Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Rahasia yang Tidak Pernah Diucapkan
Keheningan itu lebih menyakitkan daripada pengakuan.
Aluna tidak tahu apa yang lebih ia takuti—jawaban Arkan, atau diamnya.
Angin malam berhembus pelan, membuat ujung rambutnya bergerak halus. Namun tubuhnya terasa kaku, seperti membeku di tempat.
“Jawab aku,” bisiknya lirih.
Arkan menatapnya. Wajahnya tidak panik. Tidak marah. Tapi ada sesuatu yang retak di sana.
“Aku datang malam itu,” akhirnya ia berkata.
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Aluna merasa lantai di bawah kakinya menghilang.
Cemalia tersenyum tipis, puas.
“Lihat? Aku tidak pernah berbohong.”
“Tapi aku tidak mendorong siapa pun,” lanjut Arkan tegas. “Aku datang karena mendapat pesan anonim. Katanya akan ada sesuatu yang terjadi pada ayah Aluna.”
Semua mata tertuju padanya.
“Aku pikir itu jebakan bisnis. Tapi aku tetap pergi.”
“Kenapa tidak bilang dari awal?” tanya Aluna, suaranya bergetar.
“Karena saat aku sampai… semuanya sudah kacau.”
Flashback itu jelas di kepala Arkan.
Gudang gelap. Bau bensin menyengat. Suara teriakan. Api mulai menjalar di sudut ruangan.
Dan di tengah kekacauan itu, ia melihat Aluna.
Berdiri terpaku.
Menatap ayahnya yang tergeletak.
“Aku melihat Cemalia mendorong ayahmu,” kata Arkan pelan.
Cemalia tidak menyangkal.
“Tapi aku juga melihat seseorang sebelumnya.”
Semua membeku.
“Siapa?” tanya Surya.
Arkan menatap ayahnya.
“Sebelum Cemalia mendorongnya, Ayah sudah berbicara dengan Pak Mahendra.”
Udara seperti berhenti bergerak.
Ayah Arkan tidak langsung bereaksi.
“Dan apa yang kau maksud dengan itu?” tanyanya datar.
“Aku melihat Anda memberikan map padanya.”
Aluna teringat map yang terbakar malam itu.
“Map apa?” suaranya hampir pecah.
Arkan menggeleng pelan.
“Aku tidak tahu. Tapi setelah itu, aku mendengar ayahmu berkata—‘Kalau ini keluar, semuanya hancur.’”
Cemalia mendecakkan lidah.
“Ah, akhirnya potongan puzzle mulai terlihat.”
“Diam!” bentak Arkan.
Ia kembali menatap Aluna.
“Aku ingin menarikmu pergi saat itu juga. Tapi api sudah membesar. Aku tidak sempat menyelamatkan ayahmu.”
Aluna menutup mulutnya.
Air mata mulai mengalir.
“Jadi kau melihat semuanya…”
“Ya.”
“Dan kau diam selama ini?”
Arkan menunduk.
“Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Bahkan setelah menikah denganmu… aku masih menyelidiki dalam diam.”
“Dengan menjadikanku bagian dari permainanmu?” suara Aluna meninggi.
“Itu bukan permainan!”
“Lalu apa ini, Arkan?!”
Suaranya pecah.
Ia mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya, jarak terasa nyata di antara mereka.
Ayah Arkan akhirnya berbicara.
“Kalau kau sudah selesai dengan drama keluarga ini, izinkan aku menjelaskan sesuatu.”
Semua menoleh.
“Map itu berisi data korupsi internal Wijaya Group. Termasuk transaksi ilegal yang dilakukan oleh mitra lama perusahaan.”
“Mitra siapa?” tanya Kevin.
Pria itu menatap langsung ke arah Surya.
“Perusahaan ayahmu.”
Wajah Surya berubah pucat.
“Itu tidak mungkin.”
“Semua mungkin di dunia bisnis.”
Cemalia tertawa kecil.
“Dan itulah sebabnya aku diminta menakut-nakuti Pak Mahendra. Supaya dia tidak membuka data itu.”
“Menakut-nakuti? Kau hampir membunuhnya!” teriak Aluna.
“Aku hanya menjalankan perintah.”
“Perintah siapa?” tanya Arkan tajam.
Keheningan kembali menggantung.
Ayah Arkan menatap Cemalia.
Cemalia membalas tatapan itu.
Dan untuk pertama kalinya, terlihat jelas—hubungan mereka bukan sekadar rekan kerja.
“Kau pikir aku bekerja gratis?” Cemalia berkata ringan.
“Sudah cukup,” potong pria itu dingin.
Namun Aluna melihat sesuatu yang baru.
Ketakutan.
Bukan pada Arkan.
Bukan pada kebenaran.
Tapi pada Cemalia.
“Kau memerintahkan semuanya,” Arkan berkata pelan, namun suaranya dipenuhi tekanan.
“Aku memerintahkan perlindungan perusahaan.”
“Dengan mengorbankan orang?”
“Dengan menjaga agar keluarga ini tetap berdiri!”
Suara itu menggema keras.
“Ayah Aluna mengancam membocorkan skandal lama. Kalau itu terjadi, bukan hanya perusahaan kita yang hancur. Ribuan karyawan kehilangan pekerjaan. Kau kehilangan warisanmu. Kita semua tenggelam.”
“Jadi Anda memilih menenggelamkan ayahnya?” Arkan mendesis.
“Aku memilih yang paling sedikit kerugiannya.”
Kalimat itu membuat Aluna gemetar.
Ia merasa mual.
Selama ini, ia mengira pernikahannya adalah alat balas dendam. Atau kontrak bisnis.
Ternyata ia hanyalah kerusakan tambahan dalam perang yang lebih besar.
“Dan saham atas namaku?” ia bertanya pelan.
Ayah Arkan terdiam.
Cemalia yang menjawab.
“Itu bukan hadiah. Itu asuransi.”
“Asuransi?”
“Jika suatu hari kebenaran terungkap, saham itu membuatmu ikut terseret. Jadi kau tidak akan pernah berani membuka mulut.”
Dunia kembali runtuh.
Arkan menatap ayahnya dengan jijik yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Anda menjebaknya.”
“Itu untuk melindunginya juga.”
“Jangan gunakan kata lindungi lagi!” bentak Arkan.
Tiba-tiba suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.
Semua menoleh.
Lampu biru-merah mendekat cepat.
Kevin mengangkat ponselnya.
“Aku yang memanggil mereka.”
Cemalia tersenyum tipis.
“Kau pikir ini akan selesai malam ini?”
Mobil polisi berhenti di depan gerbang.
Beberapa petugas turun.
Namun yang membuat semua orang terdiam—
Adalah satu pria yang turun paling akhir.
Seorang penyidik senior.
Ia berjalan masuk dengan wajah serius.
“Selamat malam. Kami menerima laporan percobaan pembunuhan lima tahun lalu.”
Semua menegang.
“Kami memiliki saksi baru.”
Jantung Aluna berdebar keras.
“Saksi?” ulang Arkan.
Pria itu mengangguk.
“Seorang penjaga malam yang dulu bekerja di gudang itu.”
Cemalia untuk pertama kalinya kehilangan senyum.
“Dia melihat seseorang lain meninggalkan lokasi sebelum kebakaran besar terjadi.”
Semua membeku.
“Siapa?” tanya Surya pelan.
Penyidik itu membuka map.
“Nama yang disebutkan adalah…”
Hening.
“…Rendra Wijaya.”
Semua mata tertuju pada ayah Arkan.
Aluna merasa napasnya tercekat.
“Tidak,” Arkan berbisik.
Penyidik melanjutkan.
“Dia terlihat masuk kembali ke dalam gudang setelah insiden dorongan itu.”
Arkan menoleh pada ayahnya.
“Masuk kembali?”
Aluna mengingat sesuatu.
Map.
Dokumen.
Api yang tiba-tiba membesar.
“Apa yang Anda lakukan di dalam?” suaranya gemetar.
Pria itu menatap mereka semua.
Tatapannya tidak lagi defensif.
Melainkan pasrah.
“Aku memastikan tidak ada bukti yang tersisa.”
Kalimat itu menghantam seperti badai.
“Api itu bukan kecelakaan,” bisik Aluna.
“Aku mempercepatnya.”
Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.
“Jadi Ayahku—”
“Ayahmu sudah tidak sadar saat itu.”
“Dan Anda membiarkannya di sana?!”
“Aku tidak menyentuhnya lagi.”
“Tapi Anda membiarkannya mati!”
Suara Aluna pecah total.
Arkan berdiri membeku.
Ia merasa seluruh fondasi hidupnya runtuh.
“Ayah…” suaranya serak.
Pria itu menatapnya lama.
“Aku melakukan ini untukmu.”
“Jangan pernah mengatakan itu lagi.”
Petugas mulai bergerak.
“Kami akan membawa Anda untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
Tidak ada perlawanan.
Rendra Wijaya menyerahkan tangannya.
Saat borgol diklik, suara kecil itu terdengar lebih keras dari apa pun malam ini.
Arkan menutup mata sejenak.
Aluna berdiri tak bergerak.
Cemalia memperhatikan semuanya dengan ekspresi sulit ditebak.
Sebelum masuk ke mobil polisi, Rendra menoleh sekali lagi.
“Ada satu hal lagi yang harus kalian tahu.”
Semua menahan napas.
“Dokumen itu tidak sepenuhnya terbakar.”
Aluna membeku.
“Apa maksud Anda?”
“Ayahmu sempat mengirim salinan ke seseorang sebelum malam itu.”
Jantungnya berdegup tak karuan.
“Ke siapa?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Orang yang paling kalian percayai.”
Mobil polisi menutup pintu.
Pergi.
Menyisakan keheningan lebih berat dari sebelumnya.
Aluna menoleh perlahan.
Ke Arkan.
Ke Kevin.
Ke Surya.
Siapa yang paling ia percayai?
Kepalanya berdenyut lagi.
Sebuah potongan ingatan muncul samar.
Ayahnya sedang menelepon seseorang.
Menyebut satu nama.
Bukan Arkan.
Bukan Surya.
Nama itu—
Kevin.
Aluna menatap Kevin.
Wajah pria itu membeku.
“Apa?” tanyanya pelan.
Jantung Aluna terasa ingin meledak.
“Kevin… malam itu… kau di mana?”
Kevin tersenyum kecil.
Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
“Di tempat yang seharusnya.”
Udara kembali menegang.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—
Aluna menyadari satu hal yang mengerikan.
Orang yang selalu berdiri di sisinya.
Orang yang paling ia percaya.
Mungkin adalah orang yang memegang potongan kebenaran terbesar.
Dan mungkin…
Yang paling berbahaya.
END BAB 14 🔥