Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Puncak bukit Desa Asih sore itu menawarkan panorama yang sanggup menghentikan detak jantung sejenak. Dari titik ini, hamparan sawah terlihat seperti permadani hijau yang dijahit rapi oleh aliran sungai perak di tengahnya. Langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan pinus.
"Wahh, bagus banget pemandangan dari atas sini ternyata!" seru Mika antusias. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, menyatukan jempol dan telunjuknya hingga membentuk bingkai persegi layaknya sebuah kamera, mencoba membingkai matahari yang mulai tenggelam.
Mika menoleh ke arah Alvaro yang berdiri di sampingnya dengan tangan masuk ke saku celana. "Makasih ya Pak Kades Fir'aun udah ajak saya ke sini."
Alvaro yang sedang menikmati angin sore langsung menoleh cepat, keningnya berkerut dalam. "Fir'aun?"
Mika nyengir tanpa rasa bersalah. "Iya. Kan nggak boleh panggil Dajjal lagi, jadi saya ganti yang sedikit... manusiawi? Kan Fir'aun itu manusia, meskipun ya... gitu deh."
Alvaro mendengus, namun ada gurat senyum tipis yang tak mampu ia sembunyikan. "Terserah kamu, Mikayla. Setidaknya kasta saya naik sedikit dari makhluk gaib ke raja mesir."
Mereka kemudian duduk di sebuah batang pohon tumbang yang menghadap langsung ke lembah. Keheningan sempat menyelimuti mereka, hanya suara jangkrik dan gesekan daun yang terdengar. Namun, suasana yang tadinya ceria perlahan berubah menjadi sedikit melankolis saat Alvaro mulai menatap jauh ke cakrawala.
"Dulu, saya pernah membawa seseorang ke sini," ucap Alvaro tiba-tiba. Suaranya rendah, nyaris berbisik namun terdengar sangat berat.
Mika tertegun, ia menahan napas, merasa bahwa ia baru saja membuka sebuah pintu rahasia yang selama ini terkunci rapat. "Seseorang? Pacar Bapak?"
Alvaro mengangguk pelan. "Namanya Widya. Gadis kota, sama seperti kamu. Kami sudah menjalin hubungan selama tiga tahun sejak saya masih kuliah di kota. Saat saya memutuskan pulang untuk mengabdi di desa ini setelah ayah saya meninggal, saya memintanya ikut."
Mika mendengarkan dengan seksama, ia bisa merasakan ada getaran luka dalam nada bicara Alvaro.
"Dua hari sebelum acara pertunangan kami di desa ini, dia pergi. Tanpa pesan, tanpa pamit. Dia hanya meninggalkan sebuah surat di meja balai desa yang intinya... dia tidak sanggup hidup di tempat yang menurutnya 'mati' seperti ini. Dia kabur kembali ke kota dan sebulan kemudian saya dengar dia sudah bertunangan dengan pria lain," lanjut Alvaro.
Mika terdiam seribu bahasa. Ia menatap profil wajah Alvaro dari samping. Rahang pria itu mengeras, namun matanya memancarkan kesepian yang teramat sangat.
"Kasihan banget ya bapak," celetuk Mika, mencoba memecah suasana yang terlalu berat dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos. "Makanya jadi jomblo akut di umur yang udah waktunya rematik begini. Trauma ya, Pak?"
Alvaro menoleh, menatap Mika dengan pandangan tajam namun tak marah. "Rematik? Saya masih sangat bugar untuk menggendongmu keliling bukit ini, Mikayla."
Mika tertawa kecil, tapi rasa penasaran mengalahkan niatnya untuk bercanda. "Emm, tapi ngomong-ngomong, kenapa mantan bapak kabur? Maksud saya... selain alasan desa ini 'mati'. Apa Bapak terlalu kaku? Apa Bapak jarang kasih dia bunga atau jangan-jangan Bapak malah kasih dia kuliah umum setiap kali kencan?"
Alvaro terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. "Mungkin. Saya terlalu fokus dengan urusan warga, saya pikir cinta saja cukup untuk membuatnya bertahan di tempat terpencil ini. Ternyata saya salah. Bagi sebagian orang, kenyamanan fasilitas lebih utama daripada kenyamanan hati."
Mika menunduk, memainkan ujung sepatunya yang terkena tanah merah. Hatinya mencelos. Ia menyadari bahwa di balik sikap "Dajjal" atau "Fir'aun" yang selama ini ia sematkan pada Alvaro, pria ini hanyalah seorang manusia yang pernah hancur karena pengabdiannya.
"Serius nih saya mau tanya," Mika menoleh, menatap mata Alvaro dengan tulus. "Kenapa bapak jadi curhat dan ceritain masalah ini ke saya, ya? Maksud saya... Bapak kan kaku banget. Kenapa harus saya?"
Alvaro tidak langsung menjawab. Ia menatap Mika cukup lama. Angin bukit memainkan helai rambut Mika yang kuncirannya mulai melonggar.
"Mungkin karena kamu berbeda," jawab Alvaro pelan. "Kamu mengeluh setiap hari, kamu marah-marah soal panas dan debu, kamu panggil saya dengan nama-nama aneh... tapi kamu tidak pergi. Kamu malah nyemplung ke lumpur, kamu bantu warga tanam cabai, dan kamu tetap di sini memperjuangkan filter air itu."
Alvaro mendekat sedikit, membuat jarak di antara mereka menyempit. "Saya melihat kamu punya sesuatu yang tidak dimiliki Widya. Kamu punya 'nyawa' yang membuat desa ini tidak lagi terasa mati bagi saya."
Mika merasa jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat. Ini bukan lagi soal perdebatan irigasi atau laporan KKN. Ini adalah pengakuan yang sangat intim.
"Pak..." bisik Mika. "Jangan mulai deh. Nanti saya beneran baper, bapak mau tanggung jawab?"
Alvaro menyeringai, kali ini senyumannya sangat mematikan. "Saya Kepala Desa, Mikayla. Tanggung jawab adalah makanan sehari-hari saya. Jadi, kalau kamu 'baper', itu masuk dalam daftar urusan yang harus saya selesaikan."
Mika membuang muka, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah merah padam. "Dih, pede banget Fir'aun ini!"
Matahari benar-benar telah tenggelam, menyisakan sisa cahaya ungu di langit. Alvaro berdiri dan mengulurkan tangannya pada Mika.
"Ayo balik. Teman-temanmu pasti sudah mencari. Terutama Arga, dia pasti bingung harus lapor apa ke dosenmu kalau koordinatorku ini hilang dibawa kades."
Mika menerima uluran tangan Alvaro. Tangan itu terasa begitu besar, kasar karena kerja keras, namun memberikan kehangatan yang sangat menenangkan. Saat mereka berjalan turun menyusuri jalan setapak, Alvaro tidak melepaskan tangan Mika segera.
"Mikayla," panggil Alvaro saat mereka hampir sampai di pemukiman.
"Ya?"
"Terima kasih sudah mau mendengarkan curhatan 'orang rematik' ini."
Mika tertawa lepas. "Sama-sama, Pak. Tapi tenang aja, kalau Bapak butuh tukang pijat buat rematiknya, saya bisa rekomendasiin Siti. Dia jago banget kalau soal urut-urut."
Alvaro menggelengkan kepala, tertawa kecil. "Saya tidak butuh Siti. Saya hanya butuh kamu tidak panggil saya Dajjal lagi besok pagi di balai desa."
"Kita lihat saja nanti, Pak Kades!"
Malam itu, perjalanan pulang terasa sangat singkat. Mika tidak lagi memikirkan sisa 30 harinya di desa ini dengan perasaan terbebani. Justru, ia mulai takut jika 30 hari itu akan berlalu terlalu cepat. Di balik punggung Alvaro yang berjalan di depannya, Mika menyadari bahwa ia baru saja jatuh cinta pada tempat ini—dan mungkin, pada pria kaku yang sedang memandu jalannya di kegelapan.