Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 7.
Namun malam itu, Riana datang ke rumah Simon.
“Mas, aku tidak datang untuk bertengkar,” ucapnya lembut, suaranya mendayu-dayu.
Simon berdiri membelakanginya, memandang kota dari balkon. “Kau membuatku kehilangan dua investor hari ini.”
“Aku juga kehilangan pasien,” balas Riana lirih, suaranya bergetar menahan emosi. “Sementara kau… hanya memikirkan saham dan citra perusahaan.”
Ia menatap Simon dengan kecewa yang tak lagi disembunyikan. “Bukankah dulu kau pernah berkata akan membahagiakanku? Katamu, apa pun yang terjadi, kau akan selalu berdiri di sisiku. Kau bilang… kau mencintaiku.”
Hening.
Riana melangkah mendekat.
“Aku berdiri di sampingmu ketika semua orang mempertanyakan proyekmu,” bisiknya. “Aku selalu membelamu, Mas.”
Simon tidak bergerak.
Riana menyentuh lengan pria itu, perlahan. “Jangan biarkan aku menghadapi ini sendirian.”
Nada suara wanita itu berubah menjadi lebih rendah, dengan serak halus yang terdengar menggoda. “Aku sudah terlalu jauh bersamamu, Mas. Jangan lepaskan aku sekarang...”
Simon akhirnya menoleh, tatapannya goyah. Bukan oleh cinta, melainkan oleh ego yang membutuhkan validasi.
Dan Riana tahu itu, ia tidak perlu memohon lagi. Ia hanya perlu membuat Simon merasa masih diinginkan, masih dipilih.
Malam itu keputusan diambil bukan dengan logika, melainkan dengan kelemahan.
Bibir mereka saling bertaut dalam ciuman yang terburu-buru, seolah diliputi hasrat dan keputusan yang tak lagi dipikirkan matang. Tangan-tangan yang gemetar mulai menanggalkan pakaian dengan tergesa.
Apa yang semula hanya hubungan samar tanpa kepastian, kini telah berubah menjadi pengkhianatan nyata. Batas yang dulu masih mereka jaga, malam itu runtuh sepenuhnya.
Beberapa hari kemudian, Simon menerima laporan tambahan dari tim hukumnya.
“Pak… ada kemungkinan audit yayasan akan dibuka ke publik.”
Simon membeku. “Siapa yang mendorongnya?”
“Permintaan audit berasal dari pihak independen yang terhubung dengan proyek pusat jantung.”
Simon terdiam.
Belum lagi selesai dengan urusan perceraian bersama Arunika, kini kecurigaan lain mengusik benaknya. Simon kembali membuka rekaman gala malam itu, ia memutar ulang momen ketika Arunika mengambil alih keadaan.
Gerakan wanita itu terlalu terukur untuk disebut sekadar spontanitas. Setiap langkahnya presisi, setiap instruksinya tegas dan tepat—bukan seperti seseorang yang hanya berbekal teori dari buku.
Simon memperbesar gambar wajah Arunika, menatapnya lama.
“Tidak mungkin…” gumamnya.
Namun pikirannya mulai menyusun potongan-potongan yang selama ini ia abaikan. Kepergian Arunika yang tidak pernah ia ketahui, ketidak tertarikan wanita itu pada uangnya. Bahkan baru kini ia menyadari, bahwa kartu bank yang diberikannya kepada Arunika selama tiga tahun terakhir tak pernah sekalipun digunakan.
Ketegasan Arunika yang tidak pernah benar-benar ia pahami, dan kalimat Arunika beberapa waktu lalu kembali terngiang.
"Semoga suatu hari nanti kamu mendapatkannya, wanita yang sejajar denganmu.“
Simon merasa, ia mungkin telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar istri.
__
Sementara itu, di ruang kerjanya yang sunyi, Angkasa menerima notifikasi sistem. Upaya akses ilegal ke server proyek—dilacak.
Sumbernya—perangkat milik Riana.
Ia tersenyum tipis.
“Mulai sekarang, kita tidak perlu lagi bertahan. Rilis hasil audit yayasan ke dewan pengawas pusat."
Asistennya menatapnya. ”Termasuk indikasi penggelapan?”
“Semuanya.“
Ia berdiri.
“Dan lindungi identitas Arunika sebagai kepala tim sepenuhnya. Jika ada kebocoran nama…”
“Tenang, Tuan. Sistem akan otomatis mengalihkan ke nama perusahaan, bukan individu.” Jawab Asistennya meyakinkan.
Angkasa mengangguk puas. “Bagus.”
Perang kini resmi terbuka, namun satu hal tetap tak berubah—identitas Arunika masih disembunyikan.
Dan justru karena itulah, semua orang bertarung melawan bayangan. Sementara bayangan itu… sedang mengatur langkah berikutnya dengan tenang.
*****
Ruang VIP Rumah Sakit Cakrawala malam itu dijaga ketat. Lift khusus berhenti langsung di lantai eksekutif. Karpet tebal meredam langkah sepatu mahal Simon yang melangkah penuh percaya diri.
Ia sudah menyusun kalimat-kalimat negosiasi di kepalanya. Jika perlu, ia akan menawarkan investasi tambahan. Jika perlu, ia akan “meminjam” beberapa dokter dari proyek lain untuk memperlihatkan kekuatan jaringan miliknya.
Pintu ruang VIP terbuka.
Seorang pria berdiri di dekat jendela besar dengan pemandangan kota malam. Jas abu gelapnya sederhana, namun aura kepemimpinan yang terpancar darinya tidak bisa diabaikan.
“Selamat malam, Tuan Simon,” ucap pria itu tenang.
“Tuan Angkasa.” Simon menyodorkan tangan.
Angkasa menjabatnya dengan senyum tipis. “Terima kasih sudah datang.”
Mereka duduk berhadapan. Di meja tersaji dokumen, grafik investasi, dan proposal pengembangan fasilitas.
“Saya tertarik dengan visi Anda,” Simon membuka percakapan. “Tapi saya rasa proyek sebesar ini membutuhkan mitra yang lebih berpengalaman.”
Angkasa tidak langsung menjawab, ia justru membuka sebuah map tipis.
“Kami sudah memiliki tim medis yang kuat,” katanya. “Termasuk kepala tim bedah yang akan memimpin pusat jantung terpadu ini.”
Simon tersenyum miring. “Dokter jenius yang identitasnya dirahasiakan itu?”
“Benar.”
“Publikasi tanpa wajah biasanya hanya strategi pemasaran,” Simon menyandarkan tubuhnya. “Investor tidak suka misteri.”
Angkasa menatapnya lekat-lekat. “Justru misteri membuat orang penasaran, dan kompetensi membuat mereka percaya.”
Suasana sempat hening.
“Baiklah,” Simon menghela napas tipis. “Saya ingin bertemu dokter itu.”
“Belum waktunya,” jawab Angkasa datar.
Simon menahan rasa kesalnya, ia tidak terbiasa ditolak secara halus seperti ini. Pertemuan di ruang VIP berakhir tanpa kesepakatan.
Simon keluar dengan rahang mengeras. “Sombong sekali,” gumamnya. “Proyek belum berjalan saja sudah merasa tak tersentuh.”
Di rumah Simon malam itu, suasana sangat buruk. Riana datang membawa beberapa dokumen proyek.
“Mas, kalau kita ingin menekan proyek Cakrawala... kita bisa tawarkan kerja sama dengan dua rumah sakit lama yang belum mereka akuisisi,” ujarnya antusias.
Simon mengangguk. “Kita buat mereka kehilangan suplai dokter spesialis.”
Namun, dua hari kemudian media kembali merilis kabar mengejutkan.
“Pusat Jantung Terpadu Cakrawala Resmi Mendapat Dukungan Donor Internasional.”
Nilai investasinya fantastis.
Simon membanting tablet ke meja. “Ini tidak mungkin! Mereka terlalu cepat mendapatkan dukungan! Ini pasti karena Dokter Jenius itu! Dia memiliki reputasi internasional, beberapa jurnal medis besar pernah memuat penelitiannya. Segera cari tahu siapa dia, apapun caranya!”
Riana tampak gelisah, jemarinya saling bertaut erat. Hubungannya dengan Simon baru saja membaik, dan ia tidak ingin semuanya hancur begitu saja. Jika Simon sampai mengetahui bahwa sosok Dokter Jenius itu adalah Arunika, maka posisinya akan terancam.
Ia tahu betul bagaimana Simon mengambil keputusan. Dan jika kebenaran itu terungkap, sangat mungkin... dirinya yang akan disingkirkan tanpa ragu.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️