Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Selasa, 21 Mei Pukul 12.03 WIB
Jalur Linggarjati, Kilometer Pertama
Langkah pertama di tanah gunung selalu punya rasa yang beda.
Zidan langsung ngerasainnya tanah yang lebih empuk dari aspal, nyerap setiap injakan dengan cara yang anehnya nyaman. Akar-akar kecil nongol di permukaan kayak urat di punggung tangan orang tua. Suara langkah mereka beriringan, saling sahut sama suara hutan di sekitar.
Formasi jalan terbentuk sendiri, kayak biasanya: Yazid di depan bukan karena paling tinggi atau paling cepet, tapi karena kehadirannya di depan bikin semuanya terasa lebih aman. Rehan dan Runa di belakang Yazid. Salsa di tengah, satu tangan pegang kamera, satu tangan pegang trekking pole. Dan Zidan di paling belakang posisi yang udah diputusin Yazid sejak kemarin. “Supaya gue bisa lihat kalau ada apa-apa,” kata Yazid waktu ditanya, tanpa nyebut nama siapa-siapa.
Zidan ngerti.
Dia jalan di belakang dengan langkah yang tenang nggak buru-buru, nggak berusaha ngebut buat keliatan kuat. Buat pertama kalinya dalam waktu lama, Zidan ngebolehin dirinya dijaga tanpa melawan.
Pohon-pohon di sekitar mereka makin gede semakin dalam mereka masuk. Batangnya lebih lebar dari dekapan dua orang, berlumut hijau tua di bagian bawah, akarnya nongol dan bersilangan di tanah kayak jalinan yang udah ada sejak sebelum mereka semua lahir.
“Ini…” Rehan berhenti sebentar, tatap salah satu pohon gede yang getah beningnya keluar di celah kulit. “Ini pohon apa?”
“Puspa,” jawab Yazid dari depan tanpa nengok. “Pohon khas Ciremai. Umurnya bisa ratusan tahun.”
“Ratusan tahun.” Rehan ulang pelan.
“Lo mau salaman?” goda Zidan dari belakang.
“Serius nanya.”
“Gue serius jawab.”
Runa yang jalan di samping Rehan sentuh kulit pohon itu sebentar sentuhan cepet yang hampir nggak keliatan, kayak orang yang mau ngecek beneran benda gede itu nyata.
Ratusan tahun.
Salsa abadikan momen itu bukan siluet pohon, tapi tangan Runa yang nyentuh kulitnya. Frame sempit, personal. Foto yang nggak bakal jadi thumbnail, tapi pasti disimpen di folder yang nggak pernah dihapus.
Mereka lanjut jalan.
Semakin dalam.
Di atas, kanopi mulai nutup langit pelan-pelan. Cahaya matahari yang tadi terang sekarang masuk lewat celah-celah daun dalam bentuk kepingan berpendar, jatuh ke tanah jadi lingkaran-lingkaran kecil yang ikut gerak sama angin.
Dan di suatu tempat jauh ke arah barat-laut di zona yang nggak ada di peta pendaki, di kedalaman yang nggak pernah kena sinar matahari sesuatu yang udah berjalan empat hari di dalam tubuh Fajar Anggara lagi ngerjain tugasnya.
Pelan.
Sabar.
Kayak yang udah dilakuin selama jutaan tahun.
“Gunung nggak pernah bedain siapa yang udah sering naik sama yang baru pertama kali. Dia perlakuin semua orang sama: dengan jujur. Dan kejujuran… kadang itu hal yang paling bikin takut.”
Satu kilometer pertama adalah kebohongan yang enak banget.
Jalurnya masih ramah tanah merah padat, teduh karena kanopi udah nutup hampir rapat, angin dari celah pohon terasa kayak AC alam. Suara kota udah hilang total. Yang ada cuma suara langkah mereka, suara daun, suara burung yang nggak bisa dikenalin namanya tapi kedengeran kayak milik dunia lain.
Zidan jalan di paling belakang dengan langkah teratur.
Dia diem sepuluh menit pertama rekor pribadi yang nggak bakal dia akui karena dia lagi ngelakuin sesuatu yang jarang: bener-bener perhatiin sekitar tanpa filter apa pun.
Pohon gede yang batangnya lebih lebar dari dekapan dua orang. Lumut hijau tua yang nutupin akar kayak karpet yang nggak pernah diganti. Cahaya matahari yang masuk lewat celah sempit, jatuh ke tanah jadi bintik-bintik kecil yang gerak ikut angin.
Ini nyata, pikir Zidan. Bener-bener nyata.
Bukan foto. Bukan video Salsa. Bukan cerita orang lain. Ini pohon yang ada di depan mata, tanah di bawah kaki, udara di dalam paru-paru sekarang.
Paru-paru yang untuk pertama kalinya seminggu ini kerja tanpa protes.
Dia narik napas dalam, pelan, sampe ke ujung bawah. Keluar sempurna.
Zidan nunduk sebentar, tatap tanah yang diinjak, lalu dongak ke kanopi di atas. Bibirnya senyum kecil yang nggak dia tunjukin ke siapa-siapa.
Oke, Gunung. Kita mulai dengan baik.
Di depan, Yazid jalan dengan ritme yang udah pas sejak langkah pertama nggak cepet, nggak lambat, efisien banget. Trekking pole-nya nyentuh tanah di titik yang pas, kasih keseimbangan maksimal.
Di belakang Yazid, Rehan jalan dengan postur agak terlalu tegak kebiasaan anak yang dibesarin selalu diingetin cara berdiri yang bener. Bahu carrier-nya udah diatur tiga kali sejak masuk jalur, nyari posisi paling nyaman buat beban yang belum pernah dia rasain sebelumnya.
Tapi ada yang beda di cara Rehan jalan kali ini.
Nggak ada supir. Nggak ada jadwal orang lain. Nggak ada mata Pak Darmawan yang ngawasin dari balik koran. Cuma jalur di depan, carrier di punggung, dan empat orang yang dia pilih sendiri buat ada di sini.
Rehan sentuh sebentar batang pohon besar yang dilewatinya sentuhan cepet, kayak orang yang mau ngecek tembok itu beneran ada.
Ini gue yang milih, pikir Rehan. Bukan karena siapa-siapa. Ini gue.
Runa jalan di samping Rehan dengan buku catatannya udah masuk lagi ke carrier keputusan kecil tapi besar buat orang yang biasanya butuh pegang sesuatu kalau lagi diem.
Di kilometer pertama ini, dia nggak nyatet apa-apa.
Karena ada celah di antara dua pohon gede yang menghadap lembah, dan pas mereka lewatinya, pemandangan yang muncul di sisi kiri bikin Runa berhenti empat detik penuh.
Hamparan lembah hijau berlapis-lapis, makin biru ke arah cakrawala. Di kejauhan, siluet gunung-gunung lain berdiri di balik kabut tipis yang bukan kabut hujan, tapi kabut pagi yang belum ilang total. Langit di atasnya biru yang jenisnya cuma ada di ketinggian lebih jenuh, lebih dalam, kayak warna yang belum pernah kena polusi.
Runa tatap lama.
Nggak ambil HP buat foto. Nggak buka buku catatan buat catet koordinat. Nggak cari penjelasan kenapa atmosfer beda bikin warna beda.
Cuma tatap.
“Indah ya?” kata Rehan pelan, udah berdiri di sebelahnya.
Runa nggak langsung jawab. Lalu, dengan cara yang beda dari biasanya: “Iya.”
Cuma itu.
Yazid yang udah beberapa langkah di depan balik badan, liat mereka berdua berhenti, lalu ikut balik badan dan tatap pemandangan yang sama. Dia nggak komentar. Tapi dia juga nggak langsung ajak lanjut jalan. Dia biarin mereka punya momennya selama tiga puluh detik.
Cara Yazid menghargai sesuatu ya dengan nggak ganggu.
Salsa, di tengah rombongan, nggak pernah berhenti rekam.
Bukan karena kamera selalu nempel di muka dan dia nggak nikmatin perjalanan malah sebaliknya. Salsa udah lama jadi content creator, dia tahu momen terbaik bukan yang diatur, tapi yang ditangkep pas lagi terjadi. Kameranya udah jadi perpanjangan mata, bukan pengganti mata.
Dia rekam Runa yang berhenti di celah dua pohon bukan dari depan, tapi dari belakang dan samping, nunjukin siluet Runa di antara dua batang gede dengan lembah di belakang. Frame yang nggak bakal bisa diatur. Yang cuma bisa ketangkep kalau kamu lagi ada di sana, di momen itu, dengan kamera yang udah siap.
Dia rekam punggung Yazid yang jalan di depan cara carrier-nya gerak ikut ritme langkah, trekking pole yang nyentuh tanah dengan presisi kayak koreografi.
Dia rekam Rehan yang tiba-tiba ketawa kecil karena tersandung akar tapi berhasil jaga keseimbangan, ekspresi campur antara kaget dan lega yang cuma dua detik.
Dan sesekali, dia rekam ke belakang ke arah Zidan.
Yang lagi jalan pelan, mukanya menghadap ke atas, tatap cahaya yang masuk lewat celah kanopi.
Salsa nggak bilang apa-apa. Cuma rekam.
Nanti, jauh setelah semua ini berakhir, dia bakal puter footage itu berkali-kali. Nyari momen di mana Zidan paling keliatan seperti dirinya sendiri. Dan selalu, selalu, yang dia temuin adalah frame itu Zidan yang tatap cahaya, dengan senyum yang nggak ditujuin ke siapa-siapa.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪