Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Pagi yang Terbakar
Suara pecahan kaca adalah musik pembuka pagi ini di Studio 4.
Adelia menelan ludah, mengeratkan pegangannya pada tas selempang yang terasa seberat beban hidupnya. Di hadapannya, seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku sedang berkacak pinggang. Rambutnya berantakan, dan matanya yang tajam seolah bisa melubangi dinding beton.
"Keluar! Dan jangan pernah injakkan kaki di set saya lagi!" suara bariton itu menggelegar, memantul di dinding kedap suara studio.
Seorang pria muda lari terbirit-birit keluar sambil menangis sesenggukan. Itu adalah asisten produksi ketiga yang dipecat minggu ini. Dan sekarang, Adelia adalah "tumbal" berikutnya.
"Siapa kamu?" Arlan, sang sutradara jenius yang dijuluki 'Naga dari Selatan', menoleh ke arah Adelia. Tatapannya tidak ramah. Sama sekali tidak ramah.
"Adelia, Pak. Saya asisten produksi pengganti dari agensi," jawab Adelia sesopan mungkin, meski lututnya gemetar.
Arlan mendengus, suara yang terdengar seperti penghinaan. Ia berjalan mendekat, aroma kopi hitam pekat dan wangi sandalwood menyerbu indra penciuman Adelia. Pria itu berdiri begitu dekat hingga Adelia bisa melihat urat halus di pelipisnya yang berdenyut menahan amarah.
"Dengar, Adelia. Saya tidak butuh orang yang hanya tahu cara tersenyum manis. Saya butuh orang yang punya otak, yang bisa membaca pikiran saya sebelum saya mengatakannya, dan yang tidak cengeng saat saya koreksi. Paham?"
"Paham, Pak."
"Satu lagi," Arlan menunjuk tumpukan kabel yang berantakan di sudut ruangan dengan jarinya yang panjang. "Rapikan itu dalam sepuluh menit. Jika saya kembali dan masih melihat satu simpul pun, kamu bisa menyusul bocah tadi ke pintu keluar."
Tanpa menunggu jawaban, Arlan melangkah pergi dengan langkah lebar yang angkuh. Adelia membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan. Selamat datang di neraka, batinnya.
Selama sepuluh menit berikutnya, Adelia bekerja seperti orang kesurupan. Ia tidak peduli jika kuku-kukunya yang cantik harus kotor atau jari-jarinya tergores ujung kabel yang tajam. Ia terbiasa hidup keras. Menjadi anak yatim yang harus membiayai kuliah sendiri telah menempanya menjadi baja. Jika hanya menghadapi satu sutradara pemarah, ia tidak akan menyerah begitu saja.
Tepat di menit kesembilan, kabel-kabel itu sudah tergulung rapi berdasarkan kategori warna. Adelia berdiri, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.
Arlan kembali, memegang naskah tebal. Ia melirik ke sudut ruangan. Alisnya terangkat sedikit—sebuah reaksi yang jarang terjadi. Namun, pria itu tidak memberikan pujian.
"Lama sekali. Sekarang ambilkan saya kopi. Hitam, tanpa gula, suhu 80 derajat. Jika terlalu panas, lidah saya mati rasa dan saya akan makin marah. Jika terlalu dingin, itu sampah. Pergi."
Adelia segera menuju pantry. Ia tahu ini adalah ujian mental. Sambil menunggu air mendidih, ia mengamati Arlan dari kejauhan melalui celah pintu. Pria itu tampak sedang berdebat dengan penata cahaya. Wajahnya merah padam, tangannya bergerak lincah menjelaskan sudut pengambilan gambar yang ia inginkan.
Di balik sifat pemarahnya yang legendaris, ada dedikasi yang luar biasa. Adelia menyadari satu hal: Arlan tidak marah karena jahat, ia marah karena ia peduli pada kesempurnaan karyanya. Namun, tetap saja, tidak ada alasan untuk menjadi kasar pada semua orang, pikir Adelia kesal.
Ia membawa kopi itu kembali. Dengan hati-hati, ia meletakkannya di meja samping kursi sutradara. Arlan menyesapnya tanpa melihat Adelia.
Hening sejenak. Adelia menunggu ledakan.
"Lumayan," gumam Arlan pendek. "Setidaknya kamu tahu cara menyeduh kopi."
Itu adalah kemenangan kecil pertama bagi Adelia. Namun, hari baru saja dimulai. Jadwal syuting hari ini adalah iklan kecantikan yang melibatkan model papan atas yang terkenal manja. Benar saja, baru satu jam syuting berjalan, kekacauan terjadi.
Model tersebut menolak memakai gaun yang sudah disiapkan karena merasa warnanya tidak cocok dengan kulitnya. Arlan mulai kehilangan kesabaran. Suaranya naik satu oktav setiap kali sang model mengeluh.
"Saya tidak peduli kulitmu terlihat seperti apa! Pakai saja gaun itu atau saya ganti kamu dengan manekin!" teriak Arlan.
Suasana studio membeku. Sang model mulai terisak, mengancam akan menelepon manajernya dan membatalkan kontrak. Produser panik, kru lain hanya bisa menunduk.
Di sinilah Adelia mengambil risiko. Ia berjalan maju, membawa sebuah syal sutra tipis berwarna krem yang ia temukan di tas kostum.
"Permisi, Pak Arlan. Mbak Cindy," suara Adelia memecah ketegangan.
Arlan menatapnya tajam, "Apa lagi?"
"Bagaimana kalau kita tambahkan syal ini sebagai aksen di bahu? Warnanya akan menetralisir kontras antara gaun dan kulit Mbak Cindy, sekaligus memberikan efek elegan saat terkena kipas angin nanti. Secara visual, ini akan membuat gerakan Mbak Cindy lebih dinamis di kamera."
Arlan terdiam. Ia melihat ke arah Adelia, lalu ke arah syal itu, lalu ke arah monitornya. Ia seolah sedang melakukan kalkulasi rumit di kepalanya.
"Coba," perintah Arlan singkat.
Adelia membantu sang model mengenakan syal tersebut dengan gerakan lembut dan kata-kata penenang yang ajaib. Saat kamera kembali menyala dan lampu studio diarahkan, hasilnya luar biasa. Syal itu terbang tertiup angin pelan, menciptakan estetika yang belum terpikirkan sebelumnya.
Syuting berlanjut dengan lancar. Hingga matahari terbenam dan lampu-lampu studio satu per satu dimatikan.
Adelia sedang membereskan sisa naskah saat ia menyadari Arlan masih duduk di kursinya, menatap layar monitor yang sudah gelap. Wajahnya tampak sangat lelah di bawah sisa cahaya lampu emergency.
"Kerja bagus hari ini, Adelia," suara itu pelan, tanpa nada ancaman untuk pertama kalinya.
Adelia menoleh, terkejut. "Terima kasih, Pak."
"Jangan besar kepala. Besok jam 5 pagi sudah harus ada di sini. Telat satu menit, kamu tahu apa konsekuensinya."
Adelia tersenyum kecil. Ia tahu itu adalah cara Arlan mengatakan bahwa ia diterima bekerja di sana. "Siap, Pak. Kopi 80 derajat akan menunggu Anda."
Arlan hanya mendengus, namun saat ia berbalik untuk mengambil tasnya, Adelia bersumpah ia melihat secuil senyum tipis di sudut bibir pria kaku itu. Sebuah senyum yang tersembunyi di balik bayang-bayang layar, menandai awal dari sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan atasan dan bawahan.