Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Terbuka
Luna tidak pergi ke rumah orang tuanya. Ia tahu Tuan Waren pasti akan mencarinya ke sana. Sebagai gantinya, ia menginap di sebuah apartemen studio kecil yang diam-diam ia beli dengan hasil jerih payahnya sendiri sebagai arsitek lepas beberapa tahun lalu. Di ruangan sederhana itu, ia menggelar seluruh dokumen finansial yang berhasil ia kumpulkan.
“Kau pikir aku selemah itu, Tuan Waren?” gumam Luna sambil menatap bagan aliran dana di layar laptopnya. “Jika aku bisa merancang gedung pencakar langit yang kokoh, aku juga tahu di mana letak pilar rapuh perusahaanmu.”
Luna sadar Isaac terjepit di antara cinta dan loyalitas keluarga. Namun bagi Luna, diamnya Isaac adalah bentuk pengkhianatan paling nyata. Ia tidak butuh dilindungi dengan kebohongan. Ia membutuhkan pria yang berani berdiri di sampingnya untuk membela kebenaran, bukan bersembunyi di balik alasan perlindungan.
Keesokan paginya, Isaac terbangun dengan perasaan kosong yang mencekam. Apartemen mereka terasa seperti kuburan. Ia mencoba menghubungi Luna puluhan kali, tetapi nomornya tidak aktif. Panggilan ke kantor pun tak membuahkan hasil; sekretaris Luna mengatakan bahwa ia mengambil cuti tanpa batas waktu.
Saat Isaac tiba di kantor, ia mendapati ayahnya tengah mengadakan rapat darurat bersama jajaran direksi.
“Di mana istrimu, Isaac?” tanya Tuan Waren dengan suara menggelegar ketika Isaac memasuki ruang rapat. “Ada rumor dia terlihat membawa koper semalam. Kau tahu betapa sensitifnya saham kita saat ini?”
“Luna pergi karena dia tahu apa yang kau lakukan, Ayah,” jawab Isaac dingin di hadapan para direksi. Ia tak lagi peduli menjaga citra sang ayah. “Dan jujur saja, aku tidak menyalahkannya.”
Tuan Waren berdiri, wajahnya merah padam. “Cari dia! Jika dia membocorkan satu kata saja ke pers tentang dana di London itu, aku tidak akan segan-segan menghancurkan nama baik keluarganya!”
“Coba saja kalau kau berani,” sebuah suara tenang namun tegas terdengar dari arah pintu.
Semua orang menoleh. Luna berdiri di sana mengenakan setelan jas formal biru tua yang memancarkan otoritas. Ia tidak tampak seperti wanita yang melarikan diri; ia tampak seperti seorang eksekutor.
“Luna?” Isaac melangkah maju, ingin mendekat, tetapi tertahan oleh tatapan tajamnya.
Luna berjalan ke tengah ruangan dan meletakkan sebuah map hitam di atas meja rapat panjang. “Tuan Waren, aku di sini bukan sebagai menantumu. Aku hadir sebagai salah satu pemegang saham minoritas yang baru saja mengakuisisi saham dari beberapa rekan bisnismu yang mulai kehilangan kepercayaan padamu.”
Tuan Waren tertawa sinis. “Kau pikir dengan sedikit saham kau bisa menekanku?”
Luna tersenyum tipis. “Bukan sahamnya yang akan menekanmu, tetapi isi map ini. Di dalamnya ada bukti bahwa kau bukan hanya mencuci uang, tetapi juga memalsukan tanda tangan mendiang kakekku dalam dokumen merger tiga tahun lalu.”
Ruangan mendadak hening. Isaac menatap ayahnya dengan tak percaya. “Ayah… kau memalsukan tanda tangan Kakek?”
Luna menatap Isaac, matanya berkaca-kaca namun tetap tegar. “Kau lihat, Isaac? Inilah pria yang kau bela dengan diammu. Dia bukan hanya menghancurkan masa muda kita, dia juga menodai nama baik keluargaku.”
Ia kembali menatap Tuan Waren. “Aku punya dua pilihan untukmu. Pertama, kau mengundurkan diri secara sukarela dan menyerahkan posisi CEO kepada Isaac, lalu mengakui semua kesalahanmu secara tertutup kepada otoritas pajak agar perusahaan bisa dibersihkan. Atau kedua, aku akan menyerahkan semua ini ke meja redaksi berita nasional dalam satu jam.”
Tuan Waren terdiam sesaat, lalu tawa sinisnya kembali menggema. Ia melempar cerutunya ke asbak kristal dengan gerakan meremehkan.
“Kau cerdas, Luna. Sangat cerdas. Tapi kau lupa satu hal,” ujarnya sembari berjalan perlahan mendekati Luna. “Jika kau menjatuhkanku dengan dokumen itu, kau juga akan menyeret suamimu ke penjara.”
Langkah Luna terhenti. Ia menoleh pada Isaac yang tampak kebingungan.
“Apa maksudmu, Ayah?” tanya Isaac dengan suara rendah dan berbahaya.
“Tiga tahun lalu di London, kau yang menandatangani laporan operasional perusahaan cangkang itu, Isaac,” jawab Tuan Waren dengan seringai puas. “Namamu tercantum sebagai direktur pelaksana. Jadi, Luna, jika kau menyerahkan map itu ke polisi atau pers, kau bukan hanya menghancurkan aku. Kau juga mengirim pria yang kau cintai ini ke balik jeruji sebagai kaki tanganku.”
Dunia Luna serasa berputar. Ia menatap Isaac dengan ngeri. “Isaac… apa itu benar?”
Isaac mematung. Ingatan tentang tumpukan dokumen yang ia tandatangani setiap hari di London—saat mentalnya hancur karena dipisahkan dari Luna—kembali menghantamnya. “Aku… aku tidak tahu apa yang kutandatangani saat itu, Luna. Ayah bilang itu hanya prosedur administrasi kantor cabang…”
“Ketidaktahuan bukan alasan di mata hukum,” potong Tuan Waren dingin. “Silakan saja. Serahkan map itu. Hancurkan aku, hancurkan perusahaan ini, dan biarkan suamimu masuk penjara bersamaku. Mari kita lihat seberapa besar harga diri yang kau banggakan itu.”
Luna menggenggam tepi meja hingga buku jarinya memutih. Ini jebakan yang sempurna. Tuan Waren bahkan menjadikan putranya sendiri sebagai sandera demi menutupi kejahatannya.
Tiba-tiba Isaac melangkah maju dan berdiri di antara Luna dan ayahnya. Wajahnya yang semula ragu kini mengeras oleh tekad.
“Lakukan, Luna,” ucapnya tegas.
Luna tersentak. “Apa? Tapi Isaac, kau bisa—”
“Lakukan,” ulang Isaac. Ia menatap ayahnya dengan kebencian yang tak lagi terbendung. “Aku lebih baik dihukum karena kelalaianku daripada hidup bebas sebagai boneka pria yang tega mengorbankan anaknya sendiri. Aku sudah cukup lama menjadi tawananmu, Ayah. Hari ini, itu berakhir.”
Isaac meraih map hitam itu dan mengembalikannya ke tangan Luna. “Hubungi redaksi sekarang. Jangan biarkan dia mengancammu lagi dengan namaku. Aku akan menghadapi konsekuensinya.”
Tuan Waren tampak terguncang. “Kau gila, Isaac! Kau akan kehilangan segalanya!”
“Aku sudah kehilangan Luna selama tiga tahun karena kau,” balas Isaac tajam. “Kehilangan jabatan dan kebebasan bukan apa-apa dibanding kehilangan dia lagi.”
Air mata Luna menggenang. Di tengah ancaman kehancuran, ia akhirnya melihat kembali pria yang ia cintai—berani dan berprinsip. Namun ia tahu, ia harus lebih cerdas dari sekadar nekat.
“Tunggu,” ujar Luna sambil menarik kembali mapnya. Ia menatap Tuan Waren dengan senyum yang jauh lebih berbahaya. “Kau lupa satu hal. Aku seorang arsitek. Aku terbiasa melihat celah yang tak terlihat.”
Ia membuka map itu dan mengeluarkan satu lembar tambahan. “Rekaman suara Hendra tentang bagaimana kau menekan Isaac untuk menandatangani dokumen tanpa penjelasan. Ditambah bukti transfer dana pribadimu ke rekening Clara untuk menyewa kendaraan yang menabrakku. Jika semua ini digabungkan, Isaac hanyalah korban manipulasi. Sedangkan kau… kau adalah dalang percobaan pembunuhan.”
Wajah Tuan Waren mendadak pucat. Ia tak menyangka Luna memiliki bukti soal Clara.
“Sekarang,” desis Luna pelan namun mematikan, “pilihannya tetap sama. Mundur secara terhormat… atau aku akan memastikan kau tidak hanya dipenjara, tetapi juga dibenci oleh seluruh dunia.”