Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Pagi itu, kampus UCLA seakan diselimuti oleh suasana yang berbeda bagi Paroline. Musim semi membawa angin sejuk yang menggoyahkan kelopak bunga sakura di sepanjang jalan setapak, namun kehangatan yang menjalar di dada Paro tidak berasal dari matahari, melainkan dari pemandangan di depannya.
Di atas hamparan rumput hijau taman kampus yang luas, dua sosok manusia yang paling berharga bagi Paro saat ini tengah asyik dengan dunianya sendiri. Fharell Desmon, sang pewaris tunggal yang biasanya dikelilingi oleh kemewahan, kini terlihat rela berlutut di atas rumput, mengenakan celana jins yang mulai kotor demi bermain mobil-mobilan elektrik dengan Andreas Sunny.
"Ayo, Jagoan! Tabrak bentengnya!" seru Fharell dengan tawa renyah.
Andreas tertawa hingga matanya menyipit, tangan mungilnya memegang kendali remote dengan kaku namun penuh semangat. "Papa! Tabrak! Pa... Pa...!"
Paroline yang duduk di bangku taman tak jauh dari sana, hanya bisa menumpu dagu dengan tangannya. Sebuah senyum tipis yang tak kunjung hilang menghiasi wajah cantiknya. Ia masih sering merasa ini semua adalah mimpi. Bagaimana mungkin ia, seorang wanita berusia 24 tahun yang sudah dicap negatif oleh hampir separuh kampus, bisa menjalin kasih dengan pria berusia 19 tahun yang memiliki masa depan secemerlang Fharell?
"Mama, kenapa melamun terus? Sini, ikut main!" teriak Fharell tiba-tiba, membuyarkan lamunan Paro.
Wajah Paroline memerah seketika. Panggilan Mama itu... Fharell mengucapkannya dengan begitu santai, seolah-olah mereka memang sudah terikat dalam pernikahan selama bertahun-tahun. Sejak kejadian di taman bermain Minggu lalu, Fharell memang mulai membiasakan diri memanggilnya Sayang di depan teman-temannya, namun panggilan Mama selalu ia simpan untuk saat-saat intim atau saat mereka sedang bersama Andreas.
Paro berdiri, merapikan rok-nya yang tertiup angin, lalu berjalan mendekat. "Fharell, jangan panggil begitu di sini. Bagaimana kalau ada dosen yang dengar?"
Fharell bangkit berdiri, membersihkan rumput yang menempel di lututnya. Dengan tinggi badannya yang menjulang, ia menatap Paroline dengan tatapan yang sangat memuja. Tanpa mempedulikan beberapa mahasiswa yang melintas di kejauhan, ia melingkarkan tangannya di pinggang Paro.
"Biarkan saja mereka dengar, Sayang. Biar mereka tahu kalau Mama yang paling cantik di kampus ini sudah ada yang punya," bisik Fharell tepat di telinga Paroline, membuat bulu kuduk wanita itu merinding.
"Kau benar-benar tidak tahu malu, berondong," canda Paro, namun ia tidak menolak saat Fharell mengecup pelan keningnya.
"Aku memang berondong, tapi aku jauh lebih dewasa dari pria-pria pengecut yang pernah mendekatimu, kan?" Fharell tersenyum nakal. Ia menatap Andreas yang kembali sibuk dengan mobilnya. "Lihat dia, Paro. Dia bahagia. Aku bahagia. Dan aku tahu, jauh di dalam lubuk hatimu, kau juga bahagia."
Paroline menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di dada bidang Fharell. Ia mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang namun pasti.
"Kadang aku masih tidak percaya kita berpacaran, Fharell. Jarak lima tahun itu... kadang terasa sangat jauh saat kau sedang humoris seperti anak kecil, tapi terasa sangat dekat saat kau melindungi ku seperti ini," ungkap Paro jujur.
Fharell mempererat pelukannya. "Jarak lima tahun itu hanya angka untuk mengisi kalender, Paro. Tapi rasa nyaman itu soal rasa. Aku menyukai bagaimana kau tetap kuat meski dunia menjatuhkan mu. Dan aku mencintai Andreas karena dia adalah bagian dari dirimu yang paling tulus."
Meskipun foto bertiga mereka di taman bermain tempo hari tidak mereka unggah di media sosial, karena Paroline masih ingin menjaga privasi Andreas dari mata publik yang haus skandal, namun secara pribadi, foto itu telah menjadi wallpaper di ponsel Fharell. Foto itu adalah pengingat baginya bahwa ia bukan lagi sekadar mahasiswa yang mencari kesenangan, melainkan seorang pria yang memiliki pelabuhan untuk pulang.
Suara Andreas yang berceloteh riang menjadi musik latar yang indah sore itu. Matahari mulai turun, menciptakan bayangan panjang di atas rumput. Fharell melepaskan pelukannya sebentar, lalu berjongkok di samping Andreas, membantu bayi itu membetulkan roda mobil-mobilannya yang tersangkut rumput.
"Nah, sekarang sudah bisa jalan lagi, Sayang," ujar Fharell lembut pada Andreas.
"Sayang... Papa...Sayang..." beo Andreas, sebuah kata baru yang ia tangkap dari percakapan Fharell dan Paroline tadi.
Paroline tertegun. Ia berlutut di samping Fharell, menatap kedua pria itu bergantian. "Dia baru saja bilang Sayang?"
Fharell tertawa lepas, ia mencium pipi Andreas dengan gemas. "Dengar itu? Bahkan anakmu setuju kalau kita harus saling menyayangi setiap hari."
Fharell kemudian menoleh pada Paroline. Di bawah semburat cahaya sore yang keemasan, wajah Paroline terlihat begitu sempurna. Tanpa banyak bicara, Fharell mendekatkan wajahnya. Paroline memejamkan mata, membiarkan sebuah ciuman lembut mendarat di bibirnya, sebuah ciuman yang menjanjikan kesetiaan, perlindungan, dan masa depan yang tidak lagi ia tanggung sendirian.
Dunia mungkin masih akan membicarakan mereka. Rumor mungkin masih akan bertebaran di koridor-koridor kampus Los Angeles yang dingin. Namun di taman ini, di antara mobil-mobilan elektrik dan celoteh seorang anak laki-laki berusia dua tahun, Paroline tahu bahwa ia telah menemukan rumahnya pada sosok pria muda yang ia panggil berondong itu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰