean dan Karline meninggalkan pemukiman di pinggir rel tersebut. Angin sore berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Karline yang keluar dari kuncirannya. Sepanjang jalan keluar dari gang sempit, keduanya hanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing tentang ucapan Nenek Aminah tadi.
Setelah sampai di jalan raya yang lebih mulus, Dean memacu motornya dengan kecepatan sedang. Karline duduk di belakang, tangannya memegang ujung jaket Dean dengan ragu.
"Karline?" panggil Dean sedikit keras agar suaranya terdengar di balik helm.
"Iya?" sahut Karline pelan.
"Soal yang tadi... kamu marah ya karena aku nggak kasih penjelasan ke Nenek Aminah?" tanya Dean. Matanya sesekali melirik ke arah spion, mencoba menangkap ekspresi wajah Karline.
Karline terdiam sejenak sebelum menjawab. "Bukan marah, Dean. Cuma... itu aneh banget. Dia pikir aku hamil, dan kamu malah diam saja seolah mengiyakan. Kamu nggak takut reputasimu hancur kalau ada orang sekolah yang dengar?"
Dean terkekeh pelan, suaranya terdengar renyah di telinga Karline. "Reputasi? Aku sudah nggak peduli soal itu sejak aku kenal kamu lebih jauh. Lagipula, ucapan Nenek tadi itu doa yang baik. Aku nggak tega mematahkan kebahagiaan orang tua yang tulus mendoakan kita."
Dean sengaja menekankan kata "kita", membuat jantung Karline kembali berdegup kencang.
"Tapi itu bohong, Dean. Kita bahkan nggak pacaran," bantah Karline, meski suaranya terdengar tidak seyakin biasanya.
"Belum, Karline. Belum pacaran," koreksi Dean dengan nada penuh percaya diri.
Motor Dean berhenti di lampu merah yang cukup lama. Dean melepaskan tangannya dari kemudi dan memutar tubuhnya sedikit ke arah belakang. Ia menatap Karline yang tampak sangat manis dengan dua pita di rambutnya.
"Karline, aku serius soal syarat tadi. Aku benar-benar kagum sama kamu. Kamu tinggi, cantik, pintar, tapi kamu mau kotor-kotoran buat bantu orang lain tanpa pamrih. Aku merasa beruntung bisa melihat sisi kamu yang ini," ucap Dean dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku ingin kamu tahu, kalau aku nggak cuma main-main soal perasaan ini."
Karline menunduk, tidak berani menatap mata Dean. "Kenapa tiba-tiba kamu jadi lembut begini? Mana Dean yang sombong dan galak itu?"
"Dia sudah hilang, Karline. Kamu yang sudah mengubahnya," jawab Dean lembut. Tangan Dean bergerak pelan, mengusap punggung tangan Karline yang masih memegang jaketnya. "Aku berjanji, aku akan jadi pria yang lebih baik buat kamu. Aku nggak akan biarkan orang lain merendahkanmu, termasuk Clarissa atau siapa pun."
Lampu berubah hijau. Dean kembali memacu motornya. Kali ini, Karline tidak lagi memegang ujung jaket Dean. Secara perlahan, ia melingkarkan tangannya di pinggang Dean, menyandarkan kepalanya sebentar di punggung tegap pria itu.
Dean tersenyum sangat lebar di balik helmnya. Perasaan bahagia itu jauh lebih hebat daripada saat ia mencetak poin kemenangan di pertandingan voli. Ia merasa Karline mulai membuka hatinya, memberikan celah bagi Dean untuk masuk dan menetap di sana.
Sesampainya di depan gerbang kediaman Dharmawijaya, Dean menghentikan motornya. Karline turun dan melepaskan helmnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Terima kasih untuk hari ini, Dean. Kamu sudah mau menemaniku," ucap Karline tulus.
"Sama-sama, Tuan Putri. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk melihat dunia yang berbeda," balas Dean. Ia menatap pergelangan tangan Karline, memastikan gelang putih itu masih ada di sana. "Gelangnya jangan dilepas ya. Itu tanda kalau aku selalu ada di dekatmu."
Karline tersenyum tipis kali ini senyum yang benar-benar tulus, bukan senyum intimidasi. "Iya, nggak akan dilepas. Kamu hati-hati di jalan ya."
"Siap! Aku pulang dulu ya, Karline. Sampai ketemu besok di sekolah," pamit Dean sambil melambaikan tangan.
Karline berdiri di depan gerbang, menatap punggung Dean yang menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Ia memegang gelang diamond nya dan mengusap perutnya pelan, teringat usapan tangan Dean tadi. Ada rasa hangat yang tak bisa ia jelaskan. Apakah ini awal dari sebuah hubungan yang baru?