Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Jauh sebelum kerumunan di Akademi Asterlyn ini terbentuk, di sebuah ruangan remang-remang di dunia yang sangat berbeda, seorang wanita bernama Adel sedang menatap layar monitornya dengan serius.
Adel adalah seorang penggemar berat novel The Last Hero. Setelah menamatkan bab terakhir novel tersebut, rasa penasarannya belum tuntas. Ia mendengar kabar bahwa versi gamenya jauh lebih interaktif dan menantang.
"Oke, kurasa ini cukup," gumam Adel setelah selesai menyetel karakter miliknya.
Di layar PC-nya, terpampang dua pilihan role: Mage dan Swordsman. Tanpa ragu, jarinya mengklik pilihan Mage dengan elemen api. Adel adalah tipe pemain yang lebih suka menyerang dari jarak jauh dengan logika yang matang.
"Start!" ucapnya penuh semangat sambil menekan tombol enter.
Alasannya sederhana; Adel ingin mengubah alur. Di novel, ia hanya bisa menjadi penonton pasif yang kesal, tapi di dalam game, ia punya kendali.
Berhari-hari ia terus bermain, namun hasilnya selalu buntu. Tetap saja banyak korban berjatuhan akibat ulah keji Leon von Anhart, sang villain utama.
Adel ingin mengalahkan Leon tanpa ada satu pun nyawa yang melayang sia-sia.
Sampai pada permainannya yang ke-100, ia menemukan sebuah solusi gila.
Ia harus mengajak Sang Protagonis, Mathias Brayden, masuk ke akademi lebih awal, setahun sebelum Leon masuk untuk memulai kekacauan.
Namun, tepat saat ide itu muncul di kepalanya, layar PC Adel bersinar sangat terang hingga membutakan mata.
Ketika ia terbangun, Adel bukan lagi seorang penonton. Ia terbangun di dalam tubuh karakter buatannya sendiri. Ia telah masuk ke dalam dunia game yang ia mainkan.
Selama berbulan-bulan, Ia melewati masa-masa tutorial yang berat, meningkatkan levelnya, hingga akhirnya berhasil bertemu dengan Mathias. Ia bahkan menjadi teman dekat Mathias dan menaklukkan berbagai dungeon bersama.
Suatu hari, karena sadar ini bukan lagi sekadar game melainkan nyawa taruhannya, Adel mencoba membocorkan informasi masa depan kepada Mathias.
Adel mengatakan informasi panjang lebar tentang apa yang akan terjadi di masa depan.
Namun, Mathias hanya mengerutkan kening. "Apa?, barusan Kau bilang apa,?"
Adel mencoba mengulangi lagi, namun Mathias tetap tampak bingung. Saat Adel bertanya kenapa.
Mathias menjawab
"Suaramu terdengar seperti radio rusak, Adelyn. Aku tidak bisa mengerti sepatah kata pun," ucap Mathias dengan wajah heran.
Sistem dunia ini ternyata menyensor setiap informasi krusial tentang masa depan.
Dan pada akhirnya ia hanya bisa kembali ke rencana awal, membujuk Mathias agar mau masuk ke Akademi Asterlyn setahun lebih awal untuk memperkuat pondasi kekuatan mereka sebelum badai datang.
Adel berhasil. Rencananya sukses besar. Mathias setuju masuk akademi hari ini, menjauhkan mereka dari garis waktu kedatangan Leon. Adel merasa menang. Ia merasa telah menyelamatkan dunia ini dari ancaman Sang Villain.
Namun...
Saat ia berdiri di tengah lapangan akademi, memandangi kerumunan murid baru dengan rasa bangga, matanya menangkap sesuatu yang mustahil.
Deg!
Jantung Adel seolah berhenti berdetak. Di kejauhan, berdiri seorang pemuda berambut putih dengan jubah hitam berbulu.
Tatapannya yang dingin dan aura suram yang dipancarkannya tidak mungkin salah lagi.
"Leon von Anhart? Ke-kenapa?" bisik Adel gemetar dengan wajah yang memucat seketika.
Seluruh tubuhnya terasa kaku. Rencana yang ia susun selama 100 kali percobaan permainan hancur berkeping-keping dalam sekejap. Leon yang seharusnya baru muncul setahun lagi, kini berdiri tepat di hadapannya.
"Kenapa dia ada di sini sekarang?!" Adel panik luar biasa.
Adel mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Pikiran buruk mulai berkecamuk di kepalanya—mungkinkah bencana besar itu akan datang lebih awal?
"Mungkinkah ini karena aku mengajak Mathias datang lebih cepat, sehingga sistem dunia ini bergeser?" bisiknya dalam hati dengan penuh kecemasan.
Dan jika Leon sudah ada di sini, itu artinya dia mungkin sudah mengonsumsi buah iblis yang seharusnya baru ia temukan tahun depan. Skala kekuatan dunia ini benar-benar telah kacau.
Dalam renungan paniknya itu, tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu Adel dari belakang.
"Aaghk!" Adel tersentak kaget, nyaris melompat.
"Kau kenapa?" tanya Mathias yang sudah berdiri di belakangnya. Wajah pahlawan itu tampak bingung melihat reaksi Adel yang berlebihan.
Adel berusaha mengatur napasnya. "Mathias... kau sudah sampai? Aku... aku tidak apa-apa."
"Benarkah? Tapi wajahmu terlihat sangat pucat," ucap Mathias, matanya memicing curiga.
"Sungguh, aku tak apa," Adel meyakinkannya, meski matanya sesekali melirik ke arah Leon yang berdiri jauh di sana.
Adel mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Pikirannya kalut. Mungkinkah ini efek samping karena aku menarik Mathias ke sini setahun lebih awal? Mungkinkah sistem dunia ini bergeser untuk menyeimbangkan keberadaan sang protagonis?
Jika Leon sudah ada di sini, itu artinya dia mungkin sudah mengonsumsi "buah iblis" yang seharusnya baru ia temukan tahun depan. Skala kekuatan dunia ini benar-benar telah kacau.
Di tengah lamunannya, sebuah tepukan di bahu mengejutkan Adel.
"Adel? Kau kenapa?" suara Mathias yang berat namun lembut membuyarkannya.
Adel tersentak, bahunya menegang. "Mathias... kau sudah sampai? Ah, tidak apa-apa. Bukan masalah besar."
"Benarkah? Tapi wajahmu terlihat sangat pucat," ucap Mathias sambil menatap Adel dengan kening berkerut cemas.
"Sungguh, aku tidak apa-apa!" jawab Adel cepat, mencoba tersenyum meski matanya sesekali melirik ke arah Leon yang berdiri diam di kejauhan.
Tiba-tiba, suasana lapangan yang bising mendadak sunyi. Tekanan energi sihir yang luar biasa besar menyapu seluruh area, membuat beberapa murid yang lemah hampir jatuh terduduk.
Dari atas podium megah, seorang pria tua dengan jubah ungu berlapis emas melangkah maju. Dia adalah Profesor Valerius, salah satu tetua akademi.
"Selamat datang, para calon ksatria dan pahlawan masa depan Arvencia!" suara Profesor Valerius menggelegar, diperkuat oleh sihir hingga terdengar ke setiap sudut lapangan..
"Kalian berdiri di sini karena nama keluarga atau keberuntungan. Namun, di Akademi Asterlyn, hal-hal itu tidak akan membantu kalian bertahan. Di sini, hanya bakat dan kekuatan yang diakui. Hari ini, kita akan mengadakan seleksi sekaligus penentuan peringkat awal. Ujian ini akan menentukan apakah kalian layak memakai lencana akademi ini atau pulang membawa kegagalan!"
Profesor Valerius menghentakkan tongkatnya ke lantai podium, memicu lingkaran sihir raksasa di tengah lapangan.
"Seleksi akan segera dimulai. Kami akan menguji kalian dalam sistem simulasi khusus. Ujian ini memiliki delapan tingkatan. Siapa pun yang bisa bertahan dan mengalahkan monster hingga tingkat empat ke atas, dinyatakan lolos. Di bawah itu?, Kalian gugur."
Ruang ujian ini adalah sebuah keajaiban sihir. Dari luar, ruangan itu tampak seperti kamar biasa. Namun, begitu peserta masuk, sistem simulasi sihir akan aktif dan menciptakan dunia virtual yang terasa sangat nyata.
Dan sisitem ini juga menyesuaikan terutama Untuk tipe Mage Support, sistem akan menyesuaikan dengan skenario perlindungan atau pemecahan teka-teki sihir di tengah tekanan tempur.
Dan Luka yang didapat di dalam adalah nyata secara mental, namun tidak membahayakan fisik peserta di dunia luar.
Para penonton bisa melihat seluruh aksi di dalam melalui artefak layar sihir raksasa yang melayang di atas lapangan.
Valerius melanjutkan sambil menatap tajam kerumunan.
"Peringkat kalian akan ditentukan dari seberapa tinggi tingkatan yang kalian capai dan seberapa cepat waktu yang kalian butuhkan untuk sampai ke Tingkat itu. Bagi para Mage tipe Support , penilaian tidak hanya berdasarkan serangan, melainkan efektivitas sihir, akurasi, dan cara kalian mengelola mana dalam situasi terdesak!"
"Setiap peserta yang namanya dipanggil akan masuk ke dalam ruangan itu sendirian. Di dalam sana, sihir simulasi tingkat tinggi akan membawa kalian ke medan tempur buatan yang terasa sangat nyata. Dan bagi kalian yang menunggu di sini, kalian bisa menyaksikan perjuangan teman kalian melalui artefak proyeksi di udara."
Setelah menjelaskan panjang lebar profesor mengambil gulungan yang berada di meja dengan sihirnya, disana sudah tersedia nomor urut pesarta yang akan maju pertama samapai terakhir
"Ujian pertama..." Profesor Valerius membuka gulungan perkamen.
"Mathias Brayden! Silakan maju!"
Adel menahan napas. Ini dia. Sang Protagonis akan menunjukkan kekuatannya, tapi matanya tetap melirik ke arah Leon. Ia bertanya-tanya, sekuat apa sang villain sekarang setelah alurnya berubah total?
---
Character Visual:
...Adelyn...