Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Serangan Balik Hendra Wijaya
Ketegangan antara Arlan dan Adelia belum sempat mencair ketika sebuah ancaman baru mendarat di meja kantor A&A Pictures. Bukan melalui email atau telepon, melainkan melalui kehadiran fisik yang menyesakkan. Pukul sepuluh pagi, sebuah surat somasi resmi dari Lux-Apex tiba, dibarengi dengan kedatangan seorang pria yang lebih berbahaya dari sekadar kurir: Hendra Wijaya sendiri.
Arlan sedang memeriksa dailies (hasil syuting mentah) ketika pintu ruang editing terbuka tanpa ketukan. Adelia masuk dengan wajah pucat, diikuti oleh sosok pria paruh baya yang sangat mirip dengan ayah Arlan, namun dengan sorot mata yang jauh lebih tajam dan licik.
"Ruangan yang cukup mengesankan untuk anak buangan," suara Hendra memecah keheningan, berat dan penuh nada meremehkan.
Arlan tersentak, kursi sutradaranya berderit keras saat ia berdiri. Rahangnya mengeras, buku-buku jarinya memutih karena mengepal di atas meja editing. "Keluar dari sini, Hendra. Kamu tidak punya hak di studio ini."
Hendra tertawa kecil, tawa yang kering tanpa emosi. Ia berjalan santai, menyentuh peralatan kamera mahal di sudut ruangan seolah-olah itu adalah miliknya. "Justru di situlah kamu salah, keponakanku. Sebagai penjamin tunggal utangmu di Paris, aku memiliki hak suara tiga puluh persen dalam setiap keputusan strategis studiomu. Termasuk isi film ini."
Hendra melemparkan sebuah map tebal ke meja. "Aku sudah membaca draf naskah yang baru saja kamu revisi. Karakter antagonis 'Mr. H' dalam film ini... terlalu mirip denganku, bukan? Dan aku tidak suka cara kamu menggambarkan korporasi sebagai monster."
"Itu adalah kebenaran, Hendra! Dan aku tidak akan mengubah satu baris pun!" teriak Arlan.
"Maka film ini tidak akan pernah rilis," sahut Hendra dingin. "Aku punya klausul dalam perjanjian jaminan yang menyatakan bahwa konten tidak boleh mencemarkan nama baik pihak penjamin. Jika kamu tetap keras kepala, aku akan menarik seluruh pendanaan hari ini juga. GlobalStream akan menuntutmu, dan kamu akan berakhir di jalanan, persis seperti ayahmu."
Adelia melangkah maju, berdiri di antara paman dan keponakan itu. "Tuan Hendra, itu adalah sensor kreatif. GlobalStream tidak akan membiarkan Anda merusak visi sutradara."
Hendra menatap Adelia, matanya menyipit dengan sinis. "Ah, asisten cantik yang pandai menyimpan rahasia. Kamu seharusnya berterima kasih padaku, Manis. Tanpa uangku, kamu dan kekasihmu ini sudah dipenjara di Prancis sejak bulan lalu."
Arlan menoleh ke arah Adelia, kebencian di matanya menyambar kembali. Luka pengkhianatan yang baru saja mulai mendingin kini kembali membara.
"Hendra, katakan apa maumu," ujar Arlan, suaranya bergetar karena menahan ledakan amarah.
"Sederhana," Hendra tersenyum licik. "Ubah karakter antagonis itu menjadi sosok yang 'salah paham' namun memiliki niat baik. Jadikan akhir ceritanya sebagai rekonsiliasi keluarga. Jika kamu melakukannya, aku akan menghapus sisa utangmu di Paris sepenuhnya. Kamu akan bebas, Arlan. Benar-benar bebas."
"Kebebasan yang dibeli dengan kebohongan bukan kebebasan!" balas Arlan.
"Pikirkan baik-baik," Hendra berjalan menuju pintu. "Kamu punya waktu empat puluh delapan jam sebelum aku menginstruksikan bank untuk membekukan rekening operasional studio ini. Dan kau, Adelia... pastikan kekasihmu ini tidak melakukan hal bodoh. Kamu lebih logis daripada dia, bukan?"
Begitu Hendra pergi, ruangan itu terasa hampa udara. Arlan menendang kursi editing-nya hingga terguling. Ia menatap Adelia dengan tatapan yang penuh dengan rasa jijik.
"Lihat? Lihat apa yang kamu bawa ke studio kita?" bisik Arlan. "Dia ingin mengubah film ini menjadi alat propaganda keluarganya. Dia ingin aku meludahi integritasku sendiri."
"Arlan, kita harus cari jalan keluar lain—"
"Tidak ada jalan keluar lain karena kamu sudah menutup pintunya saat kamu menandatangani jaminan itu tanpa memberitahuku!" Arlan mengambil tasnya, berjalan melewati Adelia tanpa menyentuhnya. "Jangan bicara padaku soal 'logika'. Strategimu telah membunuh jiwaku."
Adelia berdiri sendirian di ruang editing yang gelap. Ia tahu, Hendra Wijaya baru saja melakukan serangan balik yang sempurna: ia tidak hanya ingin menguasai studio, ia ingin menghancurkan hubungan Arlan dan Adelia secara permanen. Adelia menatap layar monitor yang menampilkan wajah Reihan Malik dalam adegan putus asa. Ia menyadari bahwa sekarang, ia harus menjadi lebih licik daripada Hendra Wijaya jika ingin menyelamatkan film ini, dan menyelamatkan Arlan dari kehancuran total.
Hujan di luar studio seolah tidak mau berhenti, menciptakan simfoni suram yang mengiringi kehampaan di hati Adelia. Arlan telah pergi, meninggalkannya dengan sisa-sisa amarah dan ancaman empat puluh delapan jam dari Hendra Wijaya. Adelia tahu, jika ia hanya diam dan menunggu Arlan mendinginkan kepala, studio ini akan runtuh sebelum matahari lusa terbit.
Adelia mengambil mantelnya, matanya tertuju pada kartu nama emas yang ditinggalkan Hendra di atas meja. Ia tahu ini adalah pengkhianatan kedua di mata Arlan, namun ia juga tahu bahwa Arlan terlalu idealis untuk bertarung di lumpur yang sama dengan pamannya.
"Jika dia ingin aku menjadi orang yang logis, maka aku akan menjadi orang yang paling logis dan dingin yang pernah dia temui," bisik Adelia pada dirinya sendiri.
Tanpa memberitahu siapapun, bahkan Sandra, Adelia memacu mobilnya menuju gedung pencakar langit di kawasan SCBD—markas besar Lux-Apex. Ia tidak meminta izin. Ia hanya berjalan melewati lobi dengan dagu terangkat, menggunakan kartu akses darurat yang sempat ia dapatkan dari firma hukum di Paris sebagai perwakilan resmi A&A Pictures.