NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17: Perang di Balik Layar Kaca

Pagi itu, mentari Jakarta muncul dengan warna jingga yang menyakitkan, seolah ikut terbakar oleh bara fitnah yang memenuhi jagat maya. Di dalam apartemen Dharmawangsa yang kedap suara, kesunyian terasa begitu menekan. Shafira masih bersimpuh di atas sajadahnya setelah zikir panjang yang menyayat hati. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu dengan rasa takut akan masa depan ibu dan adiknya.

Ponsel di atas meja makan bergetar hebat. Dave, yang tidak memejamkan mata sedetik pun sejak artikel itu rilis, segera menyambarnya. Nama "Farhan" berkedip di layar.

"Jangan diangkat dulu, Pak," bisik Shafira yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Matanya merah, namun suaranya stabil. "Biar saya yang bicara. Dia pasti ketakutan."

Dave menyerahkan ponsel itu dengan tangan gemetar. Saat tombol hijau digeser, suara isak tangis anak laki-laki berusia 17 tahun pecah dari seberang sana.

"Kak... apa yang mereka katakan di internet itu bohong, kan? Teman-teman sekolahku mengirimkan link berita itu. Mereka bilang kita sengaja membuat Ayah celaka untuk memeras uang Mahesa Group. Ibu... Ibu pingsan setelah membaca komentar orang-orang tentang jilbab Kakak," suara Farhan tersendat oleh amarah dan kesedihan.

Shafira memejamkan mata rapat-rapat. Luka di hatinya baru saja disobek paksa. "Farhan, dengarkan Kakak. Kau tahu Ayah seperti apa, kau tahu Kakak seperti apa. Jangan baca komentar itu. Jaga Ibu. Pak Dave sudah mengirimkan orang untuk menjaga kalian. Jangan keluar rumah sampai Kakak jemput."

Setelah menutup telepon, Shafira terduduk lemas di kursi. Martabatnya sebagai seorang muslimah diinjak-injak dengan narasi yang begitu keji. Hijab yang selama ini ia jaga sebagai bentuk ketaatan, kini digambarkan sebagai kedok untuk menutupi kerakusan.

Langkah Strategis: Serangan Balik Sang CEO

Dave Mahesa berdiri tegak. Transformasi di dalam jiwanya kini memuncak menjadi sebuah tekad baja. Ia menyadari bahwa bermain "bersih" di depan orang yang bermain "kotor" seperti ibunya hanya akan membuat Shafira hancur.

Dave membuka laptopnya dan mengetikkan serangkaian perintah kepada Rio. Di kepalanya, ia menyusun sebuah kalkulasi yang melibatkan variabel keadilan (K) dan bukti (B) untuk melawan fitnah (F):

K \= \frac{B^2}{F} \times \text{Keberanian}

"Shafira, tatap aku," ujar Dave, suaranya kini setajam belati. "Mereka ingin menghancurkan karaktermu karena mereka tahu mereka tidak bisa menghancurkan datamu. Tapi mereka lupa satu hal: Aku adalah pemilik infrastruktur di perusahaan ini."

Dave menyusun rencana dalam tiga pilar utama:

* Operasi "Suara Langit": Menggunakan koneksi Dave dengan beberapa pemilik media independen yang memiliki integritas untuk merilis rekaman CCTV asli dari dasbor mobil Clara yang berhasil dipulihkan Rio.

* Konfrontasi Terbuka: Dave memutuskan untuk mengadakan Live Streaming melalui akun resmi Mahesa Group, melangkahi departemen Humas yang dikuasai Bu Sarah.

* Kesaksian Medis: Menampilkan pernyataan dokter ahli tentang pola luka Pak Rahman yang secara saintifik membuktikan bahwa itu adalah tabrakan kecepatan tinggi, bukan rekayasa "menjatuhkan diri".

"Tapi Pak Dave," sela Shafira, "jika Bapak melakukan ini, Bapak akan secara terbuka menyatakan perang terhadap Ibu Sarah. Mahesa Group akan mengalami guncangan saham yang hebat."

"Biarkan saham itu jatuh sampai ke dasar bumi, Shafira!" sahut Dave keras. "Apa gunanya angka di atas kertas jika aku membiarkan wanita yang menyelamatkan jiwaku dihancurkan oleh keluargaku sendiri? Aku lebih baik menjadi miskin bersamamu daripada tetap kaya di atas singgasana yang dibangun dari darah ayahmu."

Pukul sepuluh pagi, apartemen Dave kedatangan tamu tak terduga. Pintu terbuka setelah sistem biometrik mengenali wajah sang tamu. Pak Devan, ayah Dave, duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang ajudan kepercayaan. Wajahnya pucat, namun matanya masih memancarkan wibawa pendiri Mahesa Group.

"Ayah?" Dave terkejut. "Bagaimana Ayah tahu tempat ini?"

"Aku yang membangun gedung ini sebelum kamu lahir, Dave," ujar Pak Devan dengan suara serak. Ia beralih menatap Shafira yang segera menunduk hormat. "Shafira... kemarilah, Nak."

Shafira mendekat dengan ragu. Pak Devan meraih tangannya yang dingin. "Maafkan istriku. Sarah telah kehilangan kompas nuraninya karena ambisi. Aku sudah melihat berita itu. Itu adalah penghinaan terbesar bagi keluarga Mahesa, bukan karena kamu, tapi karena istriku menggunakan fitnah sebagai senjata."

Pak Devan menatap putranya. "Dave, apa yang akan kamu lakukan?"

"Aku akan membongkar semuanya, Yah. Termasuk bukti tabrak lari Clara," jawab Dave mantap.

"Jika kamu melakukan itu, ibumu bisa terseret pasal penyembunyian kejahatan," ujar Pak Devan tenang, namun dalam. "Tapi... kebenaran memang harus pahit agar bisa menyembuhkan. Gunakan surat kuasa dariku. Aku masih memiliki 51% hak suara di dewan komisaris. Gunakan itu untuk menonaktifkan posisi ibumu sementara, sebelum dia melakukan kerusakan lebih jauh."

Satu jam kemudian, Dave memulai Live Streaming dari ruang kerja apartemennya. Latar belakangnya sederhana, hanya rak buku dan pencahayaan alami. Namun, penontonnya meledak hingga ratusan ribu dalam hitungan menit.

"Nama saya Dave Mahesa," ia memulai tanpa naskah. "Saya di sini bukan sebagai CEO, tapi sebagai saksi atas sebuah kejahatan yang berusaha ditutupi dengan fitnah. Artikel yang Anda baca pagi ini tentang Shafira Azzahra adalah kebohongan yang direncanakan."

Dave kemudian memutar video berdurasi 15 detik. Video itu menunjukkan dengan sangat jelas mobil Clara yang melaju kencang, menabrak Pak Rahman yang sedang menyeberang dengan benar, dan kemudian melarikan diri tanpa mengerem sedikit pun.

"Shafira adalah putri dari pria yang sedang berjuang demi nyawanya di ICU saat ini," suara Dave bergetar oleh emosi. "Dia tidak pernah meminta satu rupiah pun dariku. Justru dia yang mengajarkanku bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu iman dan harga diri."

Shafira berdiri di samping kamera, air mata mengalir deras di pipinya. Ia melihat bagaimana Dave mempertaruhkan segalanya—nama baik, keluarga, dan kariernya—hanya untuk membelanya.

Di akhir siaran, Dave menatap lurus ke kamera, seolah menatap langsung ke mata ibunya dan Clara di rumah besar mereka. "Bagi siapa pun yang menyebarkan fitnah ini, tim hukum saya sudah mencatat setiap akun Anda. Dan bagi ibuku... aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu menjadi tiran."

Siaran berakhir. Keheningan kembali melanda. Dave terduduk, napasnya memburu. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan lembut menyentuh bahunya. Bukan sentuhan fisik secara langsung karena terhalang kain blazer, namun Shafira berdiri sangat dekat, memberikan dukungan moral yang luar biasa.

"Terima kasih, Pak Dave," bisik Shafira. "Bapak baru saja memenangkan pertempuran yang paling sulit, yaitu melawan ego Bapak sendiri."

Dave mendongak, menatap mata teduh Shafira. Di saat itulah ia menyadari, bahwa mahkota yang dikenakan Shafira bukan hanya jilbabnya, melainkan keteguhan hatinya yang kini mulai menular ke dalam jiwanya yang dulu gersang.

Namun, di kediaman Mahesa, Bu Sarah baru saja menerima telepon dari pengacaranya. Wajahnya dingin, tanpa penyesalan. "Aktifkan rencana cadangan. Jika Dave ingin bermain dengan bukti, kita akan bermain dengan 'masa lalu' Shafira yang lain. Cari tahu siapa laki-laki di foto lama itu. Kita akan buat dia tampak seperti wanita yang tidak sesuci jilbabnya."

1
Siti Naimah
anak sama emaknya sama2 songong 🤭
Siti Naimah
gila si Dave..masak memanggil orang tua cuman sebut nama .moga aja segera bertobat tidak songong lagi
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!