Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Keesokan harinya, meskipun perayaan kecil dengan Mama dan Kak Pandu sudah lewat, suasana hatiku masih terasa hangat. Aku berangkat sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ponselku sudah kunyalakan kembali, namun aku sengaja tidak membalas pesan siapa pun, termasuk Arkan. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukan si "Editor" itu hari ini.
Begitu sampai di kelas, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa anak yang datang pagi untuk menyontek PR Matematika. Aku meletakkan tas, dan saat itulah aku menyadari ada sesuatu yang berbeda di pengait ritsleting tas ranselku.
Sebuah gantungan kunci berbentuk bunga Daisy berwarna putih bersih dengan putik kuning cerah di tengahnya.
Bunga itu bukan terbuat dari plastik murah, melainkan rajutan tangan yang sangat halus. Di kelopaknya, ada inisial kecil yang dibordir rapi: N.R.
"Bagus, kan? Gue begadang semalaman nonton tutorial di YouTube buat bikin itu."
Suara berat yang familiar itu muncul dari arah jendela kelas yang terbuka. Arkan berdiri di koridor luar, menyandarkan sikunya di bingkai jendela sambil memutar-mutar sebuah kait rajutan yang tersisa di jarinya. Matanya terlihat sedikit merah, tanda dia benar-benar kurang tidur.
"Lo... bikin ini sendiri?" tanyaku tak percaya, jemariku mengusap lembut rajutan Daisy itu.
"Iya. Jangan diketawain kalau bentuk kelopaknya ada yang miring dikit," Arkan melompat masuk lewat jendela—kebiasaan buruknya yang tidak pernah hilang—dan berdiri di samping mejaku. "Gue baca di buku arsitektur lama paman gue, bunga Daisy itu simbol new beginning. Awal yang baru."
Ia menatapku dalam, senyum jahilnya hilang, digantikan oleh tatapan yang begitu tulus. "Gue mau lo tahu, Ra. Setiap kali lo liat gantungan kunci ini, inget kalau lo selalu punya kesempatan buat mulai hari yang baru. Tanpa bayang-bayang masa lalu, tanpa takut soal pajak kebahagiaan. Karena Daisy itu kuat, dia bisa tumbuh di mana aja."
Aku terdiam, memandangi bunga rajutan itu. Untuk seorang kapten basket yang tangannya biasa memegang bola oranye kasar, hasil karyanya ini sangat lembut.
"Makasih, Arkan. Ini... hadiah paling aneh sekaligus paling bagus yang pernah gue dapet," ucapku lirih.
"Anehnya di bagian mana?" protesnya sambil tertawa kecil.
"Aneh karena gue nggak nyangka cowok se-berisik lo bisa telaten pegang jarum rajut."
Arkan hendak membalas, tapi tiba-tiba ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak susu cokelat—rutinitas wajibnya. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di samping tas yang kini sudah berhiaskan bunga Daisy.
"Selamat ulang tahun yang ke-17, Nara. Anggap aja Daisy ini jimat pelindung. Kalau lo ngerasa dunia mulai gelap lagi, liat bunganya. Putiknya kuning, kayak matahari kecil yang nggak bakal tenggelam."
Tepat saat itu, Tasya masuk ke kelas dan langsung menjerit heboh melihat Arkan ada di dalam kelas pagi-pagi buta.
"CIEEE! Pagi-pagi udah setor muka! Waduh, itu apa di tas lo, Ra? Daisy? Wah, Arkan, lo bener-bener ya, effort-nya nggak ada obat!" seru Tasya sambil berlari mendekat.
Arkan hanya nyengir lebar, lalu mengacak rambutku pelan sebelum melangkah pergi. "Gue balik ke kelas dulu ya, Tuan Putri. Jangan lupa diminum susunya, asuransi lo harus tetep sehat!"
Aku menatap punggungnya yang menjauh di koridor. Hari ini, bunga Daisy di tasku seolah ikut tersenyum. Aku menyadari bahwa Arkan tidak hanya memberiku hadiah, dia memberiku sebuah harapan: bahwa hidupku bisa mekar kembali, seindah dan sekuat bunga Daisy di tanganku.