Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
"Sapir..." rengek Luna masih memeluk erat Xavier dari belakang.
"Aku mau mandi! Lepaskan!" ucap Xavier ketus.
Bisa-bisanya gadis ini malah berani memeluknya tanpa takut padanya sama sekali? Apa dia tidak tahu siapa dirinya?
"Mandi?" Luna memiringkan kepalanya.
"Ya, kenapa? Kau mau ikut?" tantang Xavier asal bicara agar Luna menjauh.
"Luna tidak pernah mandi. Luna cuma menjilat tubuh Luna kalau kotor," jawab Luna polos.
Xavier terdiam sejenak, lalu mendengus geli sekaligus jijik. "Apa kau pikir, kau ini kucing, hah?!Pantas saja kau bau!" Ejeknya.
"Kalau badan Luna bau, kenapa semalam Sapir memeluk Luna erat sekali?" tanya Luna dengan wajah tanpa dosa.
"Aku memelukmu?" Xavier menunjuk dirinya sendiri dengan wajah syok. Mana mungkin seorang Xavier memeluk manusia asing di dalam tidurnya? "Jangan mengada-ada! Itu tidak akan pernah terjadi!"
"Tapi, itu memang kenyataannya, Sapir!" ucap Luna.
Xavier termenung. Ia mencoba mengingat semua kejadian yang terjadi semenjak ia tersesat di hutan dan bertemu seekor kucing. Dari kucing menjadi wanita, lalu hilang, lalu jadi wanita lagi.
Pikirannya seolah buntu, sekaligus terlalu lelah memikirkan semua yang menimpanya.
"Jangan-jangan, kau ini hantu penunggu hutan?" Xavier menelan salivanya dengan susah payah. Ia memang mafia kejam, tapi soal mahluk halus, dia sedikit ragu.
"Hah? Hantu?" Luna langsung lemas. Ia pikir Xavier sudah menyadari bahwa dirinya adalah kucing putih itu, ternyata Xavier malah mengiranya hantu. "Luna bukan hantu, Sapir! Luna itu—"
"Sudahlah! Diam di sini dan jangan menyentuh apapun yang bisa membuat kamarku hancur berantakan seperti kemarin!" Xavier masuk ke kamar mandi dan membanting pintu, meninggalkan Luna yang kebingungan sendirian.
"Dasar Sapir bodoh, bodoh, bodoh! Luna kan belum selesai bicara," gumamnya sembari menghentakkan kaki berulang kali.
*
*
Di ruang makan yang megah itu, suasana terasa begitu hening. Xander duduk dengan angkuh, menyesap kopi hitamnya seolah ia adalah pemilik tunggal seluruh aset keluarga Jonas. Di sampingnya, Gerry berdiri tegak, mencoba mempertahankan wajah profesionalnya meski hatinya sudah gatal ingin membalas ucapan pria sombong yang berstatus sebagai tuan muda pertama.
"Apa Xavier belum juga bangun?" tanya Xander sinis, matanya melirik jam tangan rolex nya dengan bosan. "Dia memang tidak pernah berubah sama sekali. Masih saja pemalas dan tak menghargai waktu!"
Gerry berdehem pelan sembari merapikan letak dasinya. "Mungkin sebentar lagi, Tuan Xander. Harap maklum, orang yang benar-benar bekerja di lapangan biasanya butuh waktu istirahat ekstra dibandingkan mereka yang hanya duduk manis di jet pribadi."
"Bekerja di lapangan? Pekerjaannya saja tidak becus! Sejak dulu dia hanya bisa menyusahkan orang tua saja, bukan? Tersesat di hutan selama seminggu itu bukan bekerja, itu namanya memalukan," ucap Xander meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras.
Gerry tersenyum tipis, senyum yang biasanya membuat Xavier ingin menamparnya.
"Tuan Xavier sedang sibuk sekali akhir-akhir ini. Menghadapi tikus-tikus perusahaan yang menggerogoti uang 200 miliar itu butuh tenaga. Tuan tahu sendiri kan, tikus biasanya takut kalau melihat kucing yang sigap. Tapi malah berani kalau melihat... yah, pajangan meja."
Xander menyipitkan mata. "Kau sedang menyindirku?"
"Oh, tentu tidak, Tuan Xander. Saya hanya asisten yang dibayar untuk bicara jujur. Menyindir itu butuh kreativitas. Saya sedang terlalu lelah untuk itu," balas Gerry dengan wajah datar yang sangat menyebalkan.
"Menyuruh tamu menunggu seperti ini. Membuatku muak!" Xander memukul meja makan dengan kasar, membuat para pelayan di sudut ruangan gemetar. "Dia pikir dia siapa? Raja?!"
Gerry tetap tenang, ia bahkan sempat memperbaiki posisi sendok yang sedikit miring akibat gebrakan Xander.
"Tuan Xavier adalah pemilik mansion ini sekaligus isinya. Dan secara teknis, anda adalah tamu. Lebih tepatnya tamu yang tak diundang. Dalam etika sopan santun yang saya pelajari, tamu yang baik biasanya tidak merusak perabotan tuan rumah, kecuali tamu tersebut memang berencana menggantinya dengan yang lebih mahal. Dimana saya sedikit ragu anda sempat memikirkan hal sekecil itu di tengah kesibukan anda berpindah-pindah kota," ujar Gerry berhasil membuat Xander terdiam sesaat.
"Kau benar-benar tidak tahu sopan santun, Gerry! Apa Xavier tidak mendidik mu dengan benar?!" maki Xander.
"Tuan Xavier mendidik saya untuk melindungi asetnya, termasuk harga dirinya. Lagi pula, menunggu sepuluh menit tidak akan membuat bisnis Anda bangkrut, bukan? Kecuali jika bisnis Anda memang sedang di ujung tanduk sehingga setiap detik begitu berharga," sahut Gerry tegas namun tetap dengan nada santai.
Xander terdiam, wajahnya merah padam menahan emosi. Gerry benar-benar asisten yang pintar sekaligus sangat ingin ia lempar keluar jendela.
"Tidak asisten, tidak pemilik rumah sama-sama membuatku naik darah!" gumamnya memaki dalam hati.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂