"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Mike tidak mengerti mengapa Sanzio mau mempertahankan Seana menjadi asistennya selama ini. Apakah mungkin karena Seana lebih takut padanya dan tidak bertindak seperti wanita yang tergila-gila padanya? Sama seperti asisten-asistennya yang sebelumnya? Mike berpikir itu sangat mungkin.
Seana menoleh ke belakang dengan perasaan gugup. "Maaf, tapi sepertinya saya tadi ngga sengaja jatuhin sesuatu di depan. Jadi, sebaiknya saya pakai lift karyawan!." Setelah mengatakan sebuah kebohongan kecil itu, Seana mencoba melarikan diri.
"Kamu boleh naik bersama kami," kata Sanzio dengan nada dingin.
Seana terlihat ragu sejenak, tetapi dia tidak berani membantah. Dia akhirnya kembali berjalan masuk ke lift dengan langkahnya yang kaku, memilih berdiri disebelah kiri Sanzio saat pintu lift di tutup dan naik. Punggungnya menempel didinding lift, dan berusaha agar dirinya tampak sesenyap mungkin.
Sanzio meliriknya dengan raut wajah datarnya. "Pergi, ambilkan laporan dari departemen keuangan."
"B-baik Pak Zio." Seana menegakkan punggungnya.
Ketika lift mencapai lantai khusus departemen keuangan, dan pintu baru terbuka, Seana langsung berlari keluar dari lift. Cara wanita itu berlari seakan sama seperti seorang narapidana yang sedang melarikan diri.
Sanzio dan Mike terdiam, kebingungan melihat hal itu. Dan kilatan dingin terlihat dimata Sanzio. Ketegangan terasa memenuhi ruangan. Mike tidak mengerti mengapa suasana hati Sanzio bisa begitu cepat berubah, apalagi hanya melihat Seana yang seakan melarikan diri darinya.
Mike juga tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya tentang mengapa Seana perlu berlari dan mengapa tidak berjalan biasa saja? Apalagi jika dilihat, larinya juga kencang.
"Apa mungkin dulu dia seorang atlet lari?," pikir Mike didalam benaknya.
Sementara itu, Seana kini berdiri di koridor diluar ruangan departemen keuangan. Wanita mengusap dadanya naik turun dengan napas yang terengah-engah, jantungnya juga berdebar kencang. Ternyata aturan memang harus dipatuhi. Seana telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah lagi mencoba menggunakan lift khusus presiden tanpa izin.
Setelah tenang dan terlihat biasa saja. Seana masuk dan meminta laporan pada karyawan yang bertugas.
"Ini laporannya," kata karyawan wanita itu.
"Hm... Makasih," Saut Seana saat menerimanya.
"Lo tadi naik tangga darurat? Masih pagi gini udah keringatan dan baju lo juga basah," komentar karyawan itu.
"Naik lift kok. Tapi karena ada banyak orang, jadi desak-desakan,"
..
Laporan sudah diterima sesuai dengan yang Sanzio inginkan, Seana menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya masuk untuk menyerahkan laporan tersebut. Tepat ketika Seana hendak mengetuk pintu, dari belakang Mike tiba-tiba memanggilnya.
"Seana, ada waktu? Aku ada beberapa pertanyaan yang mau aku tanyain langsung ke kamu. Hm... Tapi lebih baik kita ngobrolnya diruangan ku. Ayo!" kata Mike.
"Tapi mas Mike. Pak Zio tadi minta laporan ini--"
"Kamu lupa? Pak Zio ada rapat pagi ini diruangannya." Mike langsung menyela perkataan Seana.
Seana melirik pintu ruang kerja Sanzio, sebelum akhirnya mengangguk setuju dan mengikuti Mike ke ruangannya. Ketika mereka akhirnya sampai di ruangan Mike, pria itu berbalik sebelum akhirnya duduk dikursinya.
"Tolong tutup pintunya," kata Mike.
Seana hanya mengangguk sebagai jawaban dan kemudian menutup pintu.
Setelah menutup pintu, Seana berjalan mendekat ke kursi didepan meja kerja Mike. Mike mengangguk, memberi isyarat agar Seana duduk, dan Seana pun melakukannya.
"Sebenarnya ada apa ya, Mas? Apa ada masalah serius?," tanya Seana.
Tetapi, alih-alih menjawab pertanyaan Seana, Mike justru menyalakan rokoknya. Sikapnya kini tampak dingin, dan dia memancarkan aura mengintimidasi.
Ketika Seana baru akan mulai bekerja di perusahaan itu, ia ingat pernah berpikir bahwa Mike tidak terlihat seperti seseorang yang pantas menjadi karyawan di perusahan Kaivandra Internasional Group, karena pria itu tampak seperti berasal dari keluarga kaya, dan bukan terlihat seperti karyawan biasa.
Pada saat ini, Seana semakin dibuat yakin bahwa dugaannya dulu memang benar.
Mike menghisap rokoknya, lalu menatap Seana. "Seana, apa Pak Zio meminta kamu buat cek rekaman cctv diruang pengawasan hotel mutiara beberapa minggu yang lalu?,"
Degh!
Jantung Seana berdebar kencang. Ia masih terdiam, dan terkejut oleh pertanyaan rahasia yang tiba-tiba itu, tangannya yang sedang memegang sebuah map mulai gemetaran. Berkas-berkas yang ada di dalam map itu jatuh berserakan dilantai. Ia kemudian buru-buru membungkuk untuk mengambil kertas-kertas itu.
Sejujurnya, meski cara kerja Seana sangat baik, tetapi dia tidak pandai menyembunyikan apa pun.
Mike mengernyitkan dahinya, memperhatikan hal itu. Ia bisa melihat Seana sedang menyembunyikan kepanikannya.
Setelah mengumpulkan semua berkas itu, Seana menatap Mike dan menganggukkan kepalanya. "I-iya itu benar. Pak Zio minta aku untuk cari seseorang, jadi aku pergi ke ruang pengawasan dan cek cctv-nya."
"Apa benar ngga ada seseorang yang masuk ke kamar Pak Zio malam itu?"
"Iya benar, ngga ada orang yang masuk. Aku yakin itu, karena aku yang cek cctv-nya," Seana mengangguk tegas, berharap Mike akan percaya dengan jawabannya.
Namun Seana tidak menyadari, betapa pucatnya wajahnya saat ini. Keringat dingin kembali membasahi punggungnya dan sepertinya dia kehilangan banyak darah.
Tatapan mata tajam Mike seolah mampu menembus segalanya, tidak kalah dengan Sanzio.
Seana, dapat merasakan tatapan Mike, dan itu membuatnya semakin cemas. Namun, Seana tak bisa berhenti memikirkan kesulitan yang dialaminya bersama Velia jika masalah ini sampai terbongkar. Ia tidak punya pilihan lain, selain terus bertahan didalam kebohongannya.
"Mas, aku udah periksa semua rekamannya. Dan aku yakin banget kalo ngga ada orang lain yang masuk ke kamar Pak Zio!" katanya lagi dengan nada tegas.
"Emang iya?," tanya Mike dengan serius. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap rokok yang menyala di tangannya. "Rasanya aneh banget, karena memang dari hasil investigasiku ada seorang perempuan yang masuk ke kamar Pak Zio malam itu," kata Mike, lalu membuang puntung rokoknya, bersamaan dengan itu ia sempat melirik Seana dan memperhatikan reaksinya.
Napas Seana tercekat di tenggorokannya. Tanpa ia sadari, wajahnya semakin memucat. Saat itu, ia berharap agar ada sebuah lubang yang terbuka di bawahnya kakinya dan lubang itu langsung menelannya hidup-hidup. Seana tak bisa berbuat apa-apa, selain mendengar Mike kembali membicarakan hasil dari penyelidikannya.
"Jadi Seana, apa yang kamu lakuin setelah melihat rekaman cctv disana?"
"Hm? Ngga ada. Pagi itu, setelah aku memastikan kalau ngga ada yang mencurigakan di kamar Pak Zio, aku langsung pergi dari ruang pengawasan, dan melapor ke Pak Zio di ruang rapat"
Tatapan Mike kembali menajam saat ia menatap Seana, lama sekali. Sementara Seana semakin cemas dibawah pengawasan Mike. Seana telah kembali berbohong karena bukan itu yang sebenarnya terjadi. Setelah Seana dan Velia memeriksa rekaman cctv, mereka meminta bukti rekaman itu dan langsung menghancurkannya. Ketika Velia menghancurkan rekaman itu, Seana pergi menemui Sanzio.
Velia bahkan menyuap kedua petugas keamanan yang berjaga disana dengan uang sebesar tiga puluh juta, agar mereka mau membungkam tentang masalah tersebut.