"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Perjamuan Berdarah
Bab 6: Perjamuan Berdarah
Malam ini, Hotel Mulia Jakarta bertransformasi menjadi panggung sandiwara bagi elit bisnis ibu kota. Tuan Wijaya menyelenggarakan jamuan makan malam mewah di ballroom utama, menandai peluncuran Proyek Phoenix yang ambisius. Ribuan lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian dan gaun desainer yang dikenakan para tamu undangan.
Di balik kemegahan ini, Kenzi berdiri tegak di sudut ruangan yang strategis. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam yang dipotong presisi, membuatnya tampak seperti salah satu eksekutif muda di bawah naungan Wijaya Group. Namun, di balik kemeja putihnya yang kaku, terselip pisau keramik antipemindai dan sebuah pemancar jamming frekuensi pendek.
Matanya, yang tersembunyi di balik lensa kontak taktis, bekerja tanpa henti.
Pemindaian termal aktif. Total kehadiran: 312 orang. Empat di antaranya menunjukkan suhu tubuh anomali—kemungkinan sedang demam akibat kegugupan yang ekstrem. Titik buta CCTV nomor 12 di dekat pintu keluar darurat perlu diawasi secara fisik.
Alana duduk di meja utama, diapit oleh ayahnya dan Tuan Baron, saingan bisnis utama Tuan Wijaya yang malam ini hadir dengan senyum licin yang tak pernah lepas dari wajahnya. Alana mengenakan gaun sutra berwarna emerald green yang menonjolkan kecantikannya, namun ekspresinya datar, tampak bosan dengan obrolan basa-basi tentang margin keuntungan dan akuisisi saham.
"Tuan Wijaya, proyek Anda ini sungguh... revolusioner," ujar Baron sambil mengangkat gelas champagne-nya. Suaranya halus, namun nada sarkasme terselip tipis. "Saya harap Anda memiliki sistem keamanan yang sama revolusionernya. Sayang sekali jika data Phoenix jatuh ke tangan yang salah, bukan?"
Wijaya tersenyum tipis, matanya melirik ke arah Kenzi. "Keamanan adalah prioritas utama kami, Tuan Baron. Saya berinvestasi pada 'aset' terbaik untuk memastikan Phoenix tetap terbang."
Kenzi mendengarkan percakapan itu melalui mikro-penerima di telinganya. Aset terbaik. Wijaya sedang pamer, pikir Kenzi. Namun, monolog internalnya segera terganggu oleh pergerakan di meja utama.
Seorang pelayan, yang tampak asing dari pemetaan kru layanan hotel yang Kenzi pelajari semalam, mendekati meja Alana. Pelayan itu membawa nampan berisi beberapa gelas champagne segar.
"Maaf, Nona Alana, champagne spesial untuk Anda," ujar pelayan itu dengan sopan. Ia meletakkan gelas tersebut tepat di depan Alana.
Analisis kru pelayanan hotel aktif. Tidak ada data untuk pelayan nomor punggung 315. Perubahan denyut nadi pelayan meningkat drastis: 130 denyut per menit saat mendekati Nona Alana. Tingkat kegugupan: Maksimal.
Kenzi bergerak. Langkahnya cepat namun halus, menyelinap di antara kerumunan tamu tanpa menimbulkan gangguan. Ia tiba di belakang kursi Alana tepat saat gadis itu mengangkat gelas champagne-nya ke bibir.
"Maaf mengganggu, Nona," ujar Kenzi. Suaranya rendah namun memiliki nada otoritas yang membuat pelayan di dekatnya tertegun.
Kenzi menjangkau ke depan, jarinya dengan lihai menyentuh bagian dasar gelas Alana, menahannya agar tidak terangkat lebih tinggi.
"Pelayan ini baru," Kenzi menatap pelayan nomor 315 dengan tatapan dingin yang membuat pria itu gemetar. "Menurut protokol hotel, pelayan baru dilarang menyajikan minuman spesial untuk tamu VIP tanpa pengawasan kapten pelayan. Di mana kapten Anda?"
Suasana di meja utama menjadi kaku. Tuan Wijaya menatap Kenzi dengan alis berkerut, menuntut penjelasan. Tuan Baron berpura-pura terkejut.
Alana menatap Kenzi dengan bingung, lalu menatap gelas di tangannya. "Apa yang kau lakukan, Kenzi? Kau mempermalukanku di depan Tuan Baron!"
Kenzi tidak menjawab. Matanya tetap terkunci pada pelayan yang kini tampak pucat pasi. "Nona, gelas Anda baru saja mengalami kontak dengan sumber kontaminan potensial. Silakan letakkan kembali."
Pelayan itu panik. Ia mencoba berbalik dan berlari menuju pintu keluar layanan. Namun, Kenzi telah mengantisipasi gerakan ini. Dengan satu gerakan halus namun bertenaga, Kenzi menggunakan kaki kanannya untuk menahan kaki pelayan tersebut, menyebabkan pria itu jatuh tersungkur. Nampan dan gelas-gelas champagne di atasnya tumpah berserakan, menciptakan suara pecahan kaca yang mengerikan di tengah jamuan.
"Penjaga! Amankan area!" perintah Tuan Wijaya. Suaranya menggelegar di atas musik latar yang mendadak berhenti.
Beberapa pengawal Wijaya yang lain segera berdatangan dan melumpuhkan pelayan tersebut.
Kenzi kembali ke posisi semula di belakang Alana. Ia mengambil serbet linen bersih dan dengan hati-hati mengambil gelas champagne Alana yang tadi sempat ia tahan. Ia tidak memecahkannya.
"Nona Alana, silakan ikut saya keluar dari ruangan ini sekarang," ujar Kenzi.
Alana, yang kini gemetar ketakutan, berdiri tanpa perlawanan. Tuan Wijaya mengangguk setuju, matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam pada Kenzi.
Di luar ballroom, di area lounge yang lebih sepi, Kenzi meletakkan gelas itu di atas meja marmer. Ia mengeluarkan pemindai kimia portabel seukuran pena dari saku tuksedonya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kenzi?" tanya Alana dengan suara bergetar. "Kenapa kau harus melakukan itu di depan semua orang?"
Kenzi menempelkan ujung pemindai pada sisa cairan champagne di dalam gelas. Layar pada pemindai itu berkedip-kedip, lalu menampilkan barisan kode merah.
"Kandungan sianida hidrogen," ujar Kenzi datar. "Jumlah yang cukup untuk menghentikan fungsi jantung Anda dalam waktu kurang dari satu menit. Sianida jenis ini memiliki sifat tak berwarna dan tak berbau, namun di bawah frekuensi cahaya contacts taktis saya, dia memberikan sedikit fluoresensi yang tidak konsisten dengan cairan champagne standar. Warna fluoresensi ini hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, hanya perubahan warna mikro pada cairan."
Alana ternganga. Wajahnya pucat pasi. Ia nyaris meminum racun yang akan membunuhnya di tengah jamuan perayaan Proyek Phoenix.
"Siapa..." gumam Alana lirih. "Siapa yang ingin membunuhku?"
Kenzi mematikan pemindai kimianya. "Detail dari pelayan yang menyamar tadi menunjukkan bahwa ia kemungkinan besar disewa oleh faksi bisnis luar. Denyut nadinya saat mendekati Anda menunjukkan bahwa dia tahu persis apa isi gelas itu."
Kenzi menatap gelas tersebut. Monolog internalnya kembali berputar. Musuh-musuh Wijaya semakin putus asa. Proyek Phoenix adalah ancaman yang terlalu besar bagi mereka. Mereka tidak ingin menunda sabotase ekonomi, mereka ingin mengeliminasi target biologis.
"Nona Alana," Kenzi menatap gadis itu. "Malam ini, tingkat ancaman Anda naik ke level oranye. Mulai besok, protokol keamanan di kediaman Wijaya harus ditingkatkan. Area taman belakang adalah celah terbesar kita."
Alana menatap Kenzi. Ia tidak lagi melihat Kenzi sebagai pengawal yang mengganggunya. Ia melihat seorang pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari ancaman yang tak terlihat. Untuk pertama kalinya, rasa skeptis Alana pada Kenzi mulai retak.
Tuan Wijaya muncul dari pintu masuk lounge, napasnya memburu. Ia segera memeluk Alana dengan erat. "Alana! Kau tidak apa-apa?"
Wijaya melepaskan pelukan putrinya dan menatap Kenzi. "Kenzi. Kau... kau menyelamatkannya. Sekali lagi. Bagaimana kau bisa tahu pelayan itu berbohong?"
"Insting taktis dan data analisis kru pelayan hotel, Tuan," jawab Kenzi kaku. Ia tidak menyebutkan kemampuannya mendeteksi fluoresensi sianida dengan lensa taktisnya. "Protokol keamanan di jamuan ini gagal mendeteksi infiltrasi di lini pelayanan. Saya harus segera melakukan pemetaan ulang pada seluruh staf internal Anda."
"Lakukan apa pun yang diperlukan, Kenzi. Apa pun," Wijaya mengangguk dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Alana."
Kenzi hanya mengangguk tipis. Baginya, menyelamatkan Alana malam ini hanyalah langkah taktis untuk menjaga aset biologisnya tetap hidup. Jika organisasinya ingin Kenzi yang menghancurkan Wijaya, maka dia tidak bisa membiarkan faksi bisnis amatir merusak rencana tersebut.
"Bram," Tuan Wijaya memanggil Kepala Keamanan lama yang baru saja tiba di area lounge dengan wajah kesal. "Mulai besok, Kenzi akan bertanggung jawab penuh atas protokol keamanan di lini internal kediaman. Aku tidak ingin ada kesalahan lagi."
Bram menatap Wijaya dengan tidak percaya, lalu melirik ke arah Kenzi. Ada kilat kemarahan dan kecemburuan di matanya. "Tapi, Tuan, protokol saya selalu—"
"Gagal mendeteksi infiltrasi malam ini," Wijaya memotong Bram dengan dingin. "Keputusan saya final."
Bram terdiam, namun tatapannya pada Kenzi semakin penuh dendam.
Kenzi mengamati Bram. Ancaman internal nomor satu: Bram. Skeptisisme rekan kerja akan menjadi hambatan. Aku harus melumpuhkan ego Bram minggu depan sebelum dia menjadi variabel pengganggu yang fatal bagi miku.
Malam itu, jamuan mewah yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan Wijaya Group berakhir sebagai peringatan berdarah. Dan di sudut ruangan yang strategic, Kenzi terus berjaga, monolog internalnya kini mulai merancang rencana duel di ruang latihan untuk melumpuhkan Bram, memastikan bahwa di kediaman Wijaya, satu-satunya "eksistensi terlarang" yang tersisa hanyalah dia.