Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jembatan Persaudaraan
Mentari pagi di perbukitan itu menggantung rendah, membiaskan cahaya keemasan yang menembus sisa-sisa kabut putih di antara pucuk pohon persik. Halaman luas The Dendra Foundation yang biasanya hanya diisi oleh suara langkah kecil penghuni panti, mendadak bergetar oleh keriuhan yang berbeda.
Dari kejauhan, di jalan setapak yang membelah kebun warga, tampak serombongan anak-anak desa berjalan beriringan. Mereka mengenakan pakaian sederhana namun rapi, dipimpin oleh Galih, pemuda desa yang tempo hari membantu mencangkul, dan ditemani oleh beberapa ibu warga desa yang membawa keranjang anyaman bambu.
Kehadiran anak-anak desa ini bukanlah sebuah kebetulan. Sejak awal, Luna dan Isaac memang menginginkan agar panti asuhan ini tidak menjadi sebuah eksklusi yang terisolasi dari peradaban lokal.
Mereka ingin tempat ini menjadi titik temu, sebuah jembatan yang menghubungkan anak-anak yang kehilangan keluarga dengan mereka yang memiliki akar kuat di tanah perbukitan ini.
Luna berdiri di teras depan, menyeka tangannya pada celemek linen yang ia kenakan. Ia menatap rombongan itu dengan binar mata yang hangat.
"Isaac, lihatlah. Tamu-tamu kecil kita sudah sampai," ujarnya pelan sembari menepuk bahu suaminya yang sedang memeriksa instalasi air di dekat gerbang.
Isaac berdiri tegak, membetulkan letak kacamata kerjanya, lalu tersenyum lebar.
"Ini akan menjadi hari yang panjang, tapi sangat berharga."
Rombongan anak desa itu berhenti di depan gerbang kayu yang besar. Ada keraguan di wajah mereka; mereka menatap gedung megah itu dengan rasa kagum bercampur segan.
Salah satu anak laki-laki desa bernama Jaka, yang usianya sebaya dengan Bumi, tampak memegang erat sebuah bola plastik berwarna merah yang permukaannya sudah agak pudar.
"Selamat pagi, teman-teman!" seru Luna sembari berjalan mendekat ke arah gerbang. Ia sengaja membuka kedua bilah gerbang itu lebar-lebar, sebuah simbolisme bahwa tidak ada sekat antara panti asuhan dan desa.
"Mari masuk. Anak-anak di dalam sudah tidak sabar ingin bertemu kalian."
Galih melangkah maju mewakili rombongan.
"Nyonya Luna, Tuan Isaac, maaf jika kami mengganggu pagi kalian. Anak-anak desa ini sangat penasaran dengan teman-teman baru mereka. Mereka membawa sedikit buah tangan, dan tentu saja... keinginan untuk bermain."
Di dalam aula, anak-anak panti asuhan yang dipimpin oleh Bumi, Dito, dan Sinta mulai keluar dengan malu-malu. Mereka berdiri berkelompok di bawah naungan atap teras.
Terjadi keheningan selama beberapa saat—sebuah momen canggung yang lazim terjadi ketika dua kelompok asing bertemu untuk pertama kalinya.
Namun, keheningan itu pecah ketika Jaka, anak desa tadi, melemparkan bola plastik merahnya ke arah Bumi. Bola itu memantul sekali di atas rumput hijau yang masih basah sebelum akhirnya ditangkap dengan cekatan oleh Bumi.
"Mau main?" tanya Jaka dengan dialek lokal yang kental namun ramah.
Bumi menatap bola itu, lalu menatap Jaka. Sebuah senyuman perlahan terukir di wajahnya yang biasanya serius.
"Mau! Di sebelah sana ada lapangan yang cukup luas."
Seketika, suasana menjadi cair. Anak-anak laki-laki dari desa dan panti langsung berhamburan menuju lapangan samping, sementara anak-anak perempuan mulai saling mendekat dengan cara yang lebih halus.
Aira dan Lulu tampak menghampiri seorang anak desa perempuan bernama Ratih yang membawa bungkusan berisi kue apem hangat.
"Ini buatan ibuku," ujar Ratih sembari menyodorkan bungkusan itu. "Namaku Ratih. Kamu siapa?"
"Aku Aira, dan ini Lulu," jawab Aira dengan nada yang mulai riang.
"Mari kita ke gazebo di kebun belakang. Di sana ada banyak krayon kalau kamu mau menggambar bersama kami."
Isaac dan Luna memperhatikan interaksi itu dari kejauhan dengan perasaan lega yang mendalam. Mereka melihat bagaimana perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang ketika tawa dan permainan mulai mengambil alih.
Isaac kemudian mengajak Galih dan para pemuda desa lainnya untuk duduk di bawah pohon beringin tua.
"Terima kasih sudah membawa mereka ke sini, Galih," ujar Isaac sembari menyuguhkan teh hangat.
"Aku ingin anak-anak panti ini merasa bahwa mereka adalah bagian dari desa ini, bukan orang asing yang sekadar menumpang."
"Kami yang berterima kasih, Tuan Isaac," jawab Galih tulus.
"Kehadiran panti ini memberikan warna baru bagi desa. Anak-anak kami jadi punya tempat bermain yang bagus, dan mereka belajar bahwa saudara tidak selalu harus dari satu rahim."
Di lapangan samping, keriuhan semakin memuncak. Dito, yang biasanya hanya peduli pada tanaman tomatnya, kini tampak sangat lincah mengejar bola bersama Tedi dan anak-anak desa lainnya.
Mereka berlari menembus udara pagi, keringat mulai membasahi dahi mereka, namun tawa mereka tidak berhenti mengalir.
Tidak ada lagi label "anak panti" atau "anak desa"; yang ada hanyalah sekelompok anak kecil yang merayakan kebebasan masa kanak-kanak mereka.
Luna sendiri memilih untuk bergabung dengan kelompok anak perempuan di gazebo. Ia melihat Sinta sedang mengajari anak-anak desa cara menggambar perspektif sederhana—ilmu yang ia serap dari seringnya melihat Isaac bekerja.
Sementara itu, Ibu Sari keluar dari dapur membawa nampan berisi sirup jeruk dingin, menambah keceriaan di tengah hari yang mulai menghangat.
"Nyonya Luna," panggil salah satu ibu warga desa yang ikut berkunjung, "lihatlah anak-anak itu. Mereka tampak seperti sudah berteman bertahun-tahun."
Luna mengangguk, matanya berkaca-kaca saat melihat Aira tertawa lepas ketika Ratih menceritakan tentang ayamnya yang bisa menari.
"Itulah keajaiban dari hati yang tulus, Bu. Mereka tidak memiliki prasangka. Mereka hanya tahu bahwa mereka memiliki teman baru untuk berbagi cerita."
Kegiatan bermain itu berlanjut hingga siang hari. Ada yang asyik menjelajahi kebun buah, ada yang bermain petak umpet di balik pilar-pilar gedung, dan ada pula yang asyik berdiskusi tentang jenis-jenis serangga yang mereka temukan di balik dedaunan.
Setiap sudut The Dendra Foundation kini dipenuhi oleh energi kehidupan yang luar biasa.
Momen puncaknya adalah ketika mereka semua berkumpul di halaman belakang untuk menanam sebuah pohon baru sebagai simbol persahabatan.
Isaac membawa bibit pohon jambu biji, dan Luna meminta anak desa serta anak panti untuk memegang batangnya bersama-sama saat tanah ditutup.
"Pohon ini adalah saksi hari ini," ujar Isaac dengan suara formal namun hangat.
"Setiap kali pohon ini tumbuh satu inci, persahabatan kalian juga harus tumbuh satu inci lebih dalam. Rawatlah ia bersama-sama."
Saat rombongan anak desa berpamitan untuk pulang di sore hari, suasana haru sangat terasa. Mereka saling melambaikan tangan, berjanji akan bertemu lagi di hari Minggu berikutnya.
Bumi bahkan memberikan salah satu buku cerita miliknya kepada Jaka, sementara Ratih menjanjikan akan membawakan bibit bunga matahari untuk Aira.
Luna dan Isaac berdiri di depan gerbang, menatap punggung anak-anak desa yang perlahan menghilang di balik bukit.
Keheningan kembali menyelimuti panti asuhan, namun kali ini keheningan itu terasa berbeda. Ia terasa penuh, hangat, dan bermakna.
"Misi kita bukan hanya membangun gedung, Isaac," bisik Luna sembari menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Iya, Luna," jawab Isaac sembari merangkulnya erat.
"Kita sedang membangun sebuah komunitas. Dan hari ini, fondasi sosial itu telah tertanam dengan sangat kuat."
Di dalam asrama, anak-anak panti mulai menceritakan pengalaman mereka hari itu dengan penuh semangat. Cerita tentang Jaka yang larinya sangat kencang, tentang Ratih yang pintar membuat kue, dan tentang janji-janji masa depan yang akan mereka ukir bersama.
Malam itu, di bawah atap yang megah, mereka tidur dengan senyuman yang lebih lebar, karena mereka tahu bahwa di balik bukit sana ada teman-teman yang menunggu untuk bermain kembali.
---
Keceriaan yang semula menyelimuti halaman belakang The Dendra Foundation seketika berubah menjadi ketegangan yang menyesakkan saat mentari mulai merendah di ufuk barat.
Sebuah pertikaian yang tidak terduga pecah di dekat area gazebo, tempat anak-anak perempuan sebelumnya berkumpul dengan damai.
Suasana damai itu terkoyak oleh suara bentakan kecil yang disusul dengan isakan tangis yang memilukan.
Aira, salah satu anak perempuan panti asuhan yang sejak awal dikenal memiliki kepribadian paling sensitif, tampak berdiri gemetar di hadapan Ratih, anak desa yang sebelumnya menjadi teman bermainnya.
Di antara mereka, tergeletak sebuah boneka rajut matahari—hadiah pemberian Luna yang sangat berharga bagi Aira—dalam kondisi salah satu bagian lengannya terlepas.
"Itu milikku! Kak Luna memberikannya padaku untuk menjagaku saat tidur!" seru Aira di tengah tangisnya, suaranya parau karena rasa sedih yang mendalam.
Ratih, yang tampak terkejut sekaligus defensif, membalas dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Aku tidak bermaksud merusaknya! Aku hanya ingin meminjam sebentar, tapi kau menariknya terlalu keras!"
Konflik kecil itu memancing perhatian anak-anak lain. Dalam hitungan detik, aura persaudaraan yang dibangun sejak pagi seolah memudar, digantikan oleh garis pemisah yang kaku antara anak-anak panti dan anak-anak desa.
Beberapa anak panti mulai berdiri di belakang Aira dengan tatapan tidak senang, sementara anak-anak desa lainnya berkerumun di samping Ratih, menciptakan suasana konfrontatif yang mengkhawatirkan.
Aira, yang tidak tahan dengan tekanan emosional tersebut, segera berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju area depan panti asuhan.
Ia mencari satu-satunya sosok yang ia anggap sebagai otoritas perlindungan tertinggi di tempat itu.
Isaac sedang berada di beranda, baru saja selesai berbincang dengan Galih, ketika ia merasakan sepasang tangan kecil memeluk kakinya dengan erat.
Isakan Aira pecah seketika, membasahi kain celana Isaac.
"Pak Isaac... Ratih... dia merusak matahari milikku!" adu Aira dengan napas tersengal-sengal.
Ia mengangkat boneka matahari yang cacat itu dengan tangan gemetar, menunjukkannya kepada Isaac seolah-olah itu adalah sebuah tragedi besar yang menuntut keadilan.
Isaac segera merendahkan tubuhnya, berlutut di hadapan Aira dengan ekspresi wajah yang tetap tenang namun penuh wibawa.
Ia tidak langsung menghakimi; tatapannya tetap teduh saat ia menerima boneka yang rusak tersebut.
Dari kejauhan, Luna dan rombongan anak desa serta panti menyusul mendekat, menciptakan lingkaran ketegangan di halaman depan.
"Aira, tenangkan napasmu," ujar Isaac dengan nada formal yang stabil.
"Jelaskan kepadaku dengan kepala dingin, apakah ini murni sebuah kecelakaan atau ada unsur kesengajaan?"
Ratih, yang baru sampai dengan wajah memerah, segera menyela sebelum Aira menjawab.
"Tuan Isaac, saya hanya ingin memegang boneka itu karena bentuknya sangat indah. Saya tidak pernah melihat boneka seperti itu di desa. Tapi Aira langsung merebutnya dengan kasar seolah-olah saya ingin mencurinya!"
"Kau ingin mengambilnya karena kau tidak punya!" tuduh salah satu anak panti lainnya, yang memicu gumaman kemarahan dari anak-anak desa.
Situasi memanas dengan sangat cepat.
Galih dan para orang tua desa tampak serba salah, sementara Luna berdiri di samping Isaac, mengamati bagaimana sebuah benda kecil mampu menggoyahkan jembatan persaudaraan yang baru saja mereka bangun dengan susah payah.
Isaac berdiri tegak, membiarkan keheningan mengambil alih selama beberapa detik.
Otoritasnya sebagai pemimpin panti asuhan terpancar kuat, memaksa semua orang untuk diam dan mendengarkan.
"Hari ini, kita belajar bahwa membangun gedung jauh lebih mudah daripada membangun pengertian," suara Isaac bergema dengan martabat yang tinggi.
Ia menatap Aira, lalu beralih menatap Ratih.
"Aira, ketakutanmu akan kehilangan sesuatu yang kau sayangi telah membuatmu lupa akan arti berbagi. Dan Ratih, keinginanmu untuk memiliki sesuatu telah membuatmu lupa akan arti menghormati milik orang lain."
Isaac kemudian memegang bagian boneka yang terlepas.
"Boneka ini bisa diperbaiki oleh Ibu Sari atau Kak Luna dalam waktu singkat. Namun, jika persahabatan kalian yang robek hari ini, butuh waktu yang jauh lebih lama untuk menjahitnya kembali."
"Apakah kalian ingin hari yang indah ini berakhir dengan dendam hanya karena sepotong kain dan benang?"
Aira menundukkan kepalanya, tangisnya mereda menjadi isakan kecil yang penuh penyesalan.
Ratih pun tampak mulai melenturkan bahunya yang kaku, menyadari bahwa tindakannya telah mencederai kepercayaan teman barunya.
Konflik di penghujung Bab 33 ini menjadi pengingat bagi Luna dan Isaac bahwa tantangan terbesar mereka bukanlah musuh dari masa lalu, melainkan dinamika emosional yang rapuh dari jiwa-jiwa yang mereka asuh.