NovelToon NovelToon
Satu Malam Yang Merubah Ku

Satu Malam Yang Merubah Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Millea

Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.

Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.

“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:

mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Kafe kecil di Shoreditch itu selalu menjadi tempat favorit Pramana. Lampunya temaram, musik jazz mengalun lembut di latar, dan aroma kopi Arabica bercampur dengan kayu manis memenuhi udara. Biasanya, di sini ia merasa tenang, aman, seolah bisa melupakan dunia luar.

Sore hari, ia duduk di meja dekat jendela, menunggu seseorang. Tangannya sibuk menggulir layar ponsel, meski pikirannya sama sekali tidak ada di sana.

Pintu kafe terbuka, bel kecil di atasnya berbunyi nyaring. Ethan masuk dengan senyum lebar. Pria berambut pirang dengan mata biru terang itu mengenakan coat abu-abu, langkahnya ringan.

“Hey, love,” sapanya sambil mendekat.

Pramana bangkit, membalas dengan pelukan singkat. “Hey.”

Mereka duduk berhadapan. Ethan langsung memanggil pelayan dan memesan cappuccino untuk dirinya, sementara Pramana hanya memesan teh hitam.

“Kau tidak minum kopi?” tanya Ethan heran.

Pramana menggeleng. “Kepala sedikit berat, jadi teh saja. Supaya lebih tenang”

Ethan menatapnya, lalu mengangguk. “Baiklah.”

Pelayan pergi, meninggalkan mereka berdua. Ethan bersandar ke kursi dengan senyum penuh kasih. “Aku rindu kau, Pram. Akhir-akhir ini kau terlalu sibuk. Bahkan chatku sering kau balas singkat-singkat.”

Pramana mengangkat alis, pura-pura tenang. “Maaf... Kerjaan menumpuk. Kau tahu akhir tahun seperti apa.”

Ethan tertawa kecil. “Aku tahu, tapi tetap saja… aku ingin lebih banyak waktu bersamamu. Kita bahkan sudah lama tidak pergi liburan.”

Pramana ikut tersenyum tipis, meski matanya kosong. “Kau ingin ke mana?”

“Paris? Atau mungkin Barcelona. Kita bisa jalan-jalan, makan malam romantis, hanya berdua.” Ethan menatapnya penuh cinta pada pria di hadapannya.

Pramana mengangguk pelan. “Kedengarannya bagus.”

Namun tepat setelah kata itu keluar, suara lain kembali menyeruak di kepalanya.

“Bertaubatlah, kasihanilah orang tuamu.”

Pramana tersentak dalam hati. Senyum di wajahnya kaku. Tangannya yang memegang cangkir teh sedikit bergetar.

“Pram?” Ethan memanggil lembut. “Kau baik-baik saja?”

Pramana buru-buru menggeleng. “Ya, aku hanya… kepikiran soal kerjaan. Mukin nanti kalo kita berdua liburan, beban pekerjaan di pikiran ku sedikit menghilang.”

Ethan menghela napas, lalu menggenggam tangannya di atas meja. Sentuhan itu hangat, penuh ketulusan. “Kalo kau ada masalah kau bisa cerita apa saja padaku, kau tahu itu, kan?”

Pramana menatap tangan mereka yang saling bertaut di atas meja. Biasanya sentuhan itu membuatnya nyaman. Kini, ia justru merasa bersalah. Wajah Aaliyah muncul jelas di kepalanya—mata penuh benci, tubuh yang gemetar, suara yang penuh luka.

Ditambah bayangan wajah kedua orang tuanya yang menatap dirinya penuh rasa ke kecewaan yang sangat mendalam pada Pramana.

“ Bertubat lah, Bertaubat lah "

Kata-kata itu menghantam dadanya lagi. Seolah menelanjangi identitasnya, seolah mengatakan bahwa semua yang ia jalani bersama Ethan hal yang sangat salah.

Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Ethan, pura-pura merapikan jas. “Aku tahu. Terima kasih.”

Ethan terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Kau aneh hari ini.”

“Maaf,” jawab Pramana  singkat.

Pelayan datang membawa pesanan mereka. Ethan mencoba mengalihkan suasana, bercerita tentang pekerjaannya di firma arsitektur, tentang klien baru yang menyebalkan tapi membayar mahal. Ia bercerita dengan antusias, tangannya sesekali bergerak ke udara, matanya

berbinar.

Pramana berusaha mendengar, berusaha menanggapi. Sesekali ia mengangguk, bahkan tersenyum. Tapi di sela tawa Ethan, suara Elara kembali.

“Kasihanilah orang tuamu…”

Kepalanya berdenyut. Ia meneguk teh dengan cepat, berharap rasa pahitnya bisa menghapus gema itu. Tapi percuma.

“Jadi, bagaimana kalau kita rencanakan liburan bulan depan?” Ethan menyudahi ceritanya. “Aku bisa urus cuti, kau juga bisa, kan? Dua minggu saja.”

" Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu di musim gugur tahun ini dengan berlibur. "

Pramana menatap kekasihnya. Bibirnya ingin berkata “ya”, tapi hatinya berat. Bagaimana ia bisa berlibur, berpura-pura bahagia, sementara bayangan seorang wanita yang ia lukai masih menghantuinya?

“Lihat dulu jadwal kerjaku,” jawabnya akhirnya.

Ethan menatapnya, kecewa, tapi mencoba memahami. “Baiklah. Aku tidak akan memaksa.”

Hening sejenak. Suara obrolan pengunjung lain mengisi ruangan, bercampur dengan denting sendok pada cangkir. Aidan menatap keluar jendela, melihat orang-orang berjalan sambil tertawa, terlihat ringan, bebas.

Ia iri. Karena dirinya tidak lagi bebas. Ia

terjebak dalam penjara batin sendiri.

Ethan akhirnya bersandar, memecah keheningan. “Pram, aku mencintaimu. Kau tahu itu, kan?”

Pramana menoleh, menatap mata biru itu. Ada ketulusan, ada kasih, ada keinginan untuk melanjutkan hubungan ini sampai jauh. Cinta yang di berikan Ethan padanya memang benar - benar tulus padanya.

Tapi di balik itu, yang ia dengar tetaplah suara Aaliyah.

“Bertaubatlah…”

Senyum Pramana goyah. Tenggorokannya tercekat. Ia hanya bisa mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Dan di dalam hatinya, ia sadar: ia semakin terpojok. Dunia yang selama ini ia bangun bersama Ethan terasa rapuh, diguncang oleh satu malam kelam dan satu suara yang tak henti mengganggunya.

---

Mereka mengakhiri pertemuan sore itu dengan pelukan singkat dan kecupan hangat di pipi. Ethan masih berusaha ceria, sementara Pramana menyembunyikan kegelisahannya. Saat keluar dari kafe dan melangkah ke jalan yang dingin, Pramana menengadah ke langit gelap.

London tampak sama seperti biasa—sibuk, indah, penuh cahaya lampu. Tapi bagi Pramana, segalanya telah berubah.

Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi ada Ethan, cinta yang tulus padanya. Di sisi lain ada Aaliyah, luka yang ia ciptakan sendiri. Dan kata-kata wanita itu kini menjadi cambuk yang tak bisa ia hindari.

“Bertaubatlah…”

Suara itu menggema lagi, membuat Pramana semakin di hantui rasa bersalah dan frustasi.

Pramana menutup mata, berbisik lirih pada dirinya sendiri.

“Apa aku benar-benar bisa?”

" Apa Allah masih mau menerima taubat ku? "

---

Beberapa hari kemudian, di kantor, Pramana duduk terpaku di depan layar. Rekan-rekannya sibuk dengan grafik dan laporan, tapi ia tidak bisa fokus. Bayangan wanita malam itu masih ada di pikirannya.

Ia mencoba menghubungi Ethan beberapa kali, tapi selalu berakhir dengan percakapan singkat. Ia semakin menjauh. Setiap kali Ethan mengirim pesan penuh cinta dan mengajak bertemu, Pramana membalasnya hanya singkat tidak seperti biasanya.

Di kepalanya, pertanyaan terus berdengung: Apakah ini cara Tuhan menegurnya? Apakah malam itu bukan sekadar kebetulan, tapi teguran keras?

Hatinya makin gelisah. Ia mulai jarang keluar, mulai menghindari pesta, bahkan alkohol. Semua terasa kotor. Semua mengingatkannya pada malam itu.

---

Sementara itu, Aaliyah dari jauh masih mengamati Pramana. Ia melihat pria itu semakin sering pulang larut malam dengan wajah muram. Ia melihat Ethan sesekali datang, menjemput dengan mobil sport, lalu menghilang berdua.

Aaliyah menggenggam pagar rumahnya, perasaan campur aduk memenuhi dadanya. Bagian dari dirinya ingin berteriak, ingin membongkar semuanya di depan umum. Tapi bagian lain… justru merasa kata-katanya di hotel sudah cukup membuat pria itu gelisah.

Dan memang benar. Kata-kata itu kini menjadi pisau yang perlahan mengiris jiwa Pramana, setiap hari, setiap detik.

Suara dan tatapan jijik Aaliyah masih terbayang di dalam otak Pramana.

Dan Aaliyah tahu, cepat atau lambat, ia harus menghadapi kenyataan itu.

Bersambung......

1
Uthie
Coba mampir 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!