NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Mayat Kedua di Pinggir Hutan

Subuh belum tiba.

Sawitri melangkah cepat menyusuri pematang sawah di pinggir Hutan Jatiwangi. Kabut tipis masih menyelimuti batang-batang jati tua, membuat segalanya tampak abu-abu dan hantu.

Ndari merapat ketakutan di belakangnya.

“Ndara, kita beneran harus ke sini? Batur dapur bilang hutan ini angker...”

“Yang angker bukan hutannya, Ndari. Tapi isinya.”

Sawitri terus melangkah. Tas kulitnya berbunyi pelan setiap kali mengenai pinggul.

Dari kejauhan, kerumunan warga sudah berkerumun di bawah pohon jati besar. Obor-obor menyala temaram, menari-nari diterpa angin subuh.

Ki Lurah Wirapati menyambutnya dengan wajah tegang.

“Ndara Tabib, matur nuwun rawuh. Kulo mboten berani memindahkan jenazah sebelum Ndara melihat.”

Sawitri mengangguk. Ia menerobos kerumunan.

Lalu ia berhenti.

Seorang perempuan terbujur kaku di atas hamparan daun kering. Lehernya melingkar bekas tambang. Kulitnya gosong hangus tidak merata. Tubuhnya masih utuh, tidak seperti Ningsih yang hampir rata dengan tanah.

Tapi pola kekerasannya sama persis.

“Siapa yang menemukan?”

“Batur angon wedus, Ndara. Jam tiga subuh tadi.”

Sawitri berlutut di samping jenazah. Bau anyir campur gosong menusuk hidung. Ia abaikan.

Tangannya meraba leher. Tulang hyoid patah. Sama. Lebam merah kebiruan masih jelas. Dicekik saat hidup.

“Siapa namanya?”

“Wartinah, Ndara. Batur keputren kadipaten. Semalam minta izin menjenguk ibunya sakit di desa seberang. Mboten pernah sampai.”

Sawitri membuka kain penutup wajah korban.

Mata Wartinah terbuka lebar. Lidahnya sedikit menjulur. Tanda khas asfiksia mekanik.

Ia menurunkan kain hingga ke perut.

Perut itu menonjol. Bukan karena gas pembusukan. Ini terlalu teratur. Terlalu simetris.

Monolog batin Sawitri bekerja cepat. Fundus uteri setinggi pusar. Usia kehamilan 22-24 minggu. Janin sudah bisa bergerak aktif. Sudah punya sidik jari.

“Ki Lurah, umur korban?”

“Dua puluh tiga tahun, Ndara. Menurut tetangganya, dia mboten pernah menikah.”

Sawitri merogoh tasnya. Mengeluarkan sarung tangan usus dan kain penutup hidung.

“Kulo perlu membedah di sini.”

Wirapati mengangguk. Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk membentuk pagar betis. Warga dimundurkan.

Cahaya obor mulai redup digantikan semburat jingga di ufuk timur.

Sawitri menyalakan lampu minyak kecil dari tasnya. Ia letakkan di samping kepala Wartinah.

Pisau bedah pertama menyayat kulit perut.

Suara desiran halus. Daging terbuka.

Ndari memalingkan wajah. Beberapa prajurit ikut menelan ludah.

Sawitri tidak terganggu. Tangannya bergerak dengan presisi yang sama seperti tiga hari lalu saat membedah Ningsih.

Rongga rahim terbuka.

Seekor lalat hinggap di pinggir luka. Sawitri mengusirnya dengan tiupan pelan.

Ia memasukkan tangannya.

Massa jaringan itu lebih besar. Jauh lebih besar dari janin Ningsih.

Sawitri mengeluarkannya perlahan. Meletakkannya di atas kain putih yang dibentangkan Ndari dengan tangan gemetar.

Janin laki-laki. Tali pusar masih menempel. Mata terpejam rapat. Tangan mungilnya mengepal.

“Enam bulan,” gumam Sawitri.

Ia memeriksa tali pusar. Sayatan di ujungnya rapi. Bukan putus akibat kekerasan.

“Dilahirkan paksa?”

Wirapati mengerutkan kening. “Maksud Ndara?”

“Janin ini dikeluarkan dari rahim setelah Wartinah mati. Atau saat sekarat. Lihat sayatannya.” Sawitri menunjuk ujung tali pusar. “Ini pakai pisau. Bukan putus alamiah.”

Ia kembali ke tubuh Wartinah. Memeriksa dinding rahim.

“Ada robekan di sini. Tapi mboten sampai tembus. Pelakunya tahu anatomi dasar. Tahu cara mengeluarkan janin tanpa merusak organ terlalu parah.”

Sawitri mengangkat wajah. Matanya menyapu wajah-wajah prajurit yang membentuk pagar betis.

“Siapa yang membawa jenazah kemari?”

Seorang prajurit muda melangkah maju. Wajahnya pucat.

“Kulo, Ndara. Kulo dan tiga prajurit lain yang menemukan mayat ini saat patroli.”

“Kalian menyentuhnya?”

“Nggih, Ndara. Kami pindahkan ke sini karena tadinya mayat ini tergeletak di jalan setapak dalam hutan. Kalau dibiarkan, bisa dimakan serigala.”

Sawitri berdiri. Ia mendekati prajurit itu.

Napas prajurit itu memburu. Pupil matanya melebar.

Bukan karena takut. Ini respons fisiologis orang yang berbohong.

“Saat kalian memindahkan, apa kalian lihat ada benda aneh di sekitarnya?”

“Mboten, Ndara. Hanya mayat ini.”

“Tidak ada kain? Tidak ada alas? Tidak ada jejak perjuangan?”

Prajurit itu menggeleng cepat. Terlalu cepat.

Sawitri kembali ke jenazah. Ia memeriksa telapak tangan Wartinah.

Kuku-kukunya patah. Darah kering mengeras di sela jari.

“Dia melawan.”

Sawitri mengambil kapas dan air dalam botol kaca. Membasahi sela kuku korban.

“Ada jaringan kulit di bawah kukunya. Bukan kulitnya sendiri.”

Ia mengangkat kapas itu ke cahaya.

“Pelakunya terluka. Tergores.”

Wirapati langsung menangkap maksudnya. “Ndara bisa identifikasi?”

“Bisa, jika kulo lihat lukanya.”

Sawitri memeriksa bagian lain. Paha dalam Wartinah lebam kebiruan.

“Kekerasan seksual terjadi. Beberapa jam sebelum kematian. Atau sesaat setelahnya.”

Ia berhenti.

Tangannya meraba perut bagian bawah.

Ada sesuatu.

Sawitri mengambil pinset dari tas. Dengan hati-hati, ia mengorek sesuatu dari liang vagina korban.

Cairan kental keputihan.

Sperma.

Masih basah.

“Dia digagahi kurang dari enam jam yang lalu.”

Sawitri menoleh ke arah Wirapati. “Pelakunya baru. Masih hangat. Mungkin masih di sekitar sini.”

Prajurit muda yang tadi bicara mundur selangkah. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

Sawitri berdiri. Ia berjalan mengelilingi jenazah.

Jejak seretan di tanah masih jelas. Dari arah jalan setapak ke bawah pohon ini.

Tapi seretannya aneh.

Bukan seretan normal orang dewasa.

“Mereka menyeretnya dengan tali di leher. Sama seperti Ningsih.”

Sawitri menunjuk bekas alur di tanah.

“Tapi kali ini mereka mboten membakarnya sampai habis. Hanya setengah hati. Mungkin terburu-buru. Mungkin diganggu.”

Ia kembali ke jenazah. Memeriksa luka bakar di kaki.

Kulit melepuh. Jaringan di bawahnya masih segar.

“Dibakar saat masih hidup?”

Tidak. Luka bakar ini tidak dalam. Api hanya menyentuh permukaan.

“Api digunakan untuk menghilangkan bukti. Tapi mereka mboten punya waktu cukup.”

Sawitri berjongkok. Matanya menyapu detail kecil di sekitar jenazah.

Sebuah helai benang merah tersangkut di semak duri dua meter dari tubuh Wartinah.

Benang sutra. Bukan kain rakyat biasa.

Sawitri mengambilnya dengan pinset. Menunjukkan pada Wirapati.

“Ini dari pakaian pelaku. Robek saat korban melawan.”

Wirapati memeriksa benang itu. Wajahnya berubah.

“Sutra merah... ini kain kebesaran prajurit pengawal pribadi, Ndara. Hanya prajurit Kadipaten kelas khusus yang berhak memakainya.”

Udara subuh terasa makin dingin.

Sawitri menatap benang merah di ujung pinset.

Lalu ia menoleh ke arah prajurit muda yang tadi bicara.

Prajurit itu mundur lagi. Tangannya meraba lengan kirinya. Gerakan refleks.

Sawitri melihatnya.

Lengan kiri prajurit itu terbungkus kain. Membalut sesuatu.

“Lenganmu kenapa?”

Prajurit itu tersentak. “Kulo... kulo jatuh dari kuda kemarin, Ndara.”

Sawitri melangkah mendekat.

“Buka balutannya.”

“Ndara, ini hanya luka biasa...”

“Buka.”

Satu kata. Dingin. Tak bisa ditawar.

Prajurit itu menatap Wirapati minta tolong. Wirapati diam membatu.

Dengan tangan gemetar, prajurit itu membuka balutan lengan kirinya.

Tiga goresan vertikal terlihat jelas. Masih basah. Masih merah. Baru.

Sawitri mengambil kapas. Mengusap goresan itu.

Mengangkat kapas ke cahaya.

“Jaringan kulit di bawah kuku korban cocok dengan luka ini.”

Prajurit itu tersungkur berlutut. Wajahnya pucat pasi.

“Mboten, Ndara! Kulo mboten membunuh Wartinah! Kulo hanya... kulo hanya...”

“Hanya apa?”

Prajurit itu menunduk. Bahunya bergetar.

“Kulo hanya disuruh menjaga. Kulo disuruh memastikan mayatnya tidak ditemukan sebelum subuh.”

Wirapati mencabut kerisnya. “Siapa yang menyuruh?!”

Prajurit itu mengangkat wajah. Air mata bercampur keringat membasahi pipinya.

“Komandan Sarkati, Ki Lurah. Beliau yang menyuruh kulo dan tiga prajurit lain membuang mayat ini ke hutan. Beliau yang bilang... bakar saja biar seperti kasus Ningsih.”

Sawitri menatapnya tajam.

“Komandan Sarkati prajurit kepercayaan siapa?”

Prajurit itu membungkam. Mulutnya terkunci rapat.

Cakrawirya yang sejak tadi diam di balik kerumunan, melangkah maju.

Ia berjongkok di depan prajurit itu. Suaranya pelan tapi menusuk.

“Sukmawati, bukan?”

Prajurit itu tidak menjawab. Tapi tubuhnya yang membeku sudah jadi jawaban.

Cakrawirya bangkit. Menatap Sawitri.

“Kita harus bergerak. Sekarang.”

Sawitri mengangguk. Ia mengambil jarum dan benang dari tas. Dengan cepat, ia menjahit kembali sayatan di perut Wartinah.

Tangannya bergerak cepat. Tapi tetap lembut.

Setelah selesai, ia menyelimuti wajah Wartinah dengan kain putih.

“Suaramu sudah kami dengar.”

Ia berdiri. Menoleh pada Wirapati.

“Tahan prajurit ini. Peras semua informasi. Kulo dan Pangeran akan ke kadipaten.”

Wirapati mengangguk. “Hati-hati, Ndara. Sukmawati mboten akan diam.”

Sawitri melangkah pergi. Cakrawirya mengikuti di sampingnya.

Di belakang mereka, semburat merah matahari mulai merambah pucuk-pucuk jati.

Dari dalam hutan, suara burung pemakan bangkai bersahutan.

Tapi Sawitri sudah tidak peduli.

Otaknya bekerja merangkai benang merah terakhir.

Ningsih dibunuh ayah kandungnya karena aib.

Wartinah dibunuh prajurit bayaran karena...

Karena apa?

Karena janin enam bulan di rahimnya juga titipan komandan Sarkati?

Atas perintah Sukmawati?

Atau...

Sawitri menghentikan langkah.

Ia menoleh ke arah hutan. Ke tempat mayat Wartinah terbaring.

Satu pertanyaan mengambang di udaranya yang dingin.

Jika Ningsih adalah kasus pertama yang membuatnya dikenal sebagai tabib bedah...

Apakah Wartinah sengaja dibuat serupa?

Sebagai pesan?

Atau sebagai tantangan?

Cakrawirya membaca kegelisahan di wajahnya.

“Apa yang kau pikirkan?”

Sawitri menghela napas panjang.

“Kulo berpikir... apakah kita sedang berhadapan dengan pembunuh, atau sedang diajak bermain.”

Cakrawirya mengerutkan kening.

Tapi Sawitri tidak menjelaskan lebih lanjut.

Ia terus melangkah.

Meninggalkan Hutan Jatiwangi yang mulai terang.

Meninggalkan mayat kedua dengan pola yang sama persis.

Dan membawa satu fakta baru yang mengganggu:

Seseorang di kadipaten sedang belajar dari kasus Ningsih.

Belajar bagaimana membunuh.

Atau mungkin sedang belajar bagaimana membuat korbannya bersuara melalui pisau bedah Sawitri.

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!