NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Logika di Balik Kabel

Laboratorium Robotika SMA Garuda Nusantara lebih menyerupai hanggar pesawat tempur mini daripada sebuah ruang kelas. Barisan lengan robot berwarna putih mengilat berjejer di atas meja-meja metalik, masing-masing terhubung ke monitor monitor melengkung yang menampilkan barisan kode berwarna-warni. Suara dengung halus dari pendingin ruangan dan aroma khas komponen elektronik baru memenuhi indra penciuman Senara saat ia melangkah masuk.

Ia merasa perutnya sedikit mulas. Di SMP 12, "laboratorium" berarti satu komputer tabung yang digunakan bergantian oleh tiga orang. Di sini, setiap siswa memiliki satu unit robot seharga mobil mewah.

"Hari ini, kita akan menguji sinkronisasi antara perangkat lunak dan perangkat keras," ujar Pak Heru, instruktur robotika yang mengenakan jas lab abu-abu. "Tugas kalian sederhana: buat robot ini memindahkan balok dari titik A ke titik B melalui rintangan statis. Kalian harus memasukkan perintahnya melalui konsol kontrol di meja masing-masing."

Senara berdiri di depan mejanya, menatap konsol kontrol yang berupa layar sentuh transparan. Ia tidak segera menyentuhnya. Ia melihat siswa-siswa lain, termasuk Bima, yang sudah mulai mengetuk layar dengan lincah, menyeret ikon-ikon perintah ke dalam diagram alur.

"Ada masalah, Senara?" Pak Heru mendekat, memperhatikan Senara yang hanya diam mematung.

"Saya... saya sedang mencoba memahami urutan menu-nya, Pak," jawab Senara jujur. Ia tampak sedikit bingung melihat begitu banyak ikon yang tidak memiliki teks penjelasan. "Ikon yang berbentuk petir ini untuk apa, ya?"

Beberapa siswa di sekitar mereka tertawa kecil. "Itu untuk power-up motorik, Senara. Kamu belum pernah pakai sistem operasi Garuda-OS?" sahut seorang siswa laki-laki dari barisan depan.

Senara menggeleng polos. "Belum. Di sekolah saya dulu, kami memakai perintah teks manual."

Bima, yang duduk dua meja di samping Senara, melirik dengan sudut matanya. Ia melihat Senara mulai menyentuh layar itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah layarnya terbuat dari es yang mudah pecah. Senara menekan satu ikon, lalu menarik napas saat melihat jendela baru terbuka.

Namun, sesuatu yang menarik mulai terjadi.

Setelah lima menit pertama yang terlihat sangat kaku—di mana Senara sempat salah menekan tombol reset dua kali—cara kerja Senara berubah. Ia tidak lagi ragu-ragu. Matanya mulai bergerak cepat menyapu seluruh antarmuka layar. Pikirannya mulai memetakan struktur program tersebut. Oh, jadi ikon ini fungsinya sama dengan perintah 'if-then' di bahasa pemrograman dasar, batinnya. Dan ini adalah variabel untuk sensor jarak.

Senara mulai mengetuk layar. Awalnya lambat, satu per satu. Tapi kemudian, ritmenya meningkat. Ia tidak menggunakan metode drag-and-drop seperti siswa lain yang terlihat sangat visual. Senara justru membuka konsol teks di pojok bawah—sebuah fitur yang jarang disentuh siswa karena dianggap sulit—dan mulai mengetik barisan perintah secara manual.

Tak-tak-tak-tak. Suara ketukan jarinya di atas kaca meja mulai menyaingi kecepatan ketukan Bima.

Bima menyipitkan mata. Ia melihat layar Senara. Gadis itu tidak menggunakan diagram alur yang disediakan sekolah. Dia justru menulis skrip murni. "Dia sedang melakukan apa?" bisik Bima pada dirinya sendiri.

"Sepuluh menit lagi!" seru Pak Heru.

Hampir semua siswa sudah mulai menjalankan simulasi. Robot-robot di atas meja mulai bergerak maju, menjepit balok, lalu berputar. Beberapa robot jatuh karena menabrak rintangan, beberapa lagi bergerak sangat lambat karena kode yang dimasukkan terlalu berat.

Senara masih mengetik. Ia terlihat sangat serius, kacamata besarnya hampir merosot ke ujung hidung. Ia tidak peduli dengan ejekan teman-temannya yang menganggapnya "kuno" karena masih mengetik perintah teks.

"Tiga... dua... satu... Jalankan!" Pak Heru memberi komando.

Bima menekan tombol Enter. Robotnya bergerak dengan sangat presisi. Sebagai anak yang tumbuh besar dengan teknologi Wijaya Tech, Bima tahu persis bagaimana mengoptimalkan setiap gerakan motorik robot itu. Robot Bima mencapai titik B dalam waktu 45 detik. Rekor tercepat di kelas.

Namun, kemudian giliran robot Senara.

Robot Senara tidak bergerak seperti robot lainnya yang maju-berhenti-putar-maju. Robot itu bergerak dalam satu gerakan fluida yang melengkung. Ia tidak berhenti di depan rintangan; ia meluncur di tepian rintangan dengan jarak hanya beberapa milimeter, seolah-olah ia sudah tahu persis koordinatnya hingga ke tingkat mikron.

Robot Senara mencapai titik B dalam waktu 32 detik.

Seluruh laboratorium mendadak sunyi. Pak Heru berjalan mendekati meja Senara dengan wajah tidak percaya. "Senara, bagaimana kau mengatur akselerasi motoriknya? Robot ini seharusnya tidak bisa bergerak sehalus itu dengan pengaturan standar."

Senara mendongak, wajahnya tampak sedikit pucat karena konsentrasi tinggi. "Saya... saya tadi melihat ada bug di sistem sinkronisasi standarnya, Pak. Jadi saya menulis ulang sedikit fungsi trigonometrinya agar robotnya tidak perlu berhenti total saat berbelok. Saya hanya mencoba menyesuaikan logikanya dengan hukum inersia yang kita pelajari di Fisika kemarin."

Pak Heru memeriksa barisan kode di layar Senara. Matanya terbelalak. "Kau menulis ulang fungsi dasar Garuda-OS secara manual? Dalam waktu sepuluh menit? Sambil belajar cara pakai layarnya?"

Senara mengangguk kecil, tampak merasa bersalah. "Maaf, Pak. Apa saya merusak sistemnya? Saya pikir itu cara tercepat supaya robotnya tidak menabrak."

"Merusak?" Pak Heru tertawa pendek, suaranya penuh kekaguman. "Kau justru menyempurnakannya. Kode yang kau tulis ini jauh lebih efisien daripada kode bawaan pabrik."

Bima berdiri mematung di mejanya. Ia menatap layar Senara, lalu menatap robot biru kusam yang tadi ia lihat di tas Senara. Ia merasa ada sesuatu yang sangat kontradiktif. Gadis ini tadi tidak tahu cara menyalakan sensor, tapi sepuluh menit kemudian dia bisa menulis ulang inti sistem operasi sekolah?

"Kau bilang kau tidak pernah memakai sistem ini," ujar Bima, suaranya terdengar tajam saat mereka sedang merapikan peralatan.

Senara menoleh, ia sedang meraut pensil kayunya—sebuah kontras yang aneh di laboratorium tercanggih itu. "Memang belum pernah. Tapi logikanya tetap sama, kan? Hanya tombol-tombolnya saja yang beda tempat. Begitu aku tahu tombol mana untuk fungsi apa, sisanya hanya tinggal menghitung jarak dan waktu."

"Hanya tinggal menghitung?" Bima mendesis. "Banyak orang butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami logika itu, Senara."

"Mungkin karena mereka terlalu sibuk melihat ikon-ikon bagusnya, Bima. Bukan melihat apa yang ada di baliknya," sahut Senara tenang. Ia memasukkan bukunya ke dalam tas kainnya yang lusuh. "Aku pergi dulu, aku harus membantu di perpustakaan sore ini."

Bima melihat punggung Senara yang menjauh. Ia segera menghampiri meja Senara yang belum sempat dibersihkan sistem. Ia ingin menyalin kode yang ditulis Senara, namun saat ia menyentuh layarnya, kode itu menghilang.

[SYSTEM LOG: SCRIPT DELETED BY USER]

Bima mengepalkan tangannya. "Dia menghapusnya? Kenapa?"

Kecurigaan Bima kini berubah bentuk. Ia tidak lagi menganggap Senara hanya "beruntung" atau "pintar buku". Ia mulai melihat Senara sebagai ancaman yang nyata—sebuah anomali yang tidak bisa diprediksi oleh algoritma apa pun. Senara mungkin norak dalam menggunakan kartu akses atau lampu kamar, tapi saat dihadapkan pada logika murni, gadis itu berubah menjadi predator.

Sore itu di perpustakaan, Senara duduk di antara rak-rak buku tua yang tinggi. Ia merasa lega bisa keluar dari laboratorium yang penuh sesak dan menegangkan itu. Tangannya masih sedikit gemetar saat membuka buku catatan Fisikanya.

"Hampir saja," bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Untung rumusnya tadi bekerja."

Senara merasa sedikit menyesal karena sudah menarik begitu banyak perhatian tadi pagi. Ia tidak bermaksud pamer; ia hanya ingin menyelesaikan tugasnya secepat mungkin agar tidak merusak robot mahal itu karena salah pencet tombol. Ia merasa cemas melihat tatapan tidak percaya dari teman-temannya. Di tempat seperti ini, menjadi terlalu menonjol bagi siswi beasiswa sepertinya bisa mengundang masalah.

"Besok aku harus lebih tenang," gumamnya sambil mulai menulis. "Jangan sampai membuat orang lain merasa tersinggung lagi."

Senara tidak sadar bahwa di salah satu sudut perpustakaan, di balik rak buku filsafat, Bima sedang memperhatikannya melalui celah buku. Bima tidak menggunakan kamera atau sensor. Ia hanya menggunakan matanya sendiri, mencoba memahami bagaimana seorang gadis yang tampak begitu bingung dengan layar sentuh bisa memiliki ketajaman otak yang begitu mengerikan saat menyentuh barisan teks.

Bagi Bima, Senara adalah sebuah teka-teki logika yang belum terpecahkan. Namun bagi Senara, ia hanyalah seorang gadis yang sedang berusaha keras agar tidak diusir dari sekolah asrama impiannya ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!