NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi

Sistem Penakluk Para Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Playboy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Meskipun di dalam hatinya Liu Mengting merasa senang, di permukaan ia tetap berpura-pura marah. Dengan wajah sedikit mengeras, ia berkata, “Zhang Yuze, menurutku kamu semakin pandai berbicara. Kenapa kamu tidak belajar dengan sungguh-sungguh? Ujian akhir sudah semakin dekat.”

Zhang Yuze sendiri merasa agak heran dengan sikapnya hari ini. Dulu, ia pasti tidak akan berani berbicara sebebas ini. Mungkinkah sejak memperoleh Cermin Pusaka Dewa, kepercayaan dirinya perlahan kembali? Namun, menatap bunga kelas yang cantik di hadapannya, Zhang Yuze merasa sayang jika kesempatan ini dilepaskan begitu saja. Dengan senyum nakal namun tetap sopan, ia berkata, “Ketua Bidang Akademik, kalau nanti aku menemui bagian pelajaran yang tidak kupahami, bolehkah aku bertanya padamu?”

Liu Mengting tertegun sejenak. Ia memang pernah menasihati Zhang Yuze agar lebih giat belajar, tetapi ia tidak menyangka pemuda itu benar-benar menanggapi ucapannya dengan serius. Mendengar pertanyaan itu, meskipun masih ada sedikit keraguan di hatinya, ia tidak ingin mematahkan semangat yang baru saja tumbuh. Wajahnya yang cerah dan lembut pun berubah serius.

“Kalau kamu benar-benar mau memperhatikan pelajaran di kelas,” katanya pelan namun tegas, “menurutku peluangmu untuk lulus ujian masuk perguruan tinggi masih sangat besar. Kalau ada kesulitan dalam belajar, jangan ragu untuk datang kepadaku.”

Mendengar persetujuan itu, hati Zhang Yuze diliputi kegembiraan. Di dalam benaknya, ia berpikir dengan penuh keyakinan, Kamu adalah target keduaku. Selama aku terus mendekat secara wajar seperti ini, dengan pengaruh jangka panjang, pasti akan ada hasil. Bukankah para leluhur telah mengajarkan bahwa tujuan yang sulit menuntut perjuangan panjang dan kesabaran tanpa henti?

Usai pelajaran kedua, seharusnya seluruh siswa mengikuti senam pagi. Namun, entah untuk memberi lebih banyak waktu belajar bagi para siswa tingkat akhir atau karena pertimbangan lain, pihak sekolah memutuskan untuk membatalkan kegiatan tersebut.

“Ketua Bidang Akademik, soal ini bagaimana cara menyelesaikannya?” Pada waktu luang itu, Zhang Yuze benar-benar mengambil sebuah soal matematika dan bertanya dengan sikap yang tampak serius.

Liu Mengting sedikit terkejut, tetapi di dalam hatinya ia merasa senang melihat Zhang Yuze benar-benar mulai berusaha. Ia mendekatkan diri ke samping Zhang Yuze, lalu menjelaskan langkah demi langkah dengan sabar dan terperinci. Nada suaranya lembut, dan penjelasannya mudah dipahami.

Aroma samar yang bersih dan segar tercium, membuat suasana terasa tenang. Kedekatan itu, meski wajar dan penuh kesopanan, tetap membuat Zhang Yuze merasa gugup dan bersemangat sekaligus. Ia harus mengakui, suasana belajar seperti ini sangat berbeda dari sebelumnya—lebih hidup, lebih bermakna.

Dalam hatinya, Zhang Yuze tersenyum getir. Pantas saja Sun Yuzhou begitu berambisi mendekatinya, pikirnya. Namun, kesempatan seperti ini tidak akan selalu menjadi miliknya.

Sayangnya, Zhang Yuze tidak menyadari bahwa seseorang yang sedang ia pikirkan itu menatapnya dengan penuh kejengkelan dari kejauhan. Jika saja bukan karena menjaga sikap di hadapan Liu Mengting, mungkin amarah itu sudah meledak.

“Kamu benar-benar mendengarkan tidak?” Sebuah dengusan pelan namun dingin tiba-tiba terdengar di telinganya.

Zhang Yuze segera tersadar dari lamunannya. Ia mendapati Liu Mengting menatapnya dengan mata indah yang kini memancarkan kekesalan. Bibirnya sedikit mengerucut, jelas menunjukkan ketidaksenangannya. Namun, bahkan dalam keadaan kesal, raut wajahnya tetap terlihat menawan, membuat Zhang Yuze hampir saja terdiam terlalu lama.

Meski begitu, ia tahu betul bahwa ini bukan saatnya memancing ketidaksenangan Liu Mengting. Jika gadis itu sampai menjauh darinya di kemudian hari, kerugiannya justru akan jauh lebih besar.

“Aku sedang berpikir,” jawab Zhang Yuze cepat, berusaha meyakinkan.

“Hmph! Kalau kamu tidak mendengarkan penjelasanku dengan sungguh-sungguh, aku tidak mau repot-repot lagi,” ucap Liu Mengting. Meski begitu, nada suaranya tidak sepenuhnya dingin. Tanpa benar-benar meragukannya, ia tetap melanjutkan penjelasan soal tersebut dengan penuh ketelatenan.

Kali ini, Zhang Yuze benar-benar memperhatikan. Meskipun ia sempat tertinggal dalam pelajaran, dasar-dasarnya masih ada. Dengan penjelasan Liu Mengting yang runtut dan jelas, ia merasa banyak hal mulai tersambung. Ia pun menyadari bahwa dirinya tidak sepenuhnya tertinggal dari materi yang sedang dipelajari.

Hal itu perlahan memulihkan kepercayaan dirinya terhadap ujian masuk perguruan tinggi. Lagipula, ia masih memiliki satu kartu truf yang belum ia gunakan—pengembangan daya pikirnya. Zhang Yuze percaya, begitu kemampuan otaknya benar-benar dikembangkan, cara berpikir dan daya belajarnya akan meningkat pesat, bahkan jauh melampaui bayangannya sendiri.

Di bangku kelas itu, di tengah suara pena yang menari di atas kertas dan penjelasan yang terus mengalir, sebuah perubahan perlahan terjadi. Bukan hanya pada nilai pelajaran, tetapi juga pada arah hidup Zhang Yuze yang mulai bergerak menuju masa depan yang sama sekali berbeda.

Pelajaran terakhir hari itu adalah seni bela diri, yang dilaksanakan di gedung olahraga SMA Negeri Tujuh. Seiring dengan semakin dekatnya akhir semester, pelajaran ini sekaligus dijadikan sebagai ujian praktik seni bela diri. Karena mata pelajaran bela diri harus diselesaikan lebih awal guna memberi ruang bagi mata pelajaran lain yang dianggap lebih penting, jadwalnya pun dimajukan.

Meskipun sejak tahun 2012 seni bela diri telah menggantikan pendidikan jasmani dan bahkan berkontribusi pada nilai ujian masuk perguruan tinggi, dalam benak sebagian besar guru, mata pelajaran ini tetap belum mampu menandingi kedudukan pelajaran akademik utama seperti matematika, fisika, atau bahasa. Ia dianggap penting, tetapi tidak krusial.

Guru olahraga yang bertanggung jawab atas kelas tersebut adalah Xia Delong, seorang pria muda yang tahun ini baru menginjak usia dua puluh delapan tahun. Latar belakangnya sangat mengesankan. Ia merupakan lulusan sekolah olahraga provinsi, pernah menyandang gelar juara tarung bebas tingkat provinsi, merupakan pewaris teknik Tombak Penguasa Desa Keluarga Li, sekaligus anggota Asosiasi Seni Bela Diri Provinsi. Deretan prestasi dan gelar tersebut membuat namanya sangat diperhitungkan oleh jajaran pimpinan SMA Negeri Tujuh.

Tak hanya mencintai seni bela diri, Xia Delong juga gemar bermain basket. Ia bahkan menjabat sebagai pelatih tim basket sekolah, kerap mewakili SMA Negeri Tujuh dalam berbagai kompetisi antarsekolah. Oleh karena itu, metode penilaian ujian bela diri hari itu terasa agak… tidak biasa. Alih-alih menggunakan jurus atau latihan fisik konvensional, Xia Delong justru memilih basket sebagai media penilaian.

Sekilas, keputusan itu terasa mendadak dan tidak lazim. Namun, jika dipikirkan lebih jauh, basket tetap merupakan olahraga yang melatih kebugaran, koordinasi, dan refleks tubuh. Dengan demikian, pilihan tersebut masih dapat dianggap masuk akal. Hanya saja, karena waktu sudah mendekati tengah hari dan matahari bersinar terik tanpa ampun, beberapa siswi tak kuasa menahan keluhan pelan.

Di tengah keramaian itu, Zhang Yuze berdiri sambil menggenggam bola basket di tangannya. Ia tidak bisa dikatakan mahir, tetapi jelas tidak asing dengan olahraga tersebut. Saat senggang dan merasa bosan, ia masih kerap bermain bersama beberapa teman dekatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!