NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

BAB 8

 RESONANSI DI BALIK BADAI

​Langit Jakarta sore itu tidak memberikan peringatan. Tidak ada mendung yang menggantung lama, hanya perubahan mendadak dari abu-abu pucat menjadi hitam pekat dalam hitungan menit. Di lokasi proyek Green Oasis, para pekerja sudah membubarkan diri sejak instruksi penghentian kerja karena cuaca ekstrem dikeluarkan. Suara mesin-mesin berat yang biasanya memekakkan telinga kini digantikan oleh deru angin yang membawa aroma tanah basah dan besi.

​Adrian Aratama berdiri di dalam kontainer kantor lapangan yang sudah dimodifikasi menjadi ruang rapat darurat. Ia menatap ke luar jendela kaca kecil yang mulai buram oleh titik-titik air. Di sampingnya, Aisha sedang sibuk merapikan gulungan denah yang nyaris basah terkena tempias.

​"Sial," umpat Adrian pelan saat kilat menyambar, diikuti dentuman guntur yang menggetarkan dinding logam kontainer. "Mobil logistik belum juga datang, dan sopirku terjebak banjir di jalan akses utama."

​Aisha hanya menoleh sekilas, lalu kembali pada kesibukannya. "Hujan adalah rezeki, Pak Adrian. Mungkin alam ingin Anda beristirahat sejenak dari angka-angka."

​Adrian mendengus, ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. "Istirahat adalah pemborosan waktu. Dan 'rezeki' tidak akan membayar denda keterlambatan proyek jika pengecoran ini tertunda lagi."

​Lampu di dalam kontainer berkedip-kedip, lalu padam sepenuhnya. Pet! Kegelapan menyelimuti mereka, hanya menyisakan cahaya kebiruan dari kilat yang sesekali menyambar di luar.

​"Hebat sekali," suara Adrian terdengar sarkas di tengah kegelapan. Ia meraba saku jasnya, mengeluarkan ponsel, dan menyalakan lampu flashlight. Cahaya putih tajam itu memantul di dinding logam, menciptakan bayangan panjang yang dramatis.

​Aisha tetap diam. Ia duduk di salah satu kursi lipat, sosoknya yang tertutup pakaian gelap nyaris menyatu dengan bayang-bayang.

​"Kau tidak takut kegelapan?" tanya Adrian. Ia mengarahkan lampu ponselnya ke arah Aisha, namun segera mengalihkannya karena merasa itu terlalu kasar. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi lampu menghadap ke atas, menciptakan pendaran cahaya yang lembut di langit-langit.

​"Kegelapan hanya ketiadaan cahaya, Pak. Yang lebih menakutkan adalah kehilangan arah saat sedang terang," jawab Aisha tenang.

​Adrian duduk di kursi seberang meja, cukup jauh namun di ruang sempit itu, ia bisa mendengar deru napas Aisha yang teratur di sela bunyi hujan yang menghantam atap kontainer dengan beringas. Suasana mendingin dengan cepat. Suhu AC yang mati digantikan oleh hawa lembap yang menusuk tulang.

​"Hanya kita berdua di sini, Aisha. Tidak ada kontraktor, tidak ada investor, dan tidak ada cetak biru yang perlu dikritik," Adrian memulai, suaranya kini tidak lagi sekaku biasanya. "Katakan padaku... siapa kau sebenarnya di balik semua profesionalitas ini?"

​Aisha terdiam sejenak. "Saya hanya seorang arsitek yang sedang mencoba menyelesaikan kontraknya, Pak."

​"Jangan beri aku jawaban korporat itu," potong Adrian cepat. "Aku ingin tahu apa yang membuatmu tetap bangun di pagi hari selain karena kewajiban sholatmu. Apa kau punya hobi yang tidak berhubungan dengan kalkulus? Apa kau pernah... tertawa sampai menangis karena hal bodoh?"

​Aisha tampak sedikit menggeser posisi duduknya. "Saya suka mengamati bintang. Di balik teleskop, saya diingatkan betapa kecilnya kita. Dan ya, saya bisa tertawa. Adik laki-laki saya sering menceritakan lelucon yang sangat garing, tapi saya tetap tertawa hanya untuk menghargai usahanya."

​Adrian tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak bisa dilihat Aisha dengan jelas. "Bintang? Itu sangat tidak praktis. Mereka jauh, mati, dan tidak memberikan keuntungan finansial."

​"Tapi mereka memberikan ketenangan, Pak Adrian. Sesuatu yang sepertinya tidak Anda miliki meskipun Anda punya segalanya di dunia ini."

​Adrian tertawa kering. "Ketenangan adalah untuk orang-orang yang tidak punya ambisi. Aku lebih suka adrenalin."

​"Adrenalin akan habis, Pak. Tapi ketenangan adalah fondasi. Anda membangun gedung dengan fondasi yang dalam, tapi Anda membangun hidup Anda di atas permukaan yang retak."

​Percakapan itu menggantung. Hujan di luar semakin menjadi-jadi, menciptakan isolasi sempurna dari dunia luar. Adrian merasakan sebuah tarikan aneh. Di tengah kegelapan dan kedinginan ini, keberadaan Aisha terasa seperti satu-satunya titik hangat yang nyata.

​"Kenapa kau tidak pernah melepas kain itu saat bersamaku?" suara Adrian merendah, bukan lagi sebagai atasan, tapi sebagai seorang pria yang didorong rasa penasaran yang menyiksa. "Aku sudah membela profesionalismemu. Aku sudah mempercayakan proyek terbesarku padamu. Apa aku masih dianggap sebagai 'orang asing' yang berbahaya?"

​Aisha menatap ke arah pendar cahaya di meja. "Ini bukan soal kepercayaan, Pak Adrian. Ini soal prinsip. Cadar ini adalah cara saya menjaga diri, cara saya mendefinisikan siapa yang berhak melihat apa yang saya simpan. Ini tidak ada hubungannya dengan seberapa baik atau buruknya Anda sebagai manusia."

​"Itu egois," tuduh Adrian, meski nadanya tidak marah. "Kau bisa melihatku secara utuh, membaca setiap ekspresiku, sementara aku hanya bisa menebak-nebak melalui matamu. Ini adalah ketidakadilan visual."

​"Mungkin memang adil," balas Aisha halus. "Anda sudah terbiasa mendapatkan apa pun yang ingin Anda lihat. Mungkin sesekali, Anda perlu belajar untuk menghargai sesuatu yang tersembunyi."

​Adrian berdiri. Ia merasa gelisah. Ia berjalan mendekat ke arah Aisha, langkahnya pelan namun bertujuan. Ia berhenti tepat di depan kursi Aisha. Aroma hujan yang bercampur dengan sedikit wangi kayu cendana dari pakaian Aisha menyerang indranya.

​"Bagaimana jika aku bilang aku ingin menghargainya dengan cara melihatnya?" bisik Adrian. Jarak mereka kini sangat dekat. Di bawah cahaya remang, mata Aisha tampak berkilat, mencerminkan keraguan sekaligus keteguhan.

​Aisha tidak mundur. "Maka Anda sedang mencoba meruntuhkan gedung yang belum siap saya huni, Pak Adrian."

​Adrian merasakan tenggorokannya kering. Ia bisa merasakan hawa hangat dari napas Aisha yang membelai kain cadarnya. Secara impulsif, tangan Adrian terangkat. Ia tidak bermaksud membukanya—ia tahu batas—tapi jarinya menyentuh tepian kain hitam itu di bagian pelipis Aisha, hanya untuk merasakan teksturnya.

​Aisha membeku. "Pak Adrian... jangan."

​Adrian menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api. "Maaf. Aku... aku hanya tidak suka teka-teki yang tidak bisa kupecahkan."

​"Saya bukan teka-teki, Pak. Saya manusia. Dan manusia bukan untuk dipecahkan, tapi untuk dimengerti," ucap Aisha, suaranya sedikit bergetar, mengkhianati ketenangan yang selama ini ia bangun.

​Suasana menjadi sangat tegang. Rasa gengsi yang tinggi membuat Adrian segera memutar tubuhnya, kembali ke kursinya dan berdeham keras. "Kurasa hujannya mulai reda. Aku akan memeriksa apakah ada sinyal untuk menelepon bantuan."

​"Hujannya masih sangat deras, Pak," kata Aisha, mencoba mengembalikan situasi ke jalur normal. "Jangan memaksakan diri keluar."

​"Aku tidak suka terjebak," gerutu Adrian, kembali ke mode defensifnya yang dingin. "Terjebak di sini bersamamu membuatku berpikir hal-hal yang tidak logis."

​Aisha hanya menunduk. "Logika tidak selalu punya jawaban untuk segala hal, Pak Adrian. Kadang, hati tahu lebih dulu sebelum otak sempat menghitung."

​Adrian tertegun mendengar kalimat itu. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding logam kontainer yang dingin. Di luar, badai masih mengamuk, namun badai di dalam dadanya terasa jauh lebih berbahaya. Ia merasa seperti seorang arsitek yang baru saja menyadari bahwa tanah tempat ia berpijak adalah pasir hisap.

​"Aisha?"

​"Ya, Pak?"

​"Tentang bunga anggrek itu... itu bukan untuk menghias ruanganmu yang suram. Itu karena aku tahu kau menyukai hal-hal yang tumbuh dengan lambat namun kuat. Jangan tanya bagaimana aku tahu."

​Aisha terdiam cukup lama. "Terima kasih, Pak Adrian. Itu adalah bunga favorit saya. Meskipun saya tahu, Anda pasti memerintahkan Sarah untuk mencari tahu lewat berkas pribadi saya."

​Adrian mendengus kecil. "Kau terlalu pintar untuk ditipu."

​"Dan Anda terlalu gengsi untuk mengaku bahwa Anda peduli," balas Aisha berani.

​Keduanya kemudian terdiam. Tidak ada lagi kata-kata. Mereka hanya duduk di sana, di tengah kegelapan yang diterangi satu lampu ponsel, mendengarkan simfoni hujan. Dingin, namun entah bagaimana, ada kehangatan yang mulai merayap di antara celah-celah gengsi mereka. Bagi Adrian, ini adalah pertama kalinya ia merasa bahwa diam tidak harus berarti kosong. Dan bagi Aisha, ini adalah pertama kalinya ia merasa bahwa di balik kedinginan Adrian, ada seorang pria yang sangat kesepian yang sedang mencari cahaya.

​Satu jam kemudian, lampu sorot mobil logistik akhirnya terlihat dari kejauhan, membelah kegelapan lokasi proyek.

​"Bantuan sudah datang," kata Adrian sambil berdiri, suaranya kembali ke nada CEO yang tegas. Ia merapikan jasnya, mematikan lampu ponselnya seiring dengan lampu kontainer yang tiba-tiba menyala kembali.

​Cahaya lampu neon yang terang mendadak terasa menyakitkan setelah keintiman dalam kegelapan tadi. Mereka kembali menjadi dua orang asing yang terikat kontrak kerja.

​"Mari, Pak Adrian. Masih banyak yang harus kita selesaikan besok," ucap Aisha sambil mengemas tasnya, kembali menjadi sosok profesional yang kaku.

​"Ya," jawab Adrian singkat. Ia berjalan keluar tanpa menoleh lagi, menyembunyikan wajahnya yang sedikit kacau dari pandangan Aisha.

​Saat mobil membawanya pulang, Adrian menempelkan tangannya pada kaca jendela yang dingin. Ia masih bisa merasakan tekstur kain cadar Aisha di ujung jarinya. Ia tahu, mulai malam ini, "Green Oasis" bukan lagi sekadar proyek bisnis baginya. Itu telah menjadi medan pertempuran antara egonya yang setinggi langit dan perasaannya yang mulai membumi.

​Dan dia tidak yakin apakah dia ingin memenangkan pertempuran itu.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!