Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Pagi berikutnya, pulau terasa lebih tenang dari biasanya. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma garam dan bunga laut yang mekar hanya di pagi hari. Aula utama Paviliun Dewa Laut sudah disiapkan secara sederhana tapi sakral: karpet biru laut membentang dari pintu masuk hingga altar kecil di tengah, dihiasi kristal air yang mengapung dan lentera bercahaya lembut seperti mutiara. Tak ada kerumunan besar—hanya murid inti terdekat, beberapa elder paviliun, dan Peri Qing Yi yang berdiri di depan altar dengan jubah putih biru yang lebih formal dari biasanya.
Ling Chen berdiri di sisi kiri altar, mengenakan jubah biru gelap dengan sulaman ombak emas yang diberikan Qing Yi semalam. Wajahnya tenang, tapi hatinya berdegup kencang. Di seberangnya, Qing Lin berdiri dengan gaun sutra biru muda yang mengalir seperti air terjun, rambut panjangnya ditata sederhana dengan hiasan mutiara laut. Tubuhnya yang sempurna tersembunyi di balik kain tipis itu, tapi lekuk pinggang ramping dan bahu halusnya tetap terlihat anggun, membuat siapa pun yang melihat tak bisa menahan kekaguman.
Bai Yue Chan berdiri di samping Qing Lin sebagai saksi, matanya berkaca-kaca tapi senyumnya lebar. “Kalian berdua… akhirnya resmi ya. Aku senang banget! Tapi jangan lupain aku setelah menikah, oke?”
Peri Qing Yi mengangkat tangan, suaranya lembut tapi penuh wibawa.
“Murid-muridku… Qing Lin, Ling Chen. Aku telah menyaksikan perjalanan kalian sejak kalian kembali dari reruntuhan. Jantung Nirwana telah mengikat jiwa kalian, dan ikatan itu bukan sekadar warisan—itu adalah takdir. Di dunia kultivasi, ikatan seperti ini jarang terjadi, tapi ketika terjadi, langit dan laut sendiri mengakuinya.”
Dia menatap Ling Chen dengan mata yang penuh pengertian. “Chen, kau datang ke pulau ini sebagai orang asing, dengan luka hati dari dunia luar. Kau telah menjadi bagian dari keluarga kami, dan kau telah membuktikan dirimu layak. Qing Lin… anakku, kau telah memilih jalan yang berat, tapi juga penuh cahaya. Aku, sebagai Guru kalian, memberikan restu penuh. Hari ini, aku menikahkan kalian berdua di hadapan Dewa Laut Abadi dan langit pulau ini.”
Qing Lin menunduk malu, pipinya memerah. Ling Chen melangkah maju, menggenggam tangan Qing Lin dengan lembut. Telapak tangannya hangat, dan saat bersentuhan, qi mereka langsung menyatu lagi—api jingga dan air biru berputar pelan di sekitar tangan mereka seperti tarian kecil.
Qing Yi mengulurkan tangan, dan sebuah cincin kristal kecil muncul di telapaknya—dua cincin yang identik, satu bercahaya merah keemasan (untuk Ling Chen), satu bercahaya biru safir (untuk Qing Lin). “Ini adalah **Cincin Ombak Nirwana**, tanda ikatan kalian. Saat kalian memakainya, jiwa kalian akan terhubung lebih dalam, dan kekuatan kalian akan saling melengkapi selamanya.”
Ling Chen mengambil cincin merah keemasan, memasukkannya ke jari manis Qing Lin dengan hati-hati. Qing Lin melakukan hal yang sama, memasangkan cincin biru safir ke jari Ling Chen. Saat cincin itu menyentuh kulit, cahaya kecil meledak pelan, membentuk pola ombak dan api yang saling melingkar di sekitar mereka.
Qing Yi mengangkat tangan lagi. “Dengan restu Dewa Laut Abadi, aku menyatakan kalian suami istri. Mulai hari ini, Qing Lin adalah istri Ling Chen, dan Ling Chen adalah suami Qing Lin. Semoga ikatan kalian abadi seperti lautan dan api yang tak pernah padam.”
Bai Yue Chan langsung bertepuk tangan kegirangan, air mata bahagia mengalir di pipinya. “Selamat menikah! Kalian berdua cantik sekali! Aku jadi pengiring pengantin terbaik deh!”
Murid-murid lain yang hadir bertepuk tangan pelan, suasana hangat dan penuh kebahagiaan. Qing Yi tersenyum tipis, lalu berbicara lagi.
“Setelah ini, kalian boleh menghabiskan waktu bersama. Tapi ingat, Chen… kau masih punya janji di Kekaisaran Api Agung. Kau harus kembali ke sana suatu hari nanti. Dan Qing Lin… kau boleh memilih ikut bersamanya atau tetap di sini. Keputusan ada di tangan kalian.”
Qing Lin menatap Ling Chen, matanya penuh cinta dan tekad. “Aku akan ikut kau, Chen. Ke mana pun kau pergi, aku akan berada di sisimu. Kita sudah menyatu—jiwa, tubuh, dan takdir.”
Ling Chen memeluk pinggang Qing Lin pelan, mencium keningnya di depan semua orang. “Terima kasih, istriku. Aku akan lindungi kau selamanya. Dan Yue Yan… aku akan kembali ke dia juga, dengan kekuatan yang cukup untuk melindungi semua orang yang kucintai.”
Bai Yue Chan menyeka air mata, lalu memeluk mereka berdua dari samping. “Aku ikut senang! Tapi aku juga sedih kalau kalian pergi… janji ya, kalian bakal balik ke pulau ini suatu hari? Keluarga kita nggak lengkap tanpa kalian!”
Qing Yi mengangguk. “Pulau ini selalu terbuka untuk kalian. Sekarang, pergi dan rayakan malam ini. Besok, kita mulai persiapan perjalananmu kembali ke dunia luar.”
Malam itu, setelah pesta kecil selesai, Ling Chen dan Qing Lin kembali ke paviliun kecil mereka—sekarang resmi sebagai kamar suami istri. Pintu ditutup rapat, segel qi lebih kuat dari sebelumnya.
Di dalam, Qing Lin melepaskan gaun pernikahannya pelan, memperlihatkan tubuh sempurna yang sudah dikenal Ling Chen: kulit putih mulus seperti mutiara, pinggang ramping yang melengkung indah, payudara penuh dan kencang, serta paha panjang yang proporsional. Ling Chen memeluknya dari belakang, mencium lehernya lembut.
“Suamiku…” bisik Qing Lin, suaranya penuh kebahagiaan.
“Istriku…” balas Ling Chen, membawanya ke tempat tidur.
Malam itu, mereka menyatukan tubuh dan jiwa lagi—kali ini bukan karena ritual, tapi karena cinta dan ikatan yang telah disahkan langit dan laut.
Di luar paviliun, Bai Yue Chan duduk di tepi pantai, menatap bintang sambil tersenyum. “Mereka bahagia… aku juga harus lebih kuat. Supaya suatu hari bisa ikut mereka ke dunia luar.”
Pulau Dewa Laut tetap damai, tapi perjalanan Ling Chen belum berakhir. Dengan istri baru di sisinya, kekuatan Dewa Laut Abadi di tangannya, dan keluarga yang mendukung, dia semakin siap menghadapi apa pun yang menanti di Kekaisaran Api Agung.