Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Yang Tidak Bisa Disembunyikan Selamanya
...— ✦ —...
Hujan datang lagi di Kamis malam.
Kali ini bukan gerimis. Ini hujan sungguhan — yang mengetuk kaca jendela dengan tidak sabaran dan membuat saluran air di atap berbunyi seperti instrumen yang tidak tahu cara berhenti. Kirana duduk di perpustakaan kecil dengan buku di pangkuan yang tidak benar-benar ia baca, mendengarkan rumah bernapas di sekitarnya.
Amethysta sudah tidur sejam lalu. Xavier sedang dalam panggilan konferensi di ruang kerjanya — suaranya terdengar samar dari balik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, serius dan profesional, orang lain sepenuhnya dari suami yang pagi tadi diam-diam menyiapkan sarapan lebih awal supaya Amethysta tidak terlambat.
Kirana meletakkan bukunya dan menatap kaktus kecil di sudut meja — yang sudah ia pindahkan ke perpustakaan dua hari lalu karena cahayanya lebih baik di sini. Bunga merahnya masih ada, kecil dan gigih.
Teleponnya berbunyi.
Bukan telepon Xavier. Telepon ini — telepon Gwyneth — bergetar di meja dengan layar yang menyala, menampilkan nama yang membuat seluruh otot Kirana mengencang seketika.
Ibu Mertua.
Kirana menatap layar itu selama dua getaran. Tiga. Lalu mengangkatnya.
"Ya?"
Suara di seberang adalah suara wanita yang sudah melewati banyak musim — bukan tua, tapi matang, dengan cara bicara yang terukur dan nada yang tidak meninggalkan banyak ruang untuk salah tafsir. Ibu Xavier. Yang dalam novel Kirana hanya muncul dua kali, keduanya sebagai latar belakang, karena Kirana tidak pernah cukup tertarik untuk mengembangkannya lebih jauh.
Keputusan itu, kini, terasa seperti kesalahan yang akan segera menagih bayarannya.
"Gwyneth," kata suara itu. "Sudah lama tidak bicara."
"Sudah lama," balas Kirana dengan hati-hati.
"Aku ingin berkunjung minggu depan. Xavier sudah kuberitahu tadi siang, tapi sepertinya ia lupa menyampaikan." Jeda pendek. "Kamu keberatan?"
Kirana menghitung dalam kepalanya. Minggu depan. Ibu mertua. Wanita yang mengenal Gwyneth Valerine lebih lama dari siapapun — yang mungkin melihat perubahan-perubahan kecil yang bahkan Xavier belum tentu tangkap. Wanita yang, dalam dua adegan singkat yang Kirana tulis, digambarkan memiliki mata yang tidak mudah dikelabui.
"Tidak keberatan," kata Kirana. "Kami senang kalau Ibu mau datang."
Keheningan singkat di seberang. Lalu, "Kamu baik-baik saja, Gwyneth?"
Pertanyaan yang terdengar seperti basa-basi. Tapi nadanya tidak.
"Baik," jawab Kirana. "Kenapa Ibu bertanya?"
"Karena Xavier bilang kamu berubah." Suara itu tidak berubah nada, tidak naik, tidak turun. Hanya pernyataan yang diletakkan di udara seperti batu di atas meja. "Dan Xavier tidak biasanya memperhatikan perubahan."
Kirana tidak menjawab segera. Di luar, hujan mengetuk kaca jendela dengan tidak sabaran.
"Perubahan tidak selalu buruk," kata Kirana akhirnya.
"Tidak," setuju suara itu. "Tapi perubahan yang terlalu cepat kadang mengkhawatirkan." Jeda. "Minggu depan. Rabu."
Sambungan terputus.
Kirana meletakkan telepon di meja dan menatap langit-langit perpustakaan yang sunyi. Di luar hujan masih turun. Di dalam, sebuah hitungan mundur baru saja dimulai.
...✦ ✦ ✦...
Xavier masuk ke perpustakaan dua puluh menit kemudian, ketika panggilan konferensinya selesai.
Ia melihat ekspresi Kirana sebelum Kirana sempat menyembunyikannya — bukan karena Kirana tidak mencoba, tapi karena Xavier dalam tiga minggu terakhir sudah belajar membaca hal-hal yang sebelumnya ia pilih untuk tidak baca.
"Ibu menelepon?" tanyanya, duduk di kursi seberang.
"Ya." Kirana menatapnya. "Kamu tidak bilang ia mau berkunjung."
"Aku lupa." Xavier menghela napas. "Maaf. Ia memang sudah lama bilang mau datang. Aku pikir kamu tidak akan keberatan."
"Aku tidak keberatan." Kirana memilih kata berikutnya dengan hati-hati. "Tapi kamu tahu — ibumu bukan orang yang mudah dikelabui."
Xavier menatapnya sebentar. "Dikelabui dari apa?"
Itu pertanyaan yang tepat, dan Kirana tidak punya jawaban yang sempurna untuk itu. Apa yang harus ia katakan? Bahwa ia bukan Gwyneth yang sebenarnya? Bahwa jiwa yang seharusnya menghuni tubuh ini entah berada di mana, dan yang ada sekarang adalah seorang penulis dari dunia lain yang masuk tanpa diundang dan belajar menjadi ibu dari karakter yang ia ciptakan sendiri?
"Dari betapa banyak yang sudah berubah," kata Kirana akhirnya. "Ia pasti akan memperhatikan."
Xavier diam sebentar. "Apakah itu masalah?"
"Tergantung bagaimana cara ia melihat perubahan itu."
"Ibu bukan orang yang mudah," akui Xavier. "Tapi ia juga bukan orang yang tidak bisa melihat yang baik." Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dan Amethysta sudah berbeda. Rumah ini sudah berbeda. Itu bukan hal yang perlu disembunyikan."
Kirana menatapnya. "Kamu tidak khawatir?"
"Khawatir tentang apa yang akan dikatakan ibuku?" Xavier mengangkat bahu sedikit. "Ia akan punya pertanyaan. Mungkin banyak. Itu wajar." Jeda. "Yang penting bukan bagaimana kita menjelaskannya. Yang penting adalah bahwa apa yang ia lihat adalah nyata."
Kirana menatap pria di seberangnya — Xavier Zhang yang dalam novelnya ia tulis sebagai karakter yang ada tapi tidak hadir, yang buta karena pilihan bukan karena ketidakmampuan. Tapi pria yang duduk di depannya malam ini bukan itu. Atau mungkin ia sedang dalam proses menjadi bukan itu.
"Nyata," ulang Kirana pelan.
"Nyata," konfirmasi Xavier.
...✦ ✦ ✦...
Rabu datang dengan langit yang cerah, seolah cuaca memutuskan untuk bersikap baik pada hari yang tidak membutuhkan komplikasi tambahan.
Kirana sudah bangun sejak pukul enam. Ia sudah memeriksa ruang tamu tiga kali, bukan karena ada yang salah, tapi karena tangan dan kakinya butuh sesuatu untuk dilakukan sementara kepalanya sibuk dengan skenario-skenario yang tidak ia undang.
Amethysta yang turun pukul tujuh menemukan Kirana di dapur, membuat sarapan untuk keempat kalinya dalam seminggu — kemajuan yang bahkan Seren sudah tidak coba sembunyikan kekagumannya.
"Nenek Zhang datang hari ini?" tanya Amethysta, mendudukkan dirinya di kursi bar.
"Ya. Siang nanti."
"Aku pernah ketemu dia?" Amethysta mengernyit mengingat. "Sepertinya pernah. Waktu aku kecil."
*Waktu kamu kecil.* Tujuh tahun, dan sudah bicara tentang masa lalu seolah ada jarak yang cukup untuk melihatnya.
"Pernah," jawab Kirana. "Kamu masih ingat orangnya?"
"Rambutnya putih. Dan dia membawa permen jahe." Amethysta berpikir sejenak. "Aku tidak suka permen jahe. Tapi aku tidak berani bilang."
Kirana meletakkan spatulanya. "Kalau ketemu lagi dan ia membawa permen jahe, kamu boleh bilang tidak suka dengan sopan. Nenek Zhang tidak akan tersinggung karena itu."
Amethysta menatapnya. "Beneran?"
"Beneran."
Gadis kecil itu mempertimbangkan informasi ini seperti fakta ilmiah baru yang perlu diverifikasi. Lalu mengangguk pelan — menerima, menyimpan, akan diuji nanti.
...✦ ✦ ✦...
Ibu Zhang tiba pukul sebelas lewat dua puluh.
Ia datang sendiri — tanpa asisten, tanpa pengantar, hanya seorang wanita tujuh puluhan dengan rambut putih yang disanggul rapi dan mata yang tidak melewatkan banyak hal.
Xavier menyambutnya di pintu. Kirana berdiri sedikit di belakang — posisi yang dipikirnya cukup lama: terlalu depan terasa berlebihan, terlalu belakang terasa menghindar.
Ibu Zhang memeluk Xavier sebentar, menepuk bahunya dua kali, lalu matanya langsung bergerak ke Kirana.
Pandangan itu tidak bermusuhan. Tapi juga tidak mudah dibaca, dan itu, menurut Kirana, justru yang lebih sulit dihadapi.
"Gwyneth," katanya.
"Ibu." Kirana maju selangkah, menyambut jabatan tangan yang ditawarkan. "Selamat datang. Perjalanannya lancar?"
"Cukup." Ibu Zhang tidak melepaskan tangannya segera — ia menggenggamnya sebentar lebih lama, seperti sedang membaca sesuatu dari tekanan itu. Lalu melepaskannya. "Amethysta di mana?"
"Di kamar. Ia tahu Nenek datang, minta waktu sebentar untuk —" Kirana berhenti sejenak. "Untuk menyiapkan sesuatu."
Alis Ibu Zhang naik tipis. "Menyiapkan sesuatu?"
"Kamu akan lihat."
Mereka duduk di ruang tamu. Teh disajikan. Percakapan mengalir ke arah yang aman dulu — perjalanan, cuaca, kabar dari anggota keluarga lain yang Kirana kenal hanya dari arsip memori Gwyneth yang ia akses seperti membaca buku yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Ibu Zhang berbicara dengan Xavier tentang proyek-proyek bisnis. Tapi matanya sesekali kembali ke Kirana dengan cara yang mengingatkan Kirana pada editor buku yang pernah mengembalikan naskahnya dengan komentar: *ada sesuatu yang tidak konsisten di sini, tapi saya belum bisa menunjukkan yang mana.*
Kirana minum tehnya dan menunggu.
Langkah kaki kecil di tangga.
Amethysta turun dengan rambut yang disisir rapi — rapi yang jelas diusahakan sendiri, dengan hasil yang tidak sempurna di bagian belakang tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ada usaha di sana. Di tangannya, ia membawa selembar kertas yang dipegang dengan dua tangan, hati-hati.
Ibu Zhang berbalik. Dan ekspresinya berubah — bukan dramatis, tapi nyata. Sudut matanya melunak dengan cara yang tidak terjadi sebelumnya.
"Amethysta," katanya, pelan.
"Nenek Zhang." Amethysta memberi salam dengan sopan, lalu maju dan menyodorkan kertas itu dengan kedua tangan. "Ini untuk Nenek."
Ibu Zhang menerima kertas itu. Menatapnya.
Gambar konstelasi — Ursa Minor, dengan bintang kutub di ujung ekornya ditandai lingkaran yang lebih besar dari yang lain, dan di bawahnya tulisan tangan yang serius: *Untuk Nenek Zhang. Ini bintang kutub. Dia tidak pernah pindah. Jadi kalau tersesat, cari dia dulu.*
Ruangan itu sunyi selama tiga detik.
Lalu Ibu Zhang berkata, suaranya sedikit tidak seperti biasanya, "Terima kasih, sayang."
Amethysta mengangguk sekali, serius, lalu duduk di karpet dekat meja kopi dan mengeluarkan buku catatannya — memberi sinyal bahwa bagian formalnya sudah selesai dan ia siap melanjutkan kegiatannya sendiri.
Ibu Zhang menatap kertas gambar itu satu detik lebih lama. Lalu matanya naik ke arah Kirana.
Kali ini, ekspresinya sedikit berbeda. Masih tidak mudah dibaca. Tapi di dalamnya ada sesuatu yang bergeser — pertanyaan yang sama, tapi dengan nada yang sudah berubah.
...✦ ✦ ✦...
Ibu Zhang meminta bicara berdua dengan Kirana setelah makan siang.
Xavier tidak menolak — ia mengenal ibunya cukup baik untuk tahu bahwa tidak ada gunanya. Ia mengambil Amethysta ke taman dengan alasan memeriksa pohon pir, dan Kirana duduk berhadapan dengan wanita tujuh puluhan yang rambutnya putih dan matanya tidak melewatkan banyak hal.
"Berapa lama ini sudah berlangsung?" tanya Ibu Zhang tanpa pembukaan.
Kirana tidak pura-pura tidak mengerti pertanyaannya. "Tiga minggu lebih sedikit."
Ibu Zhang mengangguk pelan, seperti konfirmasi dari sesuatu yang sudah ia duga. "Aku mengenal Gwyneth sejak ia menikah dengan Xavier. Delapan tahun." Ia meletakkan cangkir tehnya. "Orang bisa berubah. Aku percaya itu. Tapi ada cara tertentu seseorang berubah yang terasa seperti perluasan dari siapa mereka sebelumnya. Dan ada perubahan yang terasa seperti..." Ia mencari kata yang tepat. "Seseorang yang berbeda sedang belajar menghuni ruang yang sama."
Kirana tidak bergerak. Tidak bernafas terlalu terlihat.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi," lanjut Ibu Zhang, suaranya tetap tenang. "Dan mungkin aku tidak perlu tahu semuanya." Matanya menatap Kirana langsung. "Tapi yang aku lihat adalah ini: Amethysta menggambar bintang untuk tamunya. Amethysta yang dulu tidak pernah turun kalau ada orang asing di rumah. Xavier menyiapkan sarapan karena ingin, bukan karena merasa perlu menunjukkan sesuatu. Dan rumah ini — rumah yang sudah beberapa kali aku kunjungi dan selalu terasa seperti tempat yang indah tapi dingin — hari ini terasa seperti ditinggali."
Kirana menunggu.
"Jadi," kata Ibu Zhang, "apa pun yang terjadi atau tidak terjadi — jangan berhenti."
Kirana menatapnya. "Ibu tidak punya pertanyaan lain?"
"Punya." Ibu Zhang mengambil cangkir tehnya lagi. "Tapi pertanyaan-pertanyaan itu untuk waktu yang lain, kalau memang waktunya datang." Jeda kecil. "Yang penting sekarang adalah bahwa cucuku menggambar bintang dan memberikannya pada orang yang ia percayai layak menerimanya. Itu bukan hal kecil."
Kirana menelan sesuatu yang tidak punya nama tepat di tenggorokannya.
"Bukan hal kecil," ulangnya pelan.
"Bukan." Ibu Zhang meneguk tehnya. "Sekarang ceritakan padaku tentang konstelasi apa yang sedang dipelajari Amethysta. Tadi ia bicara tentang sesuatu yang namanya Cassiopeia dan aku tidak tahu apa itu."
...✦ ✦ ✦...
Sore itu, sebelum Ibu Zhang pamit, Amethysta menghampirinya di ruang tamu dengan buku atlasnya.
"Nenek mau lihat Cassiopeia?" tanyanya, serius.
"Sangat mau," jawab Ibu Zhang, sama seriusnya.
Mereka duduk berdua di sofa — wanita tujuh puluhan dan gadis tujuh tahun — dengan atlas terbuka di antara mereka, dan Amethysta menjelaskan dengan suara yang tidak lagi pelan-pelan menjaga diri, tapi suara seseorang yang tahu ia sedang berbicara tentang sesuatu yang ia kuasai dan tidak perlu takut untuk didengar.
Kirana berdiri di ambang pintu ruang tamu dan mengamati mereka dari jarak yang cukup untuk tidak mengganggu.
Di sebelahnya, Xavier berdiri dengan bahu yang menyentuh bahunya — tidak disengaja, atau mungkin disengaja dengan cara yang tidak perlu diakui — dan mereka berdua menatap gadis kecil dengan mata ungu yang sedang mengajarkan tentang bintang kepada neneknya.
"Kamu tahu," kata Xavier pelan, "ini pertama kalinya aku melihat mereka duduk seperti itu."
Kirana tidak menjawab. Tapi ia merasakan beratnya kalimat itu — delapan tahun, dan baru pertama kali.
"Masih banyak yang pertama kalinya," kata Kirana akhirnya.
Xavier menoleh ke arahnya. "Ya," katanya. "Masih banyak."
Di sofa, Ibu Zhang mengajukan pertanyaan tentang bentuk Cassiopeia, dan Amethysta menjawab bahwa bentuknya seperti huruf W atau M tergantung dari musimnya, dan Ibu Zhang mengatakan ia tidak pernah tahu itu, dan Amethysta terlihat seperti seseorang yang baru menemukan bahwa ada orang dewasa yang mau belajar dari mereka.
Sesuatu yang baru.
Yang tidak ada dalam versi novel yang Kirana tulis.
Yang tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap pagi — sarapan di dapur, antar ke sekolah, jawab pertanyaan dengan jujur, letakkan tangan di bahu dengan ringan dan beri ruang untuk menjauh kalau perlu.
Kirana menatap gambar konstelasi yang masih terlipat rapi di tangan Ibu Zhang — Ursa Minor, bintang kutub di ujung ekornya, dan tulisan anak tujuh tahun yang menjelaskan fungsinya kepada orang yang tersesat.
Petunjuk arah.
Selalu ada, kalau tahu cara melihatnya.
Dan malam ini, berdiri di ambang pintu ruang tamunya sendiri dengan bahu yang menyentuh bahu suaminya dan mata yang menatap putrinya, Kirana pikir — untuk pertama kalinya tanpa ragu yang mengikutinya — bahwa ia sedang melihatnya.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...