Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Tahun itu, udara bulan Agustus di kampus terasa lebih menyengat dari biasanya. Azzalia Caesarea, dengan kemeja putih kebesaran dan rok hitam panjang yang sedikit berdebu, menatap gedung Fakultas Sastra dengan perasaan campur aduk. Di lehernya melingkar papan nama dari kardus bertuliskan nama lengkapnya dengan huruf kapital yang kaku.
"Maba Sastra! Baris yang rapi!" teriakan kakak tingkat terdengar bersahutan.
Lia menghela napas. Baginya, OSPEK hanyalah formalitas berisik yang harus ia lalui demi mendapatkan kursi di kelas puisi. Ia memilih memisahkan diri, berdiri di barisan paling belakang, mencoba menenggelamkan diri dalam buku saku kumpulan sajak yang ia sembunyikan di balik telapak tangan.
Namun, ketenangannya terusik saat sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya matahari yang jatuh ke bukunya.
Lia mendongak. Di depannya berdiri seorang laki-laki dengan jaket himpunan berwarna biru tua. Wajahnya tegas, dengan rahang yang kuat dan tatapan mata yang... tidak bisa Lia deskripsikan. Harry Vaughan versi lokal, batin Lia sekilas. Laki-laki itu tidak memakai pita oranye khas panitia Sastra. Di dadanya tersemat pin logo roda gigi—Fakultas Teknik.
"Baca apa?" suara itu rendah, namun entah kenapa terdengar sangat jelas di telinga Lia.
Lia menutup bukunya cepat-cepat. "Bukan apa-apa, Kak."
"Sastra, ya? Pantesan," laki-laki itu tersenyum tipis. Bukan senyum meremehkan, melainkan senyum yang seolah sedang menemukan sesuatu yang menarik. "Aku Regas. Dari Teknik. Kamu nggak capek berdiri di sana terus?"
Lia hanya mengerutkan kening. "Ini kan memang tempat barisannya, Kak."
Regas tertawa kecil, suara tawa yang kemudian akan Lia rindukan bertahun-tahun kemudian. "Maksudku, kalau capek, di sebelah sana ada bayangan pohon yang lebih adem. Aku nggak akan laporin ke panitia OSPEK-mu kalau kamu mau sedikit 'bolos' di sana."
"Terima kasih, Kak. Tapi saya lebih suka di sini," jawab Lia datar, mencoba kembali pada bukunya.
Regas tidak pergi. Ia justru berdiri di samping Lia, ikut menatap ke arah kerumunan mahasiswa baru yang sedang kelelahan. Lia merasa aneh. Mengapa seorang mahasiswa favorit dari Teknik—yang sejak tadi diteriaki namanya oleh maba perempuan lain—justru betah berdiri di barisan paling belakang Fakultas Sastra hanya untuk mengganggu maba pendiam seperti dirinya?
"Namamu siapa?" tanya Regas lagi, matanya tak sengaja membaca papan kardus di dada Lia. "Azzalia... Caesarea. Nama yang cantik. Seperti yang punya"
Lia merasakan desiran aneh di dadanya, namun ia menepisnya dengan cepat. "Terima kasih, Kak Regas. Tapi saya harus kembali fokus."
"Oke, Azzalia. Sampai ketemu lagi," kata Regas sambil melangkah pergi. Namun sebelum benar-benar jauh, ia menoleh kembali. "Oh, omong-omong... kantin Sastra katanya punya es teh paling enak. Besok aku mau coba. Siapa tahu kita ketemu lagi di sana."
Lia memperhatikan punggung tegap itu menjauh. Ia berpikir Regas hanya basa-basi seperti laki-laki populer pada umumnya. Ia tidak tahu bahwa sejak detik itu, Regas Adhitama baru saja memulai bab pertama dalam hidupnya, dan Lia adalah tokoh utama yang tidak sengaja ia temukan di antara debu lapangan universitas.
Keesokan harinya, Lia menganggap ucapan Regas hanyalah angin lalu. Mana mungkin seorang "pangeran" dari gedung seberang benar-benar sudi menyeberangi lapangan luas yang terik hanya demi segelas es teh di kantin Fakultas Sastra yang atapnya sering bocor saat hujan?
Namun, dugaan Lia meleset total.
Tepat saat jam istirahat siang, suasana kantin Sastra yang biasanya hanya berisi mahasiswa berkaus oblong dan berambut gondrong mendadak riuh. Beberapa mahasiswi tingkat atas mulai berbisik-bisik sambil mencuri pandang ke arah pintu masuk.
Lia, yang sedang duduk di pojok paling belakang dengan semangkuk mi ayam dan buku Kumpulan Puisi milik Sapardi Djoko Damono, tetap bergeming. Baginya, dunia di dalam buku jauh lebih menarik daripada gosip kantin.
"Boleh duduk di sini? Kursi lain penuh."
Suara berat yang familiar itu kembali menyapa. Lia mendongak dan mendapati Regas berdiri di sana, masih dengan jaket himpunan birunya yang disampirkan di bahu. Di tangannya, ia benar-benar memegang segelas es teh plastik.
"Kak Regas?" Lia mengerutkan kening, menatap kursi-kursi di sekitarnya yang sebenarnya masih ada yang kosong—jika Regas mau sedikit berdesakan. "Kakak benar-benar datang?"
Regas menarik kursi di hadapan Lia tanpa menunggu izin. Ia menyesap es tehnya perlahan, matanya menatap Lia dengan binar jenaka. "Aku nggak pernah main-main sama ucapanku, Azzalia. Dan benar katamu, es teh di sini rasanya beda. Mungkin karena suasananya lebih tenang daripada di Teknik yang isinya cuma suara mesin dan teriakan cowok-cowok."
Lia kembali menunduk, mencoba fokus pada mi ayamnya yang mulai dingin. "Kakak jadi pusat perhatian di sini. Sebaiknya Kakak pindah ke meja kakak tingkat yang lain."
"Kenapa? Kamu merasa terganggu?" tanya Regas santai. Ia melirik buku yang tergeletak di atas meja. " 'Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...' . Wah, berat juga bacaan maba hari kedua."
"Ini indah, Kak. Bukan berat," koreksi Lia tanpa sadar, menunjukkan sisi idealisnya sebagai mahasiswi sastra.
Regas tersenyum, kali ini lebih lebar, membuat kerutan di sudut matanya terlihat. "Kalau begitu, ajari aku cara melihat keindahannya. Di Teknik, kami diajarkan cara kerja mesin agar efisien. Mungkin aku butuh sedikit 'sastra' supaya hidupku nggak kaku-kaku amat."
Lia tertegun. Kalimat itu terdengar tulus, bukan sekadar rayuan murahan. Selama tiga puluh menit berikutnya, untuk pertama kalinya, Lia mendapati dirinya berbicara lebih banyak dari biasanya. Ia menjelaskan tentang rima, tentang emosi di balik kata, sementara Regas mendengarkan dengan saksama seolah-olah apa yang dikatakan Lia adalah kuliah paling penting dalam hidupnya.
Lia tidak menyadari bahwa sejak hari itu, kehadirannya di perpustakaan, di kantin, bahkan di koridor kampus, tidak akan pernah luput dari pantauan sepasang mata tegas milik Regas Adhitama.
Dan ia juga tidak tahu, bahwa perhatian kecil ini adalah awal dari sebuah kehangatan yang kelak akan menjadi luka paling dalam yang pernah ia rasakan.