Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Jejak Yang Tidak Singkron
Sementara itu, atmosfer di dalam mobil sport putih itu terasa begitu asing bagi Abel. Wangi parfum mewah Arslan memenuhi kabin, bercampur dengan dentum musik lo-fi yang diputar pelan. Abel meremas tali tasnya, sesekali melirik Arslan dari sudut matanya.
"Kita mau ke mana, Arslan?" tanya Abel pelan.
Arslan melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan sorot mata yang sulit dibaca. "Ke tempat di mana nggak ada anak sekolah yang bakal liat kita. Gue nggak mau ambil risiko taruh... eh, maksud gue, risiko lo diganggu Clarissa."
Arslan hampir saja keceplosan. Ia berdeham, lalu menepuk pelan puncak kepala Abel—gerakan manipulatif yang selalu berhasil membuat pertahanan Abel runtuh. "Kenapa? Lo takut?"
"Enggak, cuma... Kak Reno. Dia minta aku kirim live loc. Dia bakal tahu kalau aku nggak di toko buku," ucap Abel jujur, suaranya mencicit.
Arslan tertawa remeh. "Gampang. Pinjem HP lo."
Tanpa curiga, Abel menyerahkannya. Arslan dengan lincah mengutak-atik pengaturan ponsel Abel. Ia mengunduh sebuah aplikasi GPS Emulator yang sering ia gunakan untuk mengelabui orang tuanya saat ia sedang balapan liar. Dalam sekejap, titik lokasi Abel di ponsel Reno terpaku diam di Gramedia pusat, padahal mobil mereka kini sudah sampai di sebuah kafe rooftop tersembunyi.
"Selesai. Sekarang, Kakak lo bakal ngira lo lagi asyik baca buku olimpiade," kata Arslan sambil mengembalikan ponsel itu.
Di kafe tersebut, Arslan memesankan Abel minuman yang paling mahal, sesuatu yang bahkan namanya saja bikin lidah kelu, bahkan bagi Abel pun susah untuk dieja dengan benar. Arslan mulai menjalankan aksinya. Ia menanyakan banyak hal tentang hobi Abel, tentang rasi bintang, dan tentang rumus-rumus yang Abel sukai.
Abel merasa melayang. Ia merasa untuk pertama kalinya ada orang yang benar-benar tertarik pada otaknya, bukan sekadar menjadikannya bahan olokan.
"Lo tahu nggak, Bel? Lo itu kayak bintang Sirius," ucap Arslan sambil menatap Abel dalam-dalam. "Paling terang, tapi seringkali orang-orang terlalu sibuk liat bulan sampai nggak sadar ada lo."
Pipi Abel memanas. "Itu... gombalan ya?"
"Itu fakta," Arslan tersenyum manis, namun tangannya di bawah meja sedang mengetik pesan singkat di grup WhatsApp-nya.
Arslan (07): Gue lagi sama si kutu buku. Ternyata dia gampang banget baper cuma dikasih istilah astronomi dikit. 30 juta makin deket.
Di rumah, Reno menatap ponselnya dengan curiga. Titik lokasi Abel memang berhenti di toko buku, tapi ada sesuatu yang janggal. Titik itu terlalu statis. Tidak ada pergerakan sekecil pun selama dua puluh menit, seolah ponsel itu diletakkan di atas meja dan ditinggalkan.
Reno menelepon Abel. Tidak diangkat. Ia mencoba sekali lagi, tetap tidak ada jawaban.
Reno menyambar kunci motornya. Rahangnya mengeras. Sebagai mahasiswa teknik, ia terbiasa dengan presisi, dan apa yang dilihatnya sekarang sama sekali tidak presisi dengan ucapan adiknya.
"Toko buku katanya? Lo bahkan udah ngelewatin tiga toko buku besar, Bel," geram Reno sambil memakai jaket kulitnya dengan kasar.
"Sialan," Reno menyalakan mesin motornya. Ia tidak bodoh. Ia tahu trik fake GPS.
Reno tidak pergi ke toko buku. Ia justru pergi ke markas teman-temannya yang merupakan anak-anak motor. "Woy! Cek CCTV jalanan atau pantau mobil sport putih plat B 7 LAN. Gue rasa adek gue dibawa lari cowok nggak bener."
Insting seorang kakak tidak pernah salah. Reno mulai menyisir jalanan, sementara di atas kafe rooftop, Abel baru saja menyerahkan sebuah sketsa terbaru yang ia buat khusus untuk Arslan—sebuah gambar yang melambangkan ketulusan, yang sayangnya hanya dianggap Arslan sebagai tiket menuju uang taruhan.
...****************...
Reno sampai di kafe rooftop itu dengan napas menderu dan jaket yang masih menebarkan bau aspal jalanan. Matanya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan, mencari sosok laki-laki yang berani membawa adiknya kabur dari radar.
Namun, kursi di depan Abel sudah kosong. Hanya ada dua cangkir kopi—satu masih penuh, satu lagi menyisakan ampas yang sudah dingin.
"Abel!" suara berat Reno menggelegar, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.
Abel tersentak hingga hampir menjatuhkan ponselnya. Jantungnya serasa merosot ke perut. Arslan baru saja pergi dua menit yang lalu melalui pintu belakang karena ada panggilan mendadak dari ibunya—atau begitulah alasan yang Arslan berikan.
Reno melangkah lebar, lalu menarik kursi di depan Abel dengan kasar dan duduk di sana. Ia melepaskan helmnya, menaruhnya di atas meja dengan dentuman yang sengaja dikeraskan.
"Mana dia?" tanya Reno. Suaranya rendah, namun penuh ancaman. Matanya menyipit, menatap Abel seolah bisa melihat langsung ke dalam kebohongannya.
"M-mana siapa, Kak?" Abel berusaha mengatur napas, meski tangannya di bawah meja meremas rok seragamnya hingga kusut.
"Jangan main-balas-balasan sama gue, Arabella Bellvani! Gue tahu lo nggak di Gramedia. Gue tahu lo pakai aplikasi buat nipu live loc lo. Siapa laki-laki yang tadi duduk di sini?" Reno mencondongkan tubuh, auranya begitu menyeramkan hingga Abel merasa oksigen di sekitarnya menipis.
Abel menelan ludah. Ia tahu kakaknya adalah detektif paling ulung jika menyangkut dirinya. "Nggak ada siapa-siapa, Kak. Aku... aku tadi ketemu temen lama. Temen SMP."
"Temen SMP mana yang bawa mobil sport putih?" Reno memotong cepat, membuat Abel mematung. "Gue dapet info dari temen-temen gue di jalanan. Lo masuk ke mobil itu dari toko buku tadi. Jawab gue, Abel! Siapa dia? Apa dia anak geng motor? Atau cowok kuliahan yang mau macem-macem sama lo?"
Abel memejamkan mata sesaat. Bayangan Arslan yang memintanya merahasiakan hubungan mereka terlintas. Ia tidak boleh jujur. Jika Reno tahu itu Arslan, keributan besar akan terjadi di sekolah, dan Arslan pasti akan membencinya—atau lebih buruk, menyebarkan buku sketsanya.
"Bukan siapa-siapa, Kak! Dia cuma... dia cuma kakak kelas yang kebetulan lewat dan nawarin tumpangan karena aku kelihatan bingung cari angkot!" Abel berteriak kecil, suaranya bergetar karena takut sekaligus merasa bersalah. "Kenapa sih Kakak selalu mikir buruk tentang aku? Aku cuma mau punya temen!"
Reno terdiam sejenak melihat mata adiknya yang mulai berkaca-kaca. Namun, ia tidak semudah itu luluh. "Kakak kelas? Kakak kelas 13 maksud lo? Lo itu kelas 12, Bel! Gak ada Kakak kelas. Jadi jawab siapa nama orang itu?"
"Nggak tahu! Aku nggak nanya!" Abel berdiri, menyambar tasnya. "Kakak berlebihan. Kalau Kakak mau jemput, jemput aja. Nggak usah interogasi aku kayak kriminal!"
Abel berjalan cepat menuju tangga keluar, meninggalkan Reno yang masih terpaku. Reno melihat ke arah cangkir kedua di meja itu. Ia merogoh sesuatu dari bawah meja—sebuah pemantik api dengan inisial "A" yang tertinggal.
"Kakak kelas katanya? Hah, orang yang nawarin tumpangan nggak bakal duduk minum kopi bareng lo selama satu jam, Bel," gumam Reno dengan rahang mengeras. Ia menyimpan pemantik itu di saku jaketnya.
Di dalam taksi yang ia pesan dengan terburu-buru, Abel menangis dalam diam. Ia merasa terjepit di antara dua dunia: dunia Reno yang protektif namun jujur, dan dunia Arslan yang indah namun penuh rahasia. Ia tidak tahu bahwa pemantik yang tertinggal itu akan menjadi benang merah yang akan membawa Reno langsung ke depan hidung Arslan.