NovelToon NovelToon
Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."

Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.

Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.

Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.

"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: GAUN BARU, KEKUASAAN BARU

Dulu mereka kira aku hanya kelopak yang gugur,

Layak diinjak, layak dilupakan, layak tersisih.

Mereka lupa, di balik setiap duri yang bisu,

Ada getar kehidupan yang tak pernah padam, meski tersiksa pilu.

Malam ini, biarlah sutra yang bicara,

Bukan suaraku yang dulu terbungkam rasa.

Karena ketika cahaya menyentuh wajahku,

Bukan hanya gaun yang baru—tapi takhta yang ku rangkai dari derita.

Mawar ini mekar, bukan untuk dipetik,

Tapi untuk memetik kembali apa yang menjadi haknya.

Lihatlah, dunia, saat aku berjalan,

Bukan sekadar hadir, tapi kembali bertakhta.

---

"Mereka mengira aku datang untuk dilihat. Aku datang untuk diingat."

---

Gedung Gran Mahakam malam itu berpendar cahaya kristal. Lampu gantung raksasa di lobi utama memantulkan jutaan titik sinar ke lantai marmer Italia yang dipoles sempurna. Charity Gala Tahunan—ajang paling bergengsi di kota, tempat para konglomerat, selebritas, dan pewaris tahta bisnis saling unjuk gigi sekaligus pamer filantropi.

Di luar, hujan gerimis membasahi kaca-kaca mobil mewah yang berjajar rapi. Para tamu mulai berdatangan, satu per satu keluar dari limosin dengan gaun rancangan desainer papan atas. Sorak-sorai kamera wartawan menyambut setiap kedatangan.

Namun malam itu, tidak ada yang siap dengan apa yang akan datang.

DI DALAM RUANG VIP

Viola Santoso sedang sibuk selfie di samping patung perunggu karya seniman Italia. Gaun emasnya yang ketat—hasil curian dari lemari Alana tiga bulan lalu—bersinar di bawah lampu. Richard berdiri di sampingnya, setelan Armani hitamnya rapi, tetapi wajahnya tampak gelisah.

"Kau lihat siapa saja yang datang?" bisik Richard sambil mengamati para tamu.

"Yang penting kita datang," desis Viola sambil mengatur angle kamera. "Biar semua tahu, kita tetap berada di lingkaran ini meskipun perusahaan sedang goyah."

Richard menghela napas. Dua minggu terakhir adalah mimpi buruk. Proyek besarnya gagal, audit mendadak membuatnya kalang kabut, dan beberapa investor mulai menjauh. Tapi ia tak bisa menunjukkan kelemahan di depan publik. Malam ini adalah panggung untuk meyakinkan dunia bahwa Richard Hartanto masih sang juara.

"Tapi kenapa undangan atas nama pribadi, bukan perusahaan?" gumamnya.

Viola tak menjawab. Ia sibuk melirik seorang desainer terkenal yang lewat, berharap bisa foto bareng.

Lalu, pintu utama lobi terbuka.

SAAT ITU

Semua suara seperti tersedot ke dalam keheningan.

Angin malam membawa sedikit rintik hujan yang menyelinap masuk, tapi tak ada yang peduli. Semua mata tertuju pada satu titik: pintu masuk.

Alana Wijaya melangkah masuk.

Bukan Alana yang mereka kenal enam bulan lalu—wanita dengan gaun lusuh yang duduk di pojok acara sambil menunduk. Bukan Alana yang menjadi bulan-bulanan gosip karena suaminya berselingkuh. Bukan Alana yang dipinggirkan dalam setiap pertemuan bisnis.

Alana malam ini adalah sesuatu yang sama sekali baru.

Gaunnya—Tuhanku, gaun itu—seperti lautan merah yang dituangkan ke dalam sutra terbaik. Rancangan Sergei Laurent, desainer Paris yang hanya menerima pesanan setahun sekali untuk satu klien. Gaun malam tanpa tali dengan potongan mermaid cut yang membalut tubuhnya seperti cat air hidup. Dari pinggang ke bawah, gaun itu melebar dengan lipatan-lipatan lembut yang bergerak seperti ombak setiap kali ia melangkah. Bukan sekadar gaun merah, tapi merah yang tepat—merah darah, merah keberanian, merah yang mengatakan: aku kembali, dan kalian akan membayar untuk setiap tatapan hina yang pernah kalian berikan.

Namun bukan hanya gaunnya.

Ada sesuatu di matanya.

Alana berdiri tegak, bahunya ditarik ke belakang dengan anggun. Leher jenjangnya dihiasi kalung berlian yang pernah menjadi koleksi pribadi ibunya—perhiasan yang selama ini disimpan rapat, menunggu saat yang tepat. Rambutnya disanggul rendah, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya. Riasannya sempurna: tipis, elegan, tapi matanya—matanya bersinar dengan api yang tak bisa disembunyikan oleh riasan apa pun.

Ia tersenyum tipis, bukan senyum ramah, tapi senyum yang berkata, "Aku tahu kalian sedang melihatku."

REAKSI RUANGAN

Seorang wanita paruh baya memegang dada, hampir menjatuhkan flute sampanye-nya.

"Itu... Alana Wijaya?" bisiknya tak percaya.

"Itu gaun Sergei Laurent," sambar wanita di sampingnya dengan suara bergetar. "Dua tahun lalu aku mencoba memesannya. Ia bilang waiting list-nya sampai lima tahun. Harganya... setara dengan apartemen di pusat kota."

"Tapi dia... bukannya dia bangkrut?"

"Mana mungkin orang bangkrut pakai gaun seperti itu?"

Dari kejauhan, Nathan Pramana mengamati adegan itu dari balkon lantai dua. Ia memegang gelas wiski, bibirnya membentuk senyum yang nyaris tak terlihat. "Akhirnya kau muncul juga," gumamnya pelan. Ia tahu malam ini bukan sekadar acara amal. Ini adalah deklarasi perang.

Viola hampir menjatuhkan ponselnya.

Wajahnya yang tadi penuh percaya diri berubah jadi pucat pasi. Jari-jarinya gemetar. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar.

"Ri-Rich..." suaranya tersendat.

Richard sudah melihat.

Ia mematung.

Alana—istrinya—melangkah masuk seperti bangsawan yang kembali ke istananya yang dirampok. Richard merasakan dadanya berdegup kencang, bukan karena kagum, tapi karena ketakutan yang tak bisa ia jelaskan. Matanya tak bisa lepas dari wanita itu.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Richard melihat Alana—Alana yang sebenarnya.

Dan ia takut.

ALANA MELANGKAH

Sepatu hak tingginya—Jimmy Choo edisi terbatas—berdetak pelan di lantai marmer. Satu per satu tamu menyingkir memberi jalan. Bukan karena sopan santun, tapi karena pesona yang terpancar begitu kuat membuat mereka seperti terhipnotis.

Alana berhenti di tengah ruangan.

Seorang pelayan lewat dengan nampan berisi sampanye. Alana mengambil satu flute, jari-jarinya ramping dan sempurna dengan kuteks merah senada gaunnya. Ia menyesap sedikit, lalu matanya—dengan sengaja—bergerak lambat, menyusuri ruangan, hingga akhirnya bertemu dengan mata Richard.

Senyumnya melebar. Tipis. Mematikan.

Richard merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Ia ingin bergerak, ingin mendekat, ingin bertanya—tapi kakinya terasa tertanam di lantai.

Viola menarik lengannya. "Ri-Chard, kita harus pergi," bisiknya panik.

Tapi Richard tak mendengar. Semua yang ada di ruangan itu lenyap. Hanya ada dia dan Alana.

Alana mengangkat gelasnya sedikit—seperti bersulang—lalu menyesap sampanye itu lagi, matanya tetap tertuju pada Richard. Lalu, dengan perlahan, ia memalingkan wajah, berbalik, dan mulai berbicara dengan seorang investor asing yang kebetulan berdiri di dekatnya—investor yang selama ini Richard mati-matian ingin dekati.

Investor itu tersenyum lebar dan menyambut Alana dengan hangat, bahkan mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.

Viola hampir pingsan.

"Kita harus pergi," desaknya lagi, suaranya pecah.

Kali ini Richard menoleh padanya. Wajahnya pucat, matanya kosong. Tapi di balik kekosongan itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh: kecurigaan.

Siapa sebenarnya wanitayang kukawini ini?

SEMENTARA ITU, DI SUDUT LAIN

Alana sedang asyik berbincang dengan Mr. Tanimoto, investor Jepang yang terkenal sangat sulit didekati. Ia berbicara dalam bahasa Jepang fasih—sesuatu yang tak pernah diketahui siapa pun, bahkan Richard. Mr. Tanimoto tertawa lepas, lalu menepuk bahunya.

"Wijaya-san, ayahmu adalah teman baikku," katanya. "Aku senang melihat putrinya mewarisi kecerdasannya."

Alana tersenyum tulus untuk pertama kalinya malam itu. "Terima kasih, Mr. Tanimoto. Ayah selalu berkata, bisnis sejati dibangun di atas kepercayaan, bukan sekadar modal."

"Kamu benar. Dan aku ingin kita mulai membangun kepercayaan itu... minggu depan. Kantormu?"

"Tentu. Saya akan mengirimkan detailnya."

Mereka bertukar kartu nama. Mr. Tanimoto menuliskan sesuatu di kartunya sebelum memberikannya—nomor pribadi.

Di seberang ruangan, Richard menyaksikan semua itu dengan mata membelalak. Kartu nama Mr. Tanimoto? Selama dua tahun ia mencoba mendekati investor itu, gagal total. Dan sekarang, istrinya—yang ia kira bodoh—hanya perlu beberapa menit untuk mendapatkan apa yang tak bisa ia raih.

Ponsel Richard bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal:

"Jangan khawatir, Richard. Ini baru pemanasan."

Ia menengadah. Alana sedang menatapnya dari kejauhan sambil memegang ponselnya. Tersenyum.

JAM 11 MALAM

Acara hampir usai. Alana berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman yang basah oleh hujan. Pantulan wajahnya di kaca terlihat tenang, tapi di dadanya, debar jantungnya tak karuan.

Ini baru langkah pertama, katanya dalam hati.

Langkah kakinya terdengar dari belakang. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.

"Alana."

Suara Richard. Gemetar. Tidak percaya.

"Richard." Ia tak menoleh. Matanya tetap pada hujan di luar.

"Kau... kau dari mana dapat gaun itu? Dan kalung? Dan—"

"Apa aku perlu minta izin padamu untuk berpakaian rapi?" potongnya datar. Kali ini ia menoleh. Matanya—Ya Tuhan, matanya—menatap Richard dengan dingin yang tak pernah ia lihat sebelumnya. "Atau kau pikir, karena kau menganggapku bodoh, aku harus tetap tampil bodoh selamanya?"

Richard tersedak. "Bukan begitu... maksudku, kau... kau berbeda."

"Orang bisa berubah, Richard. Atau mungkin... selama ini kau tak pernah benar-benar melihatku?"

Hening.

Alana mendekat satu langkah. Richard mundur setengah langkah.

"Kau tahu apa yang paling menyakitkan?" bisik Alana, suaranya hampir seperti desiran angin. "Bukan pengkhianatanmu. Bukan perselingkuhanmu. Tapi kau mengira aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Kau meremehkanku, Richard. Dan itu... itu kesalahan terbesarmu."

Richard membuka mulut, tapi tak ada kata-kata yang keluar.

Alana tersenyum—manis, tapi matanya tajam seperti silet.

"Selamat malam, Richard. Sampaikan salam pada Viola. Atau... kau bisa antar sendiri, seperti biasa."

Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Richard yang terpaku di tempat, dihantam realitas yang tak pernah ia duga.

DI DALAM MOBIL

Alana duduk di kursi belakang limosin yang ia sewa khusus untuk malam itu. Lucas, yang menyamar sebagai sopir, menatapnya melalui kaca spion.

"Gimana?" tanya Lucas.

Alana menghela napas panjang. Tangan kanannya naik ke dada, merasakan debaran jantung yang masih cepat. Tapi bibirnya membentuk senyum.

"Mereka melihatku, Lucas. Benar-benar melihatku. Untuk pertama kalinya."

"Dan?"

Alana menatap ke luar jendela. Lampu-lampu kota berpendar basah oleh hujan. Gedung-gedung tinggi menjulang seperti saksi bisu kebangkitannya.

"Dan ini baru permulaan."

Ponselnya bergetar. Pesan dari Nathan:

"Penampilan yang mengesankan, Ratu Mawar. Besok, kita bicara serius?"

Alana membalas singkat: "Tunggu di kantorku. Jam 9."

Ia menutup ponsel dan menatap langit malam yang mulai cerah. Hujan reda.

Terima kasih, Ayah. Untuk semua pelajaran yang tak pernah kusia-siakan.

✨ NB:

"Mereka mengira aku datang untuk dilihat. Aku datang untuk diingat. Mereka mengira ini gaun baru. Aku bilang, ini takhta baru. Dan kalian semua—Viola, Richard, dan para pencemooh—kalian adalah undangan yang tak sengaja hadir di pesta kekuasaanku."

Bersambung...(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

1
gaby
Jgn2 bapaknya Alana pemain perempuan jg kaya Ricard. Td di bilang istri pertama, kalo ada kata Pertama, artinya ada yg selanjutnya alias bukan istri satu2nya
Zahra Ningtiyas
semakin gregetan
lin sya
sedih klo baca alur Alana, smga Nathan bsa secara perlahan mengobati kekecewaan Krn pengkhianatan suami dan sahabat, alana pntas bahagia cuma gak beruntung aj ktmu org serakah, Nathan tulus orgnya bisa jdi jodoh mski alana tkut buka perasaan lgi👍
Arix Zhufa
mereka ber 2 tidak kah di bui?
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
gaby: Betul ka, tindakan mreka kriminal. Merampok, slingkuh, zinah, & suami Kdrt. Ini negara hukum, masa pelaku kriminal ga di penjara. Walau penjara mungkin cuma sebentar, tp seenggaknya penjara bisa menghancurkan mental, karir, & nama baik mreka. Kalo ga dipenjarakan, minimal di viralkan, biar netizen yg menghukum
total 1 replies
Arix Zhufa
Richard ini aneh...

selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄
gaby: Richad mokondo ka, ga mau modal buat bayar hotel. Kalo drmh mertua kan gratis tuh
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh kok malah antusias
Nurlaila Syahputri
Ceritanya bagus dikhianati dengan balas dendam Sempurna👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Arix Zhufa
cerita nya seru
Aisyah Suyuti
bagus
Arix Zhufa
aq bacanya sambil nahan nafas
Osie
loh diawal kan udah buat janji dgn nathan kok sekarang spti baru kenal lagi
Osie
laahh alana jgn lama lama action nya..kasihan rumah peninggalan ortu mu dijadikan tempat berzina.
Osie
mampir aku nyaaahh..baca sipnosis sptinya seru..moga sesuai ekspektasiku n moga ini cerita sp end🙏🙏
Arix Zhufa
mampir thor...kayak nya seru
JulinMeow20
novel jiplakan karya orang lain
JulinMeow20
kalau nulis itu hasil pemikiran sendiri kak jangan jiplak hasil karya orang lain 🙏 ada hukumnya loh kayak gitu🙏
Ammarcihuy Muhammad: Kok melepem Lempar batu sembunyi Tangan kucur. Adukan aja kak Anonymous sama Noveltoon biar akun nya ke band selamanya. mengotori cerita KK jadi
total 3 replies
gaby
Kayanya seru. Tp aq liat profil othornya, bny bgt novel barunya. Yakin sanggup nulis update beberapa judul skaligus?? Mudah2an ga hiatus di tengah jalan, karena critanya bagus
Ammarcihuy Muhammad: Eh bagudung buktikan Fitnahan mu. Brani berbuat brani tanggung jawab bulan puasa menghasut orang dan memfitnah
total 3 replies
Anonymous MC
ceritanya terlalu manis tuk dikenang
Roma Biskuit
Jadilah Mawar ,Indah dilihat jika salah orang durinya akan menusuk daging mu. mantaaaap👍🏻
Zahra Ningtiyas
Suka sama Alana cewek Pintar g akan pernah bisa ditindas😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!