Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Rahasia di Balik Kabut Biru
Adrian nyaris tidak bisa merasakan kakinya lagi. Sepatu pantofel yang tadinya mengkilap dan berharga puluhan juta rupiah itu sekarang sudah menyerupai rongsokan kulit yang dibalut lumpur tebal.
Air parit irigasi yang dinginnya minta ampun meresap masuk ke kaus kakinya, membuat setiap langkah terasa seperti menginjak ribuan jarum es. Di sampingnya, Sekar masih terengah-engah, rambutnya yang biasanya diikat rapi kini berantakan dan basah kuyup.
"Kita harus terus jalan, Adrian," bisik Sekar sambil menarik ujung jas Adrian yang sudah sobek di bagian bahu. "Kalau kita diam di sini, kita cuma bakal jadi sasaran empuk pas uap airnya hilang."
Adrian menoleh ke belakang, ke arah titik nol di mana pohon teh induk berdiri. Kabut putih dari uap air panas masih membubung tinggi, tapi ia tahu Baskara dan anak buahnya tidak akan tertipu lama. Suara anjing pelacak di kejauhan terdengar semakin galak, menggonggong membelah kesunyian malam pegunungan.
"Lu tahu jalan pintas ke puncak?" tanya Adrian. Suaranya terdengar parau. Penggunaan kata 'lu' keluar begitu saja, menanggalkan bahasa formal yang biasanya ia gunakan di ruang rapat. Di saat nyawa di ujung tanduk, tata krama korporat terasa sangat tidak berguna.
Sekar mengangguk pelan, matanya menatap cahaya biru yang masih memancar dari puncak gunung. "Ada jalan tikus yang biasa dipakai para pemetik teh liar. Curam, tapi tertutup semak rimbun. Mereka nggak bakal bisa pakai anjing di sana karena baunya ketutup sama tanaman eucalyptus liar."
Tanpa banyak bicara lagi, mereka mulai mendaki. Adrian menggenggam kotak besi itu di dalam dekapan jasnya, seolah benda itu adalah jantungnya sendiri. Cairan perak di dalam tabung kaca itu sesekali berkilau, memantulkan cahaya biru dari langit yang tampak semakin magis sekaligus mengerikan.
"Sekar," panggil Adrian di tengah pendakian yang menguras tenaga. "Soal Proyek Malabar 1998... Lu beneran nggak tahu apa-apa?" Sekar terdiam sejenak, langkahnya melambat. Ia memegang batang pohon kecil untuk menyeimbangkan tubuhnya. "Gua cuma denger desas-desus dari orang-orang tua di desa. Katanya, dulu bokap lu kerja sama sama ilmuwan dari luar negeri.
Mereka nggak cuma pengen bikin teh kualitas terbaik, tapi pengen bikin semacam 'super-nutrisi' yang bisa bikin tanaman tumbuh di kondisi ekstrem sekalipun. Tapi ada yang salah. Eksperimennya meledak, dan area puncak ditutup selamanya." "Nutrisi?" Adrian menatap tabung di tangannya. "Kalau cuma nutrisi tanaman, kenapa Baskara sampai mau bunuh kita buat dapetin ini?"
"Mungkin karena itu bukan cuma buat tanaman, Adrian," jawab Sekar pendek, lalu ia kembali melanjutkan pendakian. Jalur yang mereka lewati benar-benar gila. Adrian harus merangkak di antara semak-semak berduri yang menyayat kulit lengannya.
Berkali-kali ia terpeleset tanah gembur, namun amarah terhadap pengkhianatan Baskara menjadi bahan bakar utama yang membuatnya tetap bergerak. Ia teringat bagaimana Baskara selalu bersikap sopan selama puluhan tahun, membukakan pintu untuknya, dan memberinya nasihat-nasihat hukum yang ia percaya mentah-mentah. Ternyata, di balik jas abu-abu kusam itu, tersimpan nafsu yang jauh lebih besar dari seluruh Dirgantara Group.
Setelah hampir satu jam mendaki, pepohonan teh mulai menghilang, digantikan oleh jajaran pohon pinus yang tinggi menjulang dan rapat. Suara gonggongan anjing mulai menjauh, namun getaran di bawah tanah justru semakin terasa kuat. Getaran itu ritmik, seperti detak jantung raksasa yang sedang terbangun dari tidur panjangnya.
"Kita udah deket," bisik Sekar. Ia menunjuk ke sebuah gerbang kawat berduri yang sudah jebol di beberapa bagian. Di balik gerbang itu, berdiri sebuah bangunan beton dua lantai yang sebagian besar dindingnya sudah tertutup lumut dan tanaman merambat.
Bangunan itu tidak punya jendela. Pintu masuknya terbuat dari baja tebal yang sekarang sedang terbuka sedikit, memancarkan cahaya biru terang dari dalamnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, namun udara di sekitar bangunan itu terasa hangat sanat kontras dengan suhu dingin di luar.
"Tunggu," Adrian menahan pundak Sekar. "Kenapa pintunya kebuka? Lu bilang nggak ada yang bisa masuk ke sini." "Gua nggak tahu. Harusnya tempat ini terkunci mati dari luar," jawab Sekar, wajahnya tampak pucat di bawah sinar biru.
Mereka melangkah masuk dengan sangat hati-hati. Di dalam, pemandangannya jauh dari bayangan Adrian tentang laboratorium tua yang berdebu. Ruangan itu bersih, bahkan sangat steril. Lampu-lampu LED biru terpasang di langit-langit, dan deretan komputer kuno namun masih menyala tampak sedang melakukan pemrosesan data secara otomatis. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tangki silinder besar berisi air jernih, dan di dasarnya, ribuan pucuk teh terlihat melayang-layang seolah sedang menari.
Adrian mendekati salah satu monitor. Barisan angka dan grafik muncul di sana angka yang jauh lebih rumit dari grafik bursa saham mana pun. "Ini bukan lab teh biasa," gumam Adrian. Matanya tertuju pada sebuah judul dokumen di layar: Resonansi Molekuler: Proyek Bio-Genetik Malabar. "Bokap gua... dia bukan lagi nanem teh. Dia lagi ngerancang ulang struktur DNA tumbuhan supaya bisa nyimpen energi listrik."
"Maksud lu?" Sekar mendekat, dahinya berkerut.
"Teh ini... kalau cairan perak ini dimasukin ke sistemnya, tanaman ini bakal jadi baterai organik terbesar di dunia. Satu perkebunan Malabar bisa nyuplai listrik buat seluruh pulau Jawa tanpa butuh batubara atau nuklir. Ini bukan cuma soal pertanian, Sekar. Tapi ini soal monopoli energi dunia."
Adrian terduduk di salah satu kursi putar yang masih berfungsi. Kepalanya berdenyut. Ayahnya yang ia kira hanya seorang pebisnis tua yang gagal, ternyata adalah seorang visioner yang sedang memegang kunci masa depan energi dunia. Dan Baskara tahu itu. Baskara bukan ingin menjual tanah ini buat resor tapi dia ingin menjual teknologi ini ke penawar tertinggi di pasar gelap internasional.
"Berarti surat bokap lu tadi..." Sekar menatap tabung perak itu. "Hancurkan atau bangkitkan?" "Kalau gua hancurin, penelitian bokap gua selama tiga puluh tahun bakal musnah. Tapi kalau gua bangkitin..." Adrian menatap tangki besar di depannya. "Gua nggak tahu apa efek sampingnya buat alam ini."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan bergema dari arah tangga menuju lantai dua. "Analisis yang tajam, Adrian. Persis seperti yang aku harapkan dari seorang 'Shark'."
Baskara muncul dari kegelapan tangga. Namun, kali ini ia tidak membawa senjata. Ia membawa sebuah tablet digital di tangannya dan tersenyum lebar. Di belakangnya, berdiri seorang pria tinggi tegap dengan jas laboratorium putih yang sangat bersih sosok yang wajahnya sangat familiar bagi Adrian.
"Ayah?" Suara Adrian tercekat di tenggorokan. Pria itu, Dirgantara Senior, menatap anaknya dengan tatapan datar yang dingin. Tidak ada raut haru, tidak ada pelukan hangat. Ia hanya memperbaiki posisi kacamatanya dan melirik ke arah tabung perak di tangan Adrian.
"Kau terlambat sepuluh menit dari jadwal simulasi yang kubuat, Adrian," ucap ayahnya dengan suara berat yang masih sama seperti dulu. "Dan kau membawa orang luar ke dalam fasilitas rahasia ini." Adrian merasa dunianya kembali jungkir balik. "Ayah... Ayah belum meninggal? Baskara bilang Ayah serangan jantung. Dia bilang kita bangkrut. Dia bilang semuanya disita!"
Ayah Adrian berjalan mendekat, setiap langkahnya terdengar menggema di ruangan steril itu. "Bangkrut adalah cara termudah untuk menghilang dari radar dunia, Adrian. Aku butuh alasan supaya kurator dan musuh bisnisku berhenti mencari. Dan aku butuh kau di sini, untuk membawa komponen terakhir yang ada di tanganmu itu."
"Maksud Ayah apa?"
"Baskara bekerja untukku. Semuanya adalah skenario, Adrian. Pengejaran di hutan, lintah darat, dokumen rahasia... itu semua adalah ujian. Aku ingin tahu apakah kau masih memiliki insting bertahan hidup di luar zona nyamanmu, atau kau sudah menjadi terlalu lembek karena kehidupan kota."
Sekar mundur selangkah, tangannya menggigil. "Jadi... semua ini cuma sandiwara? Ketakutan warga desa, ancaman penyitaan... kalian cuma main-main sama nyawa kami?" Dirgantara Senior melirik Sekar seolah wanita itu hanyalah serangga kecil.
"Pengorbanan kecil untuk kemajuan besar, Nona. Sekarang, Adrian, berikan tabung itu. Kita akan mengaktifkan fase terakhir. Malabar akan menjadi pusat dunia baru."
Adrian menatap ayahnya, lalu menatap Baskara yang berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kemenangan. Ia kemudian menatap Sekar yang tampak sangat hancur karena merasa dikhianati oleh realita.
Ponsel di saku jas Adrian tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun berisi kode rahasia yang hanya diketahui oleh Adrian dan ibunya yang sudah lama tiada. Jangan percaya pada pria yang berdiri di depanmu. Itu bukan ayahmu.
Adrian membeku. Ia menatap pria yang mengaku sebagai ayahnya itu sekali lagi. Detail kecil mulai terlihat cara dia berdiri, nada bicaranya yang sedikit terlalu mekanis, dan bekas luka kecil di telinga kirinya yang seharusnya tidak ada di sana.
"Kenapa diam, Adrian? Berikan tabungnya," desak pria itu, langkahnya semakin mendekat.
Adrian mengerutkan kening, tangannya meraba-raba tombol darurat di bawah meja laboratorium yang ia duduki tadi. "Lu siapa sebenarnya?" tanya Adrian dengan nada dingin yang kembali seperti saat ia berada di lantai 50.
Pria yang menyerupai ayahnya itu berhenti melangkah. Senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi yang sangat kosong dan tidak manusiawi. Di saat yang sama, cahaya biru di ruangan itu berubah menjadi merah darah, dan suara alarm mulai menderu dari seluruh penjuru laboratorium.
"Deteksi kegagalan identitas," sebuah suara komputer bergema. "Protokol eliminasi diaktifkan." Pintu baja di belakang mereka tiba-tiba tertutup rapat, mengunci Adrian dan Sekar di dalam bersama dua pria yang kini menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya.
Siapakah sosok yang menyerupai ayah Adrian tersebut, dan mengapa Baskara bekerja sama dengan sesuatu yang tampak seperti hasil eksperimen bio-genetik yang gagal? Dengan pintu yang terkunci dan sistem keamanan yang berubah menjadi mode pembunuh, mampukah Adrian dan Sekar bertahan hidup sementara rahasia gelap Dirgantara Group mulai terungkap satu per satu?
semangat update terus tor..