Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Leon berdiri, menyapu debu di pakaiannya, lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. "Waktunya kembali," gumamnya pelan.
Ia menatap bangkai raksasa di depannya. Seingatnya, jika sistem memiliki fitur Inventory, seharusnya benda mati sebesar ini pun bisa dimasukkan. Leon mengarahkan telapak tangannya ke arah bangkai Mamut itu.
Seharusnya bisakan batin leon
Syuuuut!
Dalam sekejap, tubuh gunung itu menghilang, menyisakan tanah kosong yang berlubang. "Wow, ini keren sekali," ucap Leon dengan senyum puas.
Tak lama kemudian, Leon kembali menginjakkan kaki di aula Guild Petualang. Suasana masih ramai seperti tadi, dan kehadirannya langsung disambut tatapan sinis.
"Wah, lihat. Si sampah itu kembali dengan tangan kosong," cibir salah satu petualang sambil tertawa.
"Cih, memungut tanaman herbal saja ternyata dia tidak becus."
Leon mengabaikan mereka. Ia berjalan tenang menuju meja penukaran hasil buruan. Seorang petugas pria menyambutnya dengan wajah formal yang dipaksakan.
"Tuan, ada yang ingin Anda tukar? Bisa saya lihat plat dan kertas misinya?" tanya pria itu.
Leon menyodorkan platnya. Begitu melihat huruf 'F' yang terukir di sana, ekspresi ramah petugas itu langsung berubah kecut dan malas.
"Ah, aku ingin bertanya. Apakah bisa menukar hasil buruan yang di luar misi?" tanya Leon tenang, karena ia memang mengabaikan misi tanaman herbalnya.
"Bisa saja. Memangnya kau mau menukar apa?" jawab pria itu dengan nada meremehkan.
Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengarahkan tangannya ke area kosong di depan meja penukaran yang cukup luas.
Sring!
Tiba-tiba, udara bergetar dan sesosok mamut raksasa muncul begitu saja, menghantam lantai dengan bunyi debum keras. Petugas itu tersentak hebat hingga kursinya terjungkal. Ia melongo, menggosok matanya berkali-kali.
"Ma-mamut?" suaranya bergetar.
Seluruh aula mendadak hening. Para petualang yang tadinya tertawa kini membeku. Seseorang yang sedang minum bahkan membiarkan kopinya tumpah begitu saja dari mulutnya yang melongo lebar.
"Ka-kau... kau mengalahkannya sendirian?" tanya petugas itu dengan wajah pucat.
Leon hanya mengangguk santai. "Aku hanya beruntung. Mamut ini sedang lengah tadi."
"Tidak, tidak mungkin!" petugas itu menggeleng cepat. "Mamut ini setidaknya berada di Level D, dan kau... kau hanyalah Rank F!"
"Jadi, apakah bisa ditukar?" sela Leon, memutus rasa tidak percaya pria itu.
"A-ah, tentu saja bisa!"
Dengan tangan gemetar, petugas itu segera memproses buruan tersebut. Tak lama, ia menyerahkan tiga koin emas berkilau kepada Leon. Di dunia ini, tiga koin emas adalah jumlah yang sangat besar, cukup untuk hidup mewah selama berbulan-bulan bagi rakyat biasa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Leon menerima koin-koin itu dan melangkah keluar, meninggalkan kerumunan yang masih syok di belakangnya.
Tepat setelah Leon menghilang di balik pintu, wanita resepsionis yang tadi meremehkannya keluar dari ruang staf. Matanya hampir keluar saat melihat bangkai mamut raksasa di tengah aula.
"Wah, besar sekali! Siapa petualang hebat yang menangkapnya?" tanya wanita itu takjub.
"Seorang petualang Rank F," jawab petugas tadi dengan suara kosong.
Wanita itu tertawa keras, memukul-mukul bahu rekannya. "Jangan bercanda! Mana mungkin Rank F bisa—"
Ia terhenti saat melihat ekspresi petugas itu yang sangat serius. "Kau... kau bercanda, kan?"
"Aku serius. Aku juga tidak percaya dia yang melakukannya."
Wanita itu terpaku, wajahnya memucat. "Apakah kau tahu siapa dia?"
"Tidak, dia terlihat asing. Tapi penampilannya tampan seperti bangsawan, dan dia memiliki rambut putih."
"Rambut putih? Jangan bilang..." Wanita itu menutup mulutnya, rasa tak percaya sekaligus bingung menghantui kepalanya