"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Provokasi Pertama
Bab 4: Provokasi Pertama
Lampu jalanan Jakarta mulai berpendar satu per satu, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas aspal saat limosin hitam Tuan Wijaya membelah kemacetan. Di kursi belakang, Alana menyandarkan kepala pada jendela, menatap kosong ke deretan toko yang mulai tutup. Ketakutan yang sempat menyergapnya di kampus tadi siang kini berganti menjadi rasa sesak yang aneh.
Ia melirik ke depan. Punggung Kenzi tampak sekaku batu karang. Pria itu tidak bergerak sedikit pun sejak mereka meninggalkan gerbang universitas, matanya terus terpaku pada spion luar dan jalanan di depan.
"Kau berlebihan, Kenzi," suara Alana memecah kesunyian kabin. "Mungkin yang kau lihat di perpustakaan tadi hanya teknisi AC atau mahasiswa yang membawa tripod kamera. Ayah bilang kau ahli deteksi, tapi menurutku kau hanya paranoid."
Kenzi tidak menoleh. "Paranoia adalah cara saya tetap hidup sampai hari ini, Nona. Dalam statistik keamanan, lebih baik salah mendeteksi seratus ancaman palsu daripada melewatkan satu ancaman nyata."
"Kau bicara seolah-olah hidup ini adalah lembar Excel," cibir Alana. "Apa kau pernah merasa takut? Atau marah? Atau setidaknya... bosan?"
"Emosi menghambat waktu reaksi," jawab Kenzi datar. "Dan waktu reaksi adalah satu-satunya hal yang berdiri di antara Anda dan bahaya saat ini."
Tepat saat kalimat itu selesai, sebuah van berwarna perak mendadak memotong jalur limosin, memaksa sopir menginjak rem dengan keras. Alana terjerembap ke depan, untungnya tangan Kenzi melesat ke belakang secara instan, menahan bahu Alana agar tidak menghantam kursi depan.
"Tetap di posisi rendah!" perintah Kenzi. Suaranya tidak lagi dingin—ia kini memiliki nada tajam yang memotong udara.
Dari arah belakang, dua sepeda motor besar menutup jalur pelarian mereka. Enam pria turun dari van, semuanya mengenakan jaket kulit gelap dan membawa balok besi serta rantai. Ini bukan serangan profesional seperti sniper tadi siang; ini adalah provokasi fisik kasar yang dirancang untuk mengintimidasi.
"Sopir, kunci semua pintu. Jangan keluar apa pun yang terjadi," perintah Kenzi sambil membuka pintu penumpang depan.
"Kenzi! Apa yang kau lakukan? Mereka banyak sekali!" Alana berteriak, suaranya naik satu oktav karena panik.
Kenzi melangkah keluar tanpa menjawab. Ia menutup pintu mobil dengan tenang, seolah-olah ia hanya sedang turun untuk membeli koran. Angin malam menerpa kemeja taktisnya, menonjolkan otot-otot lengannya yang kencang.
"Bocah sombong," teriak pria paling depan, seorang raksasa dengan tato di lehernya. "Serahkan gadis itu, dan kami mungkin akan membiarkanmu pulang tanpa cacat."
Kenzi tidak membalas provokasi itu. Di otaknya, sebuah simulasi tempur sedang berjalan dengan kecepatan cahaya.
Enam target. Tiga membawa senjata tumpul panjang, dua membawa rantai, satu pemimpin di belakang dengan tangan di balik pinggang—kemungkinan pisau atau senjata api kecil. Jarak tempuh: 10 meter. Waktu optimal penyelesaian: di bawah 45 detik.
"Saya tidak punya waktu untuk bernegosiasi dengan amatir," ujar Kenzi. Suaranya rendah, hampir seperti geraman predator.
Si raksasa mengayunkan balok besinya. Kenzi bergerak.
Gerakannya bukan seperti bodyguard yang diajarkan di sekolah keamanan. Itu adalah gerakan pembunuh yang dirancang untuk efisiensi total. Saat balok besi itu hampir mengenai kepalanya, Kenzi merunduk hanya beberapa milimeter—margin minimal yang diperlukan—lalu menghantamkan telapak tangannya ke dagu lawan.
Target satu: Lumpuh.
Dua pria dengan rantai menyerang dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan. Kenzi menangkap rantai target kedua, menariknya dengan sentakan yang mematahkan keseimbangan lawan, lalu menggunakan momentum itu untuk menendang dada target ketiga. Terdengar bunyi krak yang mengerikan dari tulang rusuk yang retak.
Dari dalam mobil, Alana menonton dengan napas tertahan. Matanya terbelalak. Ia sering melihat aksi bela diri di film, tapi apa yang dilakukan Kenzi berbeda. Tidak ada gerakan tambahan. Tidak ada gaya yang pamer. Setiap pukulan Kenzi mendarat di titik saraf, persendian, atau organ vital. Kenzi bergerak seperti mesin yang mematikan, menari di antara ayunan besi tanpa satu pun keringat yang jatuh.
Detik ke-20.
Tiga orang sudah terkapar di aspal, merintih kesakitan. Tiga lainnya ragu-ragu. Pemimpin mereka, yang tadinya congkak, kini pucat pasi. Ia menarik sebuah belati dari balik pinggangnya.
Kenzi berjalan mendekat. Langkahnya tenang, namun matanya memancarkan kegelapan yang membuat pria berbelati itu gemetar. "Gunakan benda itu jika kau siap mati hari ini," desis Kenzi.
Si pemimpin berteriak frustrasi dan menerjang. Kenzi menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya 180 derajat hingga sendinya lepas dari mangkuknya, lalu dengan satu gerakan halus, ia merebut belati itu dan menancapkannya ke ban van perak milik mereka.
Pria itu jatuh berlutut, memegangi lengannya yang lunglai.
Detik ke-28.
Kenzi berdiri di tengah kerumunan pria yang mengerang di tanah. Ia merapikan kerah kemejanya yang sedikit bergeser, lalu berbalik menuju mobil. Tidak ada napas yang memburu. Tidak ada kilat kepuasan di wajahnya. Baginya, ini hanyalah eliminasi hambatan mekanis.
Ia membuka pintu mobil dan masuk kembali ke kursi depan. "Jalan," ucapnya pada sopir yang masih mematung dengan mulut terbuka.
Mobil melaju meninggalkan lokasi kejadian. Keheningan di dalam kabin kini terasa sepuluh kali lebih berat. Alana menatap punggung Kenzi dengan perasaan yang campur aduk antara lega, takut, dan rasa ingin tahu yang besar.
"Kenzi..." Alana memulai, suaranya bergetar. "Kau... dari mana kau belajar bertarung seperti itu?"
"Pelatihan militer standar," jawab Kenzi pendek.
"Bohong," potong Alana cepat. "Aku pernah melihat latihan polisi dan tentara di televisi. Mereka tidak bergerak sepertimu. Kau tidak hanya melumpuhkan mereka, kau menghancurkan mereka dengan presisi yang... menakutkan. Siapa kau sebenarnya?"
Kenzi menatap spion tengah, bertemu mata dengan Alana. "Saya adalah orang yang dibayar Ayah Anda untuk menjamin Anda selamat malam ini. Detail lainnya tidak relevan bagi Anda, Nona."
Alana terdiam, namun otaknya bekerja keras. Logikanya yang biasanya skeptis kini mulai menyusun kepingan teka-teki. Teknik bertarung yang terlalu mematikan, ketenangan yang tidak wajar di bawah tekanan, dan kemampuan deteksi yang melampaui standar bodyguard biasa. Pria ini bukan sekadar pengawal. Ada kegelapan di masa lalunya yang jauh lebih dalam dari yang ayahnya ceritakan.
Kau menyembunyikan sesuatu, Kenzi, batin Alana. Dan aku akan mencari tahu apa itu.
Di depan, Kenzi memejamkan mata sejenak, namun indranya tetap waspada. Ia tahu serangan tadi hanyalah 'umpan' untuk melihat kemampuannya. Musuh-musuh Wijaya sekarang tahu bahwa Alana dilindungi oleh seseorang yang berbahaya.
Namun, yang tidak mereka ketahui adalah bahwa bahaya terbesar justru sedang duduk tepat di depan Alana, menunggu instruksi dari organisasi untuk memulai penghancuran yang sebenarnya.
"Kita hampir sampai," ucap Kenzi dingin saat gerbang kediaman Wijaya mulai terlihat.
Malam itu, saat Alana turun dari mobil, ia tidak lagi memaki atau mencoba memprovokasi Kenzi. Ia berjalan melewati Kenzi dengan langkah cepat, namun sempat mencuri pandang ke tangan Kenzi—tangan yang baru saja menjatuhkan enam orang tanpa terluka sedikit pun.
Kenzi tetap berdiri di samping mobil, menatap bintang-bintang yang tertutup polusi Jakarta. Misinya baru saja naik ke fase yang lebih kompleks. Ia harus segera menyusup ke ruang kerja Wijaya. Jika preman-preman tadi dikirim hanya sebagai provokasi, maka ada rahasia di dalam rumah ini yang bernilai jauh lebih mahal daripada nyawa mereka semua.