NovelToon NovelToon
PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."

Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.

Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.

Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAGAR TINGGI SEORANG PERWIRA

Ghava tahu bahwa pintu gerbang rumah Nadine di Bandung tidak akan pernah terbuka hanya dengan kata-kata manis. Pintu itu dijaga oleh harga diri seorang Ayah dan wibawa seorang Kakak yang berprofesi sebagai polisi. Maka, satu-satunya cara untuk menembusnya adalah dengan membersihkan medan perang.

Selasa pagi, Ghava menggelar konferensi pers besar-besaran di Jakarta. Ia tidak tampil sebagai musisi yang sombong, melainkan pria yang menuntut keadilan. Di sampingnya, duduk seorang pengacara senior yang paling disegani.

"Saya berdiri di sini bukan untuk membela karya saya, tapi untuk membela kehormatan orang-orang di sekitar saya yang menjadi korban," ucap Ghava tegas di depan puluhan kamera yang menyorot.

Ia membeberkan semua bukti: rekaman CCTV saat rumahnya dirusak, bukti ancaman dari pihak Selya, hingga hasil visum luka di kening Nadine.

"Saudari Selya telah secara resmi saya laporkan atas tuduhan pengrusakan, perbuatan tidak menyenangkan, dan provokasi yang menyebabkan luka fisik pada asisten saya," lanjut Ghava dengan suara yang tenang namun mematikan. "Saya tidak akan mencabut laporan ini sampai ada putusan hukum tetap. Saya ingin dunia tahu, bahwa lingkungan kerja saya bukan tempat yang berbahaya—orang-orang yang berniat jahatlah yang membuatnya tampak seperti itu."

Di Bandung, di dalam ruang rapat kantornya, Amara menyalakan televisi besar di dinding. Ia memanggil Nadine masuk.

"Lihat ini," bisik Amara sambil tersenyum bangga.

Nadine terpaku menatap layar. Di sana, Ghava terlihat sangat gagah dan bertanggung jawab. Ia tidak lagi lari dari masalah. Ia justru sedang "membersihkan jalan" agar Nadine bisa pulang tanpa merasa takut.

"Dia melakukan ini buat kamu, Na," ucap Amara. "Dia sedang membuktikan ke Mas Surya dan Bapakmu kalau dia sanggup melindungi kamu secara hukum."

Tiba-tiba, ponsel kantor di meja Amara berdering. Itu dari resepsionis di lantai bawah.

"Halo? Oh... siapa? Kompol Surya Atmadja? Iya, silakan antar beliau ke ruangan saya."

Nadine pucat pasi. Amara langsung mematikan televisi. "Nadine, masuk ke ruang istirahat sekarang. Jangan keluar sampai aku panggil. Kakakmu ada di bawah."

Surya masuk ke ruangan Amara dengan langkah tegap. Ia melirik televisi yang masih terasa hangat suhunya, lalu menatap Amara dengan tajam.

"Saya baru lihat siaran langsung dari Jakarta, Amara," ucap Surya tanpa basa-basi. "Ghava sedang mencoba jadi pahlawan. Tapi saya ke sini bukan mau bahas itu. Saya mau tanya... kenapa laporan aktivitas Nadine yang dikirim anggota saya menunjukkan dia sering tersenyum sendiri sambil memegang ponsel di jam kerja?"

Amara tetap tenang, ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya saat menatap mata tajam Surya. Dengan gerakan elegan, ia mengambil sebuah tablet dari mejanya dan menggeser beberapa slide yang berisi desain grafis berwarna cerah.

"Mas Surya, insting polisinya tajam sekali ya," ucap Amara sambil terkekeh ringan, berusaha mencairkan suasana. "Nadine memang sering tersenyum, dan saya yang menyuruhnya begitu. Dia sedang mengerjakan proyek branding untuk kampanye 'Senyum Bandung'. Dia harus riset ekspresi dan konten yang bikin orang bahagia. Kalau staf saya sendiri mukanya ditekuk, gimana mau bikin orang lain senyum?"

Amara menyerahkan tablet itu ke hadapan Surya. Di sana terpampang draf desain buatan Nadine yang memang terlihat ceria.

"Dia itu anak berbakat, Mas. Dia senang sekali karena di sini dia bisa berkarya tanpa ada kamera wartawan di belakangnya. Itu alasan dia sering tersenyum; dia merasa bebas," lanjut Amara dengan nada yang sangat meyakinkan.

Surya menatap layar tablet itu cukup lama, lalu kembali menatap Amara. "Saya harap itu alasan satu-satunya. Saya tidak mau dia tersenyum karena alasan yang ada di Jakarta."

"Jakarta itu jauh, Mas Surya. Di sini cuma ada saya dan pekerjaan," balas Amara tegas.

Setelah Surya akhirnya berpamitan dengan wajah yang sedikit melunak, Nadine keluar dari ruang istirahat dengan kaki yang lemas. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu.

"Mbak Amara... hebat banget bohongnya," bisik Nadine dengan napas tersengal.

Amara menghela napas panjang, ia pun sebenarnya tegang. "Itu bukan bohong sepenuhnya, Na. Kamu memang berbakat. Tapi kita harus lebih hati-hati. Kakakmu itu bukan orang sembarangan. Dia mulai mencium bau-bau Ghava di sekitar sini."

Tiba-tiba, ponsel pribadi Amara bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ghava.

Ghava: "Presscon beres. Dunia sudah tahu kebenarannya. Sekarang saya mau kirim 'hadiah' buat kantor kamu sebagai tanda terima kasih. Bilang ke Nadine, Wonder Woman nggak boleh kalah sama polisi."

Amara memutar bola matanya sambil tersenyum. "Nadine, bosmu itu benar-benar nekat. Dia mau kirim 'hadiah' ke sini. Kalau itu sampai ketahuan Surya, kita semua tamat."

Nadine langsung menyambar ponselnya dan mengetik pesan dengan jempol yang sedikit gemetar. Ia tahu Ghava adalah tipe pria yang kalau sudah punya keinginan, gunung pun akan ia pindahkan. Tapi kali ini, gunungnya adalah seorang Kompol Polisi yang punya insting tajam.

Nadine: "Mas, tolong... bersikaplah seolah kita nggak ada apa-apa dulu. Jangan kirim hadiah, jangan kirim bunga, jangan kirim apapun atas nama Mas. Mas Surya baru saja keluar dari ruangan Mbak Amara, dia mulai curiga."

Di Jakarta, Ghava yang baru saja hendak memesan katering mewah untuk dikirim ke kantor Amara langsung terhenti. Ia membaca pesan itu berulang kali. Ada rasa kecewa karena ia ingin sekali memanjakan Nadine, tapi ia juga sadar bahwa egois sedikit saja bisa menghancurkan segalanya.

Ghava: "Oke, saya mengerti. Saya akan jadi 'orang asing' untuk sementara waktu. Tapi Na, kalau saya rindu, saya harus apa? Mas kamu nggak melarang saya buat bikin lagu kan?"

Nadine tersenyum kecil membaca balasan itu. Ia kembali teringat foto kakaknya di ruang tamu.

Satu Minggu Kemudian...

Keadaan mulai tenang. Ghava benar-benar menepati janjinya untuk "menghilang". Tidak ada berita skandal, tidak ada kiriman barang, bahkan akun media sosial Ghava hanya berisi tentang jadwal sidangnya melawan Selya.

Namun, di hari Jumat sore, Amara memanggil Nadine ke ruangannya dengan wajah yang sulit dibaca. Di atas meja Amara, terdapat sebuah paket dokumen kontrak kerja sama dari sebuah Label Rekaman Independen yang berbasis di Bandung.

"Nadine, kantor kita dapet kontrak buat bikin visualisasi album baru dari label ini," ucap Amara sambil menyodorkan berkasnya.

Nadine membukanya, dan jantungnya hampir copot. Di sana tertulis judul proyeknya: "The Muse - Silent Love". Meskipun tidak ada nama Ghava di sana, Nadine tahu persis jenis font dan gaya bahasa yang digunakan di dalam konsepnya.

"Label ini punya teman lama Ghava," bisik Amara. "Secara hukum dan administrasi, ini bersih. Nggak ada nama Ghava sama sekali. Tapi... mereka minta desainer grafis utamanya harus kamu. Ini cara 'legal' dia buat kasih kamu pekerjaan yang kamu suka, tanpa Mas Surya bisa protes karena ini murni bisnis antar kantor."

Nadine menyentuh kertas kontrak itu. Ghava ternyata tidak berhenti, dia hanya menjadi lebih cerdik.

Surya sedang berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap arus lalu lintas Bandung yang mulai padat. Ia masih mengenakan seragam dinasnya, rapi dan tak bercelah. Di atas mejanya, terdapat sebuah map berisi berkas-berkas lama terkait insiden di Jakarta.

Mendengar pertanyaan dari Bripda Angga, salah satu anak buah yang cukup dekat dengannya, Surya tidak langsung menoleh. Ia hanya mengembuskan napas panjang.

"Apa nggak berlebihan Pak, khawatir sama Mbak Nadine? Sampai harus dipantau segitunya?" tanya Angga sambil meletakkan secangkir kopi di meja Surya.

Surya akhirnya berbalik, ia menatap anak buahnya itu dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Nggak ada istilah berlebihan kalau soal keselamatan satu-satunya adik perempuan saya, Ngga."

Ia menarik kursi, lalu duduk sambil membuka kembali foto dokumentasi luka di kening Nadine saat kejadian di Jakarta.

"Kamu tahu kenapa saya keras?" tanya Surya. "Dunia industri itu nggak punya aturan main yang jelas. Hari ini mereka dipuji, besok mereka bisa diinjak sampai hancur. Nadine itu terlalu tulus untuk berada di lingkaran orang-orang seperti mereka. Dia sudah berdarah satu kali, saya nggak akan kasih kesempatan untuk yang kedua kalinya."

"Tapi Pak, Pak Ghava itu sepertinya sudah beresin masalah hukumnya," Angga mencoba berpendapat.

"Membersihkan nama di depan kamera itu gampang bagi orang berduit, Ngga. Tapi menjamin adik saya nggak akan terseret masalah mental atau fisik lagi? Itu urusan lain," tegas Surya. Ia mengetukkan jarinya ke meja. "Dan lagi, insting saya bilang dia masih berusaha mendekati Nadine lewat jalur-jalur yang nggak saya lihat. Saya cuma mau pastiin, kalau Nadine mulai melangkah lagi, jalannya sudah benar-benar bersih."

Surya kemudian mengambil ponselnya. "Laporannya gimana? Ada pergerakan orang Jakarta di kantor Amara?"

"Sejauh ini bersih, Pak. Hanya ada pengiriman dokumen dari label lokal di Bandung tadi sore. Masih dalam pantauan," jawab Angga sigap.

Surya mengangguk, namun hatinya belum sepenuhnya tenang. Ia tahu betul, cinta—apalagi yang dirahasiakan—seringkali lebih cerdik daripada taktik polisi manapun.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
lnjut banyakk
Pa Muhsid
jangan jangan mantan nana nih kalo iya sikat ghav na jangan kasih kendor
falea sezi
di kubur gmn gav kenyataan lu dlu. pcrn ma. nadin sering tidur bareng kan hmmmmm km. itu g cocok buat Nadine pantes surya ngotot gk. kasih restu wong qm bukan cowok baik dih/Puke/
falea sezi
g rela deh klo dpet gava laki. bekas dih
falea sezi
berarti gava ma selya uda sering nganu dih g sepolos yg q bayangin
falea sezi
cwek ga tau malu si selya
falea sezi
baru nyimak
yoke oktaviansyah
💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!