Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 15.
Pagi itu, Arunika baru saja keluar dari ruang operasi setelah menangani operasi darurat selama hampir tiga jam, langkahnya tenang meskipun kelelahan jelas terlihat di wajahnya.
Di koridor rumah sakit, seorang wanita berdiri menunggunya.
Penampilannya elegan. Gaun putih sederhana, rambut panjang tergerai rapi. Senyum yang ia tampilkan tampak lembut dan bersahabat.
“Dokter Arunika?”
Arunika berhenti.
Ia menatap wanita itu beberapa detik sebelum menjawab, “Ya. Anda siapa?”
Wanita itu tersenyum lebih hangat. “Perkenalkan, saya Veronica.”
Nama itu cukup dikenal di rumah sakit. Veronica adalah putri angkat dari pemilik rumah sakit Cakrawala. Selain itu, Veronica juga digadang-gadang akan menjadi Direktur rumah sakit yang akan segera dilantik.
Arunika sudah mendengar namanya, namun ini pertama kalinya mereka bertemu langsung.
“Saya sudah lama ingin bertemu dengan Anda,” ujar Veronica dengan nada lembut.
Arunika menatapnya tenang. “Untuk apa?”
Veronica tertawa kecil, seolah tidak tersinggung oleh sikap dingin itu. “Karena semua orang di rumah sakit ini selalu membicarakan Anda.”
Arunika tidak bereaksi.
Veronica melanjutkan dengan nada penuh kekaguman. “Anda memimpin proyek besar, reputasi medis Anda juga luar biasa. Bahkan Bang Angkasa sendiri sangat mempercayai Anda.”
Ucapan itu terdengar seperti pujian, namun Arunika hanya menatap wanita itu tanpa emosi.
“Terima kasih.” Jawabannya singkat.
Veronica sempat terdiam sejenak. Namun tak lama kemudian, senyum kembali terukir di bibirnya, seolah menutupi jeda yang tadi terjadi.
“Saya harap ke depannya kita bisa bekerja sama dengan baik,” ucapnya ramah. “Kalau bisa… sekalian menjadi teman.”
Arunika menatap wajah Veronica sekilas, ekspresinya tetap tenang tanpa perubahan berarti. “Kita tentu harus bekerja sama di rumah sakit ini. Namun maaf… saya tidak terbiasa berteman dengan siapapun.”
Veronica menatap Arunika lebih lama, tatapan yang terlalu tajam untuk sekadar basa-basi. Namun hanya sepersekian detik, setelah itu senyumnya kembali lembut.
“Saya akan menjadi direktur rumah sakit ini dalam waktu dekat. Jadi saya ingin mengenal orang-orang penting di sini, termasuk Anda.”
Arunika mengangguk kecil. “Kalau begitu, sekarang Anda sudah mengenal saya.”
Veronica tersenyum. “Saya senang bertemu Anda.”
Percakapan itu terlihat normal bagi siapa pun yang lewat di koridor, antara dua wanita profesional yang baru saja berkenalan.
“Saya permisi.“ Arunika melangkah pergi.
Begitu Arunika berjalan pergi, senyum di wajah Veronica perlahan menghilang. Tatapannya berubah dingin. Di dalam hatinya, rasa cemburu yang tajam sedang tumbuh. Sejak kecil, Veronica sudah terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk perhatian Angkasa.
Sejak kecil, keluarga Veronica dan keluarga Angkasa memiliki hubungan bisnis yang sangat dekat. Bahkan, ayah Veronica pernah secara terang-terangan berharap suatu hari nanti putrinya bisa menikah dengan Angkasa.
Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan merenggut nyawa kedua orang tua Veronica. Sejak saat itu, keluarga Angkasa mengangkatnya dan membesarkannya sebagai anak sendiri. Angkasa sendiri adalah pria yang sempurna, berkuasa, dan disegani.
Kini... semuanya mulai berubah sejak Arunika muncul. Setiap kali Veronica datang ke rumah sakit, ia selalu mendengar satu nama yang sama. Dokter Arunika—Dokter jenius pemimpin proyek. Dan ia tidak suka seseorang mengambil perhatian yang seharusnya menjadi miliknya.
“Arunika…” gumamnya pelan, nada suaranya berubah tajam. “Kalau kau hanya dokter biasa, mungkin aku tidak akan peduli.”
Ia menatap ke arah koridor tempat Arunika menghilang. “Tapi kau terlalu menonjol.”
Dan orang yang terlalu menonjol, biasanya juga menjadi target paling mudah untuk dijatuhkan. Veronica kembali tersenyum. Namun kali ini, senyum itu tidak lagi hangat. Itu adalah, senyum seorang wanita yang sudah mulai merencanakan sesuatu.
Di sisi lain, Arunika sudah kembali ke ruang kerjanya. Ia duduk di kursinya dan membuka kembali dokumen proyek. Namun pikirannya sempat kembali pada pertemuan singkat tadi dengan Veronica.
Arunika pernah mendengar reputasi Veronica. Wanita yang selalu terlihat lembut, ramah, dan elegan di depan orang lain. Namun di dunia seperti ini, Arunika sudah belajar satu hal. Orang yang terlalu sempurna di luar... sering kali menyembunyikan sesuatu di dalam.
Ia menutup dokumen itu pelan, sorot matanya tetap tenang. Jika Veronica benar-benar ingin bermain, Arunika tidak keberatan. Karena selama ini, ia juga sedang bermain dalam permainan yang jauh lebih berbahaya.
____
Beberapa hari kemudian…
Veronica mengadakan pesta mewah untuk merayakan kepulangannya ke tanah air. Malam itu, ia secara khusus mengundang Arunika.
“Bang, apa Dokter Arunika mau datang?” tanya Veronica dengan nada manja. “Aku sudah lama mengaguminya karena kejeniusannya, aku berharap dia hadir di pesta nanti malam.”
Angkasa tersenyum tipis.
“Dia jarang bersosialisasi,” jawabnya tenang. “Kau juga tahu, dia tidak ingin identitasnya sebagai Dokter Jenius diketahui publik.”
Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Rumor di rumah sakit tentang identitasnya yang sempat bocor sudah berhasil kita redam. Jadi, kalau dia benar-benar datang ke pesta ini… itu berarti dia sudah siap membuka identitasnya.”
Angkasa menatap Veronica dengan tatapan serius. “Sebagai calon direktur, kau juga harus menjaga identitas Dokter Arunika.”
Veronica mengangkat bahu santai. “Tenang saja, ini demi proyek. Mana mungkin aku membocorkan identitasnya sebagai dokter jenius kalau memang ingin dirahasiakan.”
Lalu Veronica mengepalkan tangan, ia tidak menyukai cara Angkasa menyebut nama Arunika dengan nada yang begitu lembut.
“Bang. Rumor di rumah sakit itu... yang bilang Abang menyukai dia, apa itu benar?”
Angkasa tetap tenang ketika Veronica bertanya, senyum tipisnya terukir seperti biasa. “Dia memang berbeda dari wanita-wanita yang pernah aku temui. Kalau kau bertanya apa aku tertarik padanya… ya, aku tertarik.”
Veronica langsung merengut. “Tetap saja... dia nggak lebih penting dari aku, kan?”
“Tentu berbeda,” jawab Angkasa santai. “Kau adikku. Sedangkan dia… wanita yang mungkin bisa menjadi pasanganku.”
“Tapi aku—“
Siapa juga yang mau selamanya hanya dianggap adikmu. Veronica hampir saja membalas, tetapi menahannya.
Tiba-tiba mata Angkasa melebar, ia tak menyangka Arunika benar-benar datang ke pesta. Penampilan wanita itu jauh berbeda dari biasanya yang formal dan kaku. Malam ini Arunika terlihat elegan dan begitu menawan, sampai-sampai Angkasa menahan nafasnya.
/Chuckle//Chuckle//Chuckle/ ,,
Masih byk misteri ny niih ,,
next kakak
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️