NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Sabtu, 17 Mei Pukul 14.00 WIB

Kos Salsabilla (base camp persiapan)

Tiga hari sebelum berangkat.

Mereka kumpul di kos Salsa bukan apartemennya, tapi unit kecil di bawah yang disewanya khusus buat jadi markas persiapan. Carrier-carrier gede berjajar di lantai kayak pasukan baru rekrut. Barang-barang mendaki berantakan di mana-mana, tapi Runa udah kelompokkan semuanya dengan sistem yang cuma dia yang ngerti.

“Oke,” Runa berdiri di depan whiteboard kecil yang entah dari mana Salsa punya. Dia udah nulis jadwal pake spidol merah. “Kita cek ulang satu-satu. Carrier kalian taruh sini, kita timbang total beratnya. Batas ideal dua belas kilo per orang.”

“Dua belas kilo?” Salsa melotot ke tripod-nya yang udah siap masuk carrier.

“Termasuk tripod itu,” kata Runa tanpa nengok.

Salsa langsung peluk tripodnya kayak lagi lindungin anak.

Rehan cekikikan pelan. Yazid duduk bersila di pojok, buka buku catatan kecil yang dia bikin sendiri dari laporan-laporan pendaki yang dia baca dua hari terakhir. Tangannya nulis hal-hal kecil: titik air di km 3, shelter darurat di km 5, zona badai petir biasanya mulai km 6.

Zidan dateng. Duduk di beanbag Salsa dengan muka berusaha keliatan fresh. Tapi Rehan, Yazid, sama Runa masing-masing dengan caranya sendiri udah notice kalau muka Zidan lebih pucat dibanding dua hari lalu.

“Dan,” panggil Runa. “Inhaler kamu udah masuk P3K?”

Zidan nengok. Kecil aja, nggak dramatis, tapi ada sesuatu yang gerak di matanya. Kayak orang yang nggak nyangka nama dosisnya disebut di meja ujian.

“Udah, Ru.”

“Dua? Satu buat pemakaian harian, satu cadangan?”

“…Satu.”

“Gue beliin satu lagi besok,” kata Rehan langsung, bukan nawarin memutuskan. “Sama suplemen daya tahan. Minum tiga hari ke depan sebelum berangkat.”

“Han, gue bisa”

“Dan.” Rehan tatap dia. Nggak keras, nggak tinggi. Tapi nggak bisa dibantah. “Izinin gue ngelakuin ini.”

Ruangan kecil itu langsung sunyi bentar.

Zidan nunduk ke beanbag. Rahangnya kenceng sebentar bukan marah, tapi nahan sesuatu yang lebih ribet dari itu. Kadang, hal paling susah diterima adalah perhatian dari orang yang beneran peduli.

“…Makasih, Han,” kata Zidan akhirnya. Pelan.

Salsa yang udah siapin kamera, diam-diam nurunin lagi.

Yazid nulis sesuatu di bukunya. Bukan soal jalur, bukan soal cuaca.

Inhaler Zidan pastiin selalu dalam jangkauan. Jangan biarin dia di belakang rombongan.

Di luar jendela, langit Bandung mulai mendung lagi. Awan gerak cepet dari arah timur arah Gunung Ciremai yang selalu berdiri diam, terlalu tenang.

Tiga hari lagi.

“Gunung nggak pernah manggil. Dia cuma berdiri. Dan kita yang dateng, bawa semua beban yang kita kira udah kita tinggalin di bawah.”

Selasa, 21 Mei Pukul 04.00 WIB

Gang Kenanga, Bandung Selatan

Alarm Zidan bunyi jam empat pagi.

Bukan alarm HP itu udah dia matiin semalem karena takut nggak kedengeran. Yang bangunin dia adalah bau masakan dari dapur. Aroma bawang putih ditumis, suara daging masuk ke minyak panas, dan sesekali sendok beradu sama wajan suara yang udah akrab banget di telinga Zidan sejak kecil.

Bu Ratna udah bangun dari jam tiga.

Zidan duduk di pinggir kasur, gosok mata. Badannya terasa jauh lebih enak dibanding seminggu lalu. Tiga hari istirahat total kayak yang Runa perintah, suplemen dari Rehan diminum nggak pernah telat, dan makan teratur yang dijagain ketat sama Bu Ratna setiap malam piringnya selalu lebih gede dari porsi biasa. Asmanya udah nggak kambuh sejak Jumat malam. Tenggorokan udah nggak sakit.

Cuma kadang, kalau terlalu cepet naik tangga atau ketawa kelewat keras, ada sedikit sesak yang muncul lalu ilang sendiri.

Bisa diabaikan, pikir Zidan.

Inhaler biru udah nempel di saku terluar carrier bukan ditaruh di dalam P3K kayak usulan awal, tapi di saku yang bisa dijangkau satu tangan tanpa buka resleting. Ide Yazid, disampein via WA Kamis lalu dalam dua kalimat yang nggak butuh diskusi.

Zidan liat ranselnya yang udah berdiri tegak di sudut kamar. Dua belas kilo persis dia udah timbang dua kali kemarin. Di dalam: sleeping bag pinjaman dari tetangga yang sering mendaki, pakaian lapis tiga sesuai instruksi Yazid, satu kotak rendang kering buatan Bu Ratna yang udah dibagi-bagi ke klip bag kecil, headlamp sama baterai baru, dan di paling atas yang paling gampang diambil inhaler cadangan yang dibeliin Rehan.

Dia berdiri, regangin punggung.

Hari ini.

Kalimat itu terasa beda dari semua kalimat lain yang pernah ada di kepalanya.

Dapur Bu Ratna jam empat pagi adalah dunia sendiri.

Lampu neon kecil yang satu ujungnya udah kedip-kedip tapi nggak pernah diganti karena Bu Ratna bilang “masih keliatan kok”. Meja dapur catnya udah pudar di sudut. Asap tipis ngepul dari panci yang mendidih. Dan Bu Ratna di tengah semua itu, pake celemek motif bunga hadiah ulang tahun dari Zidan tiga tahun lalu, kerja dengan kecepatan dan presisi orang yang udah ngulang rutinitas ribuan kali.

Zidan berdiri di ambang pintu dapur.

Bu Ratna nggak nengok, tapi tahu anaknya udah di sana. “Nasi goreng sama telur ceplok. Makan dulu sebelum berangkat.”

“Bu, kita berangkat jam enam. Masih dua jam.”

“Makanya masak dari tadi, biar keburu makan, biar kenyang, biar nggak pingsan di jalan.” Bu Ratna nyendok nasi goreng ke piring, tangannya gerak cepet. “Duduk.”

Zidan duduk.

Makan dalam diam beberapa menit. Nasi goreng Bu Ratna selalu ada campuran ikan asin dipotong kecil-kecil resep yang nggak pernah berubah, rasanya udah Zidan hafal sejak gigi susunya belum copot semua.

“Rendang-nya udah Ibu masukin di carrier kamu tadi,” kata Bu Ratna, udah beralih cuci piring. Punggungnya ke arah Zidan. “Yang buat temen-temennya Ibu taruh terpisah, dikasih label. Nanti bilang sama mereka, itu dari Ibu.”

“Bu…”

“Yazid itu badannya kurus. Kasih dia yang paling banyak. Runa pasti nggak mau minta sendiri, jadi tawarin duluan. Si Rehan itu…” Bu Ratna berhenti sebentar. Tangannya masih di atas wastafel. “Dia anak baik, Dan. Meski dari keluarga kaya, dia nggak pernah beda-bedain kamu. Ibu liat.”

Zidan nunduk ke piringnya.

Ibu selalu liat hal-hal yang orang lain nggak liat.

“Salsabilla itu sendirian,” lanjut Bu Ratna pelan. “Orang tuanya jauh. Pastiin dia nggak ngerasa sendirian di sana.”

“Bu.” Zidan naruh sendoknya. “Kita mendaki, bukan ikut pengajian.”

Bu Ratna terkekeh suara yang Zidan simpen di memori yang nggak akan pernah dia hapus. “Sama aja. Di dua tempat itu, yang kamu butuh adalah orang yang ada buat kamu.”

Hening sebentar.

“Ibu nggak tidur semalam?” tanya Zidan akhirnya.

Bu Ratna nggak langsung jawab. “Sebentar. Cukup.”

Artinya nggak.

Zidan bangkit dari kursi, bawa piringnya ke wastafel, lalu berdiri di samping ibunya. Ambil sabun, ikut cuci piring di sebelah Bu Ratna kayak yang sering mereka lakuin dulu waktu Zidan masih kecil.

“Bu.” Suaranya lebih rendah. “Zidan balik utuh. Janji.”

Bu Ratna nggak jawab.

Tapi tangannya sebentar berhenti membilas piring. Dan Zidan liat, dari sudut matanya, bahu ibunya naik turun sekali cepet, terkontrol cara nangis orang yang udah terbiasa nangis diam-diam biar anaknya nggak tahu.

Zidan taruh tangannya di atas tangan ibunya.

Mereka selesain piring-piring itu bareng, tanpa bicara lagi, di bawah cahaya neon yang kedip-kedip dan aroma bawang putih yang nempel di udara dapur sempit.

1
Kustri
lanjutkan!!!
Kustri
oalah zidan... zidan orang terbirit" kamu malah nyantai😂
Kustri
semangat buat lanjutin karyamu ini
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
Kustri
hlaa py to, saya jg sdh siap melanjutkan, koq malah mentok😩
Kustri
kamu salah 1 dr mrk, tubuhmu ada zat yg sama dgn mrk zidaaaan... 😁bener gk sih thor🤭
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
Kustri
mayan di swalayan stok makanan & minuman aman👌🤭
Kustri
☕tak sogok biar crazy up🤭😁
Kustri
weh zidan 🎷🎼ada apa dgnmu...
Kustri
ngeyel BGT👊👊👊wae
Kustri
qu msh capek, dok masa iya baru nyampe bawah, istirahat jg blm masak suruh naik lagi😫😫😫
Kustri
ky'a satria gk nyebut zidan, koq sakira tau yg terpapar itu zidan🤔ampe qu ulang baca'a🤭
NR: wkwk, terimakasih kak.
total 1 replies
Kustri
diminumin air kelapa ijo x yaa🤭
Kustri
memukul jgn hanya pukul
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
Kustri
wah zidan ky'a terpapar dr serbuk nih, melihat kondisi'a
Kustri
eumm... dr jamur yg fajar makan waktu kelaparan itu yaa
Kustri
kira" apa obat penyembuh'a ya🤔
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
t-rex
suka banget upnya langsung banyak gini. btw Thor, perkiraan end dibab berapa? wkwk. mau nabung bab😭😭🤭
NR: Up banyak kalo lagi ada ide aja kak wkwk, kalo up nya cuman 1 bab itu lagi stuck alur ceritanya mao dibawa kemana yak ini wkwk,
total 1 replies
Kustri
qu koq deg"an klu zidan terpapar😫
lanjut lagii
Kustri
lanjuuut 👉👉👉
Kustri
bisa gk thor kalimat"nya diperhalus, perasaan dipart" awal kalimat'a enak dibaca
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪
NR: oke kak, terimakasih saran nya, 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!