Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Malam itu, mereka mendirikan kemah di pinggir hutan kering di luar lembah. Api unggun Lin Feng menyala putih murni, tidak memancarkan asap, hanya cahaya hangat yang menembus kegelapan. Ye Xiao Yu sudah tertidur lelap di tenda kecil, tubuhnya yang rapuh dibungkus selimut tebal, napasnya stabil setelah Ye Qingyu memberikan pil penyembuh sisa dari stok Lin Feng.
Ye Qingyu duduk di sisi api, mata hitamnya menatap Huo Ling’er yang berdiri agak jauh, jubah merahnya masih terbuka di bagian dada karena panas lembah tadi. Gadis itu tidak bergerak mendekat, hanya menunduk hormat, tangannya tergenggam erat di depan perut.
Lin Feng duduk di samping Ye Qingyu, tangannya melingkar di pinggang gadis itu secara posesif. Ia menatap Huo Ling’er tanpa ekspresi.
“Kau bilang ingin bukti,” kata Lin Feng pelan. “Mulai sekarang.”
Huo Ling’er mengangguk tanpa ragu. Ia berlutut di depan mereka berdua, lututnya menyentuh tanah kering yang masih hangat. Rambut merah panjangnya jatuh menutupi sebagian wajahnya, tapi matanya tetap menatap lurus ke Ye Qingyu—bukan Lin Feng.
“Kak Qingyu,” katanya dengan suara rendah tapi jelas. “Aku tahu posisimu di hati Lin Feng. Aku tidak akan merebutnya. Aku hanya ingin jadi bagian dari kelompok ini. Untuk membuktikan, aku akan lakukan apa pun yang kau perintahkan malam ini.”
Ye Qingyu diam sejenak. Ia merasakan cemburu yang masih membara di dada, tapi juga melihat kerendahan hati yang tulus di mata Huo Ling’er. Gadis itu bukan lagi musuh sombong dari Klan Huo—ia sudah kehilangan segalanya.
“Baik,” kata Ye Qingyu akhirnya. “Kalau kau serius… mulai dengan membersihkan tubuh Lin Feng. Dia habis bertarung tadi, keringat dan debu lembah masih menempel. Gunakan tanganmu. Dan jangan sentuh lebih dari yang diperlukan… kecuali aku izinkan.”
Huo Ling’er mengangguk tanpa protes. Ia bangkit pelan, mendekati Lin Feng yang masih duduk. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka ikatan jubah atas Lin Feng, memperlihatkan dada bidang yang masih berotot keras dan berkilau keringat. Tangan Huo Ling’er yang halus menyentuh kain lembap di tubuh pria itu, membersihkan debu dan keringat dengan kain basah yang ia ambil dari tasnya.
Setiap sentuhan lembut, tapi penuh hormat. Jarinya bergerak di dada Lin Feng, turun ke perut six-pack, membersihkan setiap lekuk otot tanpa berlama-lama. Napas Huo Ling’er sedikit tersengal, tapi ia menahan diri. Matanya sesekali melirik Ye Qingyu, mencari izin.
Ye Qingyu mengangguk pelan. “Lanjutkan ke punggungnya.”
Huo Ling’er bergerak ke belakang Lin Feng. Ia membuka jubah sepenuhnya, memperlihatkan punggung lebar yang penuh goresan sisa pertarungan, goresan yang sudah sembuh karena Tubuh Api Tak Hancur, tapi masih meninggalkan bekas merah samar. Huo Ling’er membersihkan dengan telaten, jari-jarinya menyusuri setiap otot, merasakan panas api putih yang masih tersisa di kulit Lin Feng.
Lin Feng diam saja, membiarkan Huo Ling’er bekerja. Tapi matanya tetap tertuju pada Ye Qingyu, seolah mengatakan: “Kau yang memutuskan.”
Setelah selesai membersihkan, Huo Ling’er kembali berlutut di depan Ye Qingyu.
“Aku sudah selesai, Kak Qingyu. Apa lagi yang harus kulakukan?”
Ye Qingyu menatapnya lama. Cemburu masih ada, tapi ada juga rasa hormat baru terhadap keteguhan Huo Ling’er.
“Malam ini… kau tidur di tenda terpisah. Besok pagi, kau akan jadi perisai api pertama saat kami bertemu bahaya. Lindungi Xiao Yu seperti nyawamu sendiri. Dan kalau kau berhasil… mungkin suatu hari aku akan izinkan kau lebih dekat.”
Huo Ling’er tersenyum tipis, senyum penuh syukur. “Terima kasih, Kak Qingyu. Aku akan buktikan.”
Ia mundur ke tenda kecil yang ia buat sendiri, meninggalkan Lin Feng dan Ye Qingyu di depan api.
Ye Qingyu langsung menarik Lin Feng ke pelukannya, bibirnya mencari bibir pria itu dengan ganas. Ciuman itu penuh kepemilikan, tangannya menyusup ke jubah yang sudah terbuka, merasakan dada yang baru dibersihkan Huo Ling’er.
“Kau milikku,” desahnya di sela ciuman. “Tidak ada yang boleh ambil kau dari aku.”
Lin Feng membalas ciuman itu, tangannya meremas pinggul Ye Qingyu kuat. “Kau tahu itu. Huo Ling’er boleh ikut… tapi kau yang pertama. Selalu.”
Mereka bergerak ke tenda utama. Ye Qingyu mendorong Lin Feng ke atas selimut, naik ke atas tubuh pria itu. Jubahnya ia buka sepenuhnya, puncak kembar montoknya terpampang di depan mata Lin Feng.
“Malam ini… aku ingin kau ingatkan aku lagi,” bisiknya sambil menggesekkan tubuhnya ke tombak penghancur Lin Feng yang sudah keras. “Buat aku merasa… aku satu-satunya.”
Lin Feng menarik Ye Qingyu turun, mulutnya menangkap kuncup gadis itu, mengisap kuat sambil tangannya meremas tubuh bagian belakangnya yang montok. Mereka bergerak liar di dalam tenda, Ye Qingyu di atas, menggoyang pinggulnya dengan ritme posesif, puncak kembarnya bergoyang di depan wajah Lin Feng. Setiap dorongan membuatnya mendesah nama Lin Feng, seolah menegaskan kepemilikan.
Lin Feng membalik posisi, menghantam dari atas dengan kekuatan penuh, membuat Ye Qingyu menjerit kenikmatan. Mereka mencapai puncak bersama, Ye Qingyu kejang hebat, tubuhnya gemetar, sementara Lin Feng memenuhinya dengan panas api putih yang membuat gadis itu orgasme berkali-kali.
Setelahnya, mereka berpelukan erat. Ye Qingyu bersandar di dada Lin Feng, napasnya pelan.
“Dia boleh ikut… tapi jangan pernah lupakan aku,” bisiknya.
Lin Feng mencium keningnya. “Tidak akan pernah.”
Di tenda sebelah, Huo Ling’er mendengar desahan samar dari tenda utama. Ia mengepalkan tangan, tapi senyum kecil muncul di bibirnya.
“Aku akan buktikan… sampai kau terima aku sepenuhnya, Kak Qingyu.”
Perjalanan mereka bertiga baru saja dimulai—api putih, bayangan gelap, dan api merah yang mulai tunduk.